
--B's PoV--
*Jakarta: 2003, Malam Berikutnya*
Waktu itu tengah malam. Aku melihat cahaya lampu jalan begitu terang benderang seolah menemani sang bulan yang bersinar sendirian, kesepian. Sang bulan yang nampak kehilangan senyumnya dan tengah memurungkan wajahnya.
Pada saat yang sama, aku mendengar erangan-erangan angin yang kian lama kian berisik. Entah apa yang diributkannya kala itu. Yang pasti, seiring suara-suara yang terdengar, ku dapati pula ratusan daun layu dari ranting pohon Mahoni yang berdiri kokoh di tengah-tengah taman beterbangan menghampiriku.
Ah! Mungkin kali ini yang tak berwujud sedang unjuk kekuatan, sembari mencuri perhatian dewi malam yang kesepian itu agar kembali tersenyum.
Namun, sepertinya usaha mereka belum berhasil. Sang bulan terus larut dalam perasaannya sendiri. Tidak peduli seberapa banyak cahaya yang menemaninya, tidak peduli seberapa banyak atraksi terpampang di hadapannya.
Hingga pada titik tertentu, aku pun tersadar. Dewi malam itu, dia sendiri yang menciptakan kesepian bagi dirinya. Ya, dia adalah penciptanya.
Sama seperti aku yang menciptakan kekosongan dalam hatiku. Aku tidak pernah membiarkan seorang pun mengisinya. Aku yang membuat hatiku menjadi terlantar, sebab sebelumnya ia hanya memiliki satu tuan, kepada tuan itu ia akan terus mengabdi, dan tanpa tuan itu ia akan kehilangan jiwanya.
"Haaaahhhh......" Aku mendesah kepada semesta.
Sepertinya malam ini akan terasa lebih panjang dari biasanya. Tetapi, mungkin lebih baik begitu. Sebab ketika pagi telah menjemput, semua perasaan ini hanya akan menjadi sebuah..... Kenangan.
-----------------
*Jakarta: 2003, Keesokan Paginya*
Seperti yang dikatakan oleh Aditya beberapa hari yang lalu, hari ini Mama Rita, ibu mertuaku akan datang mengunjungi kami. Sebelum kedatangannya, sejak pagi aku menyaksikan Vina sibuk mengoordinir beberapa orang untuk menyulap kamarku, sehingga memperlihatkan seolah Aditya dan aku selama ini menempati kamar itu bersama-sama.
Barang-barang Aditya ditata bersebelahan dengan barangku. Baik itu di dalam kamar mandi, di atas meja rias, dan bahkan di dalam lemari pakaian, semuanya terisi dengan barang-barang kami. Parfumku dan parfum Aditya tak lupa disemprotkan ke berbagai sisi ruangan sehingga memberi kesan bahwa kami banyak melakukan aktivitas bersama di dalam kamar itu.
Harus ku akui, Vina benar-benar profesional dalam mengerjakan tugasnya. Setiap detail ia pikirkan dengan terencana, matang, sempurna, dan tanpa celah.
Semua yang dilakukan Vina meyakinkanku, bahwa seharusnya tidak ada sesuatu hal pun yang bisa membuat Mama Rita menjadi curiga. Ya, seharusnya tidak ada!
Ceklek.....
"Kamu sudah siap?" Aku melihat Aditya baru saja memasuki 'kamar kami' dengan sedikit terburu-buru. Laki-laki itu bahkan membuang begitu saja jas, dasi, serta ikat pinggang yang sedari tadi melekat pada tubuhnya.
"S-sudah!" Aku berucap gugup. Apalagi setelah aku melihat laki-laki itu sedang membuka kancing kemeja yang ia kenakan satu per satu.
Hei, apa ia menyadari tindakannya? Jangan bilang ia akan melepas semuanya di hadapanku!
Mendadak pipiku terasa panas. Mungkin sekarang warnanya telah berubah menjadi merah padam. Aku pun memalingkan wajahku dengan tergesa-gesa.
"Kamu kenapa B?" Aditya mengerutkan keningnya melihat perubahan ekspresiku dan kemudian berjalan menghampiri.
"Kamu sakit?" Laki-laki itu sempat menyentuhkan telapak tangannya pada dahiku sebelum akhirnya ku tepis karena aku merasa baik-baik saja. Aku pun menggelengkan kepala untuk meresponsnya.
Dengan sedikit ragu aku mencoba melihat penampilannya dari ujung mataku. Laki-laki itu ternyata hanya melepas kaitan kancing bajunya saja. Ia masih cukup waras dengan tidak melepas kemeja dan celananya.
"Kamu memilih dress yang tepat," celoteh laki-laki itu tiba-tiba saat melihat penampilanku dari dekat.
"Mama pasti akan mengagumi penampilanmu," imbuhnya lagi.
Laki-laki itu kemudian beberapa kali mencuri kesempatan, melirikku dengan sudut matanya, dan mengangkat sedikit garis bibirnya. Jika aku tidak jeli, tentu aku tidak akan sadar bahwa ia sedang tersenyum sekarang.
"Apa yang membuat ia tersenyum?" Aku bergumam di dalam hati.
Tapi... Untuk kali ini, mungkin aku harus setuju dengan pendapat yang keluar dari bibir Aditya. Pakaian ini memang terlihat begitu cocok dengan bentuk tubuhku.
Aku mengenakan sebuah mini dress sepanjang lutut, berwarna kuning lembut dengan potongan dada agak rendah. Dua buah tali spagetti pada lengan berhasil mengekspos pundakku, dipercantik dengan model bagian bawah dress yang mengikuti bentuk lekuk pinggul hingga menimbulkan kesan s*ksi saat ku kenakan.
Sebuah kalung berlian berbandul bintang bahkan ikut tersemat sehingga menambah keanggunan dan anting yang senada dengan kalung itu tidak ketinggalan menghias telingaku. Sebuah penampilan yang sebenarnya cukup simple namun tetap menyelipkan kesan seksi dan mahal.
"Vina yang memilihkan untukku. Dia juga yang mendandani...." Belum selesai aku berbicara, Aditya memotong ucapanku.
"Tapi... Aku tidak suka jika rambutmu diikat." Laki-laki itu tiba-tiba menarik tali yang menyatukan rambutku dan membuatnya terurai dengan sempurna.
"K-kau! Apa yang kau...." Aku tentu saja terkejut.
Tidakkah itu terlalu spontan dan lancang? Lagi pula, aku tidak sedang berdandan untuknya. Kenapa aku menangkap kesan seolah aku harus mengikuti seleranya?
"Maaf! Apa sakit?" Aditya sepertinya baru saja menyadari tindakannya yang agak kelewatan. Dasar! Sepertinya ia selalu terlambat menggunakan otaknya.
"Coba lihat! Begini lebih cantik, B!" Saat ini tangannya sedang menyentuh rambutku dan merapikannya.
"Tolong kamu perbaiki rambutmu sedikit lagi! Aku harus segera mandi. Setengah jam lagi, mama akan segera tiba!" Belum juga aku membalas, ia sudah berbicara lagi.
Aditya mungkin bisa membaca mimikku yang terlihat tidak suka dengan tindakannya tadi, sehingga ia pun segera memberikan penjelasan supaya aku tidak tersinggung. Aku baru menyadari sesuatu. Ternyata laki-laki itu cukup peka dalam membaca gerak-gerik tubuhku.
"Iya..." Aku menjawab singkat sambil memanyunkan bibirku tanpa sadar.
Setelah mendengar responsku, Aditya kembali menatapku sekilas dan tersenyum simpul. Kali ini senyumnya terlihat lebih jelas.
"Apa dia sudah gila? Senyum-senyum sendiri sejak tadi..." Aku kembali bergumam dalam hati.
Sosok laki-laki itu kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Aku pun segera merapikan ulang rambutku.
"Huh...." Aku mendesah ringan. Iblis cabul itu, mungkin sudah waktunya ia mendapat julukan baru. Si Tuan Otoriter!
-------------
Tin.. Tin..
Aku mendengar bunyi klakson mobil di depan lobi mansion kami. Aku yakin bahwa itu adalah bunyi klakson mobil yang mengantar Mama Rita. Sebab, tidak lama setelah mobil itu berhenti, seorang perempuan paruh baya bersanggul Jawa nampak keluar dari dalam dan tersenyum hangat kepada kami.
"Bella!" Aku mendengar Mama Rita menyebut namaku dengan panggilan kesayangannya.
"Mama..." Aku menyunggingkan senyum terbaikku untuk merespons sapaannya.
Tentu saja senyum yang ku berikan pada Mama Rita adalah senyum yang tulus. Aku selalu menghargai orang tua.
"Ma...." Kini tiba giliran Aditya menyapa mamanya.
"Mama rindu kalian." Aditya pun menyambut pelukan mamanya.
"Tumben anak badung ini sudah di rumah jam segini. Apa semenjak menikah dia selalu pulang awal, sayang?" Mama Rita bertanya padaku.
"Hah!! Eh... I-iya Ma..." Jawabku dengan terbata-bata. Sejujurnya aku agak ragu untuk berbohong tetapi karena sudah berjanji pada Aditya, jadi aku harus menyempurnakan sandiwara kami. Semoga Mama tidak menyadarinya.
"Memang ya, menikah itu bisa merubah semua kebiasaan kita. Dulu Papanya Adit juga begitu. Semenjak menikah dengan Mama, bawaannya selalu ingin pulang cepat." Sambil berbicara ringan, kami berjalan melewati lorong demi lorong di dalam mansion.
Mama Rita memang seorang Mama yang cerewet. Dengan logat Jawa khasnya, ia terus berbicara dan memecah suasana mansion yang biasanya hening ini.
Tidak terasa, saat ini kami bahkan sudah berada di ruang makan. Berbagai menu makanan lezat dengan aroma yang memikat telah dihidangkan untuk menyambut mama mertuaku itu.Satu set menu makan malam yang lengkap, mulai dari aneka olahan unggas, seafood, dan daging tersedia di atas meja.
Tentu saja Aditya yang menyiapkan semua ini lewat orang-orang kepercayaannya. Semua yang seharusnya disiapkan oleh Nyonya rumah telah diambil alih karena ia tahu bahwa Nyonya itu tidak akan berinisiatif melakukannya.
Sepanjang makan malam itu, kami terus bercerita tentang apa saja, hingga makan malam yang biasanya selesai dalam waktu lima belas menit kini baru selesai dalam waktu enam puluh menit. Cukup lama dan cukup menyiksaku sejujurnya, sebab Mama Rita terus menanyakan perihal hubungan kami, bahkan sampai pada hal-hal yang tidak perlu dan menjurus tabu.
Yang benar saja, tadi Mama bahkan menanyakan bagaimana perasaanku saat malam pertama. Apa aku kesakitan, menangis, dan tidak bisa jalan setelahnya?
Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Aku saja belum pernah disentuh oleh siapapun, bagaimana aku bisa mendeskripsikan rasanya?
Oh Tuhan, untung saja Aditya bisa mengalihkan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia seperti pawang yang bisa mengendalikan sikap mamanya. Jika tidak, entah apa yang harus ku katakan?
Drrrttt... Drrrttt...
Aku melihat handphone Aditya bergetar di atas meja. Laki-laki itu kemudian meminta ijin untuk mengangkat teleponnya sejenak dan meninggalkan ruangan.
Tidak lama setelah itu, ia kembali dan meminta maaf sebab urusan mendadak membawanya harus pergi ke kantor dengan segera. Aku dan mama pun mengangguk tanda memahami. Sebelum pergi ia mencium pipi mama untuk berpamitan dan.....
Cup...
Ia mencium keningku cukup lama seraya berkata, "Sayang, ini benar-benar mendadak. Maafkan aku. Aku berjanji akan segera pulang."
Aku mengangguk lagi. Aku tidak bisa membalas ucapannya karena masih syok dengan ciuman itu.
"Sandiwara, B! Sandiwara..." Aku hanya bisa mengutarakannya di dalam hati untuk menguatkan diriku.
Aditya kemudian bergegas pergi. Aku dan Mama Rita masih menatap punggungnya hingga ia benar-benar tidak terjangkau lagi oleh pandangan kami berdua.
"Aditya..... Anak laki-lakiku yang nakal tapi sangat penyayang." Mama Rita kembali membuka percakapan yang sempat terjeda.
"Mama sebenarnya hampir tidak percaya saat ia menyetujui perjodohan kalian." Sepasang mata tua itu terlihat berkaca-kaca.
"Ma....." Aku menggenggam tangan Mama Rita dengan hati-hati.
"Cukup sulit meyakinkan Aditya untuk menikah, Bella. Ada begitu banyak gadis dari keluarga baik-baik, yang sudah mama kenalkan padanya, tetapi tidak ada satupun yang bisa membuat anak badung itu berubah pikiran, kecuali kamu." Kini mama Rita menyunggingkan senyumnya padaku.
"Sesulit itukah Ma?" Mama Rita kemudian menganggukkan kepala.
Sejujurnya aku tidak tahu harus menjawab apa. Sebab nyatanya, laki-laki itu terlihat ingin memangsaku sejak awal perjumpaan kita. Aku bahkan berpikir dia adalah pria cassanova yang selalu di kelilingi oleh wanita.
Ah, mungkin Mama Rita tertipu. Aditya pasti bermain di belakang tanpa sepengetahuan mamanya.
"Sekarang, Mama tahu kenapa ia memilihmu," sambung perempuan itu lagi.
"A-aku. K-kenapa?" Wajahku pasti sudah sangat aneh sekarang. Tanpa Aditya, aku benar-benar mati kutu. Oh Tuhan cepatlah suruh laki-laki itu pulang.....
"Kamu sulit ditaklukkan...." Mama Rita menyentuh pundakku dan mengusapnya dengan lembut.
"Bahkan hingga detik ini. Iya kan?" Mama Rita melanjutkan perkataannya yang sempat terjeda. Kali ini ia berbicara seraya menatapku dengan tenang dan hangat seolah pertanyaannya adalah pertanyaan biasa.
Mati aku! Mati aku! Apa yang harus ku jawab?? Ya Tuhan, Iblis cabul itu, kenapa ia pergi di saat-saat seperti ini.
"Ma... A-aku....." Jantungku berdetak cepat. Apakah aku membuat kesalahan hingga mama bisa membaca keanehan-keanehan sikapku?
Kau memang bodoh, B!!!
"Bella... Tidak perlu khawatir! Mama tidak marah. Mama bisa memahami semuanya. Kamu tentu perlu beradaptasi karena baru saja mengenal putra Mama. Tidak apa-apa, Nak!" Mama Rita menatapku semakin lembut seolah ingin meyakinkanku bahwa ia tidak kecewa padaku.
Tidak tahan dengan sikap Mama mertuaku yang lembut, mataku seketika berkaca-kaca. Aku kini merasa berdosa.
"Maaf, Ma..... A-aku...." Isak tangisku pun mulai terdengar. Aku tahu aku tidak bisa berbohong lagi dan mencari-cari alasan.
"Hei... Tidak apa-apa sayang! Semuanya butuh waktu. Mama yakin lambat laun kamu akan menyayangi putra mama dengan sepenuh hatimu." Mama Rita berucap menenangkan sambil mendekap tubuhku.
Aku memilih diam. Lambat laun? Aditya dan aku bahkan sudah merencanakan untuk berpisah sebentar lagi. Begitu Indra ditemukan, pernikahan kami akan berakhir.
"M-mama bisa... Merasakan sikapku? Maaf... Aku... membuat mama... menjadi kece-wa..." Ucapku tersengal-sengal karena isak tangis yang menyertainya.
"Mama bukan cenayang yang bisa mengetahui perasaanmu sayang...." Mama Rita mengusap puncak kepala dan membelai rambut panjangku yang terurai sebelum melanjutkan perkataannya kembali.
"Matamu menyiratkan semuanya. Itu sebabnya mama tahu kamu belum menerima Aditya sepenuhnya." Mama Rita menjelaskan padaku perlahan-lahan.
"Mataku?" Aku mengerutkan kening. Apa benar sorot mata bisa mengungkapkan semuanya?
"Iya, nak!" Aku merasakan kepala Mama Rita kembali mengangguk untuk menegaskan jawabannya.
"Caramu memandang Aditya berbeda dengan caranya memandangmu...." Mama Rita menjeda lagi ucapannya.
Hah? Apa maksud perkataan Mama ini? Aku.... Tidak mengerti. Mama tidak mungkin ingin mengatakan bahwa Aditya mencintaiku kan?
----------------
Selamat membaca!