The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 11 Kesepakatan



“Saya tahu, makanya saya memilih kamu.” ucap Haru dengan tatapan serius untuk menekankan keraguan Arin terhadap dirinya.


“Maksudnya …?” tanya Arin.


“Karena kamu Arin. Saya hanya membutuhkan kamu dalam pernikahan ini.” jawab Haru.


Arin terdiam mendengar jawaban tersebut. Entah perasaan apa yang saat ini ia rasakan setelah mendengarnya, hanya saja Arin menyukai jawaban itu.


“Kalau begitu, aku boleh menuliskan beberapa syarat dalam kontrak ‘kan?” tanya Arin.


“Iya, tentu saja.”


“Apa aku boleh minta nomor kamu?” tanya Arin.


Tanpa menjawab, Haru langsung berjalan menghampiri Haru dan memberikan sebuah kartu nama padanya. “Itu nomor saya, kamu bisa menghubungi saya jika kamu sudah mendapatkan jawabannya. Kalau begitu, permisi.” ucap Haru yang kemudian kembali berjalan ke rumahnya — masuk ke dalam.


Arin masih terdiam di depan pintu sambil memandangi kartu nama tersebut. Ia terkejut saat melihat jabatan milik pria aneh itu. Ini membuat Arin semakin merasa tidak percaya, bagaimana bisa seorang CEO perusahaan startup mau menikahi seorang wanita pengangguran yang tidak memiliki banyak kekurangan. Benar. Bagaimana dengan kecemasan dan depresi yang ia miliki, apa mungkin dia sanggung menerimanya? Walau ini hanya sebatas pernikahan kontrak tapi bukankah dia juga harus menjaga nama baiknya, pikir Arin dengan begitu rumitnya.


***


Sepanjang hari Arin hanya terdiam dengan tatapan kosong lantaran pikirannya saat ini lebih mirip benang kusut. Pernikahan kontrak yang tiba-tiba muncul dalam kehampaan hidupnya sungguh suatu hal yang mengejutkan. Seperti orang aneh yang berjalan kesana kemarin, lalu tiba-tiba berhenti di tengah-tengah. Mencoba menyibukan dirinya dengan berbenah rumah, tapi tiba-tiba kembali melamun.


Anna yang memperhatikan tingkah aneh kakaknya merasa khawatir. Entah apa yang sedang dia pikirkan hingga menjadi seperti itu. Saat melamun tiba-tiba kakaknya tertawa dengan sangat keras sambil berjalan membawa es krim ke kamarnya.


“Dia itu kenapa sih? Kerasukan apa? Bikin orang takut aja sih!!” gumam Anna yang mulai merasa takut jika kakaknya benar-benar sudah tidak waras. Namun ia mencoba untuk tidak ikut campur karena mungkin saja ada suatu hal yang membuat kakaknya kesulitan untuk menerima kenyataan. Anna kembali melanjutkan aktivitasnya menonton televisi sambil memakan ramen.


BRAKK!!!


Tiba-tiba pintu kamar yang didobrak dengan kerah oleh kakaknya yang muncul dari dalam kamar. Sontak hal itu membuat Anna sangat terkejut hingga ia melempar sumpit di tangannya. “Kakak kenapa sih!! Bikin orang jantungan tau nggak!!” ucap Anna kesal.


Terlihat Arin yang tampak berpakain rapi berjalan melewatinya.


“Kakak mau kemana?” tanya Anna.


“Mau ketemuan sama cowok tampan?” jawab Arin dengan wajah yang tak berekspresi berjalan menghampiri pintu.


“Kakak nggak ketemuan sama cowok aneh ‘kan??” tanya Anna merasa khawatir.


“Iya. Dia aneh!!” ucap Arin yang sudah menutup pintu rumahnya, sontak membuat Anna terdiam bingung.


“Apaan sih!!”


Anna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakaknya yang sudah tiba bisa tertolong lagi.


***


Di sebuah cafe yang tampak tidak ada pengunjung, hanya seorang yang duduk menunggu seseorang sambil menikmati segelas ice latte. Arin sudah membulatkan keputusannya akan pernikahan kontrak tersebut. Hari ini dirinya akan kembali membicarakan hal itu dengan pria aneh yang bernama Haru.


Sekitar 15 menit Arin menunggu, terlihat seorang pria yang baru saja keluar dari mobilnya — berlari dengan tergesa-gesa. Pria itu Haru yang kini sudah berdiri di hadapan Arin dengan nafas yang sedikit terengah-engah.


“Maaf, saya terlambat.” ucap Hara sambil duduk di hadapan Arin.


“Nggak. Nggak apa-apa. Jadi … apa kamu sudah mendapatkan jawabannya?” tanya Haru.


“Iya. Aku menyetujui pernikahan itu.” ucap Arin.


Seketika Haru tergetar hatinya mendengar sebuah kabar baik setelah penantiannya selama 1 tahun ini. Bahkan kini dirinya berusaha untuk tidak tersenyum.


“Dan ini, syarat yang aku inginkan.” ucap Arin sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan daftar yang ditulis secara menulis dengan tangannya sendiri.


“Dan juga … aku tidak suka berada di tempat banyak orang. Jadi untuk pesta pernikahannya, aku hanya ingin yang sesederhana mungkin dan tidak banyak orang yang datang. Bagaimana? Apa kamu keberatan?” tanya Arin dengan hati-hati.


“Iya. Nggak apa-apa, saya nggak keberatan. Saya bakal mempersiapkan kontraknya, setelah selesai akan saya beri tahu. Jadi saat pertemuan besok kita sudah saling setuju dengan perjodohan itu,” ucap Haru.


“Iya …,”


“Tapi …, apa kamu sungguh nggak apa-apa dengan pernikahan ini? Pernikahan ini mungkin hanya berlangsung selama 2 tahun, lalu kemudian kita akan bercerai. Bukahkan pihak yang paling dirugikan adalah perempuan?” tanya Haru.


“Nggak keberatan. Sebenarnya, saya sudah memutuskan untuk tidak menikah karena pernikahan itu sangat merepotkan. Tapi … saya juga ingin merasakan pernikahan. Makanya saya menerima pernikahan kontrak ini. Tidak ada perasaan, saling menguntungkan dan tidak merepotkan. Dan juga aku sama sekali sudah tidak peduli dengan pendapat orang lain. Hidupku saja sudah rumit jadi aku tidak tertarik dengan masalah-masalah sepele yang diciptakan orang lain hanya untuk menjatuhkan mental aku. Jadi ya … nggak apa-apa.” ungkap Arin dengan begitu tenangnya.


“Baiklah. Saya mengerti.” ucap Haru.


“Tapi … kalau kita menikah sudah pasti kita akan satu rumah. Tapi saat ini aku tinggal bersama dengan adikku dan lagi pula rumah kita bersebelahan … jadi tidak perlu sampai satu rumah ‘kan?” tanya Arin.


“Akan aku cari jalan keluarnya, kamu nggak usah khawatir. Emm … aku harus segera pergi karena masih ada pekerjaan,”


“Iya, silahkan …”


“ Kalau begitu, saya permisi.” ucap Haru yang kemudian beranjak dari tempat duduknya — berjalan pergi meninggalkan Arin yang masih terdiam memperhatikan Haru hingga pergi dengan mobilnya.


“Kenapa dia keren sekali,” ucap Arin.


***


TING NONG! TING NONG!!!


“Siapa sih malam-malam begini bertamu!!” kesal Anna yang sedang fokus belajar di kamarnya harus membuka pintu lantaran saat ini kakaknya dengan berada di kamar mandi.


Anna melihat ke layar monitor kamera pintu yang menunjukan seorang pria berwajah tampan yang bertamu ke rumahnya di jam 11 malam. Pria asing yang tidak ia kenal, membuat Anna merasa ragu untuk membukakan pintunya.


“Siapa ya?” tanya Anna.


“Saya Haru, ingin bertemu dengan Arin.” ucap Haru.


“Tunggu sebentar.” ucap Anna sambil menjalan menghampiri pintu.


Pintu terbuka sontak kedua mata Anna terpana akan ketampanan wajah Haru. “Ada keperluan apa dengan kakak saya?” tanya Anna.


“Ahh saya —”


Baru saja Haru ingin menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba Arin muncul dengan rambut yang digulung dengan handuk dan mengenakan pakain tidur, kedua matanya terbelalak saat melihat Haru yang kini sedang bersama adiknya. Sebuah situasi emergensi. Lantaran Arin langsung menghampiri Anna — menariknya masuk.