
--B's PoV--
*Jakarta, Mansion : 2003, Dua Minggu Kemudian*
Duuuuaaaarrrr!!!!!!
Duaaarrrrrr!!!!!!!!
Bunyi-bunyian guntur menggelegar dengan begitu megahnya di udara. Mereka saling bersahutan untuk memeriahkan malam nan kelam, ditemani cahaya petir yang sesekali menyambar, sambil membelah gumpalan awan di sekitarnya. Petir dan guntur itu seolah bersepakat menjadikan angkasa raya bak panggung pertunjukan orchestra yang riuh rendah.
Di bawah panggung dirgantara itu, aku memberanikan diri untuk menjejakkan kaki telanj*ngku di atas permukaan tanah basah. Menggerakkan tubuhku, mengayunkannya dengan sejuta perasaan dan asa.
Aku menari diiringi alunan suara hujan yang tiada lelah membasahi rerumputan, tempat ku berpijak. Tidak peduli betapa kuyupnya tubuhku saat itu. Tidak peduli, apakah ada orang yang melihatku di sana.
Saat ini, aku hanya ingin meliukkan tubuhku. Seperti daun yang pasrah saat dihembuskan sang angin, seperti burung yang menguncupkan sayapnya sambil berputar menjatuhkan diri, sebelum mengepakkannya lagi dan terbang menembus cakrawala, lapis demi lapis.
Dua minggu sudah berlalu sejak latihan pertamaku bersama seorang laki-laki asing yang ditugaskan menjadi pasangan dansaku. Harus ku akui, Franky adalah seorang penari Tango profesional.
Tidak ada masalah dengan perpaduan gerakan kami. Laki-laki itu bahkan selalu mampu berimprovisasi untuk menutupi kekuranganku, seperti yang selalu dilakukan Indra saat menjadi pasangan dansaku dulu. Namun, jangan tanyakan bagaimana chemistry yang tercipta di antara kami. Aku tidak bahagia menari bersamanya.
Aku pikir menari itu bukan hanya soal perpaduan gerakan yang selaras. Menari itu sesungguhnya adalah tentang rasa. Dan aku tidak merasakan apapun saat bersama Franky.
Sekalipun menang bukanlah sebuah target yang ku sematkan pada tujuan latihanku ini, tetapi menari tanpa hati bukanlah karakter seorang Bellatrix Atmaja. Aku benar-benar kehilangan diri dan semangatku saat menari bersama pria itu.
Aku bahkan berulang kali mempertanyakan pada diriku sendiri, apa yang akan ku tunjukkan nanti kepada Indra? Laki-laki itu pasti akan sangat kecewa saat melihat bahwa aku telah kehilangan gairahku.
Untuk itulah aku menari malam ini. Aku ingin merengkuh sukmaku kembali. Menemukan Bellatrix yang hilang dan membawanya pulang.
Sayangnya, seberapa keras aku mencoba untuk mencari keberadaan jiwa itu, menyusuri sisa-sisa jejak yang mungkin masih membekas dengan samar, aku justru mendapati diriku terus terbenam dalam perasaan kecewa.
Bagaimana tidak? Aku merasakan kehampaan yang hebat di dalam diriku. Aku begitu merana dalam kesunyian dan keheningan yang selalu berusaha ku ingkari.
Dan semua itu karena sosok itu.... Sosok yang entah kapan sudah berdiri di balik jendela sebuah ruang kerja, yang berada di lantai dua mansion miliknya. Sosok yang menatapku dengan tatapan tajam dan menikmati gerakanku seperti sebuah pertunjukkan gratis tengah malam. Sosok yang selalu menjebakku dalam permainan-permainan licik dan kemudian menjadikanku seperti seorang pesakitan.
Namun itu kemarin, saat kenaifan mendominasi akal sehatku. Saat aku belum menyadari sepenuhnya siapa dia. Tapi malam ini, aku kembali mematrikan dalam hatiku. Aku tidak boleh diperdaya lagi olehnya.
Dan itu bahkan sudah dimulai saat ini. Saat aku berani mempertemukan sorot mataku dengan sorot matanya. Aku dengan sengaja menghujam matanya dengan tatapanku yang tajam.
Meski tubuhku bergerak ke arah yang berlawanan dengan tempatnya berada, mataku akan terus menatapnya. Aku ingin dia mengetahui bahwa ia tidak akan bisa membuatku tertunduk lagi. Aku ingin mengisyaratkan sebuah pesan bahwa aku tidak akan pernah lagi bisa ia kuasai.
Aku terus meliukkan tubuh, tangan, dan kakiku sambil menatapnya seperti orang yang menantang lawannya. Aku terus menerus memprovokasi sosok itu hingga ia menyerah. Pada akhirnya, ia memilih menutup kain kelambu berwarna abu-abu di hadapannya, guna memutus tatapan dingin yang ku tujukan untuknya.
Melihatnya tak berdaya seperti itu, seutas senyum secara spontan terbit di bibirku karena perasaan puas. Aku pun kemudian membawa diriku berputar beberapa kali di tengah lebatnya hujan sambil merentangkan ke dua tangan untuk merayakan kemenangan ini.
------------------------
*Jakarta, Mansion : 2003, Keesokan Harinya*
"Bibi.... Jika ku perhatikan, kadang kala bibi suka lupa menaruh merica ya?" Aku berbicara pada seorang juru masak yang sedang membantu para pelayan menata meja makan dan menghidangkan berbagai menu di atasnya.
"Bibi sebenarnya tidak lupa, Nyonya," jawab perempuan paruh baya yang bahkan sudah terlihat seperti lansia karena rambut putih yang mendominasi.
"Iya, kadang bibi menaruh merica. Tapi, kadang bibi melupakannya." Aku mencoba menyampaikan pengamatanku pada beberapa masakan perempuan itu, sambil mengambil beberapa sendok hidangan yang tersedia dan menatanya pada piringku.
"Nih, yang ini biasanya dimasak dengan sedikit merica tapi sepertinya bibi tidak menambahkannya," ujarku sambil menunjuk sebuah sajian tumis daging sapi setelah sedikit mencicipinya barusan.
"Bibi dilarang memberikan merica pada makanan Tuan Aditya, Nyonya. Sepertinya Tuan alergi. Itu sebabnya jika Tuan Aditya berada di rumah, tidak ada masakan yang akan dimasak dengan menggunakan merica," ucap juru masak itu untuk memberi penjelasan.
"Oh..." Aku hanya merespons dengan seadanya.
Seketika aku memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi pembicaraanku dengan bibi Koki, begitu aku mendapati Aditya sedang menuruni anak tangga. Laki-laki itu pun terlihat mengarahkan langkahnya untuk mendekatiku yang tengah duduk menikmati makanan, tanpa menunggunya.
Entah mengapa, aku merasa cara berjalan laki-laki itu sedikit aneh. Sepertinya kaki Aditya cedera. Tapi... Apa peduliku?
"Selamat pagi, B!" Aditya menyapaku. Aku pun kemudian hanya menatapnya sekilas sebagai balasan, sebelum kembali menikmati makanan di atas piringku sendiri.
Beberapa menit berlalu dalam kebisuan setelah sapaan pertama itu. Aku terus menikmati makananku tanpa memedulikan keberadaan Aditya. Mungkin tidak tahan dengan sikap cuekku, laki-laki itu kemudian mencoba mengajakku berbicara lagi untuk memecah keheningan.
"Bagaimana kabarmu selama dua minggu ini? Apa kamu baik-baik saja?" Aditya terus memancingku berbicara dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Baik," jawabku singkat tanpa menatap wajahnya.
Pertanyaan basa-basi macam apa itu? Dua minggu, ia tidak pulang ke mansion tanpa kabar dan sekarang laki-laki itu berpikir bahwa aku akan menjadi tidak baik-baik saja tanpanya? How ridiculous!
Aku tidak peduli jika ia hanya pulang untuk mengambil pakaian bersih dan pergi lagi setelahnya. Aku juga tidak akan peduli jika ia lebih nyaman tidur di apartemennya dari pada di mansion ini. Aku bahkan tidak akan penasaran apabila saat ini ia pulang dengan kaki yang terpincang-pincang. Dasar aneh!
"Lalu... Bagaimana latihanmu dengan Franky? Apakah ada kemajuan?" Tanyanya lagi.
Sejujurnya, aku ingin menyumpal mulut Aditya dengan sepotong paha ayam yang ada di depanku supaya ia berhenti berbicara. Semakin lama rasanya ia semakin menyebalkan.
"Ya, begitulah!" Balasku dengan nada yang semakin dingin. Aditya mendesahkan napasnya dengan kasar. Aku kembali berhasil memainkan emosinya.
"Oya, B.." Laki-laki itu berbicara lagi. Belum jera juga rupanya.
Prangg!!
Aku membanting sendokku hingga sendok itu mengeluarkan sebuah bunyi yang nyaring. Amarahku sudah berada diubun-ubun. Sementara Aditya, aku bisa melihat sebuah keterkejutan dari caranya menatapku.
"Dengarkan apa yang akan ku katakan karena aku tidak akan mengulanginya lagi! Selama ini, aku tidak pernah mencampuri urusanmu dan aku harap kamu pun bisa menjaga sikap." Aku membesarkan suaraku sehingga pelayan di sekitar kami yang merasa tidak nyaman dengan suasana sarapan waktu itu segera mengundurkan diri dari tempatnya.
"Aku punya hak untuk menentukan dengan siapa aku berdansa, lagu apa yang ku inginkan, dan gaun apa yang akan aku kenakan nantinya." Suaraku meninggi tanpa kendali. Aku sengaja tidak menahan diri untuk memancing kemunafikannya yang selalu ingin terlihat baik di hadapanku.
"Dengar B! Aku tidak bermaksud....." Belum sempat Aditya menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memotong ucapan laki-laki itu lagi.
"Aku rasa aku sudah kenyang. Permisi!" Aku menarik mundur kursi yang ku duduki dengan kakiku hingga menimbulkan bunyi decitan yang tidak menyenangkan. Tanpa mendengar apapun penjelasannya, aku kemudian meninggalkan laki-laki itu sendiri di ruang makan.
---------------------
*Jakarta, PT. Narayan adi Kencana: 2003, Dua Hari Setelah Pertengkaran Di Ruang Makan*
Saat ini, aku sedang berdiri di dalam gedung PT. Narayan Adi Kencana. Sebuah gedung perkantoran yang begitu megah, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah dan serba canggih kala itu.
PT. Narayan Adi Kencana adalah Perusahaan kebanggaan Aditya. Laki-laki itu membangun perusahaan ini dari nol dan bisa mengembangkannya hingga menjadi sebesar sekarang.
"Aditya rupanya memiliki selera yang bagus juga," batinku berucap. Bagaimana tidak? Bangunan ini terkesan begitu nyaman, asri, dan memudahkan masing-masing orang untuk saling berinteraksi.
"Selamat siang, Ibu Bellatrix." Salah seorang resepsionis menyapaku dengan ramah.
Sungguh, aku tidak menyangka bahwa mereka bisa mengenaliku. Apa Aditya memasang fotoku dimana-mana sehingga mereka langsung mengenaliku?
"Selamat siang," balasku sambil sedikit tersenyum kaku.
"Wah, ternyata ibu jauh lebih cantik dari fotonya," celoteh resepsionis itu lagi.
Jadi, benar dia menyebarkan fotoku ke beberapa karyawannya? Tidakkah itu.. Berlebihan?
"Ada yang bisa saya bantu bu? Saya yakin ibu pasti mau menemui Bapak?" Resepsionis itu terus berbicara dengan ramah sembari bersiap untuk mengangkat telpon. Aku menduga ia pasti akan langsung mengabari Aditya setelah ini.
"Benar. Tapi, bisakah anda tidak memberitahunya sebab aku sengaja ingin memberinya kejutan?" Aku memohon kepada perempuan itu dengan wajah memelas.
Kejutan.... Aku bahkan merasa mual mendengar ucapanku sendiri.
"Baiklah Bu! Kalau begitu saya akan meminta petugas security untuk mengantar ibu ke kantor Bapak. Mohon ditunggu sebentar." Resepsionis itu menuruti permintaanku. Ia pun segera menghubungi pihak security dan bukan Aditya. Baguslah!!
Beberapa menit berlalu. Akhirnya seorang petugas security datang ke tempat resepsionis untuk mengantarku menuju ke ruang kantor Aditya.
Dengan sopan ia mempersilakanku mengikutinya. Mereka benar-benar memperlakukanku dengan baik. Mungkin karena aku adalah istri bos mereka.
Ya, setidaknya para pegawai di sini tahu cara memperlakukan manusia dengan layak. Tidak seperti pemilik tempat itu, yang bersikap kekanak-kanakan dan suka mengabaikan hak orang lain.
Semenjak pembicaraan menegangkan kami di ruang makan waktu itu, aku tidak lagi melihat keberadaan Aditya di dalam mansion. Laki-laki itu mungkin tersinggung dengan ucapanku sehingga ia kembali menjaga jarak. Tapi sekali lagi... Aku tidak peduli.
Andai saja aku tidak menyukai gaun dansa yang dibawa sekretarisnya ke mansion satu hari yang lalu, tentu aku tidak akan berdiri di tempat ini dan menemuinya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih setelah sempat menolak pilihannya yang ternyata cocok dengan seleraku. Aku bermaksud memberi tahunya tentang kebetulan ini dan sudah memutuskan akan mengenakan gaun itu nanti saat kompetisi.
Aku tentu harus menyampaikan hal ini pada Aditya secepat mungkin, sebab aku yakin bahwa ia juga sudah memesan sebuah pakaian untuk Franky, dengan model dan warna yang senada dengan gaunku. Aku takut ia akan meminta orang lain menyediakan lagi pakaian lain untuk kami, mengingat aku sudah pernah menolak pilihannya.
"Silakan Bu! Bapak masih ada di dalam." Petugas Security mengantarku persis di depan ruangan CEO, tempat dimana Aditya berada. Aku pun menganggukkan kepala, tersenyum, seraya mengucapkan terima kasih.
Petugas security itu pun akhirnya melangkah meninggalkanku. Sempat merasa aneh dengan situasi lantai yang kosong, aku kemudian tersadar bahwa lima menit yang lalu adalah awal jam istirahat. Tentu saja, semua orang sedang makan siang saat ini.
Meskipun demikian, Aditya rupanya memilih tetap berada di ruangannya. Mungkin saja ada yang mengantarkan makanan untuknya sehingga ia bisa menyantap makanan itu sambil bekerja di dalam ruangan.
"Dengan cara ini, aku harus membuat Bella merasakan apa yang aku rasakan," samar-samar aku mendengar suara Aditya dari balik pintu ruang kantornya.
"Kau benar-benar sudah gila!" Aku mendengar suara laki-laki lain di sana.
Suara lembut dari seorang laki-laki kemayu yang familiar di telingaku. Ya, itu adalah suara Franky.
"Aku memang sudah gila karena ingin mendapatkan hatinya. Bella adalah istriku dan aku akan mempertahankan dia bagaimana pun caranya," ucap Aditya kembali dengan menggebu-gebu.
Keheningan sempat terjadi beberapa detik, setelah Aditya mengucapkan kata-kata itu. Aku pun semakin lekat menempelkan telingaku pada pintu ruangannya, sebab aku tidak ingin ketinggalan informasi sedikit pun.
"Aku harap kau benar-benar bisa menyingkirkan laki-laki itu, Banyu!" Franky membalas kembali untuk merespons ucapan Aditya.
Aku membelalakkan mataku saat mendengar ucapan Franky. Menyingkirkan? Apa maksudnya?
Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Aditya? Apa ia akan menyingkirkan Indra? Apa ini maksudnya membawaku mengikuti kompetisi ini? Apa ini alasan dibalik sikap ramahnya padaku? Apa ia begitu sakit hati dan terhina karena belum bisa mendapatkanku hingga merencanakan semua ini?
Jadi, bukan aku sebenarnya yang ia targetkan. Atau mungkin aku hanya target kecilnya. Target yang sesungguhnya adalah..... Indra.....
------------------
Selamat membaca!