
--B's PoV--
*Jakarta: 11 September 2003*
"Terima kasih, B!" Aku mendengar Aditya berucap dengan suara yang lembut dan penuh ketulusan.
"Hmm?" Aku masih memejamkan mataku.
"Ini adalah ulang tahun terindah dalam hidupku," imbuh Aditya sambil semakin mempererat pelukannya.
π΅πΆπ΅πΆ
You were my one more chance
I never thought I'd find
You were the one romance
I've always known in my mind
No one could ever touch me more
I only hope that in return
I might have saved the best of me for you
Kami masih berdansa beberapa saat di balkon itu. Tidak ada kata-kata yang keluar lagi dari bibir kami berdua. Aku rasa aku dan Aditya sama-sama terbuai malam itu. Aku bahkan merasa seperti tidak mengenali diriku lagi.
Pelukannya, dekapannya, semuanya terasa berdesir di sini, di dalam dadaku. Aku hampir-hampir melupakan bahwa ada makan malam dan sebotol Wine yang masih menunggu untuk dinikmati.
Namun, kami seolah tidak ingin beranjak dari tempat kami. Kami seolah tidak ingin meninggalkan sentuhan-sentuhan lembut nan mesra itu hanya untuk sekadar mengisi perut.
π΅πΆπ΅πΆ
And we'll have no ending if we can hold on
I think I've come this far because of you
Could be no other love but ours will do
"B......." Aditya menghentikan langkahnya. Ia kemudian mengangkat daguku sehingga mata kami pun bertemu. Pipiku merona seketika.
"Apa kau lapar?" Aditya bertanya sembari tersenyum lembut, sementara aku menundukkan wajahku dan menggelengkan kepala.
π΅πΆπ΅πΆ
You were my one more chance
I never thought I'd find
You were the one romance
I've always known in my mind
No one could ever touch me more
I only hope that in return
I might have saved the best of me for you
"Kau yakin?" Dia bertanya kembali untuk memastikan dan aku menganggukkan kepalaku lagi.
"Tapi aku lapar......" Bisiknya seduktif di telingaku. Entah mengapa saat itu tubuhku meremang. Aku seperti terhanyut dalam kata-katanya.
Aku masih terdiam cukup lama. Sejujurnya aku bingung.
"K-kau mau makan?" Aku berbicara sambil tetap menundukkan kepala dan menelan salivaku berkali-kali. Menahan gejolak aneh dalam tubuhku yang sebelumnya tidak pernah muncul.
"Ya, B... Bolehkah?" Aditya bertanya kembali sambil mengecup telinga dan leherku. Aku yang tak kuasa berada di dalam dekapannya, hanya bisa pasrah sambil menganggukkan kepala.
Aku melepaskan pelukanku karena berpikir bahwa kami akan berpindah tempat. Baru saja aku ingin membalikkan tubuhku, Aditya menahanku tetap berada pada posisi semula.
"Tapi, B... Bagaimana jika...." Aditya menjeda ucapannya.
Aku menunggu laki-laki itu melanjutkan kata-katanya dengan perasaan berdebar. Kakiku seketika menjadi lemas. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih lagi, saat ia menempelkan keningnya pada keningku.
Nafasnya, aroma tubuhnya, semua seperti obat bius yang membuatku kehilangan kesadaran. Aku pasti sudah gila sekarang.
π΅πΆπ΅πΆ
I only hope that in return
No matter how much we have to learn
That I might have saved the best
The very best of me for you
"Bagaimana jika yang aku inginkan untuk malam ini adalah....." Aku masih menutup mata, hingga....
Cup!!
"Kamu...." Sambungnya dengan bibir yang menempel erat pada bibirku.
Aditya mencium bibirku dan mengeksplor setiap sisinya perlahan-lahan. Awalnya aku sedikit tersentak dengan lum*tannya. Jas milik Aditya yang semula membebat tubuhku pun kini terjatuh entah dimana.
"Relax, B! Biarkan aku membawamu..." Aditya terus mencium bibirku tanpa henti. Ia bahkan mengusap punggungku dan membuatku semakin terlena.
Aku merasakan tubuhku melayang setelah itu. Ya, Aditya sudah menggendongku tanpa melepaskan ciumannya.
Aku terbuai. Aku benar-benar terbuai. Entah suasananya yang membuatku lemah. Entah pesona laki-laki itu, aku benar-benar tidak tahu.
Langkah demi langkah, ditapakinya sambil menggendong tubuhku. Aditya membawaku masuk ke dalam kamar dan menghentikan udara dingin di luar menerpa tubuhku.
Kini, ia bahkan sudah membaringkanku di atas ranjang. Aku bahkan merasakan tubuh Aditya menindihku, seolah ia sedang menutup akses bagiku untuk meninggalkannya.
Malam semakin larut, sementara aku semakin terlena. Ciuman itu terus berlanjut, hingga aku mendengar kalimat tak terduga keluar dari bibirnya.
"Matikan kamera dan speaker-nya, Ma. Aku tidak ingin membagi malamku bersama istriku kepada siapapun termasuk dengan Mama." Aku hampir memperoleh kesadaranku kembali setelah mendengar kata-kata itu.
Mama? Apakah Aditya tahu?
Sungguh ada desakan kecil dalam diriku untuk bertanya saat itu. Namun, kecupan-kecupan Aditya yang berlanjut seakan membuat otakku buntu. Aku tidak peduli lagi. Aku justru mulai membalas ciumannya.
Aku memperdalam ciumanku tanpa sadar. Memainkan bibirnya seolah itu menjadi kegiatan yang mengasyikkan. Aku masih terus melakukannya hingga tiba-tiba laki-laki itu bersuara lagi....
"Maaf..... " Aditya tiba-tiba menjauhkan tubuhnya.
Pada detik itu juga aku tersadar sepenuhnya. Aku meraup kembali kesadaranku yang sempat menghilang karena sentuhannya yang memudar.
Perlahan-lahan, aku kemudian memberanikan diri untuk menatap wajahnya dalam pencahayaan yang remang-remang. Wajah itu terlihat sendu dan merasa... bersalah.
"Maaf, Mamaku membuatmu melakukan semua ini." Aditya mengambil selimut dan menyerahkannya padaku.
Dengan ragu-ragu, aku menerima selimut itu dan menutupi tubuhku. Perasaanku mendadak kacau balau setelah itu.
"K-kau tahu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya dengan wajah memerah karena menahan malu.
Aditya tersenyum seraya berkata, " Aku hanya mencoba menebak perubahan sikapmu yang sangat tiba-tiba."
Terkejut? Tentu saja aku semakin terkejut. Laki-laki ini begitu peka dengan sikapku padanya.
Bukan hanya itu, Aditya bahkan mampu mengendalikan dirinya dengan baik. Ia berhenti.... Ia berhenti saat aku bahkan tidak bisa berhenti.
"Kau sudah berusaha menjadi menantu yang baik. Aku... sangat berterima kasih untuk semua itu." Aditya bergegas berdiri untuk menambah jarak di antara kami, kemudian melangkah semakin jauh menuju balkon.
Ia berjalan mendekat ke meja makan, membuka tutup botol wine yang ada di atasnya, dan meneguknya perlahan-lahan. Untuk beberapa saat, laki-laki itu berdiri di balkon sambil menatap ke luar.
Setelah puas menghabiskan hampir setengah botol, Aditya kembali meletakkan botol itu pada tempatnya dan berjalan menghampiriku. Sementara aku, aku masih membisu sambil menatap sosoknya.
"Istirahatlah! Aku akan ke ruang kerjaku." Aditya memegang puncak kepalaku dan mengusapnya dengan lembut. Laki-laki itu kemudian melangkah menuju pintu.
"Terima kasih sekali lagi untuk semuanya, B! Selamat malam!" Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, aku mendengar pintu kamar kami tertutup rapat.
Apa ini? A-aku benar-benar tidak paham, bisakah seseorang menjelaskan padaku? Menjelaskan apa yang terjadi padanya dan apa yang sedang terjadi padaku?
Aditya meninggalkanku sendiri dalam keheningan. Ia meninggalkanku dalam perasaan aneh yang tak mampu ku definisikan.
Malam itu, aku hanya bisa membaringkan tubuhku dengan pikiran dan hati yang kosong. Entah mengapa, pada malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa Aditya mampu membuatku merasa..... terhilang! Terhilang bersama derasnya hujan yang turun membasahi bumi, sejak kepergiannya meninggalkanku sendiri di dalam kamar kami.
Β -----------------
Selamat Membaca!
Note :
Lagu pengantar dansa Aditya dan B berjudul 'Best Of Me'. Lagu itu dipopulerkan oleh Michael Buble pada tahun 2009, tetapi sebelum tahun 2003 sudah sempat dipopulerkan oleh beberapa artis. Teman-teman bisa mencarinya di youtube untuk semakin mendapatkan feel episode kali ini. Terima kasih.