
Mimpi Buruk (2)
Haru pergi untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat waktu menunjukkan pukul 2 malam, tubuhnya mulai merasa lelah tapi ia masih harus menjaga Arin yang masih belum sadar. Ia membeli kopi instan agar matanya tetap terjaga dan membeli makanan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Haru belum sempat makan siang karena di kantor dirinya sangatlah sibuk. Bahkan saat menerima kabar dari Anna pun dirinya masih sedang rapat dengan para pegawainya, tapi ia langsung berlari pergi meninggalkan ruang rapat untuk menyusul Arin, karena merasa takut sesuatu yang buruk terjadi pada wanita yang kini terbaring lemah dihadapannya.
Saat Haru baru saja meneguk kopi, ia melihat gelagat aneh Arin yang tampak ketakutan. Keringat dingin mulai keluar di wajahnya. Bahkan dia sampai mengigau memanggil nama ibunya. Haru pun panik dan berusaha untuk menenangkan Arin yang sepertinya mengalami mimpi buruk.
“Mama …! Mama ampun …! Aku takut …! Aku takut …! Aku nggak mau sekolah …!” rintih Arin yang terus bergerak-gerak sambil menangis-nangis.
Entah apa yang sedang ia ketakutan dan pada siapa di memohon di dalam mimpinya. Haru sangatlah khawatir.
“Arin … nggak apa-apa … Arin …” ucap Haru sambil menggenggam tangan Arin yang kemudian Arin langsung membuka kedua matanya dengan nafas yang terengah-engah — mimpi yang terasa masih begitu membekas, lalu hilang dalam sekejap mata. Perasaan takut dan kesedihan masih tersisa, Arin terbangun dari mimpi buruknya.
“Arin! Arin! Kamu nggak apa-apa?” tanya Haru.
“Kenapa kamu ada disini? Aku dimana?” tanya Arin yang masih tampak ling-lung.
“Rumah sakit. Kamu ada di rumah sakit karena pingsan tadi, kenapa bisa terjadi …?” tanya Haru dengan nada yang mengomel karena terlalu khawatir,
“Ahh … aku baru ingat, aku makan kepedesan, terus tiba-tiba nafasku sesak, mata aku jadi gelap … abis itu aku nggak inget lagi. Tiba-tiba udah ada kamu didepan aku,” ungkap Arin.
“Ini minum dulu …” ucap Haru sambil membantu Arin untuk bangun dan memberikan segelas Arin. Saat Arin sedang minum, Haru perlahan mulai mengelap keringat yang bercucuran di kening Arin. “Kamu habis mimpi apa …? Mimpi buruk?” tanya Haru kini melembutkan suaranya.
“Eung. Aku takut … tapi sekarang udah nggak apa-apa, itu ‘kan cuman mimpi,” ucap Arin mencoba bersikap baik-baik saja agar Haru tidak khawatir.
Haru kembali duduk sambil memandangi Arin terdiam dengan tatapan yang penuh kebingungan. Sesungguh ia sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Arin pikirkan, tapi Haru memilih untuk menunggu hingga Arin yang dengan sukarela menceritakan pada dirinya. Karena Haru tidak ingin sampai Arin kembali terluka saat sedang menceritakan lukanya.
“Apa aku boleh cerita …?” tanya Arin.
“Emm … tentu saja.” jawab Haru.
Arin terdiam karena merasa ragu. Ia takut jika menceritakan masalahnya pada Haru membuat hubungan mereka semakin menjauh. Arin sadar jika setiap orang memiliki masalah masing-masing begitu juga dengan Haru yang bahkan terlihat begitu kelelahan.
“Nggak jadi. Aku udah lupa …,” elak Arin sambil terkekeh canggung.
Haru menghela nafas diam-diam saat melihat keguruan Arin saat ingin bercerita. Mau bagaimana lagi, ia pun tidak bisa memaksakannya. “Baiklah, nanti kalau udah inget kamu bisa bilang sama aku kapan aja, aku siap mendengarkan kamu ya …” ucap Haru dengan sangat lemah lembut.
“Oh iya. Aku kapan boleh pulang?” tanya Arin.
“Aku belum tau, aku bilang ke perawat dulu ya kalau kamu udah bangun. Tunggu disini …” ucap Haru sambil beranjak dari tempat duduknya — berjalan pergi menghampiri perawat jaga.
***
Bekerja 4 jam terasa seperti bekerja seharian penuh. Tubuhnya benar-benar terasa sakit begitu juga dengan perutnya. Terasa keringat dingin yang tak berhenti mengalir walau sudah berkali-kali Arin mengelapnya.
Berjalan menuju apartemennya yang masih membutuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki. Namun lama kelamaan pandangannya mulai menjadi buram dan Arin merasa tidak kuat menopang tubuhnya. Hingga Arin mulai mendengar suara-suara orang yang memanggil namanya, entah dari mana asal suara itu Arin kesulitan untuk bisa fokus.
Hingga saat Arin akan benar-benar terjatuh, seseorang dari belakang langsung mengapainya — Arin terjatuh di pelukkan seseorang yang memanggil-manggil namanya tadi, dia Ardan yang tampak terkejut saat melihat Arin yang tampak setengah sadar.
“Arin!! Arin!! Kamu nggak apa-apa!! Arin …!!” saut Arda mencoba menyadarkan Arin yang kedua matanya masih terbuka tapi tidak meresponnya.
Arin mulai sadar dan langsung menjauhkan tubuhnya dari pelukan Ardan. “Ah … nggak apa-apa. Maaf …,” ucap Arin,
“Lo yakin, muka lo pucet banget …,” ucap Ardan khawatir.
“Nggak apa —”
Belum Arin menyelesaikan kalimatnya, ia kembali tidak bisa mengkontrol tubuhnya dan kembali tumbang di pelukkan Ardan. Ia masih sadra hanya saja tubuhnya terasa tidak lagi bisa berdiri tegak.
“Lo nggak baik-baik aja, Rin …” ucap Ardan.
“Maaf … bisa tolong bantu gue,” ucap Arin.
Akhirnya dengan terpaksa, mau tidak mau Arin membutuhkan bantuan Ardan untuk membawa hingga sampai apartment. Sepanjang jalan Ardan merangkul Arin yang kesulitan berjalan dengan benar. Lift pun terbuka, mereka melangkah keluar dengan hati-hati.
“Arin …?!”
Tidak disangka terlihat di depan pintu apartemen Arin, terlihat Haru yang sontak terkejut saat melihat Arin bersama dengan pria yang bernama Ardan itu. Bahkan dia merangkul Arin yang terlihat lemas, lantas Haru segera menghampiri mereka — menjauhkan Arin dan Ardan.
“Arin … kamu nggak apa-apa?” tanya Haru sambil meraih tangan Arin — memindahkannya Arin di pelukannya.
Ardan hanya bisa diam saat melihat Arin yang langsung dirampas dari tangannya oleh suaminya Arin.
“Sepertinya dia sakit, tadi kami nggak sengaja ketemu dan dia hampiri pingsan,” ucap Ardan mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Haru yang menatapnya dengan tajam.
“Ah, begitu. Kalau begitu terima kasih karena sudah membantu kami. Kami permisi …,” ucap Haru — berbalik membawa Arin ke apartemennya.
Ardan hanya bisa diam saat melihat Arin yang bersama dengan pria lain. Seharusnya itu adalah hal yang wajar karena pria itu suaminya, tapi kenapa dirinya merasa tidak senang dan terabaikan. Lagi-lagi Ardan kembali menyesal karena tidak memilih Arin saat itu dan meninggalkan Arin begitu saja, Saat dirinya kembali ternyata Arin sudah menemukan pria sehebat Haru. Bahan Ardan diam-diam mencari tahu informasi tentang suaminya Arin. Itu sungguh lucu.
Ardan berbalik — melangkahkan kakinya masuk kedalam lift — menuju lantai 10 dimana rumahnya berada. Hanya bisa menahan kesedihan dan merelakan Arin sepenuhnya.