
Perasaan Yang Membingungkan
“Kamu nggak apa-apa? Kenapa menangis?” tanya Haru.
“Nggak apa-apa. Tapi … kenapa kamu bisa disini? Nggak kerja?” tanya Arin bingung.
“Aku dengar kamu ke rumah orang tua kamu, kata Anna jadi aku langsung menyusul kamu tapi malah lihat kami duduk sendirian disini. Terjadi sesuatu?” tanya Haru.
“Kami sedikit cekcok. Tapi nggak apa-apa kok …,” ucap Arin sudah jelas ia sedang berbohong menyembunyikan fakta apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Haru sudah bisa menebaknya, ia tahu jika saat ini Arin sedang berbohong padanya. Namun Haru memilih tetap diam karena mungkin Arin memang tidak ingin dirinya mengetahui apa yang terjadi.
“Ayo! Biar aku antar kamu pulang …,” ajak Haru sambil mengulurkan tangannya pada Arin yang kemudian terdiam beberapa saat menatap tangan Haru yang entah mengapa membuatnya merasa jauh lebih tenang.
Ini pertama kalinya ia melihat ada yang mau mengulurkan tangan padanya disaat dirinya sedang melewati masa sulit. Rasanya sedikit aneh, seperti terharu tapi perasaan ini lebih dari rasa terharu. Lalu apa …?
Dengan perlahan Arin menggenggam tangan yang begitu hangat itu — sambil berdiri — kedua matanya tak bisa berhenti menatap tangan yang ukuran bahkan lebih besar dibandingkan tangannya dan penuh dengan urat yang menandakan sebuah kerja keras. Kedua mata Arin kini mulai menatap kedua mata Haru yang tak ia sangak sedang menatapnya. Kedua mata yang saling menatap. Arin mencoba mencari tahu apa arti tatapan Haru terhadap dirinya.
“Ayo …!
Suara ajaknya yang langsung memecahkan lamunannya — sedikit tertarik saat Haru membawanya mendekati mobil. Ia bahkan membukkan mobil untuknya, bahkan saat ia masuk ke dalam Haru benar-benar menjaganya — meletakkan tangan diatas kepalanya agar tidak terbentur — menutup kembali pintu dan berjalan memutar untuk sampai ke pintu yang satunya.
“Apa itu ….? Kenapa dia begitu perhatian? Apa aku yang terlalu menganggapnya berlebihan?” tanya Arin dalam hatinya masih bertanya-tanya akan perilaku Haru terhadap dirinya.
“Kita jalan yah …,” ucap Haru yang kemudian melakukan mobilnya.
***
Sesampainya di depan apartemen, Haru menghentikan mobil lantaran ia tidak bisa masuk ke dalam dan harus kembali bekerja.
“Maaf sudah merepotkan kamu, pasti kamu lagi sibuk banget …,” ucap Arin tak enak hati pada Haru yang sudah banyak ia repotkan.
“Aku lebih menyukai kata terima kasih dibandingkan maaf, jadi aku harap ini yang terakhir kalinya aku mendengar kata maaf dari kamu. Cukup terima kasih aku akan lebih senang.” ungkap Haru lagi-lagi membuat hati Arin tersentuh mendengarnya.
“Ahh … Ma —” seketiak Arin berhenti mengatakan kata yang seharusnya tidak ia katakan. “Terima kasih …” ucap Arin.
“Iya, sama-sama.” ucap Haru — tersenyum.
Arin melepaskan sabuk pengamannya — melangkah keluar mobil — melambaikan tangan sebelum akhirnya Haru melaju pergi meninggalkan dirinya. Arin masih terdiam di tempat yang sama memandangi mobil milik Haru yang semakin jauh dan kemudian memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam apartemennya.
***
Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam. Arin menunggu Haru di depan pintu apartemennya yang tak kunjung datang. Hampiri 30 menit ia menunggu seperti anak hilang ditengah malam. Mungkin memang bisa saja ia menunggu di dalam, entah mengapa Arin ingin melihat bagaimana sosok Haru yang baru pulang kerja.
“Ah! Ah! Ah! Kram … kram .. kram … ahh … sakit!!!” eluh Arin sambil mencoba memegangi kaki kanan nya yang kram akibat kelamaan berjongkok.
Dari kejauhan, Haru baru saja melangkah keluar dari dalam lift melihat sosok wanita yang tampak sedang kesakitan. Walaunya Haru bertanya-tanya akan sosok wanita yang berguling-guling di depan pintu. Seketika Haru menyadarinya jika wanita yang kesakitan itu adalah Arin.
“Arin …!!”
Haru bergegas berlari menghampiri Arin.
“Arin kamu kenapa?” tanya Haru sambil berjongkok di hadapan Arin yang merintih kesakitan sambil memegangi kaki kanan nya.
“Kaki … kaki aku kram …” ucap Arin.
“Sini biar aku bantu … coba lurusin kaki kamu pelan-pelan ya …,” ucap Haru sambil membantu meluruskan kaki Arin yang tampak mulai menangis karena kesakitan. Setelah ujung kaki yang pegang, “Tolong tahan ya …” ucap Haru dengan perlahan dan hati-hati mulai sedikit memberikan tekanan diujung jari-jari kaki, memberikan peregangan agar otot yang sedang negang mulai lebih lentur.
“HAHHH …!!” Arin berteriak kesakitan.
“Sakit … tahan ya, tahan sebentar …” ucap Haru merasa bersalah melihat Arin yang kesakitan.
Arin mulai merasa lebih tenang saat mendengar betapa lembutnya bahasa yang haru gunakan untuk menenangkannya. Walau masih merasa sakit tapi Arin merasa cukup aman.
“Kenapa jam segini masih di luar dan belum tidur …?” tanya Haru sambil sedikit memberikan pijatan ringan untuk merefleksikan kaki Arin yang tampak sudah mulai membaik.
“Kamu sudah makan?” tanya Arin.
“Belum sempat makan …,” ucap Haru sambil melepaskan tangannya dari kaki Arin. “Sudah … masih sakit nggak?” tanya Haru.
“Nggak … udah baikkan. Emm kalau begitu … mau makan bareng sama aku?” tanya Arin.
Haru terdiam beberapa saat sambil mencoba membaca ekspresi wajah Arin yang tampak sedang menyiapkan sesuatu untuk dirinya.
“Boleh …” jawab Haru.
Dengan tiba-tiba Arin langsung menggenggam tangannya — mereka berdiri secara bersamaan. Arin berbalik untuk menekan kata sandi pintu rumahnya. Lalu membawa Haru masuk kedalam rumahnya.
Haru masih sedikit bingung saat dirinya dibawa masuk kedalam rumah Arin. Namun ia hanya mencoba untuk mengikutinya saja walau sebenarnya hari ini dirinya sangat lelah setelah bekerja lembur.
“Duduk disini ya …” ucap Arin sambil menyuruh Haru duduk di sofa ruangan tengah. “Aku ambilkan sesuatu …,” ucap arin yang kemudian bergegas berjalan ke dapur untuk mengambil makanan cemilan malam yang ia buat untuk Haru. Sebuah makanan yang berasal dari negara Korea bernama Tteokbokki.
Arin berjalan pelan-pelan sambil membawa panci logam berwarna emas yang berisikan tteokbokki panas, lalu ia letakkan di atas meja. Sektiak Haru terpukau tak percaya jika Hara membuatkan makanan untuk dirinya. Setelah meletakkannya, Arin kembali ke dapur untuk mengambil peralatan makan dan cola. Lalu kembali duduk disamping Haru yang masih terpukau dengan apa yang dibuat oleh Arin.
“Kamu buat ini sendiri?” tanya Haru.
“Emm … aku sering buat ini dengan Anna. Tapi aku nggak yakin dengan rasanya, apakah kamu suka atau enggak … ayo dimakan!” ajak Arin sambil menuangkan tteokbokki ke dalam piring kecil milik Haru.