
Haru memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, ia masuk ke dalam lift — menuju lantai 20. Hanya ia seorang diri yang naik ke dalam lift. Perasaan masih terasa kosong, Haru kesulitan mengekspresikan dirinya saat ini. Seperti manusia yang hanya tidak ingin hidup mati tak mau.
Melangkah keluar dari lift yang baru saja terbuka, berjalan ke arah sebelah kirinya. Kedua matanya menyadari sesuatu di hadapannya, langkahnya menjadi lambat saat ia melihat seorang wanita yang tampak sibuk memindahkan barang-barang yang berada di depan pintu.
Sebuah ingatan terlintas dalam benak Haru yang seketika menghentikan langkahnya — terhenyak menatap wanita yang tiba-tiba melihat ke arahnya. Seketika seakan waktu berhenti berputar saat keduanya saling menatap satu sama lain.
Haru kini benar-benar yakin jika wanita itu adalah wanita yang selama ini ia tunggu. Sosok wanita yang hanya bisa ia jaga dan ia melihat dari kejauhan. Jantung yang sempat berhenti kini kembali berdetak lebih cepat, kedua matanya tidak bisa berhenti menatap wajah wanita yang berparas sangat cantik. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat wajah wanita itu dari dekat, walau Haru tidak yakin dia akan mengenali wajahnya.
Rasanya sungguh tidak nyaman dan mendebarkan, perasaan aneh saat dirinya di tatapan begitu lama oleh seorang pria yang mengenakan setelan jas serba hitam yang menatapku dengan penuh kesedihan. Apa dirinya begitu terlihat menyedihkan sampai harus ditatap sampai seperti itu, sungguh aneh, pikir Arin yang kemudian masuk ke dalam saat Anna memanggilkan.
“Kakak! Ini di taruh dimana?” tanya Anna yang berada di dalam apartemen.
“Bentar …!!”
Perubahan suasana hati yang tiba-tiba berubah. Hampir beberapa hari perasaan dan pikirannya benar-benar kacau, seperti bunga yang tumbuh di padang pasir, seperti itulah kehadiran wanita itu di dalam dirinya. Haru melanjutkan langkahnya. Apartemennya tepat berada di samping apartemen milik Arin.
Arin yang masih sibuk memindahkan barang-barang perabotan yang baru saja datang setelah kepindahannya beberapa hari yang lalu. Banyak barang yang ia beli, entah secara online maupun ia beli sendiri di mall bersama dengan Anna.
“Kakak beli barang banyak banget? Emang uangnya tabungan kakak nggak habis apa?” tanya ana sambil membuka sebuah paket berukuran cukup besar yang ternyata isinya sebuah rice cooker.
“Uang masih bisa dicari lagi, nggak usah khawatir …,” ucap Arin tampak begitu senang saat ia berhasil menjalankan sebuah mesin pembersih udara.
“Kakak udah dapet kerjaan lagi?” tanya Anna.
“Belom.”
“WHAT?!! Terus …??”
“Nggak usah banyak tanya, pokoknya lo disini tinggal rajin sekolah, belajar, terus masuk universitas. Biaya nggak usah khawatir biar gue yang cariin,” ucap Arin.
Anna hanya terdiam mendengar perkataan kakaknya yang berusaha ia coba untuk mempercayainya. Karena itu semua bukanlah hal yang mudah. Namun kini satu-satu orang yang masih berada dipihaknya hanyalah Arin, kakak kedua yang tak pernah menuntut apapun darinya, walau sedikit menyebalkan dan aneh tapi Anna tetap menyayanginya.
Saat Arin sedang sibuk membuka paket, tiba-tiba ia teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu dimana seorang pria yang menatapnya begitu lama. Jika diingat kembali wajahnya pria tampan itu terasa tidak asing dingatanya, seperti sosok yang pernah ia jumpai entah dimana dan kapan.
“Iya juga yah! Perasaan wajahnya nggak asing, tapi pernah ngeliat dimana yah??” tanya Arin, dia berbicara dengan diri sendiri.
“Ngapain ngomong sendiri sih?” tanya Anna — heran.
“Biarin aja sih! Sirik banget lo!” ucap kesal Arin.
Hari sudah mulai terang, matahari sudah berada di tengah-tengah ubun-ubun kepala. Sudah hal yang biasa jika ke udara begitu panas, karena memang ia tinggal di Jakarta. Setelah bangun dan sarapan, Arin tampak bersiap-siap untuk pergi. Hari ini ia berencana ingin duduk santai di cafe yang tak jauh dari apartemennya. Dengan mengenakan setelan training hoodie berwarna hijau lumut dan sandal jepit, Arin berjalan keluar. Tidak lupa juga ia membawa laptop dan headset untuk digunakan saat di cafe nanti.
Sebuah cafe bergaya classic modern, terlihat cukup tenang dan nyaman. Arin memesan ice americano dan sandwich, karena ia belum sempat sarapan. Duduk di dekat kaca yang mengarah langsung ke jalan trotoar Arin bisa tenang untuk ketenangan mentalnya.
Untuk saat ini Arin tidak ingin bekerja terlalu keras untuk penyembuhan mentalnya. Ia hanya ingin sedikit menyibukan dirinya sembari mengobati luka yang tampaknya masih belum sepenuhnya bisa ia terima.
Arin hanya ingin bisa tidur nyenyak tanpa kecemasan dan obat tidur. Melakukan banyak riset di internet dan membaca buku-buku untuk kesehatan mental. Arin sedang belajar untuk mencintai dirinya sendiri. Tak lama namanya dipanggil oleh pegawai cafe, Arin pun pergi untuk mengambil pesannya.
Melakukan berbagai hal yang sebelum tidak pernah Arin lakukan sebelumnya. Seperti pergi ke mall sendirian, berjalan-jalan tanpa memikirkan apapun dan memperdulikan apa yang di pandangan orang lain. Masuk kedalam toko buku dan melihat-lihat apa saja yang menari di sana. Sungguh aroma buku dan ketenangan di toko buku sungguh membuat dirinya jauh lebih relax.
Ataupun duduk santai di taman apartemen, melihat orang-orang yang juga sedang menikmati waktu santai mereka. Hembusan angin dari pohon-pohon disekitar menciptakan aroma yang menenangkan. Melihat anak kecil yang berlari ke sana — ke sini tanpa memikirkan apapun.
Terkadang duduk santai di teras apartemen di sore atau malam hari, memandang langit yang tampak tenang. Duduk tanpa memikirkan apapun. Waktu keseharian yang dihabiskan Arin untuk beberapa hari ini. Sungguh dirinya tidak dalam membeli apartemen karena dirinya benar-benar bisa memandang langit dari dekat.
Berjalan santai di malam hari lalu mampir ke minimarket membeli beberapa cemilan dan es krim. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Arin tak langsung masuk ke dalam apartemen tapi ia memilih untuk duduk di sebuah ayunan di taman belakang apartemen. Hanya dirinya seorang diri di sana. Awalnya sedikit menakutkan duduk sendirian di malam hari, tapi kini Arin sudah terbiasa. Menikmati es krim sambil memandang langit malam.
Menghirup udara dalam-dalam — mengeluarkannya secara perlahan. “Huff … segarnya …”.
Tiba-tiba ketenangan dipecahkan oleh sebuah panggilan masuk yang ternyata dari ayahnya.
“Iya halo. Ada apa, Pak?” tanya Arin.
“Kamu di sana baik-baik saja ‘kan?”.
“Iya.”
“Enggak … sebenarnya bapak nelpon, mau ngajak kamu kumpul bareng.” ucapnya membuat Arin terdiam heran.
“Tiba-tiba? Ada apa emangnya?” tanya Arin.
“Ya … sebenarnya bapak mau nyampein pesan buat kamu. Kamu masih ingat nggak sama Pak Haris dan anaknya? Yang waktu itu kamu pernah ketemu …,”
“Iya, terus …?”
“Pak Haris belum lama ini meninggal dua karena sakit, waktunya bertepatan sama kamu pindah. Sekarang anak dan istrinya ingin sekali bertemu sama kamu. Apa bisa kamu temui mereka?”.