The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 51 Liburan di Negeri Asing 1



Liburan Di Negeri Asing (1)


“Memang terdengar aneh, tapi tampaknya aku memang sudah tertarik jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan.” ungkap Haru membuat Arin terdiam bingung apa yang harus karena terlalu terharu dan tidak percaya jika dirinya di pertemukan sesosok pria yang bahkan lebih memperdulikan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, tanpa mengkhawatirkan apakah dia akan terluka atau tidak.


Rasa rendah diri nya saat menatap sosok Haru yang sungguh luar biasa. Bukan hanya parasnya yang tampan. Namun sikap, sifat dan tutur katanya pun benar-benar baik dan berbobot. Tidak sebanding dengan dirinya yang penuh kelemahan, tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, bahkan keluarganya pun tidak harmonis. Rasanya memang dirinya hanya menjadi beban untuk Haru yang seharusnya masih bisa mendapatkan wanita yang lebih baik.


Arin mencoba untuk tetap tersenyum karena dirinya tidak ingin merusak liburan ini. “Apa kamu benar-benar suka dengan saya sebagai seorang wanita …?” tanya Arin.


“Emm … maaf, aku sudah melanggar kontrak. Tapi aku udah nggak mau lagi nutupin perasaan ini.” ucap Haru dengan berat hati dirinya harus berkata jujur akan perasaanya terhadap Arin yang tertegun diam mendengarnya.


“Aku juga suka sama, Mas Haru …” ucap Arin dengan suara yang begitu pelan dan penuh rasa takut.


Haru terdiam beberapa saat, karena ia merasa telah salah mendengar ucapan Arin. “Apa …? Kamu bilang apa?” tanya Haru mencoba untuk memastikannya kembali.


Dengan satu helaan nafas — memberanikan dirinya menatap kedua mata Haru dan berkata, “Aku juga suka sama Mas Haru …!!” ucap Hara dengan lantang tapi mata terpejam karena saking malunya menatap mata Haru yang begitu lekat.


Tanpa berpikir panjang melihat keberanian Arin yang juga berusaha untuk jujur akan perasaannya, Hara langsung memeluk erat Arin yang sontak membelalak kaget.


“Makasih udah mau jujur … makasih Arin …, ucap Haru yang tak berhenti membelai lembut kepalang belakang Hara yang terbujur kaku di peluk oleh seorang pria untuk pertama kalinya.


Pelukan itu begitu erat dan membuatnya arin benar-benar gugup, takut suara debaran jantungnya sampai terdengar keluar, itu akan sangat memalukan.


“Mas Haru …” saut pelan Arin membuat Haru perlahan mulai melepaskan pelukannya.


“Kenapa …?” tanya Haru dengan tangan yang masih stay di belakang kepala Arin.


“Aku deg-degan … jangan terlalu tiba-tiba,” ucap Arin dengan polosnya — menunduk karena malu.


Haru terkekeh melihat tingkah Arin yang menggemaskan sambil mundur dua langkah untuk memberikan ruang.


“Aku juga … kamu nggak dengar ada suara …?” tanya Haru.


“Suara apa …?”.


“Jantung aku.”.


Arin terdiam, merasa situasi ini sangat membingungkan sekaligus mendebarkan.


Ekspresi bingung Arin lagi-lagi mengundang tawa Haru yang tak bisa menahannya lagi. “Kenapa kamu gemes banget sih …, aku cuman bercanda. Suara jantung nggak bakal kedengaran kok …,” ucap Haru.


“Cih …! Ngeledek lagi …!” gumam kesal Arin yang ngambek karena sedang digoda oleh Haru.


“Selamat menikmati. Jika anda memerlukan sesuatu silahkan panggil kami. Terima kasih.”


“Terima kasih …,” ucap Hara.


“Iya, terima kasih.” ucap Haru sambil memotong steak yang akan ia berikan untuk Arin.


Setelah selesai, Haru langsung menukar milik Arin dengan miliknya yang sontak membuat Arin sedikit terhentak. “Makan yang ini …” ucap Haru.


“Oh … makasih,” ucap Arin.


***


Hari telah berubah, Arin dan Haru akan memulai perjalanan mereka mengelilingi kota Seoul sesuai dengan rencana yang sudah disusun Arin dengan sangat rapi dan terorganisir.  Tempat pertama  yang ia ingin kunjungi adalah Pasar Mangwon yang letaknya tak jauh dari kota Seoul. Arin sengaja tempat pertama yang di kunjungi adalah pasar agar bisa sekalian mencari sarapan sebelum pergi ke tempat lainnya.


Mungkin karena masih pagi jadi tidak begitu banyak pengunjung yang datang membuat Arin merasa nyaman bisa berjalan-jalan — berkeliling setiap sudut pasar dimana banyak sekali pedagang-pedagang yang sedang menyiapkan dagangan mereka. Arin sudah memiliki satu restoran yang memiliki sertifikat halal untuk dimakan oleh seorang muslim seperti dirinya dan Haru. Tak lupa beberapa kali Arin memfoto beberapa view yang menurutnya bagus dengan menggunakan kamera miliknya.


Cuaca musim semi di pagi hari terasa sangat dingin berbeda dengan di Indonesia. Walau matahari tampak cerah tetap saja udaranya masih sangat dingin. Bahkan Arin sudah menggunakan tiga lapisan baju dan satu jaket tebal saja masih terasa dingin.


Langkah Arin berhenti saat tanda panah map yang digunakan ikut berhenti di depan sebuah restoran kalguksu yang memiliki sertifikat halal. Mereka melangkah masuk ke dalam dan untungnya restoran sudah buka.


Memilih tempat yang masih kosong lalu memanggil pemilik restoran untuk memesan. “Jeogiyo …! Jeo jumunhalkeyo …!!” saut Arin sambil mengacungkan tangan nya. Apa yang tadi Arin ucapakanya artinya “Permisi …!! Saya mau pesan …!”.


Tak lama salah satu pegawai restoran menghampiri mereka. "Nae, Museun il dowa deurilkkayo?” tanyanya yang berarti. “Iya, Ada yang bisa saya bantu?”.


“Kalguksu dugae haejuseyo.” ucap Arin dengan begitu lancar karena latihannya selama 2 tahun itu yang berartikan. “Aku pesan dua kalguksu.”.


“Nae … Kalguksu dugae. Jamsiman gidariseyo.” ucapnya yang berartikan. “Baik. Dua kalguksu. Ditunggu sebentar ya.”. kemudian pegawai tersebut meninggalkan mereka.


“Wah … bahasa Korea kamu benar-benar baik. Aku kira kamu orang Korea asli,” puji Haru yang merasa terpukau akan keahlian Arin yang pandai berbicara dalam bahasa Korea, sehingga membuat mereka tidak memerlukan seorang translator untuk menemani mereka berlibur.


“Tentu dong! Aku …!” ucap Arin dengan bangganya.


***


Setelah sarapan selesai. Mereka kembali berkeliling pasar untuk melihat-lihat sebelum pergi menuju ke tempat selanjutnya. Arin benar-benar terpukau begitu juga dengan Haru. Walau ini bukan pertama kalinya Haru datang ke Korea, tapi ini pertama kalinya ia pergi ke tempat seperti ini. Membuatnya menjadi tahu seperti apa negara Ginseng dengan keseharian warga sekitarnya.


Haru dan Arin balik ke mobil mereka karena harus segera pergi ke tempat. Mereka tidak membawa mobil sendiri melainkan ada seorang supir yang mereka bayar untuk mengantarkan mereka berkeliling-keliling. Mereka sampai di Namsan Tower, sebuah tempat yang paling terkenal dan rekomendasi untuk didatangi para turis.


Melihat Namsan Tower secara langsung membuat Arin merasa seperti di mimpi. Benar-benar lebih bagus dibandingkan yang hanya ia lihat di layar televisi atau drama Korea. Sebelum naik kereta gantung, Arin dan Haru berkeliling-keliling di sekitar Namsan Tower sembari menikmati jajanan ringan khas Korea.