The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 22 Hari Pernikahan



Hari Pernikahan


“Dia itu, nggak sopan!!” gumam Arin yang kemudian kembali dengan suasana canggung antara dirinya dengan Haru. “Maaf ya .. dia emang suka begitu. Pasti kamu nggak nyaman …,” ucap Arin yang menunduk saat berbicara dengan Haru, karena ia merasa Haru terus menatapnya.


“Tapi ngomong-ngomong. Emangnya di bawah ada apa sih?! Perasaan kamu dari tadi liatnya kebawah terus dan menghindar dari aku?” tanya Haru.


“Itu karena aku malu tau!!” ucap Arin.


“Apa karena tadi, pas kamu bangun tidur?” tanya Haru.


Arin hanya mengangguk seperti anak anjing yang menggemaskan.


“Aku udah lupa kok. Tadi aku terlalu sibuk buat siapin sarapan, jadi sekarang aku udah nggak ingat.” ucap Haru mencoba menyakinkan Arin.


“Serius? Kamu nggak lihat?” tanya Arin.


“Eung. Nggak lihat. Jadi bisakah kamu nggak ngerunduk?” ucap Haru.


Arin pun langsung mengangkat kepalanya penuh percaya dirinya dan mereka kembali melanjutkan sarapan mereka dengan damai.


“Badan kamu sudah merasa enakan?” tanya Haru.


“Emm … semalam aku tidur nyenyak. Terima kasih buat semuanya …” ucap Arin sambil tersenyum hangat pada Haru yang juga ikut tersenyum.


***


Hari dimana dua orang yang akan menjadi satu melengkapi satu sama lain dalam suka maupun duka. Sekitar 200 tamu undangan yang menghadiri pernikahan Haru dan Arin. Sesuai dengan keinginan Arin yang tidak ingin melibatkan banyak orang. Pernikahan yang hanya hadiri sanak saudara dari dua keluarga, teman-teman dekat dan teman-teman dari pihak kedua keluarga yang akan menjadi saksi janji seumur hidup Haru dan Arin.


Semua orang tampak terdiam melihat proses ijab kabul yang dilakukan oleh Ayah kandung pihak wanita dan calon suami. Sedangkan Arin masih duduk diam di ruangannya dengan penuh ketenangan. Bahkan dirinya masih tidak percaya hari ini akan benar-benar tiba. Dirinya menikah dengan seseorang yang bahkan hanya beberapa hari ia kenal. Rasanya tidak begitu antusias hanya saja sedikit mendebarkan, karena walau ini hanya sebuah pernikah sebatas selembar kontrak, tetap saja Arin benar-benar merasa gugup disaksikan ratusan mata yang harus ia bohongi.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Haru Ardiansyah bin Haris Hirawan dengan anak saya yang bernama Arin Gashina dengan mas kawinnya berupa emas 20 gram, seekor anak kucing dan seperangkat alat, dibayar tunai tunai.” ucap Ayahnya Arin dengan sangat lantang.


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Arin Gashina binti Muhammad Budiman dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.” ucap Haru dengan satu helaan nafas tanpa hambatan.


“Bagaimana sah?”


“SAH …!!!”


Jantung yang awal berdebar karena rasa gugup akan kekhawatiran ia melakukan kesalahan, Haru tersenyum saat ia akhirnya berhasil mengucapkan ijab kabul dengan begitu fasih. Semua berdoa untuk kebahagian Arin dan Haru.


Rasanya seperti mimpi saat Arin mulai berjalan memasuki aula untuk menghampiri Haru yang saat ini sudah menunggunya. Semua terpukau akan sosok Arin yang tampak sangat berbeda dihari yang berbahagia ini. Walau gaun putih yang dia kenakan sangatlah sederhana namun terpancar kecantikan yang begitu tulus dan membuat mata tak bisa berhenti menatapnya.


Kedua teman dekat Arin bahkan terlihat menangis Haru melihat kebahagian sahabatnya yang akhirnya mendapat sosok yang bisa memenami sisa hidupnya.


Arin berdiri di hadapan Haru yang menatapnya dengan teduh. Sebagai penghormatan seorang istri sah, Arin memberikan penghormatan dengan mencium tangan Haru yang kini sudah sah menjadi suaminya. Walau canggung, mereka sebenarnya sudah berlatih keras sebelum hari pernikahan agar terlihat natural. Perlahan Haru memberikan kecupan ringan di kening Arin sebagai tanda jika dirinya sudah menjadi milik Haru seutuhnya.


Mereka berdua duduk berjajar untuk memberikan penghormatan pada kedua orang tua mereka yang membuat isak haru dari kedua keluarga. Anehnya Arin sama sekali tidak merasa haru, bagaimana ia merasa sedih seperti yang orang-orang rasakan, karena ia tahu ini semua hanyalah kepalsuan.


Arin dan Haru saling memakaikan cincin pernikahan mereka dan menandatangani surat nikah yang disaksikan oleh saksi. Mereka kini benar-benar telah menjadi pasangan suami istri di depan banyaknya saksi yang menyaksikan pernikahan mereka. Arin dan Haru benar-benar terlihat begitu natural memerankan pasangan suami istri.


Acara pernikahan hanya berlangsung selama 4 jam saja. Arin dan Haru berpisah dengan para keluarga untuk kembali ke hotel terlebih dahulu mengambil barang-barang mereka sebelum kembali ke apartemen. Karena kelelahan, sepanjang jalan Arin tertidur pulas seperti anak bayi. Dia benar-benar seorang yang introvert. Bahkan acaranya saja hanya 4 jam bagaimana jika melebihi dari itu mungkin ia akan pingsan.


Walau harus berbeda dengan kedua keluarga yang tidak setuju dengan susunan acara pernikahan yang mereka rancang. Namun semua berjalan dengan lancar tanpa kendala.


Langkah kaki yang enggan untuk berjalan, Arin dan Haru pun sampai di depan pintu kamar hotel mereka. Hari sudah menjadi malam. Arin yang sudah berganti pakain sebelumnya langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur karena kelelahan.


“Ahh … Capeknya …,” eluh Arin yang mulai merasa lebih nyaman saat berbaring di atas tempat tidur.


Di saat Arin yang perlahan mulai masuk ke alam bawah sadarnya, tertidur kembali. Senang dengan Haru tampak sibuk membereskan barang-barang ke dalam tas. Haru merasa kasihan melihat Arin, ia pun juga merapikan barang milik Arin.


Sontak Arin langsung terbangun dengan kedua mata yang terbelalak sempurna. Wajahnya begitu panik saat menoleh ke arah jendela. Langit tampak sudah terang benderang dan semua yang ada di sekitarnya tampak begitu rapih, berbeda dari saat ia masuk ke dalam kamar hotel. Arin saru mengingat jika ia benar-benar ketiduran saat setelah ia sampai hotel. ARin menghela nafas mencoba menenangkan dirinya yang masih setengah sadar.


“Aku ketiduran deh … jam berapa sekarang?’ tanya Arin sambil mencari keberadaan ponselnya yang ternyata ada di dalam tas kecilnya. “Jam 8 pagi … wah … gue hampiri nggak inget apa-apa.” ucap Arin kemudian terdiam melamun beberapa saat, karena sedang mengumpulkan kepingan nyawanya.


“Tapi … dia mana Haru …?” tanya Arin baru menyadari jika ia tidak melihat keberadaan Haru dimanapun. Hingga ia melihat tas Haru di dekat meja televisi yang tampak sudah rapih bersama dengan tas miliknya. “Tapi … itu tas nya masih ada?” ucap Arin sambil menggaruk kepalanya yang entah kenapa terasa gatal. Mungkin karena ia tak sempat mandi dan langsung tertidur.


Saat Arin kembali melamun, ia tiba-tiba teringat akan sebuah ingatan. “AH! Benar gue belum sempet cuci muka …!!” ucap Arin yang kemudian langsung bergegas berlari ke kamar mandi.


“HAH!! Astagfirullah!!”


Sontak Arin kembali dikejutkan dengan penampakan wajahnya sendiri di depan kaca wastafel. Sosoknya yang sudah tidak memakai make up, membuat Arin bingung.