The Untold Story

The Untold Story
Bintang



--B's PoV--


*Jakarta:2003*


"M-mama bisa... Merasakan sikapku? Maaf... Aku... membuat mama... menjadi kece-wa..." Ucapku tersengal-sengal karena isak tangis yang menyertainya.


"Mama bukan cenayang yang bisa mengetahui perasaanmu sayang...." Mama Rita mengusap puncak kepala dan membelai rambut panjangku yang terurai sebelum melanjutkan perkataannya kembali.


"Matamu menyiratkan semuanya. Itu sebabnya mama tahu kamu belum menerima Aditya sepenuhnya." Mama Rita menjelaskan padaku perlahan-lahan.


"Mataku?" Aku mengerutkan kening. Apa benar sorot mata bisa mengungkapkan semuanya?


"Iya, nak!" Aku merasakan kepala Mama Rita kembali mengangguk untuk menegaskan jawabannya.


"Caramu memandang Aditya berbeda dengan caranya memandangmu...." Mama Rita menjeda lagi ucapannya.


Hah? Apa maksud perkataan Mama ini? Aku.... Tidak mengerti. Mama tidak mungkin ingin mengatakan bahwa Aditya mencintaiku kan?


Mama pasti salah paham. Sejak awal Aditya adalah seorang dominan yang terbiasa mendapatkan apapun yang ia mau. Aku sebenarnya hanyalah salah satu keinginan yang harus ia dapatkan.


Dan setelah ia berhasil mengikat ragaku, laki-laki itu baru menyadari bahwa sampai kapanpun hatiku tidak akan menjadi miliknya. Aditya mengetahui bahwa cintaku kepada Indra sangatlah besar sehingga tidak ada tempat bagi yang lain.


Itu sebabnya ia kecewa. Itu sebabnya harga dirinya terluka dan kemudian berniat melepasku sekarang. Ia melepasku karena tidak ada istilah 'mengemis cinta' dalam kamus seorang dominan.


"Tatapan Adit padamu sangatlah langka, Bella!" Mama Rita menjeda sejenak ucapannya.


"Hanya ada dua perempuan yang pernah mendapat tatapan mata seperti itu." Aku menegakkan tubuhku kemudian memandang wajah Mama Rita dengan rasa penasaran.


"Dua perempuan?" Aku kembali berucap sambil menghapus sisa air mataku.


"Ya... Yang pertama bernama Nareswari dan yang ke dua adalah kamu, Bella!" Mama Rita membalas tatapan penasaranku dengan tatapan lembut.


Nareswari..... Apakah itu.....?


"Tunggu, Ma! Tunggu sebentar..." Aku berlari meninggalkan Mama Rita sendiri di ruang makan. Aku semakin mempercepat langkahku, menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar.


Foto... Ya, Foto itu. Apakah perempuan yang ada di dalam Foto itu yang bernama Nareswari? Aku harus memastikannya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin membiarkan rasa penasaranku terus menghantui.


Baru saja aku membuka kenop pintu kamarku. Aku segera mencari buku yang beberapa hari lalu ku baca dan ku letakkan di atas nakas setelah selesai membacanya.


"Kemana perginya buku itu?" Aku berbicara pada diriku sendiri saat buku itu tidak lagi berada pada tempatnya.


Vina.... Ya, ini pasti ulah Vina. Dia sudah memindahkannya saat mengatur ulang kamar ini.


Aaaaarggghh!! Sungguh sial!


Aku tidak menyerah. Aku terus mencari buku itu ke seisi ruangan. Aku membongkar setiap nakas yang ada di dalam kamarku. Memeriksa laci-lacinya dengan saksama, hingga akhirnya aku menemukan buku yang ku maksudkan dan selembar foto yang terselip di dalamnya.


Gotcha!!


"Bella!" Aku sedikit terkejut karena Mama Rita sudah berdiri di belakangku.


"Mama!" Tubuhku sedikit tersentak saat menyadari keberadaan perempuan paruh baya itu di kamar ini secara tiba-tiba. Mungkin Mama Rita merasa aneh dengan sikapku tadi, hingga ia pun menyusulku ke kamar.


"Maaf, Mama mengagetkanmu! Kamu sih tiba-tiba berlari begitu saja, meninggalkan Mama sendiri di ruang makan dengan rasa penasaran." Mama Rita bertutur lembut sambil tertawa kecil.


"Maaf, Ma! Aku mencari ini." Aku menunjukkan foto yang terselip di buku itu kepada Mama.


"Apa perempuan ini yang bernama Nareswari?" Aku bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Sari... Dari mana kamu mendapatkan foto ini, Nak? Mama pikir Adit sudah membakar semuanya." Mama Rita bertanya padaku sambil terus menatap foto itu.


"Sari?? Jadi dia bukan Nareswari? Atau?" Aku sedikit kecewa mendengar nama yang disebut berbeda.


Kalau begitu, siapa perempuan dalam foto ini? Tapi... Apa mungkin Sari adalah nama panggilan dari Nareswari? Sekejap, begitu banyak pertanyaan terlintas dalam benakku.


"Sari dan Nareswari adalah orang yang sama. Kau benar, dialah perempuan itu." Raut wajah Mama Rita tiba-tiba berubah menjadi dingin. Tidak ada lagi ekspresi lembut terpancar di wajah ayunya.


"Perempuan itu adalah perempuan yang pernah dicintai putraku dengan sepenuh hatinya. Perempuan yang pernah membuat putraku menentang orang tuanya sendiri demi mempertahankan hubungan mereka. Perempuan yang licik, yang sebenarnya hanya menginginkan harta kami saja." Mama Rita membuang napasnya dengan kasar.


Matanya sempat menyiratkan luka. Mungkin saat ini perempuan paruh baya itu sedang mengingat betapa hatinya begitu terluka dulu ketika sang putra mengabaikan sarannya.


"Tapi... Beruntung putraku mengetahui kebusukan perempuan licik itu dengan segera. Aditya mencampakkan Sari persis di hari pernikahan yang dirancang untuk perempuan itu. Bukankah itu pembalasan yang setimpal?" Mama Rita tersenyum di akhir cerita dan ekspresi puas tercetak dengan jelas di wajahnya yang hanya menunjukkan sedikit kerutan.


"Mencampakkan.. Di hari pernikahan?" Aku berpikir keras untuk mencerna cerita ini.


"Panjang ceritanya sayang. Intinya Aditya bukanlah laki-laki bodoh yang akan membiarkan dirinya disakiti. Dia membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan...." Mama Rita menyentuh daguku dengan lembut.


Sesaat tubuhku menegang. Aku sungguh merasa takut sekarang. Melihat perubahan sikap Aditya yang begitu drastis padaku, apakah semua ini adalah bagian dari permainannya untuk membalaskan dendamnya padaku? Apakah dia sedang merencanakan sesuatu dengan pura-pura berbuat baik?


Mengapa hatiku tidak tenang? Apakah ini suatu pertanda buruk? Oh, Tuhan... Apa yang harus ku lakukan?


"Sayang.. Ada apa? Mengapa wajahmu tiba-tiba pucat?" Mama Rita menyentuh kedua pipiku dengan ke dua telapak tangannya.


Bagaimanapun juga aku tidak mungkin menceritakan bahwa aku sebenarnya juga telah melakukan pengkhianatan. Bukankah perasaanku terhadap Indra saat menyandang status sebagai istri Aditya adalah juga sebuah pengkhianatan?


"Kamu yakin?" Mama Rita bertanya sekali lagi untuk memastikan dan aku menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya. Sekarang aku bahkan berusaha menutup rapat ekspresi takut dan khawatirku.


"Dengarkan Mama, sayang! Aditya mungkin bukan tipe laki-laki yang romantis. Tetapi ketika ia sudah menyerahkan hatinya, maka sulit bagi dia untuk berpaling." Mama Rita tersenyum kembali seraya menatapku.


"Kau tahu? Sekalipun Sari mengkhianatinya, nyatanya Aditya tetap membutuhkan banyak waktu untuk melupakan perempuan licik itu. Dia memang menyakiti Sari, tetapi dia juga menyakiti dirinya sendiri karena telah menyakiti perempuan yang ia cintai." Mata Mama Rita kini berkaca-kaca. Entah apa yang sudah dilaluinya saat mendampingi putranya yang patah hati waktu itu.


"Tapi.... Sekarang Mama senang karena kamu bisa mengisi hati putra Mama yang kosong dan dingin itu. Sekarang, Mama bahkan bisa melihat dari sorot matanya bahwa putra mama itu begitu memujamu." Mama Rita tiba-tiba memelukku dengan erat.


"Ma....." Dengan ragu-ragu, aku akhirnya membalas pelukan Mama Rita.


"Ingat B! Ketika Aditya sudah menyerahkan hatinya untukmu, maka ia pasti akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, karena itu belajarlah untuk menumbuhkan rasa cintamu padanya. Oke, sayang?" Mama Rita melonggarkan pelukannya dan menatapku dalam-dalam. Mungkin ia sedang mencari jawaban dari sorot mataku.


"Iya, Ma..." Aku menjawab sambil tersenyum untuk meyakinkan Mama bahwa aku akan berusaha mencintai putranya.


Namun...... Jauh di lubuk hatiku yang terdalam, dari relung hatiku yang terdasar, aku sedang mengutuki diriku sendiri yang telah berani membohongi seorang ibu, yang begitu percaya dan menyayangiku.


"Maafkan aku, Mama! Maafkan aku!" Aku berucap di dalam hati.


Mataku kini bahkan telah berkabut karena terus menerus mengeluarkan air mata. Sebenarnya, aku ingin sekali menangis sambil berteriak kencang. Namun, aku harus menahan diriku.


"Ya, Sudah! Jangan menangis lagi ya! Semua pasti butuh waktu. Yang penting, menantu Mama tidak mudah menyerah. Mama yakin secepatnya kamu pasti akan mencintai suamimu." Mama Rita memberi semangat seraya mengusap pundakku dan kemudian menggenggam kedua tanganku dengan erat. Sementara aku, aku hanya bisa membalas sikapnya dengan sebuah tatapan sendu.


"Maafkan aku, Mama!" Aku kembali berseru di dalam hati.


"Oya, sejujurnya Mama agak lelah hari ini. Dari pagi hingga siang, ada banyak pertemuan yang harus mama ikuti. Mama ingin tidur lebih awal. Bisakah kamu menunjukkan kamar Mama?" Aku melihat Mama Rita menguap beberapa kali setelah menyelesaikan kalimatnya. Perempuan paruh baya itu sejujurnya memang terlihat sedikit lelah.


"Mari, Ma! Aku akan mengantar Mama," ucapku sambil menggandeng tangan Mama Rita dan membawanya menuju ke ruangan yang lain.


 ----------------------


Dan di sinilah aku berada saat ini. Aku sedang berada di dalam perpustakaan mansion Aditya untuk menenangkan diri.


Setelah mengantar Mama Rita beristirahat di dalam kamarnya, aku yang kembali merasa takut, terancam, dan tidak tenang ini kemudian melangkahkan kakiku ke perpustakaan. Aku berharap aku akan menemukan sebuah buku yang bisa membuat suasana hatiku membaik di tempat itu.


Sayangnya, cara ini tidaklah membuahkan hasil. Beberapa kali aku mengganti buku bacaan, nyatanya tidak ada satu buku pun yang bisa mengalihkan kegelisahanku. Pikiran dan logikaku terus-menerus membawaku kembali pada penjelasan Mama Rita tentang karakter putra bungsunya itu.


Apa selama ini Aditya hanya berpura-pura baik padaku karena telah merencanakan sesuatu yang nantinya akan membuatku hancur? Apa jangan-jangan ia ingin menjebakku? Ya... Apa mungkin ia ingin menemukan Indra untuk melukainya di hadapanku?


Pikiran-pikiran buruk tentang Aditya semakin menjadi-jadi di tiap detiknya. Pikiranku terus berkelana. Pikiran itu tidak hentu-hentinya mencari jawaban dan mengidentifikasikan kemungkinan-kemungkinan di balik sikap lembut yang ditunjukkan Aditya akhir-akhir ini padaku dan membuatku semakin tidak nyaman.


Hingga tanpa sadar..... Pikiran yang kelelahan mengembara ini pun akhirnya masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Ya, aku kemudian memejamkan mata dan tertidur. Aku terlelap sambil menggenggam sebuah buku dan setengah berbaring di sofa yang terletak di salah satu sudut perpustakaan itu.


Cukup lama aku berbaring di sana, hingga aku merasakan seseorang sedang menghampiriku. Seorang laki-laki dengan aroma maskulin yang begitu kuat. Seorang laki-laki yang membuatku takut, khawatir, dan merasa terancam sepanjang malam ini.


Laki-laki itu mengambil buku dari tanganku dan meletakkannya di lantai. Tangannya sempat menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahku sebelum membawaku dalam gendongannya.


Jangan bertanya kenapa aku tahu! Tentu saja karena aku seketika terjaga saat merasakan semua sentuhannya. Aku sadar, tetapi aku memilih untuk berpura-pura tidur.


Laki-laki itu terus menggendongku dengan kedua lengannya. Membawaku melewati lorong-lorong mansion menuju ke kamar kami. Kamar yang baru saja disulap Vina tadi pagi.


Aku terus memejamkan mata. Bahkan pada saat ia kesusahan membuka kenop pintu dan memundurkan badannya untuk menutup pintu, aku masih setia menutup mataku.


Aku berusaha setenang mungkin supaya ia tidak menyadari bahwa aku terjaga. Meski saat itu rasanya jantungku ingin melompat keluar, aku berusaha meredam gejolaknya.


"Eeehh...." Aku mendengar ia sedikit bersuara saat meletakkanku perlahan-lahan di ranjang. Laki-laki itu kemudian menyelimuti tubuhku dengan hati-hati dan kembali mengusap kepalaku dengan lembut beberapa kali.


Awalnya aku sempat berpikir bahwa Aditya akan segera meninggalkanku, sebab kami tidak lagi saling bersentuhan. Aku merasa sedikit lega waktu itu.


Namun, degub jantungku kembali berpacu, ketika aku merasakan hal yang lain. Tiba-tiba saja, aku merasakan udara panas yang bersumber dari napas Aditya, menyentuh kulit wajahku.


Pertama-tama hawa panas itu begitu terasa di dagu, kemudian beralih ke pipi, lalu berpindah lagi dan lagi... Begitu dekat.... Begitu intim...


Apa ini? Apa sekarang dia ingin menciumku? Apa dia ingin melakukan sesuatu padaku karena berpikir bahwa aku berada dalam kondisi yang tidak sadar?


Iblis cabul tetaplah iblis cabul! Aku terlalu naif, karena menganggapnya sudah berubah. Aku bahkan semakin yakin bahwa Aditya pasti telah membuat sebuah rencana buruk untuk ku ke depannya.


Apa yang harus ku lakukan? Apa sebaiknya ku akhiri saja sandiwaraku dan membuka mata?


Aku bingung. Aku sangat bingung hingga tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku masih memejamkan mata seolah memasrahkan semua pada keadaan, hingga.........


Cup...


"Selamat tidur..... Bintang!" Aku merasakan sesuatu yang lembut dan sedikit lembab menyentuh keningku, disusul dengan sebuah ucapan yang tidak familiar setelahnya.


 ------------------------


Selamat membaca!