The Untold Story

The Untold Story
Tangan Perempuan



--B's PoV--


*Singapore, Mandarin Oriental Hotel: 2003, Hari Kompetisi*


Aditya sudah meletakkan sebagian makanan yang ku buat di atas piring nasinya. Ia kini bahkan terlihat mulai menata makanan itu di dalam sendoknya.


Laki-laki itu sempat tersenyum kepadaku, mengucapkan 'selamat makan', sebelum akhirnya ia membuka mulutnya dan.......


Satu suap...


Aku melihat Aditya berhenti sejenak. Laki-laki itu nampak berpikir sebentar sebelum kemudian melanjutkan acara makannya kembali.


Dua suap....


Dari ekspresi wajah Aditya, aku bisa melihat bahwa sepertinya ia menyukai masakanku. Laki-laki itu makan dengan begitu lahap.


Tiga suap....


Hatiku gelisah. Ini sudah suapan yang ke tiga. Sungguh laki-laki itu membuatku terheran-heran, kenapa ia tidak bisa merasakan rasa merica di dalam makanan itu.


Apakah lidahnya kebas? Kenapa ia tidak berhenti? Apa harus aku yang menghentikannya? Apa aku harus.....


"B.... Kamu tidak makan? Rasanya benar-benar enak. Terima kasih." Ucapan Aditya membuat mataku berkaca-kaca. Aku merasa menjadi perempuan paling jahat di dunia ini.


Laki-laki ini.. Sorot matanya yang tulus saat menyantap makananku, yang ku yakin rasanya tidak seberapa dibandingkan masakan Bibi Koki di mansion. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa aku sudah menaruh sesuatu yang tidak boleh ia konsumsi di dalam makanan itu.


Kenapa? Kenapa ia harus merespons seperti ini?


Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Kini, aku benar-benar merasa bersalah padanya.


Dulu aku selalu percaya, bahwa tidak ada orang yang benar-benar jahat di dalam hidup ini dan begitu pula sebaliknya, tidak ada orang yang benar-benar baik.


Tapi... Kenapa ia harus baik padaku dan bersikap jahat kepada orang yang ku cintai? Kenapa ia selalu menempatkanku pada posisi yang sulit hingga memaksaku untuk melakukan sesuatu yang jahat padanya?


"B... Kau menangis? Ada apa? Apa aku menyinggungmu?" Aditya mengerutkan keningnya.


"Tidakkah tadi aku mengatakan bahwa masakanmu enak? Aku sungguh menyukainya, B!" Aditya menggenggam sebelah tanganku dan mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh.


"Kamu.... Orang pertama yang menghargai masakanku..." Ucapku sambil menghapus air mata yang seketika menganak sungai dan tak terbendung lagi.


Aku berbohong. Aku hanya mencari alasan dan sesungguhnya aku pun tidak menikmati kebohongan ini.


Aditya tersenyum simpul menatapku. Laki-laki itu kembali menyuapkan sesendok nasi beserta lauk pauk ke dalam mulutnya seraya berkata, "Buka mulutmu. Aku akan menyuapimu. Kita makan bersama, hmmm?"


Aku terpaku. Hatiku semakin sedih.


Aditya sudah menyodorkan sesuap nasi dengan sayur dan udang di atasnya. Aku yang merasa bersalah pun tidak bisa menolak. Aku membuka mulutku dan menerima suapannya sesendok demi sesendok.


Selesai menyuapiku, laki-laki itu kemudian menyuapi dirinya. Ia terus melakukannya secara bergantian.


Entah mengapa aku baru merasakan bahwa Aditya adalah seorang laki-laki yang penuh perhatian. Sesekali ia bahkan ikut menghapus air mataku yang tidak bisa ku tahan dan ku sembunyikan.


"Jangan di makan lagi! Rasanya tidak terlalu enak," bujukku sambil berusaha mengambil piring itu dari hadapannya.


Aditya menahan tanganku. Laki-laki itu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Apapun yang dibuat dari tangan seorang perempuan, apalagi jika itu dibuat dari tangan seorang istri atau seorang ibu, maka tidak ada seorang laki-laki pun yang bisa menolak kenikmatannya," balas Aditya dengan sebuah tatapan mata yang dalam.


Tatapan mata yang sempat membuatku terpaku beberapa kali. Tatapan mata yang tidak pernah ku ketahui apa maknanya.


"Apapun yang kamu buat untukku, aku pasti akan menyukainya, B. Terima kasih." Aditya kembali menyunggingkan senyumnya, sebelum kemudian ia menyuapkan satu sendok berikutnya ke dalam mulutnya.


Lamunanku seketika terbang. Lamunan tentang betapa dalam dan bernilainya kata-kata yang sudah ia ucapkan. Lamunan yang membawaku untuk mendeskripsikan siapa sesungguhnya Aditya. Seorang pria yang misterius di satu sisi, tapi penuh dengan kejutan pada sisi yang lain.


Aku masih menatapnya lekat-lekat hingga sesuatu terjadi setelah itu. Sesuatu yang kemudian menggugah kesadaranku.


Prang!!!!


Sendok dan garpu itu terjatuh. Suaranya yang nyaring, membuat kesadaranku semakin sempurna. Bersamaan dengan itu, aku mendapati Aditya memukul-mukul dadanya.


"Iiiikkhhk... Iiiikkhhkk..." Laki-laki itu seperti mencoba meraup berbagai udara yang ada di sekitarnya. Dari ekspresi wajahnya, aku bisa menebak bahwa ia sangat kesakitan.


Beberapa detik kemudian, rasa takut yang besar tiba-tiba menyelimuti diriku. Aku tidak menduga bahwa reaksi alergi yang akan muncul pada tubuh Aditya adalah rasa sesak seperti ini. Dan... Laki-laki itu nampak begitu tersiksa...


Aditya terus memegang dadanya. Saat ini bahkan tubuhnya sudah terbaring lemah pada lantai kamar hotel itu.


"Iiikkhh.... Ikkhh..... Ikkkhhh....." Laki-laki itu tidur dengan posisi terlentang. Wajahnya yang tadi segar seketika berubah pucat.


Sementara aku... Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku ingin menolongnya tetapi aku takut. Aku benar-benar takut.


"T-tolong A-aku, B...." Aku melihat Aditya memaksa berbicara dengan napas yang tersengal-sengal.


Pada detik itu aku sadar bahwa aku sudah benar-benar keterlaluan. Aku membahayakan nyawanya. Aku tidak tahu bahwa reaksi merica pada diri Aditya akan separah ini.


Tanganku seketika kembali bergetar. Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?


Apa aku lari saja? Apa aku sebaiknya pergi?? Ya, mungkin aku harus pergi..


Bukankah ini sudah ku rencanakan sebelumnya? Aku harus pergi sekarang sebelum ia akan mendapatkan seluruh kekuatannya lagi dan membalasku.


Aku akan menelepon resepsionis dan meminta seseorang menolongnya, setelah itu aku akan meninggalkan kamar ini. Aku akan menemui Indra dan mengajak laki-laki itu pergi meninggalkan Singapura secepatnya. Ya, benar. Ini kesempatan bagiku.


"B-b......" Wajah Aditya begitu pucat, seperti tidak teraliri darah sama sekali.


Aku semakin panik dan segera menelepon resepsionis untuk meminta tolong. Tetapi, bukannya perasaan ini semakin membaik, aku semakin gelisah.


Bagaimana jika mereka mengetahui bahwa aku sengaja melakukannya? Bagaimana jika mereka memenjarakanku?


Aku semakin lama semakin merasa ketakutan. Bagaimana jika ia mati? Bagaimana jika aku benar-benar membunuhnya?


"Iiikkkkhh.... Iiiikkhh..... Iiiikkkkhhh....," napas Aditya yang semakin lama semakin melemah hampir tidak lagi terdengar di telingaku.


Aku yang panik kemudian berlari mengambil koperku yang masih berada di dekat pintu. Kami baru saja tiba tadi. Kami bahkan belum sempat menata isi koper itu. Tapi setidaknya itu memudahkanku untuk melarikan diri.


Dengan tangan gemetar, keringat dingin yang terus mengucur keluar, aku bahkan sudah bersiap membuka kenop pintu kamarku saat itu.


Aku sudah memutuskan. Aku harus meninggalkan Aditya di dalam kamar itu. Toh, sebentar lagi akan ada orang yang menolongnya.


"B..... T-tolong...." Suara rintihan Aditya terdengar kembali. Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya, aku sempat menatap sekujur tubuhnya.


Laki-laki itu..... Mencoba menjulurkan tangannya padaku dan..... Meneteskan air mata.


Pada saat itu, aku merasakan hatiku seperti teriris. Aku benar-benar sudah menyakitinya. Menyakitinya dengan apa yang ia percaya.


"Apapun yang dibuat dari tangan seorang perempuan, apalagi jika itu dibuat dari tangan seorang istri atau seorang ibu, maka tidak ada seorang laki-laki pun yang bisa menolak kenikmatannya," kata-kata Aditya teriang kembali dalam benakku.


Aku kembali menatap Aditya. Laki-laki itu masih berada pada posisi yang sama. Tak berdaya, tergeletak, dan hampir mati.


"Maafkan Aku......." Aku mengucapkan kata maaf padanya sambil menatap wajah laki-laki itu dengan sendu, sebelum kemudian aku menutup pintu kamar kami.... Tanpa berniat untuk kembali.


Maafkan Aku.... Aditya......


 --------------------------


*Esplanade, Singapura: 2003, Malam Harinya*


Saat ini aku sudah berada di dalam sebuah gedung pertunjukan seni bernama Esplanade. Gedung yang dibangun kurang lebih satu tahun yang lalu ini, nampak begitu megah dengan bentuk arsitektur bangunan yang menyerupai buah durian.


Banyak orang mengatakan bahwa gedung ini digadang-gadang akan menjadi sebuah gedung seni pertunjukkan termewah yang dimiliki oleh Negeri Singa. Dan aku langsung percaya pada berita itu, begitu aku menginjakkan kaki di sana.


Jangan bertanya bagaimana interiornya? Gedung ini tidak kalah mewah dengan gedung seni pertunjukan yang ada di negara-negara Eropa.


Seperti gedung pertunjukan pada umumnya, gedung ini dilengkapi dengan sebuah panggung yang begitu megah, yang terletak di bagian depan. Sementara itu, pada bagian tengah hingga ke belakang, aku melihat ada ribuan kursi penonton yang ditata sedemikian rupa sehingga menambah kesan elegan. Selain itu juga, aku menemukan banyak lampu sorot terpasang diberbagai sisi untuk membuat panggung menjadi lebih meriah. Tak ketinggalan dinding dan lantai yang di dominasi kayu, yang semakin menambah keistimewaan dan keeksotisan gedung ini.


Setelah puas menikmati gedung itu, aku segera mencari keberadaan panitia dan melakukan daftar ulang di sana. Mereka sempat menanyakan dimana pasanganku berada dan aku hanya bisa menjawab bahwa ia akan menyusul.


Daftar ulang itu kini telah selesai ku lakukan. Salah satu panitia kemudian memberikanku nomor peserta untuk ku kenakan nanti saat kompetisi. Seorang panitia yang lain kini menjadi penunjuk arah bagiku sehingga aku bisa menemukan keberadaan ruang ganti peserta.


"This is yours... Enjoy!" Panitia perempuan yang mengantarkanku itu memberi tahu bahwa ini adalah ruanganku.


Ruangan berukuran 3x3 yang begitu minimalis. Meski begitu tetap ada kesan mahal yang ditinggalkan.


"Okay.. Thank you..." Balasku pada gadis itu sambil tersenyum.


Baru saja perempuan muda itu hendak meninggalkanku sendiri, aku kemudian teringat kepada Franky dan bermaksud menanyakan tentang ruang gantinya.


"Do my partner and I share the same room or do we have our own?" Tanyaku hingga menghentikan langkahnya.


"Both of you will share the same room," balas gadis itu dengan ramah. Aku pun menganggukkan kepalaku sebagai respons.


Franky... Aku hanya tinggal menunggunya. Kami memiliki ruang ganti yang sama. Aku cukup menunggunya di sini dan tidak perlu mencarinya ke sekeliling, begitu pikirku.


"Is there anything else, Miss?" Gadis itu bertanya untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu pun lagi yang ingin ku tanyakan kepadanya.


"No.... Everything is clear enough... Thank you," jawabku tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuannya.


Perempuan itu kini benar-benar meninggalkanku sendiri di dalam ruangan itu. Dengan cepat, aku kemudian menutup pintu ruang gantiku rapat-rapat dan mendudukkan tubuhku sembari bersandar di balik pintu yang tertutup itu.


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Seperti apapun keindahan gedung ini, keramahan para panitia penyelenggara acara, tidak mampu membuatku lepas dari rasa bersalah dan khawatir yang begitu mendominasi.


Aku mungkin bisa berpura-pura tidak terjadi apapun di depan mereka. Aku mungkin bisa tersenyum untuk merespons mereka. Namun, aku tidak bisa melakukannya saat aku sedang berhadapan dengan diriku sendiri, seperti apa yang terjadi saat ini.


Aku yang tak berdaya menghadapi diri, kini hanya bisa meletakkan kedua telapak tanganku untuk menutupi wajah dan kembali menangis karena perasaan bersalah yang begitu dalam. Kedua telapak tangan ini.... Yang beberapa jam lalu digenggamnya dengan hangat, kedua telapak tangan yang sama, yang juga mencoba untuk menyakitinya.


Aditya..... Semoga mereka segera menolongmu... Semoga ada yang menolongmu...


Maaf... Maafkan aku...


-------------‐


*Esplanade, Ruang Pertunjukan: 2003*


Dan di sinilah aku berada saat ini, di belakang panggung pertunjukkan Esplanade. Lima menit lagi adalah giliranku untuk tampil bersama dengan Franky. Namun, hingga kini aku tidak bisa mendapati sosok kemayu laki-laki itu dimanapun.


Franky seperti hilang di telan bumi. Ia tidak ada di ruang ganti kami. Ia juga tidak ada di belakang panggung.


Aku seketika merasa cemas. Apakah Franky memang berniat tidak datang? Mengapa semua menjadi berantakan seperti ini?


Di belakang panggung itu, aku masih berkeliling mencari sosok Franky. Aku seperti tidak kenal lelah mencarinya. Aku tentu tidak ingin berakhir menjadi peserta diskualifikasi.


"Bellatrix Atmaja, are you here?..." Aku mendengar namaku disebut oleh seorang panitia laki-laki.


"Yes, I am...." Aku setengah berteriak untuk menjawab panggilannya karena posisiku cukup jauh dari posisinya.


"Where is your partner?" Lelaki itu melihat ke sekeliling.


"M-my partner is...... Franky!!!!" Seketika hatiku merasa lega. Tiba-tiba aku bisa menemukan sosok Franky di belakang panggung itu. Tanpa menunda, aku langsung meneriakkan namanya.


"Please be ready! Two minutes and the stage is yours," ucap panitia laki-laki itu dan meninggalkan kami berdua.


Aku seketika mencengkeram tangan Franky dan mengajaknya mendekati panggung. Aku sungguh ingin meluapkan kemarahanku padanya.


"Kemana saja kamu? Aku hampir mati karena khawatir, Franky," ucapku dengan nada setengah membentaknya.


"Bella... Sorry, I can't," Franky mengatupkan kedua tangannya, simbol bahwa ia sedang meminta maaf.


Aku seketika mengerutkan keningku. Aku sungguh tidak mengerti maksud perkataannya.


"Apa maksudmu Franky? Tidak bisa apanya?" Aku bingung. Laki-laki itu benar-benar membuatku bingung.


"Lihatlah! Kau bahkan mengenakan pakaian yang lain. Ada apa denganmu, Franky?" Aku terus berceloteh dan masih berusaha meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku tidak bisa menemanimu ke panggung. Bukan begitu perjanjiannya...." Franky nampak gugup. Aku semakin tidak mengerti maksud ucapannya.


"Please, jangan berbicara melantur dulu. kita berdua harus fokus....." Ucapanku terjeda secara otomatis saat mendengar suara dari atas panggung.


"So... I present to you..... From Indonesia... Dancers Number 8...." Suara MC menggelegar di saat yang bersamaan dengan semua ketidakjelasan yang ku rasakan. Tepuk tangan penonton yang meriah menambah beban tersendiri untukku sekarang.


Suara MC itu telah memanggilku dan Franky. Kami adalah pasangan dansa nomor delapan. Ini waktunya bagi kami untuk menari di atas panggung.


"Ayo, Franky!!" Aku menarik tangan Franky dan berusaha menyeretnya menuju ke panggung. Namun, laki-laki itu seperti mematikan langkahnya.


"Please, Bella! Bukan begini perjanjiannya," ucap Franky terus menerus tanpa henti.


Apa maksudnya??? Perjanjian... Perjanjian apa??? Kenapa hanya kata itu yang terus keluar dari mulutnya??


"Franky, kau boleh meminta apa saja nanti, tapi please.... Jangan......" Aku tiba-tiba menghentikan ucapanku.


Aku terpaku. Seketika tubuhku kembali bergetar. Aku melihat ada sosok lain sedang berdiri di belakang Franky. Sosok yang sangat ku kenal.


Sosok yang tidak pernah ku sangka kehadirannya di tengah semua drama yang terjadi di antara kami tadi siang. Sosok yang seharusnya masih terbaring lemah di dalam kamarnya.


Sosok itu... Ia mendekatiku. Laki-laki itu kini telah menggeser tubuh Franky yang tadinya berhadapan denganku. Ia bahkan menyodorkan sebelah tangannya tepat di depan wajahku, seraya berkata, " Shall we dance.... B?"


 -----------------------


Selamat membaca! Tidak penasaran lagi kan?? Hehehehe..