The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 32 Kenangan Buruk



Kenangan Buruk


Mereka saling berhadapan satu sama lain. Entah sejak kapan suasana di antara mereka mulai menegang, seperti sedang memulai sebuah peperangan sengit.


“Tentu saja. Kenapa …? Apa ada masalahnya buat lo,” ucap Haru.


“Nggak ada. Gue cuman sekedar ngomong. Arin itu memang sejak SMA cewek yang baik dan perhatian sama teman-teman dekatnya. Termasuk gue. Gue itu dulu dekat sama Arin, bahkan kita pernah hampir dikira pacaran, hahaha … lucu ‘kan? Padahal kita itu cuman teman,” ucap Haru yang tak sadar mengatakan hal yang seharusnya ia katakan. Hal yang menurutnya terdengar lucu, tapi tidak dengan lawan bicaranya yang tampak sinis menatapnya.


“Maaf … gue nggak bermaksud apa-apa ngomong kayak tadi, jadi gue harap lo nggak salah paham.” ucap Ardan mencoba menghindari pertengkaran.


Haru hanya menyeringai heran melihat tetapi lucu orang ini. Sungguh mengheran Arin bertemu dengan pria yang bahkan memiliki pikiran yang sempit. “Apa yang lo bilang tadi, gue sama sekali nggak tertarik. Tapi lo harus tau sebuah batasan sopan santun terhadap apa yang mau lo katakan. Kedepannya jangan sebut lagi nama Arin dengan mulut lo itu. Saya permisi.” ucap Haru dengan menekankan nada bicaranya — menatap tajam kearah Ardan yang tampak mati kutu — kemudian berjalan pergi meninggalkan Ardan. Sungguh hanya membuang-buang waktu jika terus beradu mulut dengan orang seperti itu.


***


Terlihat tidak ada pengunjung cafe, Arin mulai membersihkan kembali kafe. Karena tadi sempat turun hujan membuat lantai menjadi kotor. Banyak jejak kaki di lantai terutama di pintu masuk. Hujan masih terlihat tidak sebesar setengah jam yang lalu. Namun langit masih tampak sangat gelap, sepertinya tidak akan banyak yang datang ke cafe.


“Arin …!!” saut pemilik cafe yang sontak membuat Arin bergegas menghampirinya.


“Iya, Bu ada apa?” tanya Arin.


“Kita ada order, mereka minta dikirim. Tolong bantu buat siapin ya, karena lumayan banyak dan nanti tolong kamu dan Anis yang antar ya,” ucapnya.


“Iya, Bu.” jawab Arin yang kemudian berjalan ke belakang untuk meletakkan pelan sebelum ia membantu membuatkan pesannya.


Sekitar 10 kopi dan sandwich sudah siap diantarkan. Arin dan pegawai lama yang bernama Anis, memasukkan pesanan tersebut ke dalam mobil milik pemilik cafe. Hujan masih turun dengan intensitas sedang. Mereka pergi menuju sebuah gedung serbaguna yang letaknya sekitar 20 menit perjalanan.


Kedua tangan Arin dan Anis tampak penuh membawa pesan masuk kedalam gedung dengan 25 lantai. Dimana didalamnya banyak sekali perusahan perusahan kecil di dalamnya. Mereka harus mengantarkan pesanan tersebut ke lantai 20.


Sebuah kantor merk baju lokal yang sangat terkenal berada. Tampaknya yang memesan itu salah satu orang yang bekerja disana. Anis menekan bel dengan pintu kaca besar yang bisa melihat langsung kesibukan aktifitas orang di dalamnya.


“Iya, dengan siapa?” saut seseorang yang keluar dari speaker yang ada di dekat bel.


“Kami dari Cafe Tulip, pesanan atas nama Susan.” ucap Anis.


“Oh iya. silahkan masuk saja ke dalam,”


Kemudian pintu kaca itu secara otomatis terbuka. Anis dan Arin sempat kaget melihatnya, hingga mereka saling melihat satu sama lain dengan merasa hal itu sangat keren. Akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah kantor dimana banyak orang yang tampak sibuk berlalu lalang membuat mereka bingung.


Hingga tiba-tiba seseorang menghampiri mereka. “Cafe Tulip ya ..?”.


“Iya.”


“Ayo ikut saya ke ruang rapat!” ajak wanita cantik dengan style yang sangat imut, seperti seorang karakter animasi wanita yang berjalan di depan Arin dan Anis yang kemudian langsung mengikutinya.


“Semua … kopinya sudah datang!!’ saut wanita imut itu. “Tolong bagikan ya, mereka lagi pada sibuk ..,” ucapnya.


“Baik.”


Satu persatu kopi dan sandwich dibagikan setiap pegawai yang ada di sana tanpa terkecuali. Namun Arin masih memiliki sisa satu kopi dan sandwich di tangannya. Namun saat ia kembali memastikan kesetiap pegawai dapat atau tidak, semuanya sudah dapat.


“Lalu ini punya siapa?” gumam Arin.


“Kopi udah dateng? Punya gue mana …!! saut seorang wanita yang tampak elegan berjalan masuk kedalam yang sontak membuat seorang orang disana tampak memberikan hormat atau sapaan. Sepertinya wanita itu seorang atasa dari mereka. 


Arin yang menyadarinya, langsung berjalan ke arah wanita yang masih berdiri di depan pintu. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti — tubuhnya seakan menolak untuk melangkah lebih jauh saat otaknya mengenali wanita tersebut.


“Arin! Kenapa diam …? Sini biar aku yang kasih!” ucap Anis yang langsung mengambil kopi tersebut dari tangan Arin yang mulai gemetaran seperti orang yang ketakutan.


Arin merundukkan kepalanya, sebisa mungkin agar wajahnya tidak dikenali oleh wanita tersebut. Pantas saja, perasaan langsung terasa tidak enak saat mendengar nama Susan yang memesan pesanan tersebut. Arin melangkahkan kaki untuk keluar ruangan sambil menunduk agar dirinya tidak dikenali. Perasaan takut dan cemas terus mengikutinya dari belakang.


“Arin …?!”


Seketika kedua mata Arin terbelalak, ia memilih untuk melarikan diri — melanjutkan langkahnya dan bersikap seolah-olah tidak mendengar suara panggilan tersebut. Ia berhasil keluar dari ruangan kantor tersebut, tapi kekhawatirannya tidak hanya berhenti sampai disini saja. Telinganya dengan jelas mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya dari belakang. Suara-suara yang memanggil namanya seakan membuat tubuhnya menggigil ketakutan.


“Arin …!! Tunggu aku!!”


Anis yang tampak bingung melihat Arin yang terlihat seperti sedang dikejar-kejar sesuatu, ketakutan. Tubuhnya gemetaran, keluar keringat dingin di keningnya. Anis mencoba menyadarkan Arin dengan memanggilnya beberapa kali.


“Arin! Arin! Arin …!”


Seketika Arin tersadar dan berhasil keluar dari dalam lingkaran mimpi buruknya. Kedua mata Arin mulai melihat ke sekitar, ia juga bisa melihat rekan kerjanya Ania yang berdiri di hadapannya.


“Arin kamu nggak apa-apa?” tanya Anis cemas.


Nafasnya Arin masih terengah-engah. Jantungnya mulai menyesuaikan dirinya dan Arin menjadi jauh lebih tenang saat ia bisa melihat dengan jelas. “Iya … aku nggak apa-apa.” jawab Arin.


“Muka kamu pucat banget.” ucap Anis.


Arin berusaha untuk membuat dirinya lebih baik, dengan memperbaiki rambutnya yang berantakan dan mengelap keringat dengan tangan kosong. “Nggak kok, aku beneran nggak apa-apa,” jawab Arin berusaha menyakinkan Anis.


“Yaudah, kita balik ke cafe yuk …,” ajak Anis.


“Iya.”


Arin berjalan mengikuti langkah Anis dari belakang. Hampir saja dirinya benar-benar kehilangan kendali seperti waktu di acara peluncuran. Selama berjalan Arin mencoba mengatur pernapasannya agar bisa jauh lebih tenang dan agar jantung tidak berdebar lagi. Masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.