The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 44 Ocehan Ibu-ibu Arisan



Ocehan Ibu-ibu Arisan


Sepulang kerja. Hara tidak langsung pulang ke apartemen nya karena ibu dan ibu mertuanya mengajaknya untuk kumpul bersama dirumah ibu mertua. Mendengarnya saja sudah membuat Arin kehilangan mood dan ingin menolaknya, tapi jika ia menolaknya apa kata mereka sudah pasti menganggap dirinya sebagai anak yang tidak punya sopan santun.


Mobil taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah orang tuanya Haru yang saat ini bahkan tidak tahu dirinya datang. Arin sengaja tidak memberitahu Haru agar tidak mengganggu pekerjaan yang sedang sibuk. Ambil mengambil satu helaan nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, Arin mencoba untuk tersenyum ramah — berjalan masuk kedalam rumah yang sangat besar.


“Assalamualaikum ….” sapa Arin sambil berjalan masuk ke arah ruang tamu yang kemudian ia langsung disambut oleh ibu mertuanya.


“Eh … kamu udah datang.Ibu kamu udah nunggu itu!” ucapnya dengan sangat lembut sambil menunjuk ibu yang sedang duduk di sofa bersama dengan beberapa ibu-ibu yang tampaknya mereka teman-teman ibu mertua.


Arin sempat terkejut saat melihat begitu banyak mata yang menatapnya membuatnya mulai merasa gugup dan tidak nyaman. Dua wanita tua itu telah membohongi dirinya. Sungguh menyebalkan. Dengan terpaksa ia ditarik masuk ke dalam kerumunan ibu-ibu yang terlihat sudah memiliki banyak pertanyaan untuk dirinya.


“Bagaimana … menantu saya cantik bukan …!!” ucap ibu mertua yang langsung di membalas sapaan oleh para teman-temannya yang lain dengan begitu heboh membuat Arin bingung bagaimana dia harus bereaksi.


“Kita duduk dulu,” ucapnya sambil mengajak Arin duduk di tengah-tengah antara para ibu-ibu.


Mereka terus saja melayangkan pertanyaan pada dirinya. Hingga Arin mulai kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan mereka yang tidak ada berhentinya berbicara membuat Arin mulia kehilangan energinya.


“Arin ini lulusan apa ya?” tanya salah seorang ibu-ibu yang mengenakan pakain yang sangat mewah, bahkan kedua tanganya terlihat banyak sekali gelang, entah itu asli atau tidak.


“Lulusan S1 Akutansi Perkantoran,” jawab Arin.


“Terus sekarang jadi wanita karir?” tanya sekali lagi.


“Buat apa jadi wanita karir, ‘kan suaminya udah punya perusahan besar. Sudah pasti Haru memperlakukan kamu seperti tuan putri ya … aduh irinya. Coba dulu anak aku di jodohkan sama Haru …” ucapnya ibu yang duduk di hadapannya.


“Oh iya iya, benar juga. Sekarang apa yang menjadi kesibukan kamu?” tanya salah seorang wanita yang duduk tepat di samping ibunya yang hanya diam sambil mengawasi Arin.


“Saya … kerja paruh waktu.” jawab Arin yang sontak membuat semua orang disana terdiam seketika selama beberapa detik sambil saling melirik bingung satu sama lain. Sebuah jawaban yang tidak disangka-sangka.


“Ah … mungkin Arin hanya ingin mengisi waktu luang, karena sebelum dia menikah dengan Haru, dia itu wanita karir dan sekarang pasti hanya memberikan yang terbaik untuk suaminya, iya ‘kan, Arin …?” ucap ibu mertua yang tampak berusaha akan para temannya tidak salah paham akan anaknya yang berharga.


“Ah … wah, kamu benar-benar wanita yang juga memikirkan perasaan pria. Beruntung sekali Haru …,” puji mereka.


“Petasan … Haru pilih kamu,” ucap wanita yang tadi ingin menjodohkan anaknya pada Haru.


Arin hanya bisa mendengar percakapan yang mereka.


“Terus rencananya kamu mau punya anak kapan? Ini sudah hampir 3 bulan ‘kan, kalian menikah?”.


“Eh .. iya benar. Anaknya saya dua bulan nikah aja udah langsung hamil …”


“Wah … cepat sekali.”


Arin hanya bisa terdiam. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan itu dengan mudah di saat pernikahanya dengan Haru adalah sebuah kebohongan. Mungkin dirinya bisa saja berbohong, tapi kenapa mulutnya sulit sekali untuk berbicara.


“Kami … belum sempat honeymoon karena … mas Haru masih sibuk dengan pekerjaannya,” ucap Arin.


“Waduh!! Sudah lewat tiga bulan, masih belum honeymoon … sayang sekali.”


“Belakangan ini Haru sedang ada proyek besar, sudahlah itu kan menjadi rahasia mereka …,” ucap ibu mertua.


“Emangnya kalian rencana punya anak berapa?”.


“Dua aja … udah paling pas banget,”


“Tapi … kalau anak jaman sekarang lebih sudah punya satu anak,”


“Ah .. begitu ya …,”


“Gimana Arin, kamu suka punya berapa anak?” tanya Arin.


“Oh … emm …” Arin kesulitan untuk menjawabnya.


“Eh .. sudah sudah, jangan tanya terus dia, lihat dia malu-malu.” bela ibu mertua.


“Arin itu … dari kecil memang sangat pemalu,” ucap ibunya.


“Oh … begitu rupanya. Iya maaf ya … Arin, kami ini emang suka penasaran sama pengantin baru …”.


Mereka semua tertawa akan ucapan tersebut, Di saat Arin sedang mengalami sebuah tekanan tinggi. Sungguh dirinya ingin sekali kabur dari tempat ini. Telinganya sudah tidak bisa menerima lagi ucapan-ucapan para wanita tua yang hanya penasaran dengan hidup orang lain.


Arin hanya terdiam dengan tatapan kosong setelah para ibu-ibu itu pergi dari rumah. Meja yang penuh dengan sisa makanan dan piring-piring kotor. Ocehan yang masih saja terngiang-ngiang di telinganya. Mereka berhasil menjatuhkan mentalnya. Tak lama ibunya kembali bersama dengan ibu mertua. Namun hanya ibu yang menghampiri Arin, sedangkan ibu mertua pergi entah kemana.


“Mama ngapain sih, kesini?!” ucap ketus Arin setelah memastikan ibu mertua tidak terlihat lagi.


“Memang kenapa? Orang besan yang undang ibu buat datang. Terus juga, kamu bisa nggak sih, bersikap sopan … basa basi dikit lah pada mereka, nggak sopan!” ucapnya mengomeli Arin yang menyadari sikap acuh anaknya tadi.


“Emang aku ini ibu, sok sokkan basa basi hanya karena gengsi. Ibu nggak malu apa sama mamanya Haru! …?! Sadar diri bu, kita ini nggak punya apa-apa. Bukan hanya karena aku nikah dengan mas Haru ibu jadi berlagak seperti tuan rumah …!!” ujar Arin yang tersulut emosi melihat sikap ibunya yang tidak pernah mau sadar.


“Apa kamu bilang …!!” bentak yang kemudian langsung ingat jika saat ini dirinya berada di rumah besan dan harus menjaga sikap. “Hati-hati kalau kamu bicara …” bisiknya dengan tatapan bengis. “Terus juga apa maksud kamu kerja part time, emangnya Haru nggak kasih nafkah buat kamu? Dia itu ‘kan punya banyak uang, jangan malu-maluin keluarga deh! Masa istri dari CEO kerja paruh waktu, yang benar saja kamu!!” ujar ibu membuat Arin kesulitan berkata-kata saking tidak menyangka ibunya akan bertindak sejauh ini.


“Oh … jadi ibu malu sama aku, atau ibu nggak mau nama baik ibu tercoreng?!” ucap Arin.


“ARIN …!!” bentaknya karena sudah sangat marah.  “Kamu itu satu-satu pengharapan keluarga, apa nggak bisa kamu mengalah. Apa susahnya jadi istri yang berbakti, melayani suami. Kamu juga harus lebih agresif dong, kalau kamu punya anak, besan pasti sangat menyukainya.” ujarnya.