The Untold Story

The Untold Story
Luka



--B's PoV--


*Engiadina Restaurant , Switzerland: 2003*


Bugghhh!!!!


"Get your dirty hands off my wife!!!" Aditya berteriak sehingga semua orang terkejut.


Musik masih mengalun, tetapi tidak ada lagi yang berdansa. Aku yang semula setengah sadar kini memperoleh kesadaranku dengan sempurna.


"Ayo pulang!" Aditya menarik tanganku dengan kasar di hadapan semua orang. Aku yang terkejut tanpa sadar melawan Aditya, dengan menahan tubuhku supaya tidak ikut bersamanya.


"Kau masih istriku sampai detik ini, Bellatrix!!! Kau mau jalan atau aku yang akan menggendongmu!" Aku masih memilih untuk tidak bergerak karena shock mendengar bentakannya. Aditya yang tidak sabar, kemudian tanpa pikir panjang membawaku dalam gendongannya. Ia terus membawaku dan tidak peduli dengan rontaan demi rontaan yang ku lakukan.


Aditya mempertahankan langkahnya hingga kami meninggalkan restaurant itu. Ia bahkan seperti tidak peduli lagi dengan keberadaan Maya, yang pada saat itu entah memilih mengikutinya atau tidak.


 --------------


*Kamar Bellatrix, Suvretta House, Switzerland: 2003*


"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, B??" Aditya membentakku kembali begitu kami sudah tiba di hotel. Saat itu, kami baru saja masuk ke dalam kamarku.


"Apa kau selalu seperti ini? Membiarkan siapapun bisa menyentuhmu!" Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari tubuhku secara tiba-tiba setelah menarikku, hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang.


"Aaahhh......" Teriakku terkejut begitu tubuh ini bersentuhan dengan badan ranjang. Untung saja aku terjatuh di atas sesuatu yang lembut sehingga badanku tidak kesakitan.


Laki-laki itu kemudian mengacak rambutnya. Ia benar-benar terlihat seperti orang yang sedang frustrasi.


Aku masih belum mengerti. Aku terus menatap Aditya dengan berjuta pertanyaan di dalam benakku. Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan? Mengapa reaksi laki-laki di hadapanku ini sebegitu mengerikannya? Ia bahkan sampai melayangkan pukulan kepada 'bule' yang berpasangan denganku tadi.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau tidak sadar, kesalahan apa yang kau lakukan, hah?" Aditya menunggu respons, tetapi aku benar-benar tidak bisa berpikir saat itu. Mungkin karena pengaruh alkhohol yang masih ada, tetapi juga karena aku merasa bahwa tidak ada kesalahan yang sudah ku lakukan.


"Kau tidak sadar rupanya." Ia tersenyum mengejekku.


"Tentu saja, bagaimana bisa kau menyadarinya? Kau membiarkan laki-laki asing, bajing*n itu menyentuhmu di depan suamimu, di depan banyak orang! Dan kau tertawa menikmati itu!! Mana mungkin kau sadar bahwa itu adalah sebuah kesalahan?" Sambil mengeram saat berucap, Aditya juga mengepalkan ke dua tangannya sekuat tenaga.


What? Jadi, itu alasan ia mengumbar amarahnya?


Semua orang di sana menari sambil tertawa. Semua orang di sana menari berpasangan dan saling bersentuhan.


Lalu.... Ia tiba-tiba mempermasalahkanku di saat semua orang yang ada di sana juga melakukan hal yang sama, tanpa ada yang mempermasalahkan mereka?


"A-aku benar-benar tidak memahami alasan kemarahanmu. Bukankah semua orang yang menari di sana juga melakukan hal yang sama?" Aku mencoba membela diriku. Meski begitu, aku berusaha berbicara selembut mungkin supaya tidak menyinggungnya.


Aditya kembali mengepalkan tangannya. Kali ini ia bahkan menatapku lebih tajam dari sebelumnya.


"Apa kau masih belum menyadari bahwa kau terlihat mur*han saat menari bersama mereka tadi?" Aku tersentak. Aku benar-benar tidak percaya bahwa kata-kata itu bisa keluar dari mulut Aditya dengan begitu ringan.


"Apa maksudmu mengataiku seperti itu?" Emosiku mulai terpancing. Aku segera bangkit dan berdiri di hadapannya.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau lebih suci dariku? Bukankah kau juga selalu seperti itu? Membiarkan perempuan-perempuan asing bergelayut manja, menempel-nempelkan tubuhnya. Bukankah kau menikmati semua itu?" Aku mendorong tubuh Aditya beberapa kali. Namun, karena ia jauh lebih besar dariku, Aditya bahkan tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Akhirnya aku hanya bisa memukul dadanya beberapa kali sambil menangis untuk melampiaskan kemarahanku.


"Kita tidak sedang membicarakan aku di sini!!" Aditya menunjuk-nunjuk dirinya. Dari caranya memandangku, aku bisa menemukan aura kemarahan yang semakin meluap-luap tak terbendung.


"Apa kau tidak sadar? Apa kau tidak merasa betapa menyedihkannya penampilanmu di sana tadi, hah? Apa kau tidak bisa menyadari bahwa banyak laki-laki menatap dad*mu yang bergoyang itu dengan tatapan lapar?" Imbuhnya lagi. Aditya berbicara sambil berjalan mendekati salah satu sisi tembok di dalam kamarku dan meninju tembok itu berulang kali.


"Oya? Ku pikir, kau seharusnya tidak bermasalah dengan hal itu. Bukankah kau menyukai sesuatu yang berbau sensual semacam itu?" Aku semakin menantangnya.


"Kaauu!!!" Aku sadar aku semakin memancing emosinya. Bunyi kertakan gigi pun terdengar.


"Aku rasa, sebelum kau memperingatkanku, seharusnya kau memperingatkan penampilan adik kesayanganmu yang terus kau ikuti kemana saja ia pergi. Dia berpakaian terbuka hingga menunjukkan belahan dadanya di tengah suhu yang dingin seperti ini. Tapi kau tidak pernah menegurnya karena kau menikmatinya, iya kan?" Aku tidak mau kalah dan berbicara dengan penuh emosi sambil terus meneteskan air mata.


"Kau bahkan memberinya anggur saat ia berpenampilan seperti perempuan 'nakal'. Apa kau memang sengaja ingin membuatnya mabuk dan berniat menidurinya setelah ini?" Tentu saja aku tidak akan membiarkan diriku dihina dan disakiti terus-menerus oleh Aditya. Jika ia bisa dengan begitu tega menghinaku, kenapa aku harus menahan diri untuk menghinanya?


Aku menarikan tarian kebahagiaan di sana. Aku bukan melacur dan menari stript*s di hadapan laki-laki hidung belang. Semua perempuan di sana pun seperti itu. Jika tiba-tiba ada yang berfantasi liar karena melihat gerakanku, maka kesalahan itu ada di dalam pikiran mereka dan bahkan pikiran Aditya sendiri, yang mengira bahwa laki-laki di sana akan menjadikanku sebagai objek fantasi mereka.


Dia tidak berhak menghakimiku seperti ini. Memangnya dia siapa? Aku memang pernah melakukan kesalahan fatal hingga melukainya, tetapi bukan berarti aku akan diam saja dan membiarkan dia merendahkan diriku seperti ini.


Jantungku berdenyut begitu nyeri. Seperti itukah sosokku di depan matanya? Serendah itukah aku?


"Kenapa kau selalu mengalihkan pembicaraan ini?? Kita tidak sedang membicarakan Maya sekarang!!" Aditya terlihat semakin kesal.


Dia membelanya! Dia melindunginya!


"Mengalihkan? Kenapa kau tidak mencoba mengalihkan fokusmu dengan mengurus dirimu sendiri, Tuan Wardhana! Berhentilah mengurusiku, sebab aku baik-baik saja sebelum kau hadir dalam hidupku!!" Kata-kata itu keluar begitu saja. Aku benar-benar marah, kecewa, tetapi sekaligus sedih di saat yang bersamaan.


Aditya benar-benar menorehkan luka di hatiku. Apa ia tidak bisa berbicara baik-baik denganku? Kenapa ia bisa begitu terlihat lembut pada Maya? Kenapa ia bisa menolerir apapun yang gadis itu lakukan, menganggap wajar semua yang gadis itu lakukan? Sementara pada diriku, ia langsung menghakimiku seperti pendosa berat.


Aku tidak pernah bermaksud menjadikan diriku sebagai obyek santapan mata para laki-laki hidung belang. Memang ku akui, aku mengenakan pakaian yang sedikit ketat tadi, tapi siapa yang tahu bahwa akan ada acara lamar-melamar di restaurant itu, bahkan sampai ada perayaan dengan tari-tarian di sana?


Lagi pula aku menari untuk memperbaiki suasana hatiku yang gamang karena ucapan Maya. Aku menari karena aku kesal terhadap tingkah Aditya yang selalu menyepelekan ucapanku dan terus menerus mendukung kelakuan Maya yang menurutku sudah melebihi batas.


Kenapa ia tidak mencoba mencari tahu terlebih dulu? Kenapa ia harus menyimpulkan tanpa mengklarifikasi semuanya?


"Fine! Kalau memang itu maumu, mulai detik ini aku tidak akan peduli padamu, B!" Aditya mulai menurunkan nada suaranya, lalu mengucapkan kata-kata itu dengan tempo yang lebih lambat. Meski begitu, emosi dalam sorot matanya yang terus menyala tidak dapat ia tutupi.


"Namun, peringatan akan selalu ada. Selama kamu dan aku masih terikat di dalam pernikahan ini, kamu harus menjaga nama baik Wardhana. Aku sungguh tidak ingin ada gosip di luar sana tentang seorang keturunan Wardhana yang tidak bisa mengendalikan.... Wanitanya!" Aditya memberi nada penekanan pada setiap kalimatnya. Setelah selesai berucap, laki-laki itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.


Brakk!!


Terdengar suara pintu kamar yang dibanting dengan keras. Isak tangisku yang awalnya sempat terhenti karena terkejut dengan bunyi suara pintu yang begitu menggelegar, selanjutnya terdengar lebih jelas pasca kepergiannya.


Aku sungguh terluka. Jadi hanya itu alasannya? Hanya karena ia tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang tidak bisa menundukkan wanitanya? Apa semua ini semata-mata hanya tentang.... Kepemilikan dan.... Gengsi semata?


 ------‐-----------------


Selamat Membaca!