The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 48 Pendapat Yang Berbeda



Pendapat Yang Berbeda


“Apa nggak bisa kamu cukup berhenti sampai disini …? Kamu sudah banyak berkorban untuk dia …, ibu mohon lepaskan Arin ya …,” ucapnya dengan nada bicara yang halus tapi menyakitkan untuk Haru yang hanya bisa tertegun tak menyangka mendengar perkataan yang menjatuhkan dirinya di saat ia sedang membutuhkan sebuah dukungan.


Haru mencoba memahami posisi ibunya yang  mungkin mengatakan hal tersebut karena khawatir padanya. Namun itu sama saja seakan sedang memutuskan apa yang sedang ia perjuangkan saat ini. “Bagaimana aku bisa tega melakukan hal itu, bu …,” ucap Haru.


“Ibu tau, kamu sangat peduli sama dia. Tapi jangan sampai kamu lupa sama hidup kamu sendiri,” ucapnya kembali mendesak Haru untuk bisa membuka pikirannya terhadap keberlangsungan hidupnya yang masih memiliki masa depan yang lebih baik jika merelakan Arin.


“Aku … benar-benar mencintai dan menyayangi Arin. Aku pun sudah berjanji akan selalu terus bersamanya. Bahkan ibu saja masih disisi ayah walau ayah sakit, lalu apa aku salah untuk memilih tetap sisi Arin …, aku yakin dia pasti bisa kembali sembuh dan menjalani hidup normal, hidup yang layak …” ujar Haru mencoba memberikan sebuah pengertian terhadap keinginannya.


“Lalu bagaimana dengan perusahan yang sudah susah payah ayah kamu bangun. Apa kamu tega melepaskannya hanya karena keegoisan kamu …? Ini menyangkut ribuan orang yang mencari nafkah. Tanggung jawab kamu itu besar, kamu bakal kelelahan bekerja seperti ini. Saar Arin sadar, dia pasti mengerti posisi kamu,” ujar ibu terus membujuk anaknya yang masih tetap pada pendiriannya.


“Maafkan aku, Bu. Aku akan tetap menunggu Arin. Masalah pekerjaan atau perusahaan, ibu nggak perlu khawatir, aku masih bisa menghandle nya …,” ujar Haru mencoba bernegosiasi dengan Ibunya. Walau ini egois, tapi Haru bisa melakukannya semua walau melelahkan.


Tampak dirinya kembali sia-sia membujuk anaknya yang masih lebih memilih istri dibandingkan dirinya. Ia juga tidak bisa marah ataupun memaksa karena sudah dari awal adalah kesalahannya membiarkan Haru menikah dengan Arin.


“Yaudah …, ibu pulang. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai sakit,” ucap Ibu sambil beranjak dari sofa — berjalan keluar dari ruangan. Haru yang tak tega memilih untuk mengantar ibunya hingga lobby.


Tidak ada satupun yang tahu — disaat tidak ada satu orang pun yang melihat. Arin yang perlahan mulai membuka matanya walau sulit. Beberapa jarinya pun mulai bergerak, itu berartikan Arin sudah melewati masa kritis. Dengan perlahan-lahan kedua matanya mulai membuka, walau sulit tapi didalam dirinya.


Pandangan yang masih abu-abu transparan dan samar-samar mulai terlihat. Kedua mata yang sudah membuka sempurna. Arin akhirnya tersadar setelah tak sadarkan diri hampir satu minggu. Tatapan mata yang seakan penuh dengan berbagai hal. Kesedihan, kemarahan, ketidak adilan, dan rasa bersalah tersimpan rapat dari tatapan mata Arin.


Dia tidak benar-benar sadarkan diri. Namun selama kedua matanya terpejam dan tubuhnya yang tidak bisa digerakan, tapi Arin masih bisa mendengar suara-suara yang terjadi selama ia terbaring. Benar. Arin mengetahui apa yang telah terjadi dan semua pembicaran orang-orang, termasuk dengan pembicaraan Haru dan ibunya beberapa saat yang lalu.


SREKK …!


“Arin …! Arin …! Kamu sudah sadar …” ucap Haru yang masih tidak percaya akan sebuah apa yang ia lihat. Ini tampak seperti sebuah keajaiban melihat Arin yang akhirnya sadar setelah penantian lamanya. “Syukurlah kamu sudah bangun … gimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter? tanya Haru yang tak sadar menjadi pria yang begitu banyak berbicara karena terlalu senang.


“Nggak perlu. Aku baik-baik saja, makasih …” ucap Arin.


“Nggak kok, aku yang senang kamu bangun,” ucap Haru sambil menggenggam tangan Arin yang terdiam dengan senyuman kecil agar Haru tak menyadari jika dirinya sudah mengetahui semuanya.


“Kamu tunggu sini ya sebentar! Aku mau panggil dokter, mau bilang kamu sudah sadar …,” ucap Haru begitu bersemangat — berjalan keluar kamar rawat Arin.


Arin terdiam melihat Haru yang pergi meninggalkannya. Termenung memikirkan pembicaraan Haru dengan ibu mertuanya tadi, hal itu membuat Arin merasa bersalah pada Haru dan juga marah akan situasi yang tampaknya sedang perlahan-lahan mematikan dirinya. Bahkan ia saja tidak bisa mengingat kenapa ia bisa terbaring di rumah sakit. Tapi yang pasti dirinya telah melakukan hal yang menyakiti dirinya sendiri — sambil menatap tanda bekas luka sayat di pergelangan tangannya.


Memikirkan bagaimana dirinya bisa melepaskan Haru dan memilih pilihan untuk kebahagiaan banyak orang. Benar. Dirinya yang tanpa sadar telah menahan Haru dari kebahagian yang seharusnya bisa didapat jika tidak menikah dengannya. Benar. Ini hanyalah sebuah pernikahan kontak, semua akan mudah berakhir jika ada yang mengetahui pernikahan ini. 


Berbagai sudut pandangan dan banyak pikiran Arin saat ini untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang begitu rumit bagaikan benang yang kusut dan berbelit-belit. Dua keluarga dengan dua latar belakang yang berbeda, begitu terlihat kesenjangan yang tidak bisa Arin hidari. Ini bukan masalah yang kecil. Masalah ini sudah menjadi lebih besar dari pada yang ia kira. Arin pikir menikah kontak agar bisa sedikit memudahkan hidupnya, tapi dirinya salah.


***


Setelah hampir dua minggu Arin berada di rumah sakit. kini ia bisa menghirup udara luar yang entah sejak kapan menjadi segar. Mungkin karena angin yang sedikit mendung dan hembusan angin yang cukup kuat. Arin masuk kedalam mobil, setelah Haru membukakan pintu untuknya. Akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah sakit.


Namun mereka tidak pergi ke apartemen mereka, melainkan pergi ke daerah Puncak Bogor sesuatu dengan permintaan Arin satu hari sebelum pulang. Ia sangat ingin menghirup udara pegunungan setelah begitu lama terkurung di dalam rumah sakit. Walau awalnya Haru tidak setuju karena takut Arin kelelahan setelah sakit. Akhirnya dengan menyakinkan Haru, Arin berhasil membujuk Haru.


Karena ini bukan hari weekend. Jalan terlihat begitu lengang jadi mereka bisa sampai tujuan dengan cepat dan nyaman. Haru sudah menyiapkan kebutuhan mereka selama beberapa hari tinggal di sebuah fila di daerah puncak yang sudah di reservasikan Haru sehari sebelumnya.


Butuh waktu 4 jam mereka sampai di sebuah villa yang berada di bukit agar bisa melihat pemandangan lebih baik. View pegunungan yang hijau dan awan yang mulai turun menutupi gunung. Seperti biasa. Di daerah Bogor akan selalu hujan jika sudah memasuki waktu sore. Untungnya mereka sudah sampai fila saat hujan deras tiba-tiba turun.