The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 38 Kesempatan Kedua



Kesempatan Kedua (1)


Arin baru saja pulang bekerja. Setelah membersihkan diri, dengan rambut yang masih basah tergulung dengan handuk — berjalan ke ruang tengah sambil meminum sekaleng cola. Rasanya cukup tenang setelah lelah bekerja, lalu bersantai tanpa memikirkan apapun sambil menonton acara di televisi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sontak membuat Arin teringat akan Haru yang tampak masih bekerja di kantornya. Pria itu benar-benar hebat. Pantas saja dia sangat sukses dan memiliki semuanya. Dia bekerja tanpa mengenal lelah. Anehnya dia sama sekali tidak pernah menunjukan jika dia lelah saat pulang kerumah. Perasaan macam apa ini? Perasaan rendah diri saat mencoba membandingkan dirinya dengan Haru. Arin tertegun.


“Kenapa gue nggak bisa kayak kak Haru ya …, dasar lemah!” gumam Arin yang tak sadar menghakimi dirinya sendiri.


Seandainya dirinya terlahir dalam sebuah keluarga yang kaya dan penuh kasih sayang, apa hidupnya akan memiliki keberuntungan yang sama dengan apa yang Haru rasakan. Namun itu hal yang mustahil. Mungkin apa karena memiliki mental yang sama seperti kapas?.


Benar dunia ini memang kejam. Tapi kenapa mereka begitu kuat tersenyum sedangkan aku tidak. Benar kata orang, orang memiliki menunjukkan kelemanhannya tidak akan pernah menjadi orang sukses dan kayak. Orang-orang seperti mereka yang  mental baja. Lalu aku ini apa hanya sebuah sampah?


Tanpa sadar Arin tertidur di sofa dengan rambut yang masih setengah basah dan tv yang masih menyala. Waktu  pukul tengah malam. Terlihat Haru yang baru saja pulang kerja — berjalan masuk ke dalam rumahnya. Wajahnya berubah bingung saat mendengar televisi yang masih menyala. Saat Haru berjalan mendekat, ternyata Arin terlihat tertidur dengan nyenyak. 


“Kenapa dia tidur disini? Rambutnya juga masih basah. Kalau sakit bagaimana?” ucap Haru dengan sangat pelan pada dirinya sendiri sambil memandangi wajah Arin dekat.


Haru beranjak dari temannya, berjalan untuk mengambil selimut. Kembali berjalan dan menyelimuti Arin agar tidak kedinginan. Mematikan televisi lalu berjalan kembali ke kamarnya.


***


Arin terbangun dengan kondisi terkejut. Alam bawah sadar seakan memaksanya bangun. Matanya penuh dengan kebingungan. Dalam lima detik ingatannya pun kembali. Benar selama ia tertidur habis mandi, bahkan rambutnya saja masih terasa lembab. Namun Arin tersadar akan selimut yang menyelimutinya, lantaran seingatnya ia tidak pernah mengambil atau memakainya.


Terlihat matahari sudah terbit. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Arin bergegas untuk membersihkan dirinya sendiri sebelum pergi sarapan. Memakai skincare di depan kaca kamar mandi, tidak perlu berlebihan hanya cukup pelembab dan sunscreen. Entah mengapa tiba-tiba ingin mandi pagi, biasanya dirinya hanya mandi jika keluar rumah. Ternyata tidak terlalu buruk mandi pagi hanya saja dirinya sulit melawan rasa malas.


Berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan. Membuka rak lemari — mengambil sebungkus ramen dan panci perak khusus untuk memasak ramen. Namun saat Arin berbalik ke arah kompor, ia terdiam saat melihat sebuah panci yang berada di atas kompor dengan sebuah note.


| Ini bubur, hanya tinggal di panasnya jika mau dimakan -Haru-


Seketika Arin tersenyum haru melihat betap perhatian Haru yang bahkan dirinya tidak tahu kapan Haru pulang ke rumah semalam. Membuka penutup panci yang benar saja, ada bubur yang tampak terlihat begitu enak. Segar Arin menyalakan kompor dengan api kecil agar tidak gosong.


Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Arin sampai di depan meja televisi dengan sarapan buburnya. Entah mengapa susana hatinya saat ini terasa baik-baik saja, tidak terlalu bahagia tapi juga tidak terlalu tidak bahagia. Menikmati sarapan. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Haru.


“Iya halo,” saut Arin.


“Arin … apa saat ini kamu lagi mengerjakan sesuatu?” tanya Haru terdengar ragu.


“Nggak. Hari ini aku nggak ada shift dan nggak lagi ngerjain apapun. Hanya lagi sarapan, kenapa?” tanya Arin.


“Ah … kamu lagi sarapan. Ya sudah. Kamu habiskan dulu sarapan, nanti aku hubungi lagi.” ucap Haru.


“Nggak apa-apa, bilang aja …,” ucap Arin.


“Oke … aku butuh bantuan kamu Arin.” ucap Haru.


“Bantuan apa?” tanya Arin.


“Ada seorang klien yang sangat ingin bertemu kamu, dia klien kami yang sangat penting. Bisakah kamu ikut bersamaku?” tanya Haru.


“Kamu tidak perlu melakukan apapun, hanya duduk dan membalas sapaannya. Sisanya biar aku yang tangani. Jika kamu nggak keberatan,” ucap Haru.


“Kalau begitu. Iya. Aku mau,” ucap Arin.


“Sungguh. Baiklah. Aku akan suruh seseorang jemput kamu,” ucap Haru.


“Nggak perlu. Aku bisa datang ke kantor kamu sendiri,” ucap Arin.


“Kalau kamu mau seperti itu juga nggak apa-apa.”.


“Emang pertemuannya jam berapa?” tanya Arin.


“Sekitar jam 1 siang sekalian makan siang bersama,” jawab Haru.


“Sekarang jam 10, sepertinya masih ada waktu buat bersiap-siap.” ucap Arin.


“Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya …,” ucap Haru.


“Emm …,”


Sambungan pun terputus. Arin segera menghabiskan sarapannya untuk segera bersiap-siap. Entah mengapa ia malah menjadi bersemangat. Benar. Dirinya kali ini harus  lebih baik daripada yang sebelumnya. Arin sudah bertekad.


***


Rasanya sungguh sangat canggung saat melangkahkan kaki ke dalam gedung perusahan milik Haru yang begitu besar. Seorang satpam penjaga pintu masuk tampak memberikan salam padanya dengan sopan seakan mereka tau siapa dirinya. Terus berjalan menghampiri meja resepsionis. Seorang pegawai wanita tampak begitu ramah menyapanya.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.


“Saya ingin bertemu dengan Pak Haru,” jawab Arin.


“Kalau saya boleh atas, namanya anda …,”


“Arin …”


Jawabannya sontak membuat pegawai itu langsung terkejut dan langsung berjalan keluar dari mejanya berdiri dengan sopan di hadapan Arin. “Maaf sebelumnya.” ucapnya yang ketakutan karena tidak mengenali istri dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja. “Silahkan ikuti saya, saya akan membawa anda ke ruangannya.” ucapnya sambil menundukkan tubuhnya — mempersilahkan Arin untuk berjalan duluan.


Arin bingung dengan perubahan sikap pegawai tersebut setelah mengetahui namanya. arin pun mulai melangkah dan disusul dengan pegawai itu yang bersikap begitu kaku. Rasanya aneh diperlakukan seperti seorang yang sangat penting di negara ini, padahal dirinya hanya seorang istri biasa.


Sesampainya di ruangan kantor Haru. Pegawai resepsionis itu langsung memindahkan tugasnya pada pegawai yang seperti seorang sekretaris.


“Silahkan ikut saya,” ucapnya sambil membukakan pintu untuk Arin.


“Pak Haru, masih ada meeting, anda bisa menunggu di sini. Jika ada yang diperlukan silahkan panggil saya. Kalau begitu saya permisi.” ucapnya yang kemudian berjalan keluar dari kantor.