The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 13 Dua Orang yang Berbeda



Bab 13 - Dua Orang Yang Berbeda


Sesampainya di depan pintu apartemen, terlihat suasana canggung antara Arin dan Haru setelah Anna masuk kedalam. Mereka saling berhadapan, malu-malu kucing dan tidak berani menatap satu sama lain.


“Ini … martabaknya,” ucap Haru sambil memberikan martabak milik Arin.


“Aku jadi ngerepotin, seharusnya tadi nggak usah dengerin apa kata Anna. Harga berapa biar aku yang bayar,” ucap Hara sambil mengeluarkan dompetnya.


“Nggak usah dibayar, gantinya lain kali traktir aku makan.” tolak Haru membuat Arin merasa tak enak hati padanya.


“Aku jadi nggak enak. Udah kamu yang bayar makan lama tadi ditambah martabak,” ucap Arin.


“Nggak apa-apa. Ya sudah, kalau begitu aku pergi. Terima kasih buat hari ini untuk kerjasamanya, sepertinya tidak ada yang curiga. Semua berjalan dengan lancar berkat kamu.” ungkap Haru.


“Aku cuman ngikutin kamu aja. Ya sudah … aku masuk ya.” ucap Arin yang kemudian masuk ke dalam apartemennya disusul Haru yang juga masuk ke dalam apartemennya masing-masing.


Baru saja Arin melangkah masuk ke dalam, tiba-tiba Anna menghampirinya dengan wajah yang ingin menggodanya. “Cie … pacar nya perhatian banget sih kak. Aku masih nggak percaya kaka bisa dapet orang sekeren kak Haru. Udah ganteng, kayak, ramah, peka lagi …” ucap Anna.


“Ihh … bukanya tidur, udah malam juga!” ucap kesal Arin sambil mendorong adiknya yang terus menyenggol-nyenggol pundaknya.


“Abis. Love act nya Kak Haru tuh kayaknya paket kom[lot deh!” ucap Anna.


“Iya iya … udah ahh … sana! Jangan deket-deket! Capek gue!” ucap Arin sambil berjalan menjauhi Anna.


***


Di dalam ruang kantornya, Haru tampak sedang sibuk untuk mengerjakan proyek yang tertunda. Dirinya harus menyelesaikan sebelum mendekati tanggal pernikahannya dengan Arin. Mungkin memang kedua pihak keluarga belum menentukan tanggal pernikahan. Namun sudah dipastikan mereka akan mempercepat pernikahannya.


Proyek ini sangatlah berharga baginya. Jadi Haru sebisa mungkin untuk bekerja keras menyukseskan proyeknya kerjasamanya dengan CAA. Beberapa penulis dari platform miliknya sudah terpilih dan beberapa karya udah mendapatkan sebuah kontrak produksi sebuah film dan mini drama.


Berbeda dengan Arin yang tampak menikmati waktu santainya dengan menonton beberapa film sambil memakan banyaknya cemilan seharian. Arin memanjakan dirinya yang sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti ini. Hari ini dirinya akan menjadi orang termalas di dunia. Karena setelah ini Arin berencana untuk menjalani hidup sehat.


Dengan wajah yang bahkan belum sempat cuci muka, rambut yang lebih mirip dengan karakter kartun yang bernama ‘Brave’, mengenakan pakaian training. Sungguh hidup yang menyenangkan sebagai seorang pengangguran. Arin berjalan dengan langkah yang lemah menuju kulkas untuk mengambil martabak yang di belikan Haru semalam, belum sempat ia makan.


Memasukkannya ke dalam microwave selama 7 menit. Selama menunggu Arin menghampiri mesin pembuat kopi otomatis yang baru ia beli beberapa hari yang lalu. Tetesan kopi yang mengalir keluar menghasilkan suara yang membuat Arin terhenyak tanpa memikirkan apapun. Aroma kopi yang pekat dicampurkan susu low fat dan es batu kedalam gelas. Bersamaan dengan bunyi microwave yang menandakan jika martabak milik sudah siap dikeluarkan.


Arin berjalan kembali ke sofa dengan kedua tangan membawa sepiring martabak dan es kopi latte. sebuah film yang masih berputar. Sebenarnya yang sedang Arin lihat film lama yang berjudul ‘Exit’. Ketegangan film mulai terlihat, Arin menonton sambil menikmati cemilan martabak kesukaannya.


di tengah-tengah kesenangan waktunya, sebuah panggilan masuk dari Haru yang sontak membuat Arin langsung terbangun — panik, lalu ia menjawab panggilan tersebut.


“Iya, hallo …?”


“Arin … maaf mengganggu waktu kamu. apa kamu ada waktu kosong?” tanya Haru.


“Ibuku tadi telepon, dia bilang mau kasih kamu sesuatu, apa kamu mau kerumah?” tanya Haru.


“Ahh … boleh. Tapi … sekarang?” tanya Arin.


“Sebisanya kamu, nanti biar aku yang jemput. Bagaimana?” tanya Haru.


“Emm … iya boleh.”


“Ya sudah, kalau sudah siap bilang ya …,” ucap Haru.


Kemudian sambungan pun terputus. Arin langsung bergegas pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap dan meninggalkan semua kemalasannya.


***


Mobil berhenti disebuah rumah besar dan mewah dimana seorang pria paruh baya menghampiri mobil dan membukakan pintu untuk Arin yang masih tampak bingung. Arin menoleh ke arah Haru yang hanya tersenyum seakan sedang mengatakan ‘Semua akan baik-baik saja’. Dengan satu helaan nafas, Arin melangkah keluar dari dalam mobil.


Jalan bersama dengan Haru — masuk kedalam rumah yang benar-benar sangat besar seperti sebuah istana. Arin terpukau melihat betapa berbedanya dirinya dengan Haru. Seperti dua dunia yang berbeda. Rasanya agak aneh, entah perasaan rendah diri atau merasa beruntung dirinya bertemu dengan sosok orang sehebat Haru. Benar apa kata Anna, Haru adalah orang yang sangat berbeda.


“Assalamualaikum …” sapa Haru saat memasuki rumah yang kemudian langsung disambut ramah oleh Ibunya yang tampak sangat senang dengan ke datangi anaknya.


“Akhirnya kalian sampai juga … Hara …” sahutnya sambil memberikan pelukan hangat pada Hara yang masih merasa canggung untuk menerima perhatian itu.


“Padahal baru ketemu kemarin, tapi ibu udah kangen lagi …” ucapnya sambil melepaskan pelukannya. “Ibu nggak ganggu waktu kalian ‘kan …?” tanya Ibu.


“Nggak kok. Oh iya … ini buat ibu …” ucap Arin sambil memberikan sebuah karangan bunga yang ia beli saat di jalan tadi.


“Wah … cantik sekali, kamu tau aja bunga kesukaan ibu. Bahkan Haru saja nggak tau bunga ini,” ucapnya yang merasa terharu dengan pemberian Hara. Sebuah bunga tulip di yang dipadukan dengan buka cotton berwarna putih terlihat sangat manis dan cantik.


“Syukurlah kalau ibu menyukainya. Aku memilih itu karena teringat ibu, makanya aku langsung aku pilih …” ucap Arin.


“Terima kasih ya …, ayo duduk dulu. Ibu buatkan teh …” ucap ibu sambil mengantarkan kedua anaknya ke ruang tengah.


Haru merasa tenang melihat kedekatan Arin dan ibunya begitu cepat. Rasanya senang melihat ibu kembali tersenyum setelah kepergian ayahnya. Membawa Arin ke dalam hidupnya tidaklah buruk. Walau dirinya tahu Arin tidaknya sekuat yang ibu melihatnya. Dibalik senyumannya ada sebuah lubang besar yang tertutupi oleh kabut tebal. Senyum yang saat ini Arin tunjukkan mungkin salah satu usaha terbesarnya. Walau dirinya merasa berterima kasih, tapi Haru merasa bersalah pada Arin.


Tanpa sadar Haru terus menatap Hara dengan pasangan orang yang sedang jatuh cinta. Arin benar-benar bisa menyentuh hatinya yang begitu dingin terhadap orang lain. Itu sungguh membuatnya sangat terkagum-kagum.


“Haru … Kak Haru …!” sahut Arin yang sontak langsung menyadarkan lamunan Haru.


“Oh iya.”


“Kenapa liatin aku sampai begitu, ada yang aneh sama wajah aku?” tanya Arin.