The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 25 Bertemu Masa Lalu



Bertemu Masa lalu


Setelah mendapatkan panggilan pekerjaan di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Hara. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja disana. Seorang pegawai lain sedang mengajarkan bagaimana cara bekerja di cafe dan Hara mencoba untuk memperhatikannya dengan seksama agar tidak melakukan kesalahan.


Setelah hampir beberapa bulan ia tidak bekerja, rasanya sedikit aneh dan menguras banyak energinya di hari pertama. Namun Hara tidak ingin mengeluh karena sedang berusaha mengobati dirinya sendiri untuk bisa terbiasa berada ditempat dimana banyaknya orang berkumpul dan cafe adalah salah satu tempat yang cocok untuknya beradaptasi secara perlahan.


Hara hanya bekerja selama 4 jam sehari karena ia hanya seorang pekerja part time. Hara beruntung bekerja dengan orang-orang yang baik dan ramah walau dirinya di sinis sebagai anak baru. Pembeli pertama untuk Hara yang berdiri di depan meja kasir untuk menerima pesanan.


“Silahkan, ada yang bisa saya bantu? Mau pesan apa?” tanya Arin dengan ramah.


Pria bertubuh tinggi dan besar itu, mirip dengan seorang tentara tampak menatapnya dengan bingung. Mungkin dia langsung bisa mengenali Arin tetapi Arin memilih untuk berpura-pura tidak mengenalnya.


“Kamu Arin bukan?” tanyanya.


“Iya?”.


“Lo nggak inget sama gue? Gue Ardan …?” ucapnya.


“Ardan …?”


“Iya. Temen SMA lo … masa lo udah lupa sama gue?” tanyanya.


“Ahh … Ardan. Iya ingat.”


“Wah … gimana kabar lo?” tanyanya tampak bersemangat.


“Yah … baik-baik aja.” ucap Arin mencoba untuk tetap bersikap biasa saja.


“Nggak nyangka bisa ketemu disini. Gue baru pindah di daerah sini sama istri anak gue.” ucap Ardan.


“Ahh … begitu ya. Jadi … lo mau pesan apa?” tanya Arin mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan orang yang sudah memberikannya harapan palsu dan pergi menghilang begitu saja. Namun tiba-tiba muncul saat ingin mengadakan pernikahan sekitar 2 tahun. Tak disangka dia sudah memiliki anak kecil yang sedang bersamaan saat ini.


“Oh iya, gue sampai lo. Gue pesen hot americano sama ice cream coki enya. Take out ya …” ucap Ardan.


“Baik. Totalnya jadi 57 ribu.” ucap Arin.


“Aku bayar pakai kartu,” ucap Ardan sambil memberikan kartunya pada Arin.


“Ini dia, mohon di tunggu.” ucap Arin sambil memberikan kembali kartu tersebut pada Donghyuk dan berjalan pergi untuk membuatkan pesannya.


Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Arin membuatkan pesanan Ardan lalu berjalan kembali untuk memberikannya. “Ini dia pesanan anda. Terima kasih.” ucap Arin.


“Iya. Terima kasih. Kalau begitu gue pergi ya Arin. Oh iya, lo dateng nggak ke acara reunian?” tanya Ardan.


“Belum tau.” jawab Arin.


“Semoga lo dateng ya, udah lama kita nggak pernah kumpul-kumpul. Kalau begitu gue pergi …” ucap Ardan yang kemudian berjalan pergi bersama anak perempuannya.


Arin terdiam memandang ke arah Ardan pergi. Sebuah kebetulan yang sangat membuat moodnya menjadi buruk. Seseorang yang sudah lenyap dalam hati dan pikirannya, tapi alam seakan sedang mempermainkannya dengan mempertemukan orang itu padanya. Menyebalkan.


Hara berjalan melewati jalan trotoar setelah jam kerja telah usai. Ia masih tidak bisa melupakan kejadian tadi, karena hal itu selama ia bekerja hingga sampai saat ini menjadi tidak nyaman. Ditambah lagi dengan sebuah undangan reunian kelas yang ia dapatkan kemarin malam. Hari sudah tampak gelap. Jalannya menjadi ramai. Arin membeli burger saat di perjalanan pulang untuk makan malamnya.


Menekan kata sandi rumahnya — berjalan masuk ke ruang tengah — menghempaskan badannya ke sofa begitu saja. Rasanya energinya hari ini benar-benar terkuras, padahal ia hanya bekerja 4 jam.


“Udah pulang kak?” tanya Anna sambil berjalan melewatinya mengarah ke dapur.


“Kayak kerja kuli bangunan aja sih, kayaknya capek banget …,” ucap Anna merasa heran dengan kakaknya yang tampak begitu kelelahan setengah mati padahal dia hanya bekerja 4 jam saja.


“Itu dia … kenapa gue capek banget ya …?” ucap Arin yang bahkan juga tidak tahu dengan dirinya sendiri.


Sambil memberikan pada kakaknya. “Nih …! Kakak beli apa?” tanya Anna yang lebih tertarik dengan kantong plastik putih dibandingkan kakaknya yang lebih membutuhkan perhatian lebih. “Woo … burger …, mau ya,” ucap Anna tampak bersemangat.


“Emm … tapi bikinin gue ramen pedas,” ucap Arin.


“Yakin mau aku yang bikinin?” tanya Anna.


“Iya nggak apa-apa!”.


“Ya udah. Kalau nggak enak jangan komen ya,” ucap Anna sambil beranjak dari sofa — berjalan ke dapur.


Namun langkah Anna berhenti saat mendengar suara bel rumah berbunyi. Tanpa pikir panjang Anna menghampiri pintu.


“Siapa …?” saut Anna.


Saat pintu terbuka Anna terkejut melihat kehadiran kakak iparnya yang datang dengan membawa sesuatu di tangannya.


“Kak ipar? Ayo masuk!” saut Anna.


“Sudah makan malam?” tanyanya.


“Belum.”


“Ini aku datang cuman mau kasih ini, lalu balik ke kantor. Kakak kamu udah pulang kerja?” ucap Haru sambil memberikan bawaannya pada Anna.


“Ini apa?” tanya Anna.


“Bakmi …”


“Kak Arin baru aja pulang, lagi rebahan di sofa. Kak ipar nggak mau makan dulu disini?” tanya Anna.


“Nggak usah. Aku agak buru-buru. Ya udah aku pergi ya …” ucap Haru sambil berjalan pergi meninggalkan Anna.


“Hati-hati kak!!” saut Anna — kemudian Anna kembali menutup pintu setelah melihat Haru masuk ke dalam lift — berjalan kembali ke sofa tapi terlihat Arin yang tampak sudah tertidur pulas di sofa. “Yeu … malah tidur dia!!” ucap Anna — heran.


“Kak! Kaka Arin bangun!!” saut Anna sambil menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya yang tidak mau bangun. “Dasar *****!!”


Saat Anna baru saja selesai menyiapkan makan malam dengan makanan yang diberikan kakak iparnya. Terlihat Arin yang terbangun karena mencium aroma yang begitu sedap hingga membuatnya terbangun — berjalan menghampiri meja makan.


“Wah … banyak banget makanannya?” tanya Arin yang masih setengah mengantuk.


“Tadi kakak ipar datang bawa makanan ini,” ucap Anna.


“Kak Haru datang? Loh kok nggak masuk?” tanya Arin.


“Katanya dia lagi buru-buru harus balik ke kantor, kayak dia lagi sibuk,” ucap Anna sambil duduk di bangku untuk segema makan karena perutnya terasa sangat lapar.


Arin terlihat cemberut sedih mendengar Haru datang tetapi tidak menyapanya. Ia merasa tidak enak hanya datang untuk memberikan makan malam untuknya padahal dia sedang sibuk. Namun karena lapar, Arin mengisi perutnya terlebih dulu baru menghubungi Haru untuk mengucapkan rasa terima kasih atas perhatiannya.


“Bakmi …? Wah … udah lama nggak makan bakmi.” ucap Arin tampak tergiur akan penampakan mie yang beraroma sangat gurih. Hingga ia melupakan burger yang ia beli tadi.