
--B's PoV--
*Jakarta, Mansion : 2003, H-1Kompetisi*
"Bibi..." Aku memanggil juru masak yang biasanya menyiapkan makanan di mansion ini.
Beberapa kali aku memanggil wanita itu, namun tidak ada respons. Aku terus mencarinya bahkan sampai ke paviliun para pelayan. Melihat kedatanganku semua pelayan seketika menjadi kalang kabut, sebab tidak pernah sekalipun aku menginjakkan kakiku ke tempat mereka.
"Bibi....." Aku memanggilnya sekali lagi, sambil tersenyum sebagai balasan kepada para pelayan yang langsung menganggukkan kepala, tanda memberi hormat ketika melihat kedatanganku.
"Mencari Bibi Koki ya, Nyonya?" Salah satu pelayan mendekatiku dan bertanya.
Tentu saja mereka mengetahui siapa orang yang ku cari, sebab satu-satunya orang yang ku panggil Bibi adalah juru masak mansion. Sementara para pelayan yang lain, rata-rata adalah anak muda yang usianya hampir sama atau bahkan di bawah usiaku.
"Iya, apakah dia ada?" Aku bertanya sambil menajamkan penglihatanku dan mencari sosoknya ke sekitar area paviliun para pelayan.
"Saya di sini, Nyonya..." Aku membalikkan badanku dan melihat Bibi Koki sedang berjalan mendekatiku.
"Maaf, Nyonya. Saya baru pulang dari pasar untuk mengembalikan barang belanjaan yang salah dibeli oleh pak sopir." Aku melihat ekspresi takut di mata Bibi Koki.
Kedatanganku di paviliun pelayan tentu adalah hal yang aneh bagi para pekerja. Selama ini, aku memang tidak pernah menginjakkan kakiku di sana dan mencari pelayan manapun.
Aku yang asyik dengan diri dan lamunanku sendiri, tentu tidak punya waktu untuk membicarakan masalah rumah tangga dan mengkoordinir mereka semua. Itu sebabnya, Bibi Koki pasti sudah berpikir yang tidak-tidak. Mungkin ia berpikir bahwa aku akan memarahinya.
"Sudah selesai urusannya?" Aku bertanya selembut mungkin untuk mengurangi ketegangan yang tercetak di wajah perempuan paruh baya itu.
"Sudah, Nyonya," jawabnya dengan ekspresi wajah yang sedikit lebih relax.
Aku membawa Bibi Koki berjalan menjauhi paviliun pelayan. Aku tidak ingin pembicaraanku diketahui banyak orang. Bukan karena sifatnya yang rahasia, tapi ini memang bukan urusan mereka.
Kami terus berjalan sampai ke tepi kolam renang. Sambil menikmati udara segar di pagi itu, aku pun memulai percakapanku.
"Bi... Besok adalah hari yang spesial untukku, karena itu besok aku ingin memasak sesuatu untuk suamiku. Jadi, biarkan aku memasak sendiri di dapur tanpa dibantu oleh siapapun." Aku berbicara seraya menatap wajah Bibi yang kini terlihat melepas bebannya. Sudah bisa dipastikan, tadi ia berpikir terlalu jauh perihal kedatanganku.
"Baik, Nyonya." Bibi menyunggingkan senyuman.
"Ehm, apa Bibi tahu makanan apa yang disukai oleh suamiku?" Aku bertanya dengan raut wajah yang menampakkan keseriusan.
"Tuan suka seafood, Nyonya. Tepatnya udang. Biasanya Tuan akan makan paling lahap jika Bibi memasak udang itu dengan bumbu balado." Bibi Koki menjelaskan dengan bersemangat.
"Udang balado dengan petai?" Aku mengerutkan keningku karena penasaran. Apakah laki-laki semenjengkelkan Aditya suka dengan makanan-makanan semacam itu?
"Tidak, Nyonya. Udang saja tanpa petai. Mungkin Nyonya bisa menambahkan kemangi untuk mengganti warna hijaunya," ucap Bibi.
"Ah, iya. Lalu bagaimana dengan sayuran. Apa yang ia sukai?" Aku bertanya lagi.
"Biasanya Tuan suka memakan udang balado dengan singkong rebus dan beberapa potong ketimun saja Nyonya. Ah, Bibi jadi ingin memakan makanan itu," jawab Bibi Koki sambil mengusap bibir untuk menahan air liurnya yang hampir menerobos keluar.
Aku tertawa mendengar ucapan Bibi Koki. Andai saja ia melihat ekspresinya, perempuan berperut buncit itu pasti akan malu sendiri.
Tapi, tunggu... Sesederhana itu kah selera makan Aditya? Untuk ukuran pewaris grup Wardhana, aku tidak menyangka bahwa seleranya ternyata begitu sederhana dan sangat Indonesia.
"Baiklah, Bi. Besok jam lima pagi, saya akan memasak apa yang Bibi sebutkan tadi untuk suamiku. Jadi, sebelum jam itu, tolong siapkan semua sayur, bumbu, dan udangnya. Tolong cuci semua sampai bersih dan setelah itu bibi beserta semua pelayan silakan meninggalkan dapur. Aku tidak ingin diganggu." Aku berbicara dengan tegas untuk menunjukkan keseriusanku.
"Hah? Siap, Nyonya." Bibi mengangkat sebelah tangannya dan menaruhnya di dahi, persis seperti seorang prajurit yang memberi hormat.
"Kenapa Bi? Bibi tidak percaya bahwa aku bisa masak?" Aku menyipitkan mataku dan membuat ekspresi seolah aku sedang mencurigai isi kepalanya.
"Bibi, mana berani nyonya..." Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu besok jangan terlambat bangun ya, Bi! Sebab aku akan membawa makanan itu untuk menjadi bekal sebelum kami berangkat ke Singapura," ucapku dengan sungguh-sungguh.
"Siap, Nyonya. Apakah Bibi juga perlu menghaluskan bumbunya? Dan... Merebus singkongnya?" Perempuan paruh baya itu bertanya.
"Aku yang akan memasak, Bibi. Jadi, aku yang akan menghaluskan bumbu dan merebus singkong. Tugas Bibi hanya menyiapkan bahan, mencuci bersih bahan-bahan itu, dan......" Aku menjeda sejenak perkataanku.
"Dan....." Bibi mengulang kata terakhirku.
"Dan merahasiakan hal ini dari suamiku karena aku ingin memberi kejutan untuknya." Aku menegaskan kembali ucapanku.
"Baiklah! Bibi boleh pergi." Aku tersenyum lembut pada perempuan paruh baya itu dan ia pun berpamitan untuk meninggalkanku sendiri di tepi kolam renang.
Baru saja aku akan melangkahkan kakiku mendekati kursi berjemur yang ada di dekat kolam renang, tiba-tiba aku mendengar suara Bibi kembali dan berkata," Ah, Nyonya. Maaf, Bibi hampir lupa. Jangan gunakan merica ya, Nyonya!"
Perempuan paruh baya yang tadinya terlihat lucu itu, sekarang tengah memasang muka serius. Pada saat itu, aku tahu bahwa apa yang ia sampaikan adalah benar-benar sebuah hal yang penting.
"Aku tahu Bi. Bibi sudah pernah mengatakannya." Aku tersenyum kembali seolah meyakinkan perempuan paruh baya itu bahwa aku tidak akan menggunakan barang itu.
Beberapa detik kemudian, si Bibi pun berpamitan kembali dan meninggalkanku sendiri di tepi kolam. Aku kemudian memutuskan untuk melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Aku mendudukkan tubuhku pada kursi berjemur yang ada di sana, memasang kacamata hitam yang tadinya ku sampirkan pada perpotongan kerah pakaianku, dan menikmati hangatnya matahari pagi di musim penghujan ini.
"Sampai berjumpa besok.... Suamiku!" Aku bergumam kepada diriku sendiri seraya mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Ya, sampai berjumpa besok!
------------------------
*Singapore, Mandarin Oriental Hotel: 2003, Hari Kompetisi*
Siang ini, Aku dan Aditya baru saja menginjakkan kaki di Mandarin Oriental Hotel, Singapura. Sebuah hotel bintang lima yang pada masa itu begitu ikonik di Singapura.
Bentuk bangunan bagian belakangnya yang menyerupai sebuah piramid, membuatnya begitu terkesan unik dan mewah. Apalagi jika malam hari, lampu-lampu yang terpasang di sekitarnya memberi kesan hangat dan semakin menambah kemegahan bangunan itu.
Saat itu, Marina Bay Sands belum dibangun, sehingga Mandarin Oriental adalah yang terbaik. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan Aditya untuk menyewa sebuah kamar presidential suite di hotel ini. Sebuah kamar yang benar-benar mewah dengan pemandangan strategis karena letaknya yang berhadapan dengan Samudera.
Aku dan keluarga Atmaja memang sering menginap di hotel ini. Namun, biasanya kami memilih luxurious room saja. Bagi kami, kamar itu sudah sangat mewah dan nyaman.
"Apa kamu menyukai kamarnya?" Aditya bertanya padaku sambil mendekatkan tubuhnya dan merengkuhku dari belakang. Kedua tangannya melingkar pada pinggangku, sementara dagunya menempel pada pundakku.
Deg.. Deg..
Deg.. Deg...
Tubuhku menegang. Jantungku pun berdetak dengan begitu cepat. Entah mengapa, setelah semua yang ku ketahui tentangnya, jantungku masih memberikan reaksi yang sama.
Aku hendak membalikkan badanku untuk menghadap ke arahnya, sambil berharap dengan begitu ia akan melepaskan pelukannya. Namun, Aditya menahanku.
"Ku mohon... Sebentar saja.. Kamu akan bertemu dengan Kekasihmu nanti. Aku hanya ingin mencuri sedikit kesempatan untuk memeluk istriku, selagi aku masih punya waktu," ucap Aditya dengan suara lirih.
Aku bisa merasakan melalui telingaku, ada nada kesedihan di dalam suaranya. Sesuatu yang tidak biasa terjadi, namun sungguh itu terucap, keluar dari bibirnya.
Untuk beberapa saat hatiku sempat bergetar, namun tentu saja aku harus segera menguasainya kembali. Kali ini aku tidak boleh terkecoh.
Laki-laki yang sedang memelukku ini, punya seribu satu cara untuk mengungkungku di bawah kekuasaannya. Ia bahkan tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi tujuan yang sudah ia tetapkan.
Ia telah merencanakan sesuatu kepada Indraku. Oleh karena itu aku juga harus melakukan sesuatu untuk melindungi orang yang ku cintai.
Pertama-tama, dengan berpura-pura bodoh saat menemuinya di kantor beberapa hari yang lalu. Aku bertindak seolah aku tidak mendengar percakapan yang terjadi antara Aditya dan Franky di dalam ruangan itu.
Ya, setelah mendengar percakapan mereka, aku langsung mengetuk pintu ruangannya dan masuk ke dalam. Aku memasang tampang seolah aku baru saja datang dan tidak mengetahui apapun. Franky yang cukup tahu diri, seketika berpamitan supaya kami lebih leluasa berbicara.
Sepeninggal Franky dari ruangan itu, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku kepada Aditya. Aku memberi tahu bahwa aku akan mengenakan gaun yang ia pilihkan, dan meminta maaf atas sikapku yang kasar akhir-akhir ini.
Aku menjelaskan alasan dibalik sikap kasarku. Aku mengatakan padanya bahwa aku begitu gugup karena hari kompetisi semakin dekat. Aku juga menjelaskan bahwa aku takut jika Indra sudah melupakanku atau justru tidak senang dengan kedatanganku. Aku menjadikan keduanya sebagai alasan palsu untuk mendapatkan hatinya dan membuat hubungan kami yang merenggang menjadi pulih kembali.
Pada akhirnya.... Aku berhasil.
Aku dan Aditya langsung bersepakat akan pergi ke Singapura bersama-sama setelah pembicaraan di kantor, pada hari itu. Lagi pula, sejak awal ia sudah berjanji akan mengantarku menemui Indra, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk menolak niatnya.
Kami kemudian mengatur apa saja yang akan kami lakukan di negeri singa itu. Kami juga menyepakati banyak hal, termasuk memesan kamar yang sama, supaya tidak meninggalkan kecurigaan. Aku dan Aditya tentu menyadari bahwa mama Rita sering menyuruh orang-orangnya untuk memata-matai kami.
Lihatlah! Aku bermain dengan sangat halus. Aku seolah masuk di dalam rencana yang ia buat, dan dengan perlahan-lahan akulah yang akhirnya akan mengendalikan semua dari dalam.
Memang setelah pembicaraan itu, Aditya masih tidur di apartment-nya. Ia meminta maaf padaku karena masih banyak hal yang harus ia urus di kantor sebelum hari kompetisi tiba, sehingga laki-laki itu akan sering lembur dan pulang malam. Itu sebabnya, ia terpaksa tinggal di apartment yang jaraknya lebih dekat dengan kantor untuk menghemat waktu.
Semua nampak berjalan sesuai harapanku. Aditya sepertinya percaya bahwa aku telah menerimanya, paling tidak sebagai teman. Dan ini akan baik untuk menjalankan rencana ke dua. Rencana itu akan terjadi hari ini. Ah, tidak! Lebih tepatnya.... Sebentar lagi.
-------------------
Selamat membaca!