
Sesi Konseling (1)
Rasa gugup yang masih tidak mau menghilang, hingga Yuli menggenggam tangan Arin yang gemetaran. Padahal dirinya hanya masuk ke dalam ruang psikologi bukan ke ruang operasi, kenapa dirinya begitu gugup?
Tampak di dalam masih terdapat seorang pasien yang sedang menjalani sesi konseling langsung bersama dokter. Rumah sakit ini tidak terlalu besar. Hanya dua lantai dan pasiennya punya hanya Arin dan pasien yang ada di dalam ruangan.
“Nggak perlu gugup …,” ucap Yuli mencoba menenangkan Arin yang benar-benar gugup.
“Gue juga mau begitu. Tapi gugupnya nggak mau hilang,” ucap Arin.
Tak lama seorang wanita keluar dari dalam ruangan konseling. Itu berarti sudah waktunya untuk Arin masuk kedalam ruangan. Seorang pegawai yang berdiri tak jauh dari samping pintu memanggil nama Arin dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan Dokter.
“Arin Gashina! Silahkan masuk …,” ucapnya.
“Iya …” saut Yuli yang menggantikan Arin yang masih tampak begitu gugup. “Ayo masuk …, gue tunggu lo di sini,” ucap Yuli.
“Emm …,” angguk Arin sambil beranjak dari tempat duduk — berjalan ragu masuk ke dalam ruangan.
Seorang dokter wanita yang umurnya beberapa tahun jauh lebih tua dari padanya, senyuman ramah. Entah mengapa Dokter wanita itu seakan memiliki aura yang terlihat sangat menenangkan. Bahkan Arin sampai tertegun menatapnya.
“Selamat siang …,” sapa Dokter wanita yang berjalan menghampiri Arin yang masih tertegun. Sambil mengulurkan tanganya — menunjuk ke arah sofa. “Saya Puspita … silahkan duduk,” ucap Puspita.
“Iya …, selamat siang juga.” ucap Arin yang akhirnya tersadar dan segera duduk di sofa yang ditunjuk dokter wanita itu yang juga duduk di hadapan — begitu ramah.
“Nama kamu Arin Gashina. 27 tahun. Apa itu benar?” tanyanya dengan suara yang begitu lembut.
“Iya. Benar.” jawab Arin begitu canggung.
“Jika dilihat dari keluhan yang anda miliki di sinis, menunjukkan skor yang tidak begitu baik.” ucapnya.
“Ah … begitu ya, Dok.” Arin tak bisa berkata-kata lagi — merunduk dengan perasaan muram.
“Apa boleh saya pinjam tangan kamu?” tanyanya.
“Iya?! Iya …,” ucap Arin — bingung sambil mengulurkan tangannya dengan ragu lantaran Arin tak bisa menyembunyikan tangannya yang saat ini sedang gemetaran.
“Tangan kamu … gemetar …?” tanya Dokter yang menggenggam tangan Arin.
“Maaf, Dok. Kalau saya gugup, tangan ini nggak bisa berhenti gemetaran.” ucap Arin.
“Kenapa harus meminta maaf? Tangan kamu gemetaran itu bukan sebuah kesalahan …,” ucapnya yang tersenyum begitu teduh membuat Arin kembali terdiam. Kalau saya boleh tau, sejak kapan tangan kamu mulai seperti ini?” tanyanya.
Arin masih terdiam beberapa sambil mencari ingatan yang seakan tidak ada di sana. “Saya nggak tau, Dok.”
“Baiklah. Kalau begitu apa saya boleh tau kenapa kamu begitu gugup? Kamu yang sedang kamu pikirkan saat ini?” tanyanya lagi-lagi membuat terdiam dalam pemikiran yang mendalam. Pertanyaan yang terasa begitu sulit untuknya. Arin tidak tahu bagaimana ia menjelaskannya. Pikirannya saat ini seperti kumpulan lalat yang mengerubungi bangkai.
“Nggak apa-apa, tidak perlu memaksakan diri kamu untuk menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan yang saya begitu.” ucapnya mencoba menenangkan Arin yang tampak begitu kebingungan dan terlalu memaksakan dirinya. “Kalau begitu. Saya ubah pertanyaan saya, apa yang saat ini kamu rasakan secara fisik? Selain tangan kamu yang gemetaran,” ucapnya.
“Dada saya rasanya sangat berat dan perih. Sejak saya keluar dari rumah jantung saya sudah mulai berdebar, ada rasa takut di dalamnya, tapi saya tidak tahu seperti apa rasa takut itu. Padahal saya hanya bertemu seorang Dokter.” ungkap Arin yang kemudian menghela nafas begitu dalam.
“Saya ada kerja part time, Dok.” jawab Arin.
“Kalau saya boleh tau, sudah berapa lama?” tanyanya.
“Sekitar satu bulanan,”
“Begitu rupanya. Apa pekerjaan kamu menyenangkan?” tanyanya.
“Nggak terlalu buruk,”
“Kalau begitu. Bagaimana di pertemuan selanjutnya, saya ingin mendengar kamu bercerita tentang pekerjaan kamu. Kita sudahi sesi konseling pertama ya …, sampai bertemu lagi di sesi selanjutnya. Terima kasih karena sudah mau berbagi sedikit cerita hidup kamu.” ucapnya.
“Iya, Dok. Saja juga berterima kasih. Kalau begitu saya permisi,” ucap Arin sambil beranjak dari tempat
duduknya — berjalan keluar ruangan.
Yuli langsung menghampiri Arin dengan harap-harap cemas. Merangkul Arin — berjalan kembali ke tempat duduk. “Gimana konselingnya?” tanya Yuli.
“Nggak buruk. Tapi … gue masih gugup. Hiks …,” ucap arin merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak masih tidak bisa membuka dirinya dalam konseling kali ini.
“Nggak apa-apa, ini ‘kan baru hari pertama. Ayo … kita makan siang dulu, baru gue anter lo ke cafe ..!” ajak Yuli.
“Emm, ayo …!” ajak Arin.
Kemudian mereka berjalan bersama meninggalkan gedung rumah sakit ini.
***
Arin bekerja di cafe seperti biasanya. Hanya saja kali ini cafe terlihat begitu lengang, mungkin karena hari ini hari biasa dan masih di jam kerja jadi cafe tidak ada satu pengunjung pun sejak Arin masuk kerja. Mungkin ada beberapa pesanan dari ojek pesan antar, setelah itu para pegawai begitu juga dengan Arin memiliki banyak waktu senggang.
Setelah melewati sesi konseling rasanya tubuhnya terasa aneh. Ini untuk pertama kalinya Arin menghadapi seorang dokter psikiater. Bahkan saat dirinya benar-benar berada di kondisi depresi hingga melukai pergelangan tangannya, Arin sama sekali tidak berpikir untuk sampai meminta bantuan seperti ini. Jadi terasa sangat canggung.
“Arin …!” saut seseorang yang sontak memecahkan pikirannya.
“Iya?!”.
“Kenapa malah bengong?” tanya Anis.
“Ah … nggak apa-apa kok, kenapa emang?” tanya Arin bergegas memfokuskan pikirannya.
“Tolong beresin gudang ya, biar aku yang jaga sini.” ucap Anis.
“Oh iya, aku langsung kesana.” ucap Arin yang kemudian langsung berjalan ke belakang dimana gudang penyimpanan berada.
Pintu gudang yang tampak terkunci. Arin membukanya dengan kunci yang diberikan Anis sebelum ia pergi. Saat pintu terbuka, terlihat gudang yang tampak begitu berantakan. Entah sejak kapan tempat ini tidak dirapikan. Baru melihatnya dirinya sudah merasa sangat lelah, tapi dirinya tidak boleh mengeluh dan bergegas untuk merapikannya.
Satu persatu kardus-kardus bekas kopi yang berserakan di lantai Arin tumpuk menjadi satu agar tidak memakan tempat. Plastik-plastik entah bekas apa ia kumpulkan menjadi satu di dalam plastik besar. Berjalan untuk merapikan tumpukan kardus yang berisikan kopi — di sebuah etalase lemari besi. Saat semua sampah-sampah dan barang-barang sudah tersusun rapi, Arin segera mengambil sapu dan kain pel.