
Percakapan Dua Sahabat (1)
Haru menidurkan Arin di sofa. Bergegas untuk mengambil air dan obat yang diresepkan dokter kemarin. Membantu Arin untuk bisa meminum obatnya dan kembali membaringkannya agar bisa beristirahat. Di dalam pikirannya saat ini memang mengkhawatirkan kondisi Arin, tapi melihat Arin bersama dengan Ardan jauh lebih terusik dan sangat marah. Lagi-lagi mereka bertemu secara kebetulan, bahkan tatapan mata yang Ardan tunjukkan pada Arin adalah tatapan mata seorang pria yang menginginkan wanitanya.
Mungkin saat ini memang Arin adalah istri sah di mata hukum. Namun tidak menjamin perasaan Arin yang mungkin dirinya hanyalah sebatas cinta bertepuk sebelah tangan dan Ardan adalah asingan yang membuatnya mungkin akan kehilangan Arin. Benar. Setelah mengetahui seperti apa masa lalu Arin dan Ardan membuat Haru merasa sangat khawatir. Bagaimana jika sampai saat ini Arin masih menyimpan perasaan pada Ardan yang kini sudah tidak memiliki istri lagi. Akan sangat mudah bagi Ardan mengambil Arin darinya.
Haru hanya bisa diam menatap Arin yang kini tertidur setelah efek obat yang cepat bekerja. Dirinya yang harus segera kembali bekerja, tak tega meninggalkan Arin sendirian dalam kondisi sakit. Haru pun berpikir untuk membuatkan Arin bubur agar bisa di makan saat bangun nanti.
Menuliskan sesuatu di selembar kertas note yang kemudian ia tempelkan di atas penutup panci yang berisikan bubur yang baru saja matang. Ia sudah benar-benar harus kembali ke kantor sebelum klien datang. Dengan berat hati, Haru melangkah pergi meninggalkan Arin yang masih tertidur.
***
Perlahan Arin mulai terbangun dari tidurnya sambil mengendus-ngedus seperti seekor kucing yang mencium bau makanan. Aroma yang begitu membuatnya terbangun dan memancing rasa lapar setelah tidur dengan pulasnya.
“Udah bangun …?”
Sontak kedua mata Arin terbelalak kaget saat mendengar suara wanita yang ia kenal — menoleh ke arah suara tersebut, Arin tak percaya melihat sahabatnya yang entah sejak kapan berada di dapur apartemennya. “Apaan ini …? Kapan lo dateng?” tanya Arin sambil beranjak dari tempat tidurnya — berjalan menghampiri salah satu sahabat dekatnya yang bernama Yuli. Arin pun kembali dibuat terkejut saat melihat bubur yang sedang dimasak oleh Yuli.
Yuli adalah teman Arin sejak SD. Saat di hari pernikahannya dia pun datang bersama dengan keluarga kecilnya. Sejak temannya menikah membuat Arin jarang bertemu dengan Yuli. Jadi Arin benar-benar terkejut dan tidak percaya melihat Yuli saat ini.
“Belum lama gue nyampe.” jawab Yuli.
“Lo masak bubur …?” tanya Arin yang heran melihat temannya yang bahkan membuat mie goreng instan saja bisa tidak enak, tapi tiba-tiba setelah sekian lama tidak berjumpa dia langsung membuat bubur. “Sejak kapan lo bisa masak?” tanya Arin.
“Bukan gue yang masak. Tadi gue di telepon Haru, dia minta tolong sama gue buat dateng, katanya lo sakit dan dia nggak bisa jaga lo,” ungkap Yuli.
“Lah …! Lo emang nggak jemput anak lo?” tanya Arin.
“Mereka ‘kan, lagi liburan ke rumah neneknya, jadi gue juga lagi santai. Katanya dia juga telpon Intan, tapi dia nggak bisa. Makanya gue datang …,” ucap Yuli yang membuat Arin terharu mendengarnya.
“Huu … so sweet …”.
“Duduk sana! Biar gue siapin makannya …,” ucap Yuli.
Arin pun bergegas duduk di meja makan, menunggu Yuli yang sedang menyiapkan makan malam untuknya. Setelah makan Arin pun tidak lupa meminum obat yang harus ia habisnya walau itu sangat merepotkan. Duduk di ruang tengah bersantai menonton televisi sambil memakan cemilan buah yang dipotong oleh Yuli.
“Kabarnya Azka gimana …? Waktu itu gue nggak sempet liat dia,” ucap Arin.
“Dia baik-baik aja …., nggak usah khawatir gue merawatnya dengan baik. Ah … dia bilang lo cantik, katanya lo kaya putri Elsa pakai gaun pengantin …,” ucap Yuli.
“Elsa … wah … akhirnya gue dapet pujian dari Azka.” ucap Arin yang merasa tidak percaya ia mendapatkan pujian dari anaknya Yuli yang super cuek dan dingin sama seperti ayahnya. “Oh iya …, gue baru sadar. Tadi yang bawa gue ke dalam itu Haru ya. Tapi kenapa dia tiba-tiba ada dirumah ya ..?” tanya Arin yang kebingungan sendiri.
“Lo ketua lagi ya sama Ardan …?” tanya Yuli sontak membuat Arin terdiam.
“Gimana lo bisa tau?” tanya Arin.
Sambil menoleh ke arah Arin dengan sinis. “Jangan ketemuan lagi sama dia!” ucap Yuli.
“Gue nggak ketemuan sama dia kok. Itu cuman kebetulan, gue juga udah berusah ngehindar. Cuman yang tadi itu gue bener-benar kepepet dan nggak ada orang lain yang bisa gue minta tolong.” ucap Arin mencoba membela diri.
“Lo ‘kan, sekarang punya Haru!!” ucap Yuli dengan meninggikan nada suaranya karena kesal mendengar alasan Arin yang tidak masuk akal. “Haru itu suami lo. Dia jadi orang yang pertama yang harus ada buat lo disaat lo kesulitan. Jangan berpikir lo nggak punya siapa-siapa! Lo nggak mikir kalau Haru dengar ini dia bakal sakit hati …!” ujar Yuli yang begitu emosional karena ia ingin Arin sadar akan pemikiran sempitnya itu.
Arin hanya bisa tertegun saat mendengar perkataan Yuli yang mungkin ada benarnya. Namun satu hal yang membuat Arin merasa tidak adil adalah Yuli tidak tau jika pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak yang tidak dilandasi dengan perasaan. Jadi kekhawatiran Haru terhadap dirinya itu adalah hal yang mustahil. Dia bersikap seakan-akan peduli karena agar bisa menunjukan jika pernikahan ini terlihat seperti pernikahan yang dilandasi cinta di mata orang-orang. Namun Arin hanya bisa diam dan tidak bisa membela dirinya lagi.
“Terus juga, mau kebetulan atau tidak kebetulan lo ketemu dan Ardan. Lo harus lebih tegas, agar dia menjauh dari lo! Gue nggak mau orang kayak dia menunggu lo lagi!” ucap Yuli.
“Iya. Gue paham.” ucap Arin.
“Ahh … lagi ngapain sih itu orang, ngapain coba baru sekarang dia muncul, dari dulu kemana aja!!” gumam kesal Yuli terhadap Ardan, orang yang paling dia benci karena orang itu pernah menghancurkan hati sahabatnya dengan harapan palsu, lalu menghilang, kembali muncul saat dia mau menikah. Itu sungguh lucu.
Yuli menoleh ke arah Arin yang tampak murung setelah dirinya berbicara dengan begitu emosional. Hanya saja tanpa sadar jika menyakut tentang Ardan dirinya benar-benar sangat marah, orang orang itu menjadi kelemahan Arin. Sungguh hati sakit melihat Arin yang harus bertemu dengan luka dimasa lalunya, dia pun masih merasa sangat berat.
“Belakangan ini ada pikiran yang mengusik lo?” tanya Yuli yang mulai merendahkan suaranya.