The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 6 Gelas Pecah



Memasukkan kata sandi pada gagang pintu apartemennya. Haru baru saja pulang kerja tampak begitu lelah. Langkah kaki yang lemas berjalan masuk kedalam apartemen pribadi miliknya. Sepi. Gelap. Kesepian. Tiga kata yang singkat untuk menjelaskan keadaan yang selalu Haru rasakan setiap ia pulang kerumah.


Meletakkan tas dan jaket begitu saja di atas sofa — berjalan menuju kamar mandi untuk segera mandi. Rutinitas yang monoton selalu Haru jalani setiap harinya. Jenuh. Tentu saja. Namun hidup tetap berjalan, itu sebabnya ia juga harus tetap berjalan.


Dengan mengenakan baju handuk, rambut basah, ia baru selesai mandi — Haru berjalan keluar dari kamar mandi sambil memegang sekaleng soda sambil berbicara dengan seseorang di telepon.


“Lalu kapan rencana dia akan pindah?” tanya Haru — meneguk minumannya sambil melihat pemandangan malam dari jendela besar yang terpasang langsung dari apartemen nya.


“Ahh … jadi begitu. Syukurlah dia senang. Terima kasih buat semuanya,” ucap Haru yang terlihat senyum setelah mendengar kabar baik dari seseorang.


“Iya. Iya. Lain kali kita makan bareng, biar gue yang traktir. Oke. Bye.” ucap Haru kemudian mematikan ponselnya setelah selesai berbicara dengan temannya.


Satu helaan nafas lalu ia hembuskan secara pelan-pelan — meneguk kembali menimannya. Mencoba menikmati sisa hari sebelum datangnya matahari. Seseorang yang saat ini telah ia tunggu, seseorang yang membuatnya tak pernah berhenti untuk memikirkan wanita tersebut. Entah cara yang ia lakukan saat ini akan salah atau benar, menjadi sebuah kekhawatiran baginya. Mencintai satu pihak itu memang sulit. Hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan tidak terlihat sama sekali.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering — Haru melihat sebuah panggilan masuk dari Ayahnya.


“Iya halo. Ada apa, Pah?” sahut Haru.


“Papah dengar kerja sama kamu dengan CAA berhasil?” tanyanya.


“Iya.”


“Wah .. selamat, Ayah turut senang mendengarnya. Emm … bagaimana kalau kita makan malam bersama, mama kamu sudah kangen sama kamu,” ucapnya.


“Iya. Sabtu besok aku bakal ke rumah.”


“Benarkah … ya sudah kalau begitu. Kamu pasti capek, istirahat ya …” ucapnya.


“Emm … kalian juga,”


Sambungan pun terputus, Haru tersenyum sambil menatap ponselnya. Kedua orang tua yang masih memperlakukannya seperti anak kecil padahal dirinya sudah dewasa dan mampu hidup sendiri. Mungkin karena dirinya anak satu-satunya, membuat mereka menjadi overprotektif.


***


Suasana rumah menjadi dingin setelah kejadian di rumah Nenek. Ibu dan Ayah saling diam, rumah seakan kehilangan cahaya. Sudah dua hari Ibu terus mengurung dirinya di kamar dan Ayah tidur di ruang tamu. Saat mereka bertemu hanya ada pertengkaran yang tidak akan pernah ada habisnya.


Arin yang mulai sibuk mempersiapkan rumah barunya dengan membeli beberapa perabotan rumah tangga bersama dengan Anna, adiknya. Ia masih belum sempat memberitahukan rencana dirinya akan pindah rumah.


Baru saja Arin dan Anna melangkahkan kakinya ke dalam rumah, sebuah piring yang dibanding kerah oleh Ibu hingga berserakan di lantai. Lagi-lagi mereka bertengkar.


“Aku udah capek ngadepin kamu!! Hidup kita saja sudah sulit, tapi kamu malah bela-belain penjamin uang ke temen kamu!! Dan sekarang kamu mau pinjem uang ke aku? Itu nggak masuk akal!!” bentak ibu yang begitu marah pada Ayah yang hanya bisa terdiam.


“Ya sudah, kalau memang kamu nggak mau meminjamkan, nggak usah emosi seperti ini sampai banting barang!! Kamu nggak malu sama tetangga kalau ada yang mendengar!!” ucap Ayah.


“Aku lebih malu punya suami kayak kamu!!”


“Kami lebih malu karena ulah kalian …,” ucap Arin sontak membuat kedua orang tua menoleh ke arahnya.


Arin melangkahkan kakinya lebih ke dalam, “Apa kalian nggak malu, selalu bertengkar didepan kami?” tanya Arin merasa sangat jengkel dengan kelakuan kedua orang tuanya.


“Memangnya kamu pikir ibu nggak malu punya kamu? Setelah apa yang kamu lakukan waktu itu, semua menganggap ibu orang tua yang nggak berguna. Kamu sama bapak kamu itu sama saja menyusahkan mama!!” bentaknya.


“Kalau begitu, buang saja kami …,” ucap Arin dengan nada bicara yang sudah tak berdaya, hatinya hancur mendengar perkataan yang sangat menyakitkan itu. “BUANG KAMI SAJA!! BUANG KAMI…!!” bentak Arin yang mengeluarkan seluruh amarahnya hingga semua terkejut dan terdiam. Air mata yang tak terbendung lagi, marah dan air mata yang tumpah secara bersamaan. “Kalau memang kami beban kami. Lagipula siapa yang meminta untuk dilahirkan. Pergi saja …!!” ungkap Arin.


“Dan juga, lebih baik kalian berpisah saja. Silahkan saja bercerai!! Aku nggak peduli sama sekali. Silahkan ibu cari kebahagian ibu sendiri, silahkan Ayah cari kebahagian Ayah sendiri, itu mudah ‘kan?” tambah Arin buang aja kami kalau memang kami beban kami. Lagipula siapa yang meminta untuk dilahirkan. Pergi saja …!!” ucap Arin dengan nafasnya sungkal-sungkal.


“MEMANG KAMU PIKIR ITU GAMPANG …!! Mama itu sayang sama kalian, bekerja banting tulang hanya untuk masa depan kalian, tapi apa yang kalian kasih sama mama, kalian cuman bisa mengataka kata-kata yang menyakiti hati mama …! Kamu seharusnya berterima kasih karena sudah dilahirkan kedunia, bisa sekolah, punya tempat tinggal, kamu kalau ngomong itu nggak seenak nya saja!” ujarnya yang tidak terima dengan ucapan arin.


“MAKANYA …!! Bisakah kita hidup normal …! Aku tau keluarga kita miskin, tapi setidaknya kita bisa ‘kan hidup bahagia? Ini apa …?? Sudah miskin, Mama sama bapak selalu bertengkar, selalu menyalahkan kami. Lalu siapa yang salah!! Kami …? Lalu kenapa kalian melahirkan kami …! Memang siapa yang minta dilahirkan!!” ucap Arin kembali meninggikan suaranya hingga hampir menghilang suaranya.


Disaat Kakak dan Mamanya sedang saling berdebat tidak mau kalah, Anna yang mulai tidak tahan dengan suara keras akhirnya berteriak dengan sangat keras,


“HAAA!!!”


Seketika semua terdiam  — menatap Anna yang tampak terengah-engah ketakutan.


“Aku mohon berhenti … aku mohon …,” ucap Anna sambil menangis.


“Ishh … aku nggak benci sama kalian!! Cuman udah muak sama kalian mama bapak. Toxic tau nggak … Semoga kalian bahagia dengan kehidupan kalian masing-masing.” ucap Anna yang kemudian berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa terdiam merenungkan setiap perkataan kedua anaknya.


Arin mencoba untuk menghela nafas, mencoba membuat dirinya jauh lebih tenang. Bagaimanapun dirinya terlalu emosional hingga tak sadar jika masih ada Anna disampingnya. “Aku emang nggak bisa kasih apa yang kalian harapan. Tapi kalau memang kalian berharap dari anak-anak kalian, seperti anak-anak teman-teman ibu. Harusnya jangan melahirkan anak kayak kami. Kalau aku bisa memilih aku juga nggak mau terlahir dari keluarga ini. Ibu selalu menangis di depan anak-anak ibu, memang ibu nggak pernah memikirkan perasaan kami. Ibu buat kami seperti anak yang jahat dan durhaka. Ibu nggak tau ‘kan, kami selalu menahan tangisan kami saat dirumah. Walau rasanya sesak sampai mau mati, kami gak pernah nunjukin tangisan kalau kami capek … kami selalu menangis sendiri dan menelannya sendiri. Karena apa? Kami nggak mau menunjukkan kalau kami capek, kami stress.” ujar Arin dengan nada bicara yang lebih tenang.