The Untold Story

The Untold Story
Ada Apa Dengan...?



"Katakan padaku Bellatrix Atmaja... Bukan, Bellatrix Wardhana...." Aditya menjeda sejenak ucapannya dan menarik napasnya dalam-dalam.


"Apa kau mencintainya?" Aditya meremas kertas itu dan meletakkannya pada telapak tanganku.


Aku masih menatap matanya. Mata yang selalu ku benci. Mata yang tidak pernah menunjukkan kehangatan dan cinta. Mata yang tadi sempat menyiratkan sesuatu yang tak ku mengerti, namun akhirnya aku menyadari bahwa kali ini mata itu menyiratkan... Luka......


Aku belum menjawab pertanyaan laki-laki itu, sebab aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat. Apa benar seorang baj*ngan seperti Aditya bisa terluka?


Tapi saat ini.... Bukan hanya sorot mata itu yang menjadi perhatianku. Penampilan laki-laki itu juga membuatku hampir tak mengenalinya. Entah mengapa kali ini aku merasa bahwa Aditya terlihat begitu 'mengenaskan'.


Seorang laki-laki yang biasanya terlihat rapi, laki-laki yang selalu berbalut setelan jas mahal itu, kini terlihat sangat lusuh. Belum lagi matanya memerah, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Rambutnya begitu berantakan dan wajahnya terlihat sangat lelah seperti seseorang yang dipaksa bekerja rodi siang dan malam.


Ada apa dengan.... Aditya?


"Bellatrix!!! Apakah keluarga Atmaja tidak pernah mengajarkanmu sopan santun? Aku sedang bertanya padamu!" Aditya berucap dengan dingin.


"Itu bukan urusanmu, Aditya..." Aku membalasnya dengan mengalihkan pandanganku.


"Oya? Sekarang katakan apa yang menjadi urusanku?" Aditya mengepalkan tangannya.


"Apa aku perlu menegaskan hakku? Apa aku perlu menyentuh tubuhmu lagi supaya kamu sadar bahwa segala yang ada padamu, dari ujung rambut hingga ujung kaki adalah milikku dan sudah menjadi urusanku?" Tubuhku kembali menegang saat Aditya melangkah menghampiriku pasca mengucapkan kalimat-kalimat itu.


Ingatan-ingatan tentang kejadian di malam itu terlintas lagi. Ingatan tentang bagaimana Aditya mencoba untuk melecehkanku.


"Kau memang baj*ngan!!! Beraninya kau menyentuh dan melecehkanku!!" Seketika aku menegakkan tubuh dan berusaha memukulnya. Jarum infus yang terpasang di tangan kananku kini bahkan telah terlepas dan mengeluarkan darah karena pergerakanku yang tiba-tiba dan spontan.


Aku sempat merasakan perih saat jarum infus itu tercabut. Namun, aku sungguh tidak peduli dengan rasa itu. Yang ku pikirkan sekarang adalah cara supaya aku bisa menjangkau laki-laki itu dan memberi pukulan padanya.


"B, tanganmu!!" Aditya terkejut saat melihat darah mengalir dengan deras pada telapak tanganku.


Ia pun melangkah mengitari ranjang, memindahkan posisi berdirinya supaya bisa memeriksa tanganku yang terluka. Dengan cekatan, laki-laki itu segera mengambil beberapa lembar tissue yang terletak di atas nakas dan berusaha menghentikan serta membersihkan darah yang terus mengalir.


"Sial!! Sial!!" Ucap Aditya tanpa henti dengan wajah panik.


"Lepaskan tanganmu! Jangan menyentuhku Baj*ngan!!" Aku memberontak sambil berteriak sekencang-kencangnya.


Aku sungguh tidak rela jika baj*ngan itu menyentuhku lagi. Aku meronta dan berteriak tanpa henti hingga Vina, yang semula berada di luar, masuk kembali tanpa permisi ke dalam ruangan untuk mengecek kondisiku.


Baru saja perempuan itu membuka pintu, ia langsung membelalakkan matanya dan berkata, "T-tuan... Astaga! Ada apa dengan Nyonya?"


Vina mempercepat langkahnya. Ia bahkan terlihat seperti setengah berlari.


"Panggil Dokter!!!" Aditya berseru sambil menatap gadis itu sekilas, lalu kembali fokus pada tanganku yang masih mengeluarkan darah.


Vina tertegun hingga mendadak menghentikan langkahnya. Gadis itu mungkin merasa syok karena bentakan Aditya.


"Apa kau tuli??? Panggil Dokter sekarang juga, bodoh!!!" Aditya berteriak frustrasi.


"B-baik Tuan!" Tanpa menunggu lagi, gadis itu keluar dari kamarku sambil berjalan tergopoh-gopoh.


"Pergi dari sini! Jangan sentuh aku!!" Aku berteriak dan masih berusaha memukulnya dengan sekuat tenaga seraya menangis tersedu-sedu.


"Apa yang kau lakukan? Berhenti menjadi orang bodoh dengan menyakiti dirimu sendiri!" Aditya berbicara sambil melepaskan tangannya dari tanganku.


Ia kemudian memegang pundak dan mengguncang tubuhku beberapa kali. Aku yang sempat tertegun melihat reaksinya, pada akhirnya menghentikan seranganku pada Aditya.


Mata kami bertemu. Kami berdua saling berpandangan. Laki-laki itu kini membisu, seolah ia sedang menahan sesuatu, hingga tiba-tiba.....


Pyarrr!!!!!


Terdengar suara cermin yang pecah akibat kepalan tangan Aditya. Sejujurnya, aku begitu terkejut, saat ia mengayunkan tangannya tadi. Aku berpikir ia akan memukulku, karena itu aku berusaha melindungi kepala dengan kedua tangan.


Darah segar mengalir dari tangan Aditya yang bersentuhan dengan pecahan cermin itu. Aku bahkan melihat beberapa pecahan kaca menancap pada buku-buku jari tangannya.


"A-apa yang baru saja kau lakukan?" Dengan suara yang bergetar aku memberanikan diri untuk berbicara padanya.


"Apa kau mencintainya?" Aditya menatapku dalam-dalam. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang mencari kebenaran.


"T-tanganmu...." Aku memperhatikan tangannya yang terus mengeluarkan darah.


"Apa kau mencintainya? Cukup jawab pertanyaanku!" Aditya berucap dengan nada yang semakin dingin dan terus menatapku tajam.


"Ya...." Aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain.


Sebenarnya aku takut mengatakan hal ini pada Aditya. Aku takut jika dia akan mencelakakan laki-laki yang ku cintai. Namun, aku sadar bahwa sebaiknya aku tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat amarahnya semakin menjadi-jadi.


"Lalu... Kenapa kau seolah setuju untuk menikah denganku? Aku bahkan tidak pernah mendengar penolakanmu." Aditya bertanya lagi.


"Aku tidak bisa menolak. Aku tidak mungkin membuat kedua orang tuaku terluka." Aku masih memalingkan wajah untuk menghindari tatapannya, meski begitu dari sudut mataku, aku tetap bisa menangkap bahwa Aditya terus memandang ke arahku.


"Dimana laki-laki itu?" Aditya melanjutkan kembali pertanyaannya.


"Pergi...." Aku mulai terisak saat mengingat sakitnya, mengingat bahwa mungkin selamanya aku tidak akan pernah bisa menemui Indra.


"Apa ia tahu bahwa... Kau juga mencintainya?" Aditya berucap lirih. Meski begitu pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan laki-laki itu tanpa henti.


Aku menggelengkan kepala. Memang ada kemungkinan bahwa Indra mengetahui perasaanku meski aku belum pernah menyatakannya, namun kali ini aku tidak akan berspekulasi.


Air mataku terus mengalir hingga pipiku benar-benar basah. Bersamaan dengan itu, isak tangisku pun pecah dan semakin menjadi-jadi.


Seandainya saja aku punya kesempatan untuk menyatakan perasaanku. Seandainya saja aku bisa memilih dengan siapa aku akan menghabiskan hari tua bersama. Seandainya aku adalah burung camar yang bebas terbang di atas permukaan laut biru dan bukan burung dalam sangkar emas yang malang....


Aditya semakin mendekat padaku. Ia kemudian menyentuh daguku dengan lembut. Namun, tubuhku yang sepertinya mengalami trauma dengan sentuhannya kembali menegang.


"Kau takut padaku?" Aditya menatapku dengan raut sedih pada wajahnya.


Aku menganggukkan kepala. Aku memang takut dan berharap ia tidak akan pernah menyentuhku lagi.


"Maaf... Itu tidak akan terjadi lagi." Seorang pria arogan seperti Aditya meminta maaf? Apa aku tidak salah mendengar.


Aditya masih menyentuh daguku dan kemudian mengarahkannya agar mata kami kembali bertemu. Perlahan-lahan ibu jari tangannya menghapus air mata yang mengalir di pipiku.


"Mulai sekarang berhentilah menyakiti dirimu sendiri! Semenjak kita menikah, kau sudah menjadi tanggung jawabku seutuhnya, karena itu setidaknya jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatku menjadi seorang suami yang tidak berguna." Aditya menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali dengan kasar.


"Setidaknya, jagalah nama baikku sampai...." Laki-laki itu berhenti sejenak dan menutup mata.


"Sampai aku membawamu kepada pria itu sehingga kau bisa mengungkapkan perasaanmu padanya." Aditya membuka matanya. Sorot mata yang menyiratkan luka itu kembali terlihat.


"A-aku tidak mengerti." Aku mencoba untuk mencerna kalimatnya perlahan-lahan sebab aku takut jika aku salah menyimpulkan.


"Kita.... Kita akan mencari laki-laki itu. Namun, selama kita masih belum menemukannya, kau tetap berada dalam tanggung jawabku," jelas Aditya sambil menarik tangannya menjauhi wajahku. Ia kemudian menegakkan tubuhnya lalu berdiri membelakangiku.


"Dan setelah kita menemukannya?" Aku mencoba membuat semuanya menjadi lebih jelas. Aku tidak ingin terlihat bodoh karena berharap terlalu tinggi.


"Aku akan mengakhiri pernikahan ini." Aku tertegun. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.


Aditya? Melepasku? Singa jantan itu melepas mangsanya?


Baru saja aku ingin membuka mulutku untuk menanggapinya, tiba-tiba pintu terbuka kembali. Vina masuk ke dalam kamar yang aku tempati bersama dengan seorang pria, yang kemungkinan besar adalah seorang dokter.


Baik Vina maupun dokter itu sedikit terkejut saat melihat kondisi kamarku yang berantakan. Belum lagi banyaknya pecahan kaca yang berserakan tentu menambah deretan pertanyaan dalam benak mereka tentang apa yang baru saja terjadi antara aku dan Aditya.


"Infusnya terlepas Dokter... Tolong periksa kondisinya." Laki-laki itu berbicara kepada pria yang datang bersama Vina dengan tenang.


"B-baik Tuan," balas Dokter itu dengan segera.


Begitu mendengar ucapan Dokter itu, Aditya pergi meninggalkan ruangan kamarku tanpa menoleh lagi. Aku masih menatap punggungnya yang berlalu dengan perasaan aneh yang menyerbu dada.


Ada apa dengan Aditya? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Pertanyaan demi pertanyaan bergantian memberondong akal sehatku.


Dan sorot mata itu..... Apa maknanya? Apakah sorot mata penuh luka itu muncul karena aku merendahkan harga dirinya dengan mencintai laki-laki lain?


"Sembuhlah dengan cepat! Jika kau benar-benar ingin bertemu dengannya." Sebuah Kalimat terakhir diucapkan Aditya sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kamar.


Hari dimana aku mendengar kalimat aneh itu diucapkan adalah hari terakhir aku berjumpa dengan Aditya sampai bulan berikutnya tiba. Selama ia pergi, aku tidak mendengar kabar apapun tentangnya dan tidak pernah melihatnya lagi di dalam mansion.


Aditya Wardhana, entah apa yang terjadi padanya? Namun, apapun itu, suatu saat mungkin aku akan berterima kasih padanya. Sepertinya dia tidak sejahat yang aku bayangkan.


 ---------------------


Selamat membaca!