The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 39



Kesempatan Kedua (2)


Berada di dalam ruangan yang begitu luas terasa begitu asing. Rasanya benar-benar sangat canggung. Jantungnya terus berdebar membuatnya menjadi resah. Pikiran yang tidak penting pun mulai bermunculan di dalam otaknya yang membuatnya semakin tidak tenang. Padahal ini bukan pertama kalinya ia datang tapi kenapa rasanya seperti baru pertama kali datang, asing dan tidak nyaman.


Sekitar 10 menit Arin menunggu Haru yang akhirnya datang juga. Dia tampak begitu kaget saat berjalan masuk menghampirinya.


“Maaf udah buat kamu menunggu, aku ada rapat dadakan.” ucap Haru.


“Nggak apa-apa kok,” ucap Arin.


Haru tiba-tiba tertegun saat ia menyadari penampilan Arin yang membuatnya terpesona dan terhanyut dalam pikiran. Dia seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Saat di rumah dia menjadi seorang wanita yang hanya mementikan sebuah kenyamanan dan dirinya sendiri. Namun saat ini Arin seperti wanita yang sangat berbeda tapi tidak merubah dirinya yang sesungguhnya.


“Kenapa ngeliatnya sampai begitu? Aneh ya?” tanya Arin yang merasa sedikit khawatir melihat tatapannya Haru.


“Nggak kok. Kamu sangat cantik. Makasih karena sudah berdandan sangat cantik,” ucap Haru.


Wajah murung Arin seketika berubah tersenyumnya saat mendengar pujian dari Haru yang membuatnya salah tingkah. “Syukurlah kalau begitu.” ucap Arin.


“Ah! Kita masih ada waktu, kamu mau pergi melihat-lihat sekalian bertemu dengan para pegawai aku?” tanya Haru.


“Apa nggak apa-apa?” tanya Arin ragu.


“Tentu saja nggak apa-apa. Mereka pasti senang bertemu kamu. Bagaimana?” tanya Haru.


“Ya sudah kalau begitu, boleh.” ucap Arin.


Kemudian Haru pun berjalan membawa Arin untuk melihat para pegawai saat ini yang sedang sibuk bekerja. Namun saat Arin bersama Haru masuk kedalam salah satu ruangan kantor yang tampak begitu sibuk, mereka langsung berhenti beraktifitas. Perhatian mereka hanya kepada Arin yang merasa sangat canggung saat bertemu dengan orang baru.


“Semuanya … dia ini istri saya, namanya Arin. Dia ingin menyapa kalian …,” ucap Haru.


“Halo semuanya, saya Arin …,” ucap Arin.


Susana tampak hening selama 3 detik hingga tiba-tiba mereka langsung bersorak menyambut salam Arin dengan sangat meriah hingga membuat Arin terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Mereka semua begitu ramah dan heboh menyambut Arin yang merupakan istri dari atasan mereka.


“Ternyata anda jauh lebih cantik dibanding foto yang kami lihat,” ucap salah satu pegawai wanita yang tampak malu-malu saat mengatakannya.


“Terima kasih. Kamu juga sama cantiknya,” ucap Arin.


Seketika pegawai itu langsung histeris kegirangan.


“Nggak nyangka bisa melihat anda dari dekat,” ucap salah satu pegawai yang berada di hadapan Arin, dia mengenakan kacamata dan berpakain tampak sedikit berantakan.


“Maaf … ruang kantor kami yang lain berantakan. Seharusnya kami bersihkan dulu jika kami tahu anda datang,” ucap Dimas.


“Nggak perlu. Saya tahu, kalian pasti sangat sibuk. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, jangan hiraukan saya …,” ucap Arin.


“Kalau begitu kami pergi, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!” ucap Haru yang kemudian mengajak Arin untuk keluar dari ruangan.


“Sepertinya kita harus segera pergi,” ucap Haru sambil berjalan ke arah lift.


***


Di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta. Haru bertemu dengan seorang investor untuk bisnis terbarunya. Investor asing yang sangat berpengaruh penting pada bisnisnya kali ini. Dia juga merupakan teman satu kampus Haru saat berkuliah di Universitas Harvard. Setelah mendengar Haru sudah menikah, ia langsung meminta pada Haru untuk mengajak istrinya. Itu sebabnya Arin saat ini duduk di sampingnya yang sedang membicarakan tentang kontrak kerjasama.


“So, you're Haru's wife?” tanyanya.


Sontak membuat Arin terkejut lantaran orang asing itu bertanya pada menggunakan bahasa inggris.


“Yes …” jawab Arin dengan canggung dan gugup.


“It's okay, you don't have to be nervous. I'm Haru's college friend, it's okay ... I just want to know who the woman who can steal Haru's very stiff heart,” ucapnya.


Kembali membuat Arin memantung kebingungan karena sama sekali tidak tahu apa yang orang itu bicarakan.


“Dia bilang, kamu nggak perlu gugup. Dia teman kuliahku dan dia hanya ingin tau siapa kamu,” bisik Haru yang langsung menjadi kegugupan Arin.


“Ah … begitu rupanya.” Angguk Arin sambil tersenyum sopan pada orang asing tersebut. “So you're Haru's friend? Nice to meet you. My name is Arin, are you?” tanya Arin sambil mengulurkan tanganya.


“Yeah … I am John. Nice to meet you, too.” ucapnya sambil melepaskan tangan Arin. “Ah! I have someone I want to know.” ucapnya sambil beranjak dari bangu secara tiba-tiba membuat Haru dan Arin bingung.


Dia terlihat menghampiri seorang gadis kecil yang duduk tak jauh dari mejanya. Dia membawanya hingga duduk berhadapan dengan Arin. ”She's my daughter. Her name is Jenny.” ucapnya.


“Do you have kids? Wow... She's so beautiful.” ucap Haru.


Namun anehnya gadis itu hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Saat Haru dan John sedang berbincang-bincang tentang bisnisnya dan berbicara dalam bahasa inggris. Membuat Arin hanya bisa diam dalam ketidakpahaman. Namun arin merasa jika gadis kecil yang bernama Jenny itu terus menatapnya sejak tadi.


“Why do you keep looking at me?” tanya Arin dengan nada bicara yang sangat lembut agar tidak membuat gadis kecil itu merasa takut walau ucapannya terdengar sangat kaku.


Pertanyaan Arin sontak membuat dua pria itu berhenti berbicara dan menatap Arin dengan serius.


Gadis itu terdiam beberapa saat hingga tiba-tiba dia mulai menggerakkan jari-jarinya pada Arin yang sotak tertegun. Gadis kecil berwajah cantik dan bermata biru itu sedang menggunakan bahasa isyarat padanya. Bukannya Arin yang terkejut, Haru pun juga ikut terkejut dan tidak tahu apa yang gadis itu lakukan.


“She said, you look so beautiful.” ucap John yang tampak sedih.


Arin yang terdiam sontak menoleh ke arah John. Lantas Arin langsung menjawab kalimat tersebut dengan bahasa tangan. “You're beautiful, too.” ucap Arin bersamaan dengan mulutnya yang berbicara. Gadis itu lantas langsung tersenyum tapi tidak dengan Haru dan John yang tampak terkejut dengan apa yang baru saja Arin lakukan.


“You speak sign language?” tanya John yang masih tampak terkejut.


“Yes. But …” jawab Arin yang berhenti berbicara karena ia tidak bisa melanjutkan dengan bahasa inggris. Sambil mendekat ke arah Haru dan berbisik. “Aku hanya bisa menggunakan bahasa isyarat dalam bahasa Indonesia,” ucap Arin.


“She can only use Indonesian sign language.” ucap Haru pada John.


“Wow … You’re so great!” ucap John terpukau melihat kehebatan Arin.


“Kamu sangat hebat,” ucap Haru pada Arin yang membalasnya dengan senyuman.