The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 7 Hal yang Tidak Diketahui



Bab 7 - Hal Yang Tidak Diketahui


“Anna, biar aku yang bawa. Kalau nanti kalian sakit jangan harap minta belas kasih dari aku. Mau sakit atau pun mati, aku nggak bakal muncul di hadapan kalian. Begitu juga sebaliknya. Aku nggak bakal minta tolong kalau aku sakit, bahkan kalau aku mati aku juga nggak bakal ngerepotin kalian.” ungkap Arin yang berusaha menahan tangisannya — kemudian berjalan pergi ke kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa terhenyak.


Rumah kembali menjadi hening setelah pertengkaran semalam. Semua tak saling menyapa seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap. ayah bahkan memilih untuk tidur di pos ronda, sedangkan ibu hanya mengurung diri dikamar. Pekerjaan rumah menjadi terbengkalai. Walau sedikit terpaksa akhirnya Arin dan Anna yang harus turun tangan membersihkan rumah.


Walau sebenarnya besok mereka sudah bisa pindah ke apartemen, tapi mereka tetap tidak tega meninggalkan kedua orang tua mereka dengan kondisi yang seperti ini. Arin memesan makan dengan ojek online. Setelah menerima pesanan, ia segera pergi ke dapur, menyisihkan makanan untuk ibu dan ayahnya, lalu pergi kekamar Anna untuk makan siang.


***


NGIUNG …! NGIUNG …! NGIUNG …!


Mobil ambulans yang melaju dengan cepat membawa seorang pasien emergensi ke rumah sakit terdekat. Seorang pria paruh baya pingsan setelah mengalami serangan jantung mendadak. Petugas ambulan sudah memberikan pertolongan pertama dengan melakukan CPR dan memberikan selang oksigen untuk membantunya bernafas.


Di tengah sebuah rapat penting dengan para investor asing untuk pengembangan aplikasinya. Haru langsung berlari keluar tanpa pikir panjang setelah mendapatkan telepon dari ibunya jika ayahnya tak sadarkan dirinya dan kini sedang di perjalanan ke rumah sakit. Para investor tampak bingung melihat Haru yang pergi begitu saja, begitu juga dengan Dimas yang berusaha untuk menenangkan kondisi saat ini.


Terus berlari hingga ia sampai di depan mobilnya. Pikirannya begitu kacau — saat mobil melaju dengan cepat. Apapun yang terjadi dirinya hanya ingin datang tepat waktu untuk menemui ayahnya. Keringat dingin di sekujur tubuhnya dan tangan yang mulai gemetar karena sebuah ketakutan dan kecemasan akan keadaan terburuk yang mungkin dialami ayahnya saat ini.


Sesampainya di rumah sakit, Haru langsung berlari menuju ruang operasi lantaran ayahnya sudah masuk kedalam saat ia masih di perjalanan. Terlihat dari kejauhan, ibu tampak menangis seorang diri di depan ruang operasi. Hara berlari menghampiri ibunya dan memeluknya dengan sangat erat.


“Haru … bagaimana ini, ayahmu … ayahmu …”


Ibu yang tak kuasa menahan air matanya, kesedihan mendalam tak bisa berhenti memikirkan hal-hal buruk akan keadaan suaminya saat ini. Padahal beberapa menit yang lalu sebelum kejadian ia masih berada di samping suaminya yang sedang membersihkan kebun bunga miliknya bersama. Namun tiba-tiba dia jatuh pingsan hingga kini terbaring di ruang operasi.


“Ayah pasti baik-baik saja, Bu … tenang …” Haru mencoba untuk menenangkan ibunya.


Waktu terus berjalan seakan begitu lambat.


Satu jam … dua jam …


Jam yang terpampang di dekat pintu masuk ruang operasi terus berubah.


Kini sudah lewat dari 4 jam lamanya, Dokter tak kunjung keluar dari ruang operasi.


Ibu bersandar di pundak Haru, dia tampak begitu kelelahan hingga tertidur. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Haru harus menjadi sosok yang kuat untuk ibunya. Bahkan Haru tidak meneteskan air matanya sejak ia mengetahui kabar buruk tentang ayahnya.


Kedua mata Haru melihat sosok dokter yang terlihat berjalan menghampiri pintu, bisa jadi itu dokter yang mengoperasi ayahnya. Segera Haru membengunkan ibunya yang tertidur.


“Ibu bangun … ada dokter,” ucap Hara dengan lembut.


Sontak ibu langsung terbangun.


“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Ibu sambil berjalan menghampiri dokter tersebut, begitu juga dengan Haru.


“Dikarenakan ada penyumbatan karena gumpalan bakteri sudah pecah itulah yang menyebabkan pasien tiba-tiba terkena serangan jantung. Kami sudah memperbaiki katup jantungnya dan membersihkan area yang terkena infeksi, itu sebenarnya kami membutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk saat ini pasien masih harus ditinjau di ruang icu untuk perkembangannya. Operasinya berjalan lancar dan pasien sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kita tinggal menunggu perkembangannya.” ungkap dokter dengan sangat jelas.


“Maksud Dokter, ayahnya ada ada Endokarditis infektif?” tanya Haru yang tampak begitu bingung.


“Iya.”


“Terima kasih banyak, dokter … terima kasih,” ucap Ibu.


“Iya. kalau begitu. Saya permisi.” ucap Dokter yang kemudian kembali berjalan masuk kedalam ruang operasi.


Haru yang masih tertegun akan fakta jika ayah ternyata memang sudah menyembunyikan penyakit dari dirinya.


“Kenapa ibu nggak bilang sama aku kalau ayah sakit?” tanya Haru.


“Maafkan ibu. Ibu sudah bilang untuk serangga melakukan operasi, tapi ayahmu tak ingin membuatmu khawatir. Dia hanya rutin meminum obat yang diresepkan oleh dokter,” ucap Ibu begitu merasa bersalah pada Haru yang tampak kecewa dan sedih.


“Kenapa kalian berpikir seperti itu, memangnya apa yang lebih penting dibandingkan kesehatan kalian …” ucap Hara yang marah akan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga kedua orang tuanya.


“Maafkan ibu …”


Rasa bersalah akan kedua orang tuanya membuat Haru hanya bisa terduduk lemas dengan amarah yang ia tahan. Air matanya yang kemudian jatuh karena rasa sesak di dadanya mengetahui fakta jika dirinya telah gagal menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Dirinya hanya sibuk dengan pekerjaan hingga lupa jika kedua orang tua sudah tidak muda lagi seperti dulu dan seharusnya ia lebih teliti untuk menjaga kesehatan mereka, pikir Haru yang menangis dipelukkan ibunya.


***


Haru hanya terus menyalahkan dirinya, menyendiri di sebuah taman belakang rumah sakit. Kejadian yang masih membuat tangan terasa begitu dingin karena takut jika dirinya benar-benar akan kehilangan ayahnya. Semua kerja keras, semua kesuksesan yang didapatkan akan menjadi sia-sia jika dirinya kehilangan dunianya.


Apa mungkin karena dirinya yang terlalu berambisi dan gila pekerjaan hingga tak sempat menengok mereka yang bahkan menyembunyikan sesuatu hal yang serius hanya karena tak ingin mengganggu pekerjaan anaknya. Hatinya harus mendengar kalimat itu dari mulut ibunya. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Dimas.


“Iya halo …,”


“Pak Haru? Bagaimana keadaannya?” tanya Dimas.


Haru terdiam beberapa detik. “ …, aku berharap dia akan baik-baik saja,” ucap Haru.


“Pak Haru tidak usah khawatir akan pekerjaan di kantor, semua berjalan dengan baik. Sisanya biar kami yang melakukannya. Pak Haru jangan lupa istirahat, anda harus lebih kuat untuk mereka …,” ucap Dimas.


“Emm … makasih ya, gue percayakan semua sama lo,” ucap Haru sambil mematikan ponselnya. Kembali terdiam dan terus menghela nafas.