
Tuk tuk tuk …
Sambil membuka pintu ruang kantor Haru. “Permisi, Pak Hara …,” sapa Dimas.
“Masuk!” ucap Haru.
Dimas pun langsung melangkah masuk setelah mendapatkan izin. “Pak, saya sudah dapat informasinya.” ucap Dimas sambil berjalan mendekati meja Haru yang sontak menghentikan aktivitasnya yang sedang memeriksa beberapa dokumen.
“Cepat juga. Coba saya lihat!”.
“Ini, Pak.” sambil memberikan tablet miliknya pada Haru yang langsung mengambilnya. “Dia Ardan Pamungkas, seorang Ayah dari satu anak. Seorang tentara angkatan udara yang saat ini sedang mengambil cuti panjang lantaran dia baru saja bercerai dengan istrinya. Eh .. salah, maksud saya mantan istrinya. Namun saat ini berusia 5 tahun bernama Angeline.” ungkap Diman.
“Dia sudah punya keluarga?” tanya Haru — dibuat terheran-heran.
“Benar, Pak. Saat ini mereka masih dalam proses persidangan hak asuh anak. Anaknya saat ini tinggal bersama dengan nenek pihak ayah. Tapi … saya mendapat satu informasi yang sedikit mengejutkan.” ucap Dimas tampak ragu-ragu untuk mengatakan yang sejujur-jujurnya.
“Sekitar 5 hari yang lalu, dia baru saja pindah ke sebuah apartemen. Dan apartemen itu sama dengan apartemen yang Pak Haru tinggali.” ucap Dimas.
Sontak membuat Hara tertegun mendengar informasi yang sungguh mengejutkan dirinya. Sebuah kebetulan yang sangat lucu. “Kebetulan macam apa ini …?” gumam Haru — jengkel.
“Biaklah. Terima kasih karena sudah mencari tahu informasi tentang orang ini.” ucap Haru sambil memberikan kembali tablet milik Dimas yang kemudian menerimanya.
“Tapi … Pak Haru, saya sebenarnya mencari tahu juga tentang akun facebook milik orang ini. Saat saya coba telusuri, saya menemukan hal yang mungkin sedikit kurang menyenangkan bagi pak Haru,” ucap Dimas sambil mencari data yang ia temukan tapi belum dilihat oleh Haru. Diman kembali memberikan tablet nya pada Haru.
“Sepertinya di masa lalu istrinya anda memiliki hubungan yang dekat dengan orang ini.” ucap Dimas yang kembali membuat Haru terkejut saat melihat sebuah postingan sebuah foto di akun facebook milik Ardan bersama dengan Arin yang sedang duduk bersama. Postingan tersebut bukan adalah tag dari seseorang yang seperti berperan sebagai cupid untuk Arin dan Ardan.
Kembali mengembalikan tablet tersebut. “Saya mengerti. Terima kasih atas kerja keras kamu. Kembalilah bekerja.” ucap Haru.
“Baik, Pak. Saya permisi.” ucap Dimas, yang kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan Haru.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. setelah lelah beberes rumah baru. Arin sampai ketiduran di sofa dan melewatkan makan malam. Ia langsung terbangun dari tidurnya dan terkejut saat melihat tiga panggilan masuk dari Haru sejak 15 menit yang lalu. Melihat itu Arin langsung terbangun dari rasa kantuknya dan segera kembali menghubungi Haru.
"Halo, Kak Haru … tadi kenapa telpon. Maaf tadi aku ketiduran," ucap Arin.
"Nggak kok, aku cuman mau tanya kamu udah makan malam atau belum, biar aku sekalian beli." ucap Haru.
"Kak Haru lagi di jalan?" tanya Arin sambil berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya biar segar.
"Iya. Baru saja selesai. Kamu lagi dirumah mana?" tanha Haru.
Sambil meletakan ponselnya di atas meja wastafel dan mengubahnya dalam mode speaker. "Di rumahnya Kak Haru habis beberes, barang-barang baru tadi siang dateng, jadi pas pulang kerja langsung aku kerjain." ucap Arin kemudian mulai membasuh wajahnya sambil mendengarkan Haru berbicara.
"Kamu ngerjain sendirian. Pas capek ya …?" ucap Haru merasa tak enak hati memikirkan Arin yang mengerjakan pekerjaan berat seorang diri.
"Sedikit. Tapi nggak apa-apa, udah lama juga gak angkat-angkat barang, sekalian olahraga. Hehe …" ucap Arin sambil terkekeh kecil — mengeringkan wajahnya dengan handuk.
"Nggak perlu. Kak Haru juga pasti capek dari pagi sampai malam kerja. Kemarin juga kamu yang masak. Jadi sekarang giliran aku yah …," ucap Arin yang tiba-tiba menjadi semangat.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Haru merasa cemas jika Arin kelelahan.
"Iya! Aku bisa kok!!" ucap Arin penuh percaya diri.
"Baiklah. Jalan sangat macet mungkin aku agak terlambat," ucap Haru.
"Agak apa-apa, aku juga sekalian beli bahan buat masak, sekalian isi kulkas baru," ucap Hara sambil mematikan mode speaker — berjalan keluar kamar mandi.
"Emm … aku bakal transfer uang ke kamu ya buat belanja," ucap Haru.
"Emm … yaudah, aku mau siap-siap dulu, bye …".
Kemudian sambungan pun terputus. Hara berjalan untuk mengambil dompet dan jaket sebelum ia keluar dari apartemen untuk pergi ke supermarket yang letaknya tidak jauh dari apartemen.
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk Arin sampai di supermarket. Mengambil troli belanjaan Arin memulai memilih bahan makanan dan apa saja yang ia perlukan untuk mengisi kulkas barunya di rumah.
Supermarket terlihat lengang tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Hal ini membuat Arin jauh lebih nyaman dan leluasa berjalan-jalan memilih bahan bahan pokok rumah tangga.
Satu persatu bahan makanan masuk ke dalam troli belanja dan perlahan terlalu tersebut mulai menjadi penuh. Saat ingin melakukan pembayaran Ia baru teringat jika dirinya datang ke supermarket seorang diri dan berjalan kaki, lalu bagaimana dirinya bisa membawa barang sebanyak hampir 5 kantong plastik berukuran besar.
Semua barang yang sudah melewati proses pembayaran kembali dimasukkan ke dalam troli belanja. Arin berjalan keluar dari area kasir setelah melakukan pembayaran. Arin berfikir sepertinya dirinya membutuhkan ojek online untuk membantu membawakan barang-barangnya yang terlalu banyak. Iya berdiri di dekat samping pintu keluar supermarket sambil menyalakan ponselnya untuk mencari ojek online di sekitarnya.
"Arin …?!".
Tiba-tiba Arin mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang sontak membuatnya menoleh ke arah suara tersebut yang berasal dari pintu masuk supermarket.
Kedua mata Arin terbelalak kaget saat melihat sosok Ardan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Hai! Kita ketemu lagi," sapa Ardan.
Seketika Arin merasa seperti mati kutu saat melihat Ardan yang entah kenapa bisa muncul secara kebetulan di hadapannya. Tubuhnya menjadi kikuk dan mulutnya menjadi membisu, Arin bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Iya juga. Lo tinggal didaerah sini?" tanya Arin.
"Gue tinggal di Apartemen Golden Fix. Gedung 401." jawab Ardan.
Seketika Arin terkejut saat mendengar jika Ardan tinggal di apartemen yang sama dengannya hanya saja berbeda lantai. Apartemen miliknya dan haru berada di lantai 12 sedangkan apartemen milik Ardan berada di lantai 10. Hanya berselisih dua lantai dan itu adalah jarak yang tidaklah jauh.
"Ahh … begitu ya," ucap Arin merasa canggung.
"Lo juga tinggal di daerah sini?" tanya Ardan.
"Iya."