The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 53 Rumor yang Tak Berdasar



Rumor Yang Tak Berdasar


Arin keluar untuk membeli beberapa keperluan. Mengambil beberapa barang satu persatu sesuai dengan daftar yang sudah ia buat di dalam kertas. Arin sengaja menyetok banyak barang untuk berjaga-jaga di masa depan entah apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Haru. Situasi yang saat ini tidak memungkinkan untuk dirinya bisa bertahan lama dengan Haru.


Saat Arin sedang melewati etalase di bagian makanan ringan, secara kebetulan setelah sekian lama Arin bertemu kembali dengan Ardan. Rasanya sungguh aneh bertemu Ardan di saat-saat seperti ini Entah mengapa membuat perasaannya menjadi tidak nyaman seakan-akan Arin bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi di masa depan.


Awalnya Arin ingin menghindari Ardan, tapi tak disangka Ardan malah menghampirinya. Tidak mau Arin harus bersikap sopan walaupun dirinya sungguh merasa enggan berbicara dengan orang yang seharusnya tidak lagi ia temui.


"Hai Arin …! Sudah lama ya kita nggak ketemu, gimana kabar kamu?" tanya Ardan dengan ramah.


"Gue masih baik-baik saja kalau sendiri gimana?" tanya Arin.


"Sama gue juga. Oh iya, belakangan ini elu ke lmana Gua nggak pernah lihat lo di sekitar apartemen gue pikir lo udah pindah," ucap Ardan.


"Oh … itu, enggak gue nggak pindah apartemen masih sama dengan yang kemarin emang jarang keluar aja dan belum lama gua baru aja balik dari Korea." ujar Arin.


"Oh … pantes aja gua nggak pernah lihat lagi tapi gue seneng bisa ketemu sama lo lagi," ucap Ardan.


"Emm … kalau gitu gue duluan ya, masih ada yang harus gue cari permisi," ucap Arin yang kemudian melanjutkan langkahnya pergi untuk mencari sisa daftar barang yang harus ia cari.


***


Saat Arin kembali Setelah berbelanja kebutuhan rumah tangga dari supermarket. Arin terkejut saat membuka pintu melihat ada ibu mertuanya sedang duduk di ruang tamu. Lantas segera Arin menghampiri Ibu mertuanya dengan meninggalkan semua belanjaannya di depan pintu.


"Ibu … Kenapa nggak bilang mau datang maaf tadi aku habis dari supermarket," ucap Arin sudah berdiri di depan Ibu mertuanya yang tampak begitu serius sambil memegang selembar kertas yang entah apa itu isinya. Namun tiba-tiba perasaan Arin menjadi tidak enak saat merasakan aura yang kuat dari ibu mertuanya, seakan Arin bisa merasakan ada sebuah badai yang akan datang menerpanya.


Sambil melemparkan kertas yang ia pegang ke arah Arin. "Apa maksudnya ini?" tanya Ibu dengan nada yang begitu dingin sontak membuat Arin terkejut dan bingung saat ia dilempari kertas tanpa mengetahui Apa kesalahannya.


Arin tidak ingin tersulut emosi ia berusaha untuk tetap tenang sambil mengambil kertas yang tergeletak di lantai lalu ia baca sontak membuat kedua mata Arin terbelalak melihat selembar kertas yang berisikan kontrak pernikahannya bersama dengan Haru. Namun kenapa bisa kontrak itu berada di tangan ibu mertuanya. Dalam hitungan detik Arin teringat Jika ia lupa meletakkan kembali surat kontrak ke dalam tempat yang aman saat ia sedang memikirkan untuk menceraikan Haru.


PLAK …!


PLAK …!


Arin ditampar keras oleh ibu mertuanya sebanyak dua kali sontak membuat Arin tak bisa berkutik tubuhnya gemetaran ia tak percaya jika Ibu mertuanya yang selama ini ia anggap baik ternyata bisa melakukan hal seperti ini.


"Jadi selama ini kamu bohongi kami dengan melakukan pernikahan kontrak? Apa maksud kamu melakukan ini!! Tolong jelaskan sama Ibu apa yang sebenarnya terjadi …!" Bentak Ibu seakan menganggap Arin sebagai manusia yang paling hina di muka bumi ini.


"Saya nggak bisa menjelaskannya sendiri karena ini bukan keputusan seorang tapi ini keputusan aku dan Mas Haru sebelum melakukan pernikahan ini," ungkap Arin mencoba menguatkan dirinya menahan air mata yang sudah menggenang menutupi sorot matanya.


"Ibu sudah panggil haru buat datang ke sini." ucapnya.


Sekitar 30 menit Arin hanya bisa duduk terdiam berhadapan dengan ibu mertuanya sembari menunggu Haru yang akhirnya datang dengan langkah yang terburu-buru dan panik lantaran mendengar jika ibunya telah mengetahui surat pernikahan kontraknya bersama dengan Arin.


"Ibu … biar …" belum saja harus sempat menyelesaikan ucapannya ia terdiam saat melihat Arin terduduk sambil merindukan kepalanya seakan sedang menyembunyikan sesuatu. Tanpa pikir panjang harus langsung menghampiri Arin untuk memeriksa keadaannya.


"Arin …" saut Haru sambil menyekak rambut Arin yang menutupi wajah ke belakang telinga sontak Haru terkejut melihat wajah Arin yang memerah seperti bekas tamparan keras. "Apa ini …? Siapa yang melakukannya?" tanya Haru, namun Arin hanya tidak bisa terdiam dirinya tidak mungkin langsung mengatakan jika yang melakukannya itu adalah ibu mertuanya sendiri. Namun harus langsung menyadarinya dan berbalik menatap tajam ke arah ibunya yang bahkan tidak terlihat ada rasa bersalah pada menantunya sendiri.


"Ibu yang melakukannya? Ibu tampar Arin?" tanya Haru mencoba untuk tetap tidak tersulut emosi.


"Kamu marah …? Terus memangnya kamu pikir mama nggak marah dengan apa yang kamu sudah lakukan sama wanita ini? Ini apa? ini apa?" tanya sambil menunjukkan surat pernikahan kontrak milik Arin. 


Haru pun sontak ikut terkejut saat melihat surat pernikahan kontrak yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang lain tetapi saat ini surat itu ada di hadapannya dan ibunya telah mengetahui isi dari surat pernikahan kontraknya dengan Arin. Haru langsung menoleh ke arah Arin dengan penuh rasa khawatir.


"Kalian berdua udah berani-beraninya membohongi sebuah pernikahan yang seharusnya sakral? Kalian nggak malu di depan banyak saksi yang menyaksikan kalian menikah, tapi apa? Kalian malah membohongi mereka dengan surat pernikahan kotak ini Jadi selama ini kalian bohongi kami, bohongin Ibu dan juga bohongin almarhum Ayah kamu?" Ujar ibu sambil menahan tangisan di depan kedua anaknya.


"Ibu nggak mau tahu dan nggak mau dengar apa alasan kalian hingga kalian berani-beraninya membohongi pernikahan ini. Secepatnya Ibu harap kalian cepat-cepat bercerai Ibu nggak mau tahu kalau kamu masih mempertahankan Arin atau enggak mau mencerahkan Arin Ibu juga nggak mau anggap kamu sebagai anak Ibu lagi.Titik." ungkap Ibu yang kamu diam berjalan pergi meninggalkan Haru dan Arin yang hanya bisa terdiam setelah mereka tertangkap basah karena telah melakukan sebuah kebohongan yang membuat masalah semakin runyam.