The Untold Story

The Untold Story
Sedikit Waktu



--B's PoV--


*Hotel De La Paix, Geneve, Switzerland: 2003*


"B....." Aku mendengar suara seorang laki-laki memanggil namaku.


"Sayang.. B... Kita sudah sampai," sebuah tangan yang lembut menyentuh pipiku.


Mataku mengerjap. Seperti biasa, selalu dibutuhkan waktu untuk menyesuaikan mata kita dengan cahaya yang ada di sekeliling, saat baru saja terbangun dari tidur.


"Eehhhh..." Gumamku lemah. Aku kemudian sedikit menegakkan tubuh.


Sejujurnya aku tidak menyangka bahwa kesadaranku bisa terenggut saat hatiku begitu bersemangat untuk menikmati perjalanan. Semua ini pasti karena lamunan tentang peristiwa semalam. Bisa-bisanya lamunan itu terus menyeretku, masuk ke dalam dunia alam bawah sadar hingga aku tertidur.


"Nampaknya suhu tubuhmu sudah berangsur-angsur normal kembali." Aditya menyentuhkan telapak tangannya lagi. Kali ini di dahiku.


"Berkatmu. Terima kasih." Aku menolehkan wajahku untuk menatap Aditya sambil tersenyum tulus padanya.


"Kita sudah sampai. Maaf, aku terpaksa membangunkanmu. Aku hanya ingin terlihat menggendong istriku dalam keadaan sadar sehingga bisa melihat pipinya yang merona," ucap Aditya sambil mengedipkan sebelah mata dan tersenyum kepadaku.


Oh, Tuhan. Kenapa aku baru menyadari sekarang? Laki-laki ini memang memiliki segenap daya tarik untuk memikat wanita. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, wajahnya yang tampan dan memukau, serta suaranya yang serak-serak basah hingga menambah tingkat kes*ksiannya berkali-kali lipat. Semuanya seakan ditakdirkan untuk mengobrak-abrik perasaan kaum hawa. Dan aku... Aku adalah salah satu korbannya.


"Tidak perlu. Aku rasa kakiku juga sudah semakin membaik. Aku bisa berjalan sendiri, Aditya." Aku kembali menegosiasi ucapannya setelah gagal melakukannya ketika kami masih berada di Suvretta House, St. Moritz sebelumnya.


Tentu saja aku tidak ingin ia menggendongku lagi seperti tadi pagi. Bukan karena aku tidak menyukainya, selain itu merepotkan, aku cukup sulit mengatur kinerja jantung dan pembuluh darahku yang menjadi over-working.


Belum lagi ditambah beban oleh karena banyaknya pasang mata yang akan melihat ke arah kami. Aku seperti nona muda yang begitu manja kepada kekasihnya, meski dalam hati kecil ini, aku begitu menyukai caranya yang memanjakanku.


Bukannya membalas ucapanku, laki-laki itu justru memilih keluar. Kini, jantungku kembali berdegub saat ia sedang berjalan mengitari mobil sambil terus menatapku. Ia kemudian membuka pintu di tempat dimana aku berada, dan menggambil tubuhku tanpa banyak bicara.


"Eh...." Aku terkejut saat tubuhku sudah kembali berada di dalam gendongannya.


"Sungguh tidak perlu Aditya. Mereka semua akan memperhatikan kita." Aku mengarahkan mataku ke sekitar sebelum kemudian kembali memandangnya.


Aditya tersenyum simpul. Ia bahkan semakin menatapku dalam-dalam.


"Mereka hanya orang asing yang kebetulan memiliki waktu yang sama dengan kita. Sementara, aku adalah seorang suami yang mungkin hanya memiliki sedikit waktu dengan istrinya. Biarkan aku melakukan tugasku dengan baik, B!" Suaranya yang lembut semakin menggetarkan dadaku.


Sedetik kemudian, paru-paruku seolah menyempit hingga menimbulkan rasa sesak di sana. Rasa sesak yang muncul saat aku melihat Aditya terus melanjutkan langkahnya dan berpura-pura baik-baik saja meski bukan itu kenyataannya.


Aditya benar! Kurang dari tiga puluh jam lagi, aku akan menemui Indra. Pada saat itu, semua pertanyaan tentang perasaanku pada Aditya akan terjawab. Apakah ini hanya sebuah euforia ataukah aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?


Itu sebabnya aku tak ingin gegabah dan mengakui perasaanku dengan terburu-buru. Aku tidak ingin kembali melukai Aditya, apalagi dengan sebuah ketidakpastian. Laki-laki itu sesungguhnya tidak pantas untuk disakiti.


"Good afternoon Sir Aditya! Welcome to the hotel De La Paix, Geneve." Seorang laki-laki muda tampak menyapa Aditya dengan sangat ramah saat kami sudah berada di lobi hotel. Dari penampilannya, sepertinya ia adalah manager hotel ini.


"Thank you, Barry! How about our room?" Aditya bahkan menyebut nama laki-laki itu seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya, saat ia menanyakan persiapan kamar kami.


"As you wish, Sir! Everything is perfectly ready for you and madam." Laki-laki bernama Barry itu menatapku dan tersenyum bangga karena telah memastikan bahwa tugasnya berakhir sempurna.


"Good! This is my car key. Make sure all the suitcases are in my room!" Perintah Aditya kepada laki-laki itu supaya semua koper yang ada di mobil bisa diantarkan ke kamar.


"My pleasure," balas laki-laki itu sambil meletakkan sebelah tangan di dada dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat, saat Aditya melanjutkan langkahnya lagi dengan aku yang masih berada di dalam gendongannya.


Kami berdua sudah berlalu meninggalkan lobi hotel itu dan hendak menuju ke kamar. Seperti apa yang terjadi di hotel sebelumnya, saat ini semua mata juga tertuju kepada kami.


Sungguh, mungkin mereka berpikir bahwa kami adalah pasangan yang akan berbulan madu di tempat ini. Padahal, laki-laki itu hanya membantuku yang sedang cedera untuk menuju ke kamar.


Aku menghadapkan wajahku ke dada Aditya untuk menghindari tatapan orang-orang itu. Ya, lebih baik begini. Lebih baik aku bersembunyi pada kekarnya dada suamiku untuk mendapatkan kenyamanan dari pada harus meladeni pandangan orang-orang.


Baru saja aku hendak menyembunyikan wajahku, sepintas aku melihat Aditya tersenyum karena melihat tingkahku. Tentu saja aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Ada apa?" Aku menatapnya dengan penasaran, tetapi Aditya justru menggelengkan kepala.


"Aku tadi hanya berpikir sejenak. Kau begitu malu saat mereka menatapmu yang berada di dalam gendonganku, sementara semalam kau mendesah dengan begitu kerasny..... " Aku menutup mulut Aditya cepat-cepat dengan sebelah tanganku.


"Hentikan! Nanti ada yang mendengar....." Aditya kini tertawa terbahak-bahak karena melihat aku yang menjadi panik.


Cup!!


Aditya mencium bibirku. Ia ******* tanpa ampun di hadapan banyak orang, sambil terus melangkah menuju ke kamar kami. Aku yang tidak siap, hanya bisa menerima ciuman itu dengan ekspresi terkejut, namun pasrah sebab nampaknya baik aku maupun Aditya sama-sama menyukai sensasi yang menguar setiap kali kami berciuman.


"Tidak ada larangan mencium istri sendiri di dalam hotel ini, apalagi jika itu hanya sekadar menggendongnya. Tidak akan ada aparat keamanan yang menangkap kita, sayang," jawab Aditya menghentikan protesku, namun tidak bisa menghentikan aliran pembuluh darah di pipiku yang seketika membuatnya bertambah merona.


 --------------------


*Kamar Aditya dan Bellatrix, Hotel De La Paix, Geneve, Switzerland: 2003*


 "Kau sudah siap?" Aditya memeluk tubuhku dari belakang, saat pandanganku terarah pada Danau Jenewa atau yang biasa disebut sebagai Lac Leman oleh orang-orang Perancis. Danau ini berada diperbatasan Swiss dan Perancis sehingga pemandangannya mampu dinikmati oleh ke dua negara tersebut.


Kebetulan ini adalah salah satu view yang ditawarkan oleh hotel kami. Aku yang sedang berdiri dari balik jendela, hanya bisa menatapnya dengan takjub.


"Kau cantik sekali malam ini, sayang." Aditya menyentuhkan jari-jarinya pada punggungku yang terbuka. Laki-laki itu menarik sebuah garis sepanjang tulang punggungku dengan jari-jarinya yang nakal.


Malam ini aku mengenakan sebuah gaun hitam panjang tanpa lengan, yang hanya menutupi bagian depan tubuhku. Sementara itu, bagian belakangnya dibiarkan terbuka sampai batas pinggul. Aku sengaja mengatur rambutku agar tersampir di depan dada. Itu sebabnya laki-laki itu bisa bermain-main sedikit di sana.


"Sebenarnya kita mau kemana?" Aku membalikkan badanku dan bertanya pada Aditya.


Sejak menginjakkan kaki di dalam kamar, laki-laki itu mengatakan padaku bahwa kami akan berkencan nanti malam. Ia bahkan sudah menyiapkan satu lemari berisi gaun-gaun mahal untuk ku pilih, mana yang akan ku kenakan nanti. Namun, sampai detik ini ia belum memberi tahu tempatnya.


"Kau akan tahu nanti," jawab Aditya sambil memberi sebuah kecupan pada bibirku dan menatapku dengan tatapan memuja.


Pada saat yang sama, aku pun membalas tatapan matanya. Aku sempat termenung, seperti tenggelam dalam sorot matanya yang hangat. Aku benar-benar tersihir oleh karena ketampanan Aditya. Sungguh suamiku benar-benar terlihat memukau malam ini.


Ah, suamiku? Apakah besok aku masih akan tetap memilihmu?


"Jangan menggodaku lagi," ucapku dengan sedikit menyebikkan bibir. Sungguh, aku seperti anak kecil yang tidak henti-hentinya digoda olehnya.


"Perancis...." Aditya tersenyum dan memberi kecupan-kecupan kecil kembali sebagai respons atas perilakuku yang mungkin tampak menggemaskan di matanya.


"Jangan bercanda!" Aku melepaskan tubuhku darinya dan berjalan menjauh. Untung saja kakiku benar-benar sudah pulih.


Aku tidak percaya dengan ucapannya. Perancis? Berapa jam lagi kita harus berkendara? Bukankah itu sangat membuang-buang waktu?


Sejujurnya, aku lebih berharap sedikit waktu yang tersisa ini, bisa kita manfaatkan untuk saling mengenal. Perjalanan hanya akan menyisakan kelelahan yang tak berarti.


"Hey, I am so serious, Honey!" Aditya menyentuh lenganku dengan lembut.


"Dengan mobil? Pada malam hari seperti ini? Are you kidding me?" Aku menatap laki-laki itu untuk mencari ekspresi bercanda pada wajahnya. Namun, kali ini aku tidak menemukan apa yang aku cari di sana.


"Ada sebuah konser musik classic sedang diselenggarakan di Perancis. Aku yakin kau akan menyukainya," balas Aditya sambil mengusap pipiku dengan sayang.


"Kau tahu? Aku sebenarnya lebih suka menghabiskan waktu bercengkrama denganmu dari pada harus berkendara malam ini," tawarku. Aku benar-benar hanya menginginkan sesuatu yang sederhana untuk kita nikmati berdua.


"Trust me! Kamu akan mendapatkan semua itu, sayang!" Aditya mengecupku lagi. Bibirku ini seakan-akan sudah menjadi candu baginya.


"Dan mengganggumu yang sedang menyetir? I don't think so, Aditya! Itu berbahaya. Aku tidak mau menghancurkan konsentrasimu saat mengendarai mobil." Sungguh, aku tidak mengerti jalan pikirannya.


"Memangnya aku pernah mengatakan padamu bahwa kita akan menggunakan mobil untuk mencapai Perancis?" Aditya membalikkan badannya dan berjalan mendekat ke jendela. Laki-laki itu seperti mencari sesuatu di luar jendela itu.


"Apa maksudmu?" Aditya semakin membuatku bingung.


"Kemarilah!" Ia memintaku mendekat.


Tanpa perlawanan aku pun berjalan mendekati suamiku. Ia segera merengkuh tubuhku dan memelukku lagi dari belakang dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain menunjuk kepada sesuatu di luar jendela.


"Kita akan menggunakan...... Itu..." Tangan Aditya menunjuk kepada sesuatu yang terapung di atas danau. Sebuah Yacht?


-------------- 


Selamat Membaca!