The Untold Story

The Untold Story
Terasing



--B's PoV--


*Suvretta House, Switzerland: Oktober, 2003*


Swiss atau Switzerland, begitu mereka menyebutnya. Salah satu negara yang terletak di dataran benua Eropa, terkenal dengan pemandangan alamnya yang begitu natural dan indah, hingga mampu menghadirkan kedamaian bagi jiwa-jiwa manusia yang menetap maupun yang berkunjung ke negara itu.


Kata orang, bulan ke sepuluh adalah bulan yang paling baik untuk berlibur ke sana. Pada bulan-bulan seperti ini, musim gugur sedang menempati singgasana permusiman, sehingga udara di sekitar menjadi tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, sebab cahaya matahari masih dapat dinikmati, meski suhu di sekitar tempat itu dalam kisaran 11°C.


Pada umumnya, musim gugur di Switzerland menyiratkan dua warna. Yang pertama adalah warna kuning ke merah-merahan. Manusia bisa menjumpai warna ini pada dataran yang lebih rendah. Pohon-pohon di sekitar akan mengubah warna dedaunan mereka, yang semula berwarna hijau menjadi kuning, oranye, atau merah. Warna yang hampir sama persis dengan warna matahari sore.


Sementara itu, warna yang kedua adalah putih, mirip seperti warna awan-awan yang ada di angkasa. Warna ini biasa dijumpai pada dataran yang lebih tinggi, pada gunung-gunung yang menjulang, yang mengelilingi tanah Swiss. Gunung-gunung itu berwarna putih karena permukaannya yang tertutup salju. Pemandangan itu seakan memberi sinyal awal bahwa sebentar lagi musim dingin akan segera tiba.


Dua gambaran kontras yang terlihat dari balik jendela kamar Suvretta House, sebuah hotel bintang lima yang berinterior klasik, di pusat kota St. Moritz, tempat ku menginap ini, seharusnya mampu membuat hatiku merona dan hangat. Namun, anehnya pemandangan itu justru membuat diriku merasa begitu kecil, sendiri, dan sunyi.


Ya, sejujurnya aku merasa terasing. Tidak, lebih tepatnya terasingkan!


Begitu aku menjejakkan kakiku ke negara ini bersama dengan Aditya dan gadis antah berantah itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarku. Jangan bertanya dimana Aditya berada dan dimana ia tidur! Aditya selalu menemani gadis itu dan ia memesan kamarnya sendiri.


Tentu saja! Bagaimana bisa seorang teman yang bepergian bersama teman lawan jenisnya, tinggal dalam satu ruangan yang sama? Bukankah itu akan menjadi aneh bagi gadis muda yang tiba-tiba menyusup di antara kami? Dan bukankah itu juga yang diakui oleh Aditya di hadapan gadis itu tentang statusku? Bahwa aku adalah temannya?


Gadis itu, Maya..... Entah julukan apa lagi yang bisa kuberikan padanya.


Ia begitu agresif. Dan dari tatapan matanya saat melihat Aditya, aku bisa menemukan betapa hausnya ia akan perhatian seorang laki-laki dewasa.


Maya terus menempel pada Aditya kemanapun laki-laki itu pergi. Sejak di dalam pesawat, saat tiba di bandara, hingga sampai di kota ini pun, ia akan merengek supaya Aditya menemaninya kemanapun.


Sementara Aditya... Entah ia polos atau justru menikmati rayuan manis-manja ABG gila itu. Laki-laki itu seperti begitu takluk dan menuruti apapun yang gadis itu inginkan.


Berulang kali aku mencoba berbicara kepada Aditya ketika ada kesempatan. Mengingatkannya bahwa permintaan Maya sesungguhnya terlalu berlebihan. Namun, Aditya justru menertawakanku.


Ia mengabaikan ucapanku dan menganggap bahwa semua permintaan Maya adalah hal yang masih wajar. Dengan dalil bahwa ia mengemban amanat ibu kandung gadis itu, Aditya kemudian merasa harus mendampingi kemanapun gadis itu ingin pergi dan bertanggung jawab memastikan keselamatannya.


Itu sebabnya aku yang tidak suka dengan kondisi ini memutuskan untuk menyendiri di dalam kamar saja dan tidak ikut bergabung bersama mereka. Dan tebak bagaimana reaksi Aditya terhadap sikapku ini? Dia tidak peduli.


Sejujurnya, pengabaian Aditya padaku memunculkan perasaan aneh di dalam hati, yang tak ku ketahui namanya. Namun, aku cukup sadar bahwa aku tidak bisa menuntut apapun setelah semua yang sudah ku lakukan padanya.


Aku seharusnya bersyukur bahwa ia masih mau mendampingiku untuk menemui Indra. Setidaknya aku tak sendirian di kota ini. Apalagi setelah kami mengetahui bahwa pertunjukan Indra akan mundur dua hari dari waktu yang dijadwalkan.


Itu berarti bahwa waktuku di negara ini akan semakin panjang. Kira-kira masih lima hari lagi. Tidak bisa ku bayangkan betapa menyedihkannya diriku jika aku benar-benar datang seorang diri.


Tapi lucunya.... Kini, meski Aditya berada di dekatku, aku seolah tidak merasakan esensi dari kehadirannya.


Sekarang tebaklah! Siapa yang menyebabkan ini semua? Tentu, Mayalah penyebabnya!


Aku masih merenungkan semua hal itu sambil memandang sebuah cincin pernikahan yang tersemat di jari manisku. Cincin yang sejak hari pertama pernikahanku terus melingkar di sana, namun tak pernah ku pandangi sebelumnya. Cincin yang ku pasang hanya sebagai formalitas dan penghormatanku pada dua keluarga yang mempersatukan kami. Cincin yang tidak ku pedulikan keberadaannya hingga sekarang.


Dan entah mengapa, saat mataku memandangnya kali ini, ada sesuatu yang mendesak dadaku hingga berdenyut nyeri. Entah mengapa, saat mataku memandangnya, semua yang ku lalui di negeri asing ini hanya menyisakan sebuah.... Rasa sakit.


Tok!! Tok!! Tok!!


Lamunanku seketika memuai bersamaan dengan terdengarnya ketukan dari balik pintu kamarku.


"B......" Aku mendengar suara Aditya di balik pintu itu.


Tok!! Tok!! Tok!!


Ceklek...


"Oh, Hi!" Aku membalas senyumannya.


"B... Apa kau baru bangun? Maaf, jika aku mengganggu istirahatmu!" Aditya memperhatikan wajahku yang mungkin saja nampak tidak bercahaya sore ini.


"No.. No...It's okay.. Sebenarnya aku tidak tidur..." Aku kemudian menjeda sejenak ucapanku.


"Would you come in?" Aku bertanya padanya kalau-kalau ia ingin masuk ke dalam kamar. Aku semakin memperlebar celah jalan masuk ke kamarku.


"Actually, aku hanya ingin memberi tahu bahwa Aku dan Maya akan berjalan-jalan berkeliling di sekitar hotel. Aku menawarkan, mungkin saja kamu ingin ikut berkeliling bersama kami?" Aditya menatapku dengan lembut dan aku terbenam dalam caranya menatapku. Tapi, berhubung dia menyebut nama ABG itu, mood-ku tiba-tiba menjadi rusak.


Aditya memang akan selalu mengajakku kemanapun ia akan pergi, tetapi aku selalu merasa bahwa ajakan itu hanya sekadar basa-basi. Ia hanya sekadar bertanya dan tidak pernah mencoba meyakinkanku. Aditya hanya akan bertanya satu kali dan begitu aku menjawab 'tidak', ia akan menganggukkan kepalanya dan langsung pergi bersama Maya.


Baru saja aku hendak membuka mulutku untuk menolaknya, aku melihat Maya berjalan mendekati Aditya. Aku melihat gadis itu berjalan sambil berusaha mengancingkan coat-nya. Dan yang terpampang di balik coat itu adalah sebuah pakaian ketat yang menunjukkan belahan d*da yang masih ranum itu.


What the.... Is she out of her mind? Suhu 11° dan ia menggunakan pakaian seksi seperti itu di balik jaketnya?


Aku membayangkan, mereka berdua pasti akan makan malam bersama setelah ini. Ketika memasuki ruangan, secara otomatis para pelayan akan meminta coat para tamu, sebab suhu di dalam ruangan telah di atur senyaman mungkin sehingga seseorang tidak perlu menggunakan pakaian berlapis-lapis. Dan... Itu berarti dia dengan sengaja akan menunjukkan asetnya kepada Aditya.


****!!! Apa selama di sini dia selalu berpakaian seperti itu?


"B.....?" Aditya memanggilku kembali karena aku belum menjawab.


"Bagaimana? Sudah ku bilang kan, dia tidak akan ikut," ucap Maya sambil tersenyum sinis menatapku.


Aku sungguh tidak suka dengan cara Maya berbicara padaku. Dan sekarang aku sedang berpikir untuk memberi pelajaran pada perempuan norak ini.


"Kebetulan aku lapar. Apakah kalian berencana mencari makan malam sekalian?" Aku menatap Aditya penuh harap dan sedetik kemudian laki-laki itu menganggukkan kepala.


"Sure! So... Do you want to join with us?" Aditya bertanya lagi untuk memastikan apakah aku mau bergabung dengannya.


"Kalian berdua masuklah dulu ke dalam. Aku akan mengganti pakaianku sebentar." Aku melihat wajah Maya yang nampak terkejut. Ia pasti tidak menyangka bahwa aku akan bergabung dengannya.


Mungkin aku harus benar-benar memberi sedikit pelajaran kepada kutu kecil ini. Ia harus tahu bahwa ada perbedaan yang besar antara perempuan yang sudah dewasa dengan yang berusaha terlihat dewasa.


Setelah Aditya dan Maya masuk ke dalam kamarku. Aku pun segera menutup pintu dan menuju ke walk in closet yang tersedia di dalam kamar.


Biasanya aku selalu menggunakan pakaian casual yang agak longgar untuk menyamarkan ukuran dadaku yang memang di atas rata-rata. Tapi kali ini, untuk memberikan pelajaran kepada gadis itu, aku akan menggunakan sebuah pakaian rajut tertutup yang ketat sehingga bisa menunjukkan keistimewaanku tanpa memamerkan isinya.


Dengan cepat, aku melepas pakaian santaiku dan mengenakan pakaian rajut lengan panjang berwarna baby pink sebagai gantinya. Pakaian itu kemudian ku padu-padankan dengan sebuah coat berwarna coklat tua, celana jeans biru, dan tentu saja sebuah chelsea boots untuk mempertegas penampilanku.


Selanjutnya, aku mengikat rambutku dengan model ekor kuda, membubuhkan sedikit bedak dan lipstik berwarna pink segar untuk menyempurnakannya. Tidak memerlukan waktu yang panjang untuk berdandan, 5 menit kemudian aku sudah siap dan berdiri di hadapan mereka berdua dengan wajah yang lebih cerah dan penampilan yang meyakinkan tentunya.


"I am ready. Shall we go.. now?" Aku melihat Aditya yang sempat tertegun menatapku.


Aku menyadari, laki-laki itu mungkin sedikit merasa aneh karena jujur saja aku jarang berdandan dan menggunakan lipstik, kecuali pada pesta atau acara-acara tertentu. Namun, aku cukup puas karena perubahan sikap Aditya saat menatapku itu dibaca dengan cermat oleh Maya.


Aku rasa sudah waktunya aku mengikuti permainan gadis kecil bau kencur itu. Sudah cukup kesempatan baginya untuk membuatku merasa terasing di tengah relasiku bersama dengan Aditya. Sudah cukup!


-----‐---------


Selamat Membaca!