
Saling Menyalahkan
“Maafkan saya, maafkan saya …” ucap Haru yang berusaha untuk tidak menangis karena ia tidak memiliki hak untuk menangis di hadapan Arin.
“Kenapa harus kak Haru yang minta maaf, mama nggak sadar dengan kesalahan mama …? Setelah bertengkar sama mama, sikap kak Arin berubah, semua baik-baik sebelumnya. Kalau mama salah ya salah aja, jangan melimpahkan kesalah sama orang lain …!!” ucap Anna yang tidak terima kak ipar yang sudah di anggap sebagai kakak kandungnya disalahkan. DIa bahkan selama ini selalu memperlakukan kak Arin dengan sangat baik.
“Apa kamu bilang?” ibu yang tidak terima disalahkan. “Kalian yang tinggal bersama, seharusnya kamu sebagai suami jangan biarkan istri kamu kerja part time, uang kamu ‘kan banyak, tega sekali kamu biarkan dia bekerja …!! Kalau saya tau kelakuan kamu begitu, sudah pasti saya nggak bakal mendukung pernikahan ini tau!!” ujarnya yang malah tambah emosi terhadap Haru.
“MAMA …!!” Anna yang membentak karena semakin merasa tidak percaya dengan sikap ibunya yang sudah benar-benar keterlaluan.
“SUDAH …!! SUDAH …!! Kalian ini apa-apaan sih …! Malah bertengkar! Ini rumah sakit …!! Kalin nggak lihat di depan kalian, Arin sedang sakit, kalian malah bertengkar …!!” bentak ayah yang akhirnya membuka mulut menghentikan pertengkaran antara istri dan anaknya.
Ayah berjalan mendekati anaknya yang begitu menyedihkan. Bagaimana bisa ia membuat anaknya hingga hampir kehilangan nyawanya.
“Bapak sama mama nggak tau ‘kan selama ini apa yang Kak Arin alami. Dia itu depresi …!! Setiap malam dia selalu minum obat tidur agar bisa tidur, sampai-sampai di ketergantungan. Dia berjuang agar bisa tetap bekerja demi keluarga. Tapi apa …? Saat kak Arin keluar karena ia ingin menyembuhkan dirinya sendiri, tapi kalian malah menyalahkannya dan keberatan karena kalian takut nggak ada yang bisa membiayai kalian, membayar hutang-hutang kalian dan ego kalian yang terlalu bangga karena anaknya bekerja di kantor tanpa tau apa yang kak Arin alami ‘kan?” ujar Anna mencoba untuk tetap tenang dan berusaha menyampaikan apa yang seharusnya kedua orang tuanya tahu akan apa yang terjadi pada kak Arin hingga sampai seperti ini.
“Apa kalian nggak sadar, kenapa kak Arin bisa depresi …? itu semua karena tekanan dan semua ucapan kalian …!! Selalu bertengkar karena uang, sedikit-sedikit mengeluh … sedikit-sedikit bertengkar … bahkan kalian nggak pernah tanya keadaan anak-anak kalian …? Masih mau menyalahkan orang lain …!! seharusnya kalian itu malu …!! Bahkan saat ini aku saja malu berdiri di hadapan kak Haru yang udah bantu kak Arin, dia satu-satu orang yang memberikan kak Arin ruang untuk bisa melakukan apa saja, selalu membuatkan kak Arin makan walau dia sesibuk apapun.”
“Bahkan yang membantu kak Arin mau datang ke psikolog dan mencarikan dokter terbaik … siapa lagi kalau bukan kak Haru. Tapi mama seenaknya dihakimi kak Haru yang udah buat kak Arin sampai seperti ini …? Mama pantas di anggap seorang ibu …?” ungkap Anna yang membuat kedua orang tuanya hanya bisa tertegun, tak bisa berkata-kata.
“Ibu tau …!! Kenapa kak Arin bisa sampai seperti itu, dia minum obat penenang dengan jumlah yang banyak, sampai dia hampir ketabrak mobil. KAK ARIN HAMPIR MENGHABISI DIRINYA SENDIRI KARENA KALIAN …!!!” bentak Anna bersamaan dengan air mata yang mengalir deras — menangis sejadi-jadi di lantai karena merasa sudah tidak tahan menghadapi kedua orang tua yang selalu memikirkan dirinya sendiri. Lalu buat apa mereka melahirkan jika hanya menyakiti anak-anak mereka.
Kedua orang tua sangat kaget mendengar sebuah kenyataan apa yang telah Arin lakukan hingga berakhir seperti ini. Ibu yang langsung pergi keluar karena tak bisa menahan tangisan rasa bersalah setelah mengetahui fakta anaknya yang mencoba melakukan percobaan bunuh diri dan dirinya hanya sibuk mencari pembenaran akan sikapnya, itu sungguh hina.
Malam itu akan menjadi malam yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh mereka. Selama bertahun-tahun hidup membebani anaknya dan hanya mementingkan ego, hingga tak sadar sikapnya menjadi sebuah senjata mematikan untuk anaknya sendiri.
***
Setelah dua malam di lewati. Arin masih belum sadar dari tidur panjangnya. Haru bahkan sampai rela membawa semua pekerjaannya ke dalam rumah sakit karena tak ingin meninggalkan Arin. Dirinya tidak sendirian, melainkan berjaga secara bergantian dengan Anna dan Intan sahabatnya Arin yang rela mengambil cuti selama beberapa hari. Beberapa kali Yuli juga datang untuk menemani Arin.
Haru hanya bisa beristirahat jika ada ke tiga wanita yang begitu menyayangi Hara. Dua tiga hari mereka lewati bersama, Haru mulai terlihat begitu kelelahan karena ia mungkin hanya sempat tidur selama 3 jam sehari. Sorot matanya begitu redup. Di kelelahan tapi tidak ingin merasakannya.
SREK …!
Terdengar suara pintu terbuka sontak membuat Haru yang sedang fokus memeriksa berkas menoleh ke arah pintu. Wajahnya terkejut melihat kedatangan ibunya yang tidak ia duga. Haru bergegas beranjak dari sofa — berjalan menghampiri ibunya.
“Ibu …,”
“Ya ampun, lihat muka kamu. Kamu nggak tidur berapa hari …?” tanya begitu sedih dan prihatin melihat keadaan anaknya yang terlihat tidak baik-baik saja. Bahkan ia juga tidak percaya melihat anaknya yang rela bekerja sambil merawat istrinya yang sedang sakit.
“Kamu udah makan …?” tanya ibu sambil berjalan menghampiri Arin — di ikuti Haru.
“Sudah tadi bareng sama adik ipar. Ibu kenapa enggak telepon aku dulu …?” tanya Haru.
“Ibu khawatir sama kamu. Kata Dimas kamu nggak masuk kantor selama 5 hari dan bekerja di rumah sakit, makanya ibu datang.” jawabnya sambil meletakkan karangan bunga di dalam sebuah pot dengan begitu cantiknya di atas meja samping Arin. Menatap menantunya yang tampak begitu menyedihkan. “Dia masih belum sadar …?” tanyanya.
“Belum …” jawab Haru.
Ibunya hanya bisa menghela nafas melihat situasi yang sungguh membuatnya dipenuhi rasa bersalah bersamaan dengan kekhawatiran akan keadaan anaknya juga yang begitu rela berkorban demi wanita yang tengah berbaring di hadapannya.
“Ibu … ayo kita duduk di sofa,” ajak Haru.
“Boleh …,” ucapnya sambil berjalan mengikuti Haru yang tampak sibuk merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja sofa. “Maaf ya, Bu. Nggak berantakan …,” ucap Haru.
Ibu duduk di sofa begitu juga dengan Haru. Beberapa saat suasana menjadi hening saat ibu hanya diam menatap ke arah Arin.
“Anakku …” saut ibu.
“Iya …,”