
Bab 14 - Pendekatan
“Ah … enggak kok,” Haru merasa malu sendiri karena diri tertangkap basah menatap Arin terlalu lama.
“Itu artinya kamu cantik, Arin …” ucap Ibu yang berjalan menghampiri mereka sambil membawa nampan yang berisi teko dan gelas cantik.
Sontak Arin dengan cepat mengulurkan tangannya untuk membantu ibu. Rasa sungguh tidak sopan membiarkan orang tua melayani anaknya.
“Tidak perlu, biar ibu sendiri yang melakukannya. Kamu cukup duduk saja ya …” ucap Ibu membuat Arin dengan berat hati kembali duduk. “Anggap aja ini rumah kamu, nggak perlu canggung. Ibu senang banget akhirnya Haru semata wayang ibu punya pacar, cantik pula …,” ucapnya lagi-lagi membuat Arin tersipu malu.
“Tadi ibu bilang mau kasih sesuatu untuk Arin,” ucap Haru.
“Oh iya! Ibu sampai lupa karena kesenangan … tunggu sebentar ya, ibu ambilkan dulu.” ucapnya yang kembali berjalan pergi meninggalkan kecanggungan.
Tak ingin membuatkan ibu melakukan sesuatu yang merepotkan, Arin segera menuangkan teh untuk dirinya dan juga Haru. Tak lupa ia juga membuatkannya untuk ibu. Hanya berselang satu menit ibu kembali dengan membawa sebuah gaun putih yang sangat cantik sontak membuat Arin terkesima melihatnya.
“Woah …!!”
“Cantik bukan …?” tanya Ibu.
“Iya … cantik sekali, ini punya ibu?” tanya Arin.
“Iya. Baru ibu pas masih muda. Baru ibu pakai sekali saat tunangan dengan almarhum ayahnya Haru …,” ucapnya sambil mendekatkan gaun putih tersebut pada Arin. “Apa kamu menyukainya?” tanyanya.
“Iya. Itu sangat classic, seperti hidup di tahun 80 an … aku suka,” ucap Arin yang begitu bersemangat. Lantaran memang Arin menyukai hal-hal yang berbau retro dan vintage. Dibandingkan mengikuti model trend setiap tahunnya. Arin lebih menyukai baju yang menurutnya sangat dipakai.
“Apa kamu mau coba memakainya. Ibu kasih ini sebagai hadiah,” ucapnya sontak membuat Arin terdiam karena terkejut mendengarnya.
“Serius, Bu. Ini untuk aku?” tanya Arin masih tak tahu harus berkata apa, sambil menoleh ke arah Haru untuk meminta izin sebelum dirinya menerima gaun tersebut. Tak disangka Haru menganggukan kepalanya dengan tatapan mata yang begitu hangat pada dirinya.
“Gimana …? Kamu mau?”
“Iya … aku mau!”
Ibu pun langsung memberikan gaun tersebut pada Arin yang masih tidak percaya dirinya mendapatkan gaun yang sangat bersejarah ini. Hatinya benar-benar terharu seakan ingin menangis, entah apa dirinya layak untuk mendapatkan kebahagian ini tapi Arin mencoba untuk merasakannya terlebih dahulu.
Arin pergi dengan membawa gaun tersebut ke dalam sebuah kamar untuk ia ganti. Dua orang yang duduk menunggu sambil menikmati segelas teh panas di sore hari, kemudian mereka langsung terpesona saat Arin yang baru saja keluar dengan mengenakan gaun pemberian ibunya Haru.
Haru terdiam tak bisa berkata-kata, matanya bergetar saat menatap betapa cantiknya Arin saat mengenakan pakaian yang dulu pernah dipakai oleh ibunya. Kedua mata yang terpaku menatap Arin yang bahkan senyumannya saja sudah membuat jantungnya berdebar. Haru merasa dirinya telah jatuh cinta pada Arin.
“Wah … kamu cantik sekali, Nak …,” ucap Ibu sambil berjalan menghampiri Arin yang tersipu malu. “Ternyata gaunnya pas sekali di badan kamu, kalau ayahnya haru melihat pasti jatuh cinta sama kamu …,” ucapnya merasa melihat sosok dirinya di masa muda.
“Loh! Haru kenapa malah diam saja, gimana penampilan calon istri kamu?” tanya Ibu sontak membuat Haru langsung tersadar dan mencoba mengontrol ekspresinya agar tidak terlihat jika saat ini dirinya sedang jatuh cinta.
“Iya. Cocok sekali,” ucap Haru dengan nada datar.
Suasana hening beberapa saat lantaran wajah Haru yang sangat membosankan. Arin merasa sedikit kecewa melihat sikap Haru yang seakan tidak peduli dengannya. Lagipula siapa juga yang berharap dipuji, pikir Arin sedikit jengkel.
“Ayo duduk dulu …,” ajak ibu sambil merangkul Arin dengan lembut — membawanya untuk ke sofa.
“Aku juga belum pernah pacaran sejak lahir, jadi masih bisa aku maklumi …,” ucap Arin.
Ibu langsung tertawa mendengar ucapan Arin membuat suasana yang semula canggung mulai mencair.
“Sebelum pulang, makan malam dulu ya … ibu sudah masak buat kalian,” ucap Ibu.
***
Di perjalanan pulang menuju apartemen. Tampak hujan turun dengan deras sejak mereka keluar dari rumah. Arin masih mengenakan baju pemberian dari ibunya Haru. Suasana di antara mereka menjadi hening. Beberapa kali Arin mengurungkan niatnya untuk mengatakan suatu hal agar tidak canggung. Namun ia takut jika itu akan mengganggu Haru yang sedang menyetir dalam keadaan hujan deras.
“Maaf …” ucap Arin.
Hara hanya menoleh tanpa mengatakan apapun karena bingung.
“Seharusnya aku nggak pantas mendapatkan baju ini. Kalau kamu nggak suka, nanti akan aku kembalikan. Lagi pula kita hanya menikah kontrak tanpa melibatkan perasaan, jadi menerima barang setulus ini aku merasa nggak pantas.” ucap Arin.
“Kalau kamu menyukainya, kamu boleh simpan. Aku nggak keberatan …,” ucap Haru.
“Serius? Aku boleh terima baju ini?” tanya Arin.
“Lagi pula mereka berpikir kita akan benar-benar menikah. Setelah menikah kita hanya memiliki dua pilihan. Bahagia atau perceraian. Barang-barang seperti ini tidak akan ada artinya, aku bisa menyimpannya atau bisa mengembalikkan saat kita bercerai nanti. Lagi pula ibu sudah memberikan itu sama kamu, jadi sekarang sudah sepenuhnya milik kamu, menyimpan atau membuangnya itu hak kamu.” ujar Haru dengan begitu realistis.
Arin menyetujui pendapat Haru yang benar-benar satu sepahaman dengannya. Mungkin karena ia juga termasuk orang yang realistis kata-kata seperti itu tidak menyakitkan perasaannya.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Arin merasa lebih sedikit tenang.
Haru melirik dengan ragu ke arah Arin saat dirinya ingin mengatakan hal yang sempat terbungkam di mulutnya. “Tapi … baju itu sangat cocok dipakai sama kamu,” ucap Haru.
“Terima kasih,” ucap Arin yang tersenyum mendengarnya.
“Kalau aku boleh tahu, kira-kira saat pernikahan nanti kamu mau mengundang berapa banyak orang?” tanya Haru yang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaran yang lebih serius.
“Aku sudah pernah bilang, aku ini nggak punya banyak teman. Paling banyak lima orang,” jawab Arin.
“Baiklah, aku juga nggak akan mengundang banyak orang, hanya orang kantor dan teman lama. Tapi mungkin teman-teman dari kedua orang tua kita yang banyak. Bagaimana kamu keberatan?” tanya Haru.
“Nanti akan aku coba diskusikan dengan mereka, agar tidak mengundang terlalu banyak orang.”
“Baiklah.”
“Untuk kebutuhan pernikahan, ada yang bisa aku bantu?” tanya Arin.
“Nggak perlu. Aku sudah menyuruh seseorang … kita hanya perlu menulis tamu undangan dan duduk dengan tenang. Ah! Aku lupa, untuk pemotretan pre wedding. Sepertinya kita harus melakukannya …,” ucap Haru.
“Iya, nggak apa-apa. Kamu nggak keberatan. Hubungi aku saja, aku selalu memiliki waktu luang.” ucap Arin.
“Emm …, baiklah.”