The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 31 Menjaga Rada Agar Tidak Salah Paham



Menjaga Rasa Agar Tidak Salah Paham


Tatapannya begitu teduh saat melihat Arin yang masih berusaha menenangkan dirinya. Beberapa kali Haru memberikan tisu sambil menepuk-nepuk punggung Arin agar bisa lebih tenang walau masih tersengal-sengal sisa tangisannya seperti anak bayi. Sudah berapa lembar tisu yang berserakan di dekatnya untuk menghapus air mata.


“Apa sekarang sudah lebih baik …?” tanya Haru.


Arin hanya mengangguk dengan kedua tangan yang masih mengusap matanya yang masih berair dengan tisu. Sesungguh saat ini Arin merasa sangat malu setelah menyadari dirinya yang baru saja menangis seperti anak kecil bodoh di depan Haru. Rasanya ia sedang menghina umur yang sudah menginjak 30 tahun. Bagaimana bisa wanita 30 tahun menangis sampai seg-segan di hadapan pria yang bahkan tidak memiliki hubungan yang spesial dengannya. Sungguh memalukan.


Arin terus menyesalinya. Namun anehnya itu dadanya terasa jauh lebih lega dibandingkan yang sebelumnya. Ini sungguh aneh tapi nyata terjadi pada dirinya. Suara haru yang lembut dan menenangkan, tangan yang beberapa kali menyentuhnya dengan hangat seperti sebuah obat yang menyembuhkan. Jantungnya pun sudah tidak berdebar resah, dirinya benar-benar menjadi lebih tenang.


“Pasti kamu heran ya … lihat cewek 30 tahun nangis kayak bayi,” ucap Arin.


Haru menyeringai diam-diam karena merasa gemas dengan sikap Arin. “Emm … pertama kalinya.” jawab Haru dengan sejujur-jujurnya.


Sontak Arin menoleh kaget dan heran mendengarnya. “Serius?!!”.


“Eum, serius.” jawab Haru.


“Maaf ya kalau ucapan aku ini ada lancang, tapi … sebelum aku sama kamu menikah kontrak ini, kamu udah pacaran berapa kali? Atau bahkan apa nggak ada wanita lain selain aku, eh … maksud aku sebelum pernikahan ini …?” tanya Arin.


“Nggak ada.”


“Jangan coba bohong sama aku!” kecam Arin dengan tatapan sinis.


“Serius! Sumpah! Aku ini terlalu sibuk bekerja. Yah … walau beberapa kali ayah sama ibu dulu sering buat jadwal kencan buta, tapi semua hanya berlangsung sehari lalu selesai. Udah gitu aja …,” ungkap Haru.


Arin terdiam diantara dua keraguan ingin percaya dan tidak percaya pada semua ucapan Haru tadi. Namun jika dilihat dari tatapan dan cara dia berbicara tidak menunjukan tanda-tanda seseorang sedang berbohong. Kalau begitu ‘kan jadi ia yang salah tingkah, pikir Arin.


“Kamu sendiri, bagaimana?” tanya Haru dengan tiba-tiba memecahkan pikiran Arin.


“Hah?!”.


“Apa ada orang spesial yang saat ini ada dihati kamu?” tanya Haru dengan sengaja mengatakan hal itu untuk mengetahui hubungan Arin dengan Ardan dimasa lalu, seperti yang Dimas ceritakan pada dirinya tadi saat di kantor.


Arin terdiam sambil memikirkan dengan matang-matang pertanyaan yang entah mengapa begitu sulit untuk dijawab. Sambil tersenyum ringan tanpa ekspresi. “Nggak ada,” jawab Arin kemudian terdiam seribu bahasa.


Sambil beranjak dari duduknya. “Aku ambil kompresan dulu buat mata kamu, biar nggak bengkak ya …” ucap Haru sambil berjalan ke arah dapur untuk mengambil kantong kompresan yang diisi dengan beberapa es batu di dalamnya.


Arin melihat apa yang saat ini sedang Haru lakukan, matanya mengikuti setiap gerakan Haru. Satu hal yang membuat Arin tidak mempercayai jika sebelumnya haru tidak memiliki seorang kekasih, karena sikap dan bahasa tubuh seakan terbiasa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan seseorang terhadap orang yang dia sayangi. Dia seperti pria profesional yang bisa membuat pasangan benar-benar merasa berharga dan mendapatkan banyak cinta.


Rasanya dirinya menjadi serakah jika benar-benar menginginkan hal itu dari Haru. Memangnya dirinya ini siapa, hanya seorang wanita yang berada di atas perjanjian selembar kertas yang menumpang di rumah semewah dan sebagus ini. Akan beruntung sekali wanita yang benar-benar menjadi istrinya, pikir Arin yang langsung mengalihkan pandangannya saat sekelebat matanya melihat Haru melihat ke arahnya.


Sambil menerimanya. “Makasih …,” ucap Arin.


Haru hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.


“Apa kamu mau tidur disini?” tanya Haru sedikit berharap jika Arin bisa tidur dirumahnya.


“Nggak mau.” tolak Arin membuat Haru seketika tertegun mendengar penolakan itu.


“Hari ini, Anna menginap di rumah temannya, jadi aku tidur di rumahku saja,” ucap Arin merasa tak enak hati karena sudah menolaknya.


“Ahh … begitu ya. Yasudah kalau begitu,” ucap Haru mencoba menerimanya dengan lapang dada.


“Kalau begitu, aku balik pulang dulu,” ucap Arin sambil berdiri dari tempatnya — begitu juga dengan Haru. “Makasih dan maaf udah ngerepotin. Aku pulang … bye …!!” ucap Arin yang kemudian berbalik — berjalan pergi meninggalkan Haru tanpa memberikannya kesempatan untuk berbicara lagi.


Mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa mencegah Arin untuk hal itu. Benar. Dirinya terlalu berharap hingga menginginkan hal yang lebih. Haru mencoba menahan dirinya sendiri untuk tidak melewati batas yang diberikan Arin padanya.


***


Rutinitas keseharian Haru, diawali dengan lari di pagi hari untuk meningkatkan produktivitas. Haru selalu bangun di jam 6 pagi, lalu berlari mengelilingi komplek apartemen yang sangat luas. Sebenarnya di dalam apartemen ada fasilitas untuk gym. Tapi Haru memilih untuk berlari di luar agar bisa menghirup segarnya udara pagi.


Sudah hampir setengah putaran Haru lewati. Keringat di tubuhnya mulai keluar dan detak jantungnya menjadi meningkat. Lari di pagi hari bisa membantunya agar fokus dan baik untuk meningkatkan imunitas tubuh, dimana ia yang selalu sibuk bekerja dan begadang karena pekerjaan. Setidaknya ia harus meluangkan waktu minimal 1 jam untuk berlari.


Dengan nafas yang terengah-engah, Haru sedah menyelesaikan larinya untuk hari ini. Ia berjalan untuk pinggiran danau buatan untuk melakukan pendinginan sebelum kembali ke apartemen. Namun tiba-tiba ada seorang pria yang mendekati dirinya dan mengikutinya yang sedang melakukan pendinginan.


“Lo suaminya Arin ‘kan?” tanyanya.


Sontak membuat Haru menoleh ke arah orang tersebut yang juga menoleh ke arahnya. Wajah yang tak asing langsung bisa Haru kenali. Sial. Dia Ardan yang entah ia bisa bertemu di sini.


“Lo nggak ingat gue, gue Ardan —”


Belum sempat Ardan melanjutkan kalimatnya, Hara dengan sengaja menyelaknya. “Iya. tau.” ucap Haru dengan acuh.


“Lo suka olahraga juga ya. Ahh … jangan salah paham ya. Gue emang tinggal di sini, baru beberapa hari pindah. Kemarin juga, gue sempet ketemu Arin di supermarket,” ucap Ardan.


Seketiak mendengar hal itu membuat Haru langsung berhenti melakukan pendinginan dan menatap tajam ke arah Ardan yang tampaknya memang sengaja ingin memancing masalah dengannya. “Lo ketemu istri gue?” tanya Haru.


“Iya. Kemarin, kebetulan gue juga lagi kesumpermart. Wah … beruntung yah … punya lo istri yang seperhatian Arin.” ucap Ardan yang juga berhenti melakukan pendinginan.