The Untold Story

The Untold Story
Dalam Pelukan



--B's PoV--


*Kamar Bellatrix, Suvretta House, Switzerland:2003*


"Tunggu... Aditya....." Aku menyebut nama laki-laki untuk pertama kalinya. Aditya seketika menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatapku dengan ekspresi yang sulit untuk ku jabarkan.


Laki-laki itu nampaknya terkejut. Tapi, lebih tepatnya mungkin ia terlihat seperti tidak percaya. Aku rasa, itu bisa saja disebabkan karena ia mendengarku memanggil namanya untuk pertama kali.


Aku mencoba menarik napasku dalam-dalam demi mencegah tangisku pecah karena hampir tak bisa ku tahan. Aku mematrikan dalam hati bahwa aku tidak boleh terlihat cengeng di hadapan laki-laki itu atau justru ia akan mengira bahwa aku telah menyesali kesalahan yang sebetulnya tidak pernah ku lakukan.


"Kau tidak perlu membebani dirimu lagi dengan mengantarku untuk menemui Indra. Aku.... Bisa membawa diriku sendiri." Aku kembali menarik napasku dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Hatiku begitu sakit saat mengucapkannya sebab jujur saja aku tidak ingin ia meninggalkanku sendiri di negara ini. Namun entah mengapa, kini aku merasa bahwa aku justru menjadi beban bagi laki-laki yang sudah mengatakan dengan mantap bahwa ia berniat melepasku.


Aditya menyerah pada hubungan kami dan karena itu aku tidak ingin memaksanya untuk melakukan apapun demi aku. Aku rasa dia sudah cukup berkorban selama ini dan mungkin kini aku yang akan berusaha mengejarnya, mendapatkan hatinya, tetapi tentu setelah memastikan perasaanku pada Indra benar-benar sudah pupus.


"Aku.... Meminta maaf atas semua yang ku lakukan padamu selama ini, Aditya. Dan karena itu.... Aku tidak ingin membebanimu lagi," tukasku sambil sesekali menarik ingus yang mulai muncul karena aku sudah hampir menangis.


Aditya menatapku tajam. Pada saat itu, aku mengkhawatirkan ucapanku yang baru saja ku lontarkan padanya. Apakah aku salah berucap?


"Sudah sejauh ini dan kau memintaku pergi sekarang. Kebahagiaanmu sudah di depan mata dan karena itu kau ingin cepat-cepat menyingkirkanku dengan bahasa diplomatismu?" Aku sungguh tidak menyangka bahwa perkataanku akan ditanggapi seperti itu. Apakah sekarang aku benar-benar terlihat buruk di matanya sehingga ia selalu mempersepsikanku secara negatif?


Air mataku menetes tak terbendung lagi. Bibir dan lidahku mendadak kelu. Aku benar-benar tidak bisa membalas ucapannya karena sesuatu mendesak kerongkonganku hingga rasanya sesak dan tercekat.


"Dengarkan aku, Bellatrix! Aku akan memenuhi janjiku untuk......." Ucapan Aditya terjeda saat seorang pelayan hotel tiba-tiba menghampiri kami berdua sambil membawa sebuah bungkusan di tangannya.


"Sorry for disturbing sir and Miss! Are you Miss Bellatrix from room 1345?" Pelayan itu menatapku sambil memastikan kembali nomor kamar yang tertempel di pintu.


"Yes, I am..." Aku menjawab sambil menganggukkan kepala seraya cepat-cepat menghapus buliran air mata yang terlanjur menerobos keluar.


"This is your medicines and this is the bill, Miss!" Pelayan hotel itu menyerahkan sebuah paper bag berisi obat-obatan dan kemudian sebuah nota yang bertuliskan harga yang harus ku bayar, di depan mata Aditya. Laki-laki itu sempat termenung saat menatap sebuah bungkusan berisi obat yang sedang ku terima.


"Please, wait for a while!" Pintaku kepada pelayan itu karena harus mengambil uang untuk membayar tagihan dan memberikan tips padanya.


Dengan langkah tertatih, aku mencoba kembali berjalan untuk mengambil dompet yang untungnya berada di atas kursi, yang letaknya tidak jauh dari pintu. Secepat mungkin, sambil sedikit memaksa, aku berjalan untuk meraih dompet, mengambil sejumlah uang, dan kemudian melangkah kembali mendekati pintu untuk memberikan uang kepada pelayan hotel yang sudah membantuku.


"Thank you for your help. You can keep the change," ucapku seraya tersenyum tulus pada pelayan itu dan memintanya untuk menyimpan kelebihan uang sebagai tips untuknya.


"Thank you, Miss! Get well soon!" Pelayan itu menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih sebelum melangkah meninggalkanku kembali bersama Aditya. Aku masih memperhatikan langkah pelayan hotel yang kian lama berjalan menjauhi kami, hingga.....


"Kau... Sakit?" Aditya kembali mencecarku dengan pertanyaan. Aku hanya menatap Aditya sebelum kemudian menjawab laki-laki itu.


"Aku tidak apa-apa. Jangan pikirkan aku! Selesaikan saja apa yang tadi ingin kau sam....." Belum sempat aku mengakhiri kalimatku, Aditya sudah memotongnya.


"Ada apa dengan kakimu? Kenapa berjalan seperti itu?" Aditya memajukan tubuhnya mendekatiku sementara aku justru berusaha menutup pintu supaya ia tidak masuk.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat," ucapku sambil berusaha menutup pintu namun Aditya mencegahnya.


Laki-laki itu menahan pintunya. Aku yang terluka dan tidak bertenaga ini tentu akan kalah dengannya. Aditya kini berhasil masuk ke dalam kamarku. Ia menutup pintu dan terus berjalan mendekatiku. Sementara, aku hanya bisa memundurkan langkahku sambil terseok-seok untuk menjauhinya.


Tersadar dengan kondisi kamar yang gelap gulita, Aditya kemudian mencari posisi saklar lampu dan dengan cepat berjalan ke arah saklar itu untuk menyalakannya. Mataku yang masih terbiasa dengan gelap tiba-tiba meremang karena menerima cahaya.


"Jangan nyalakan lampunya!" Aku sempat melayangkan protes kepada laki-laki itu meski terlambat. Aku hanya bisa memegang keningku secara spontan karena kepalaku berdenyut seperti mau pecah.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa pucat begini?" Aditya kembali mendekatkan dirinya denganku dan menyentuhkan ke dua telapak tangannya pada pipiku.


"Kau demam?" Ia menyentuhkan lagi telapak tangannya ke dahi. Aku segera menepis tangannya.


"Aku tidak apa-apa. Pergilah!" Aku mencoba berbicara lembut padanya seraya tersenyum. setiap detik di malam itu, aku terus menguatkan hati agar tidak terdengar lemah olehnya.


Sungguh, aku akan semakin terluka saat ia menunjukkan perhatiannya hanya karena rasa kasihan dan tanggung jawab. Aku tidak membutuhkan semua itu.


Dengan cepat Aditya mengambil bungkusan obat dari tanganku. Aku sempat ingin merebutnya lagi, tapi aku tahu kondisiku tidaklah memungkinkan untuk merebut benda itu kembali. Pada akhirnya, aku hanya bisa melanjutkan langkahku yang terbatas ini untuk merebahkan diri di atas ranjang dan memejamkan mata. Aku berharap ia bisa membaca bahasa tubuhku dan akan pergi untuk memberikan waktu istirahat padaku.


"Untuk apa salep ini?" Aditya bertanya lagi.


Ia mencoba mendekatiku yang memilih tidur memunggunginya. Aku masih terdiam seraya memejamkan mata saat air mata itu kembali mengalir.


"Pergilah! Aku tidak apa-apa...." Ucapku lirih padanya dengan isak tangis yang tidak bisa ku kendalikan lagi.


"Yang mana yang luka?" Aditya bertanya dengan suara lembut untuk pertama kalinya setelah seharian menghujaniku dengan kalimat-kalimat menyakitkan.


Aku mencoba menutup mulutku rapat-rapat supaya isak tangisku teredam. Aku menahan tangisku hingga tubuhku bergetar. Mendengar laki-laki itu mengubah intonasinya, sakit di dalam hatiku justru semakin menjadi-jadi.


"B...." Ia memanggilku lagi seraya berusaha membalikkan tubuhku sehingga menghadap padanya.


"Badanmu kenapa bisa panas seperti ini?" Aku masih meneteskan air mata dan memalingkan muka. Aku akan semakin menangis jika aku menatap wajahnya sekarang.


"Pergilah! Ku mohon! Aku tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu." Aku ingin memiringkan tubuhku kembali, namun Aditya menahanku.


"Itu di dadamu? Kenapa seperti melepuh?" Aditya menangkap sesuatu. Kimono ini nyatanya tidak bisa menutupi luka di dadaku sepenuhnya.


Sungguh! Aku tidak ingin dikasihani. Perubahan sikapnya justru membuatku tidak nyaman. Aku merapatkan kembali kimono itu saat tangan Aditya justru berusaha untuk menyibakkannya. Laki-laki itu menepis tanganku dan menyentuhkan tangannya dengan lembut pada luka dibalik kimono yang sedang ku kenakan.


"Astaga, B! Siapa yang......." Aditya menahan ucapannya seolah sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang baru saja ingin ia tanyakan.


"Anggap saja ini hanya..... Karma," ucapku sambil menatap matanya dalam-dalam. Laki-laki itu kembali mengerutkan keningnya.


"Mungkin ini teguran supaya aku.... Berhenti menyakiti orang lain..." Air mataku menetes semakin deras saat aku mengulang apa yang pernah ia ucapkan di area kolam renang saat itu.


Ya, dia membuatku merasa buruk saat mendengar ucapannya tadi siang. Aku pernah menyakitinya sehingga apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran. Bukankah seharusnya aku tidak boleh tersinggung? Kenapa aku terbawa perasaan?


"B........" Aditya menatapku iba. Sumpah demi semesta aku membenci caranya menatapku.


"Pergilah! Aku ingin sendiri. Ku mohon.... Aditya!" Sepertinya laki-laki itu akhirnya bisa memahamiku. Ia tidak lagi menahan saat aku hendak membalikkan tubuhku lagi.


Aku mencoba memejamkan mata kembali, saat air mataku masih mengalir deras. Aku menangis bukan karena rasa sakit fisik tetapi karena perubahan sikapnya yang tiba-tiba.


Seandainya saja.... Seandainya dia percaya padaku lebih awal... Seandainya dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi.... Seandainya.....


Aku menangis tanpa suara. Meski begitu getaran tubuhku karena isak tangis yang tertahan tidak bisa ku tutupi. Aku pun meringkuk seraya memeluk tubuhku sendiri yang kembali menggigil kedinginan secara tiba-tiba. Suhu tubuhku sepertinya semakin meningkat.


Aditya tidak berbicara lagi, namun ia juga tidak beranjak dari tempatnya. Mungkin saat ini ia hanya sedang memandangiku yang terlihat mengenaskan.


Beberapa detik kemudian, aku bisa merasakan bahwa kasurku bergoyang. Aku berpikir mungkin laki-laki itu akan meninggalkan kamarku sekarang, tetapi tidak lama setelah itu, aku justru merasakan sebuah tangan kekar memeluk pinggangku. Si pemilik tangan itu ternyata ikut berbaring dan membisikkan sesuatu kepadaku.


"Maya yang melukaimu lebih dulu......" Aditya mengecup kepalaku dengan lembut. Isak tangisku kembali meledak karena peryataannya.


"Kau mendorongnya untuk membela diri....." Ia menambahkan kalimatnya dan mengecupku lagi.


"Kau tidak menduga bahwa tindakan mendorong itu akan berakibat fatal sehingga kau berniat...." Aku dengan cepat memotong ucapan Aditya.


"Aku mendorongnya tetapi ia menahan tanganku." Perlahan-lahan aku berusaha menjelaskan pada Aditya.


"Maya menahan tanganku hingga mungkin ia melihat kedatanganmu dan.... dan....." Aku tiba-tiba mengurungkan niat untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi. Toh, semua sudah berlalu!


"Lanjutkan B!" Aditya masih menunggu.


"Sudahlah! Tidak ada gunanya lagi. Semua sudah selesai." Aku masih berbaring memunggunginya sambil terus menyeka air mata yang seakan tak bisa berhenti menetes.


"Lagi pula mungkin aku.... Pantas menerima semuanya......" Baru saja aku menutup mulutku, Aditya dengan cepat merespons dengan menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku, B!" Laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.


"Maafkan aku...." Ucapnya lagi.


Aku tidak menjawab dan hanya menangis semakin keras. Aku menangis di dalam pelukan laki-laki yang kini ku cintai. Laki-laki yang tiada henti mengucapkan maaf sambil mengecup kepalaku dalam bingkai sebuah pelukan penyesalan.


 ----------------


Selamat membaca!