
Masalah Yang Mengalir Seperti Air
Haru baru saja sampai apartemennya setelah berdebat keras dengan ibunya. Melihat ruangan yang tampak gelap gulita menandakan jika Arin tidak ada di apartemennya. Ini situasi yang sangat sulit bagi Haru. Berada di tengah-tengah antara dua orang yang ia sayangi dan harus dilindungi, bagaimana ia harus berpihak. Haru menelepon Anna untuk menanyakan keadaan Arin yang tak menjawab panggilan darinya.
“Iya hallo, kak ipar … pasti tanya ka Arin ya, dia ada di kamar.” ucap Anna.
“Oh, begitu rupanya.”
“Kayaknya kakak abis bertengkar, waktu pulang dia udah nangis kayak anak kecil, terus masuk kamar dan di kunci. Nggak lama bapak telepon aku tanyain kabar kakak, kayaknya kak Arin bertengkar sama mama. Tadi kata bapak, mama pergi ke rumah mamanya kak ipar, setelah pulang dari sana dia juga langsung nangis sambil marah-marah. Sebenarnya apa yang terjadi, kak ipar …?” tanya Anna.
“Kakak juga sedang mencari tahu, mereka memang bertengkar. Tapi kamu nggak perlu khawatir dan kakak minta tolong pantau kak Arin, jangan sampai dia melakukan hal-hal aneh ya … kamu bisa ‘kan Anna, kalau terjadi sesuatu langsung bilang ke kakak,” ujar Haru.
“Iya kak.”
“Ya sudah …,” ucap Haru kemudian mematikan ponselnya — berjalan ke arah sofa — duduk di dalam ruangan gelap dengan pikiran yang begitu berat.
***
Melanjutkan hari seperti biasa seakan tidak pernah ada terjadinya badai yang memporak-porandakan mental Hara. Ia harus tetap tersenyum ramah pada setiap pengunjung cafe walau hatinya sedang merintih kesakitan. Rasanya ia segera berhenti. Tapi jika ia berhenti, dirinya tidak memiliki kegiatan lain dan mungkin itu akan semakin menyiksanya, terkurung di ruangan gelap dan pengap.
Menyibukan diri mungkin pilihan yang tepat agar bisa melupakan kejadian semalam. Bahkan hari ini Arin meminta agar jam kerja ditambah, walau awalnya tidak disetujui oleh pemilik cafe tapi akhirnya Arin mendapatkanya. Jam kerja Arin seharusnya hanyalah 4 jam, tapi kini berubah menjadi 8 jam tanpa dianggap lembur.
Walaupun dengan menyibukan diri di cafe. Namun saat jam pulang kerja pikiran itu kembali menyiksa Arin secara perlahan. Di sepanjang jalan tatapan begitu kosong dan tidak ada raut senyum di wajah Arin. Otaknya yang semula sepi, tapi kini kembali runyam dan sangat berisik.
Duduk di bangku bus terdiam melamun seperti tidak memiliki cahaya dan semangat untuk hidup. Kemarahan, kekecewaan, sakit hati, kesedihan dan rasa bersalah bercampur dalam pikirannya. Dadanya terasa begitu perih.
Melihat orang-orang yang berlalu-lalang — melihat kendaraan yang berlalu-lalang, tapi kenapa mereka terlihat berjalan begitu cepat dan hanya dirinya yang seakan hanya berjalan di tempat. Langit mendung disertai kilat dan gemuruh. Aroma hujan yang begitu khas. Hujan pun mulai turun di malam yang tampaknya akan sangat panjang bagi Arin.
Ternyata kutukan itu benar. Dirinya tidak boleh merasakan kebahagiaan, jika tidak ingin merasa penderitaan berkali-kali lipat. Apa datang ke psikiater adalah hal yang salah dan membuatnya terlihat seperti orang keterbelakangan mental. Seperti orang yang berjalan tanpa akal sehat. Kenapa dunia begitu kejam dan tidak adil. Bukankah sudah cukup tahun lalu ia merasakan penderitaan seperti di neraka.
Sampai kapan penderitaan dan rasa sakit ini berakhir …?
Apa aku harus hilang jadi mereka juga itu hilang …?
Tapi … mati itu sangat menakutkan …
Tapi kenapa aku sulit mendapatkan jalan keluar saat aku berada di dalam labirin yang penuh kesesatan. Jiwa dan raga seakan perlahan-lahan menghilang. Kekosongan mulai terjadi pada hatinya. Semua menjadi kelabu depan matanya.
Sejak kapan air mulai menggenang di kakiku. Air hujan yang sangat deras mulai menutupi telapak kakiku. Apa akan terjadi banjir. Tapi kenapa airnya sangat biru. Air bergerak begitu cepat, sangat cepat hingga mulai menenggelamkan kedua kakiku. Apa yang terjadi.
BRUSH …!!!
Aku terjatuh dalam sebuah air yang begitu dalam, gelap dan dingin. Semua didepan mataku hanya ada air. Air yang tampak seperti di dalam lautan dalam, samudra. Apa yang telah terjadi. Aku mencoba berenang ke atas tapi kaki dan tanganku seakan kaku.
Siapapun …!! Tolong aku …!!
Aku mulai kehabisan nafas. Paru-paru mulai terasa panas dan seluruh tubuhnya seakan menjadi kaku. Aku semakin jatuh ke dasar — melayang-layang seperti sampah di dalam air — semua menjadi gelap.
Apakah aku sudah mati …?
1 … 2 … 3 … SHOOT !!
DUGH …!
“Masih belum kembali, dok …!!” saut seorang perawat yang langsung memberitahu pada seorang dokter yang sedang mencoba mengembalikan detak jantung Arin yang terbaring lemas di sebuah ruang UGD.
“Tambah 10 volt …!!” ucap dokter tersebut yang mencoba melakukan yang terbaik untuk pasiennya.
“Sudah, Dok!”.
“Baik. 1 … 2 … 3 … SHOOT …!!”
Masih menunggu dengan harapan kecil agar jantung kembali berdetak.
“Ada detakan pada jantung, dok …!!” sautnya.
Lantas dokter pria itu langsung memberikan alat pemacu jantung pada perawat lainnya — segera memberikan sebuah CPR untuk membantu jantung agar terus berdetak walau masih lemah. Keringat yang bercucuran di wajahnya bahkan tidak sebanding dengan rasa ketakutan untuk menyelamatkan satu nyawa. Hampir 15 menit ia memberikan CPR pada Arin.
“Kembali normal, dok …!!” ucap perawat tersebut yang tersenyum lega bersama dengan beberapa perawat dan dokter yang sudah berusaha mengembalikan nyawa seorang manusia.
Di ruang perawatan, setelah berjuang melewati antara hidup dan mati. Arin masih tidak sadar dengan mengenakan selang oksigen untuk membantunya bernafas. Haru yang tampak sangat ketakutan akan kehilangan Arin. Dirinya yang hanya bisa berdiri di balik kaca saat para dokter sedang berusaha menyelamatkan Arin yang tak ia sangka meminum obat penenang dari dokter dengan jumlah yang banyak hingga membuatnya overdosis. Bahkan Arin hampir saja tertabrak mobil saat menyebrang tanpa melewati zebra cross.
Sungguh kejadian yang sangat tragis saat mendengar kesaksian seseorang yang melihat Arin berjalan seperti orang tak sadarkan diri ke tengah jalan karena efek obat yang diminumnya. Haru terus menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi pada Arin.
SREK …!!
tiba-tiba pintu bergeser yang sontak membuat Haru menoleh ke arah pintu. Ternyata kedua orang tuanya Arin dan adik iparnya yang datang dengan wajah yang tampak khawatir — langsung berlari menghampiri Arin yang masih belum sadarkan diri.
“Ya ampun anakku … gimana ini bisa terjadi … Arin …” ibu yang menangisi Arin.
“Kakak baika-baik aja …?” tanya Anna yang berdiri disamping Haru yang hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Haru? Kenapa Arin bisa seperti ini? Kamu ini ‘kan suaminya, kenapa kamu nggak bisa jaga istri kamu baik-baik …! Lihat anakku sekarang …!!” ujar ibu yang marah-marah sambil menangis pada Haru yang hanya bisa menunduk sambil meminta maaf.