The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 56



Perceraian


Arin hanya melamun di ruang perawatannya. Tatapannya begitu kosong, sebuah penyesalan kembali datang pada dirinya setelah ia sadar bahwa ia telah menyakiti dirinya sendiri dengan meminum obat penenang yang berlebihan.


Arin terus bertanya pada dirinya sendiri kenapa harus melakukan hal seperti itu. Kadang Arin tidak sadar jika dirinya meminum obat penenang begitu banyak. Tapi entah mengapa di saat-saat seperti ini di dalam pikirannya Ia hanya ingin menghilang kata-kata jahat yang dilontarkan kepadanya akan berita palsu yang menerpanya membuat Arin seakan tidak berharga lagi untuk hidup.


Semua masalah yang datang pada dirinya belakangan ini, dirinya seperti sedang berada di dalam neraka. Lamunannya seketika terpecahkan saat mendengar suara pintu terbuka. Arin menoleh ke arah pintu terlihat harus sedang berjalan menghampirinya.


"Arin gimana keadaan kamu? Badannya udah enakan?" tanya Haru sambil duduk di samping tempat tidurnya Arin.


"Rasanya kayak sakit tapi juga nggak sakit," ucap Arin.


"Kamu mau ketemu sama dokter Puspita nggak …?" tanya Haru.


"Nggak perlu, aku sudah baik-baik saja. Apa aku nggak baik-baik aja ya …?" tanya Arin yang terus berubah-ubah.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Haru.


"Mas Haru, Aku mau minta kita akhiri aja pernikahan kontraknya. Lagi pulang orang tua kita sudah saling tahu, jadi buat apa pernikahan ini diteruskan." ucap Arin.


Sontak harus terdiam mendengar perkataan Arin yang memintanya untuk bercerai. Jika mengakhiri kontrak perjanjian pernikahan tersebut itu berarti sama saja dengan perceraian hal ini membuat harum rasa terbebani dan tidak rela untuk menceraikan Hara di saat-saat seperti ini.


"Aku nggak mau cerai. Sama kamu bahkan kita aja baru memulai gimana aku bisa setuju," ucap Haru sambil menahan rasa sedihnya setelah Arin mengatakan hal yang paling menyakitkan untuknya. " Bisakah kita tunggu sampai berita ini mereda aku khawatir jika kita bercerai maka masalahnya akan bertambah besar dan mereka akan percaya bahwa kamu benar-benar selingkuh agar bisa bercerai." ucap Haru.


"Aku beneran udah capek sama semua ini. Aku pengen kembali ke kehidupanku yang normal Jauh sebelum aku ketemu sama kamu," ungkap Arin.


"Kumohon aku mau bercerai dan mengakhiri pernikahan kontrak kita," ucap Arin yang terdengar memelas membuat Haru merasa tidak tega menolak permintaan tersebut.


“Baiklah … kita akhiri pernikahan kontrak kita,” ucap Hara dengan berat hati dirinya yang akhirnya harus melepaskan Arin,


Hara berjalan keluar dari kamar Arin yang terlihat ingin sendirian. Keadaan Arin saat ini benar-benar tidak stabil dan tidak bisa dibiarkan sendirian, namun dirinya juga tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa berjalan keluar dari kamar.


***


Arin datang menemui Dokter Puspita. Setelah ia melewatkan tiga kali pertemuan. Wajah masih terlihat sangat pucat setelah keluar dari rumah sakit. Walau keadaan sedang tidak baik-baik saja tetapi Harin masih berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan dokter Puspita.


"Kenapa wajah kamu pucat?  Apa kamu habis sakit?" tanyanya.


"Dokter aku minta maaf ya kemarin aku nggak sadar kalau aku minum terlalu banyak obat penenang yang dokter kasih sampai aku masuk ruang UGD lagi," ungkap Arin.


"Apa ada sesuatu yang terjadi sama kamu? Apa yang membuat kamu merasa tertekan sampai-sampai kamu nggak sadar minum terlalu banyak obat penenang …?".


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?".


"Yah … cuman, belakang ini banyak yang menyuruh aku untuk menjauhi seseorang dan banyak yang membenci aku karena aku bersama orang yang mereka sukai …?" tanya Arin.


"Apa kamu menyukai orang itu?" tanyanya sontak membuat Arin terdiam beberapa saat.


"Daripada saya bilang suka, aku merasa nggak pantas dicintainya. Orang itu terlalu sempurna buat saya, sedangkan saya … Dokter lihat sendiri, bahkan aku punya gangguan kecemasan yang selalu membuatnya repot jika sewaktu-waktu muncul. Saya merasa bersalah padanya karena harus bertemu dengan wanita seperti saya," ungkap Arin.


"Memiliki penyakit mental bukanlah hal yang memalukan dan juga bukan menjadi kesalahan kamu. Penyakit mental bisa menyerang siapapun tanpa memandang paras, fisik atau pun umur." Ungkap nya sontak membuat Arin tertegun mendengarnya.


"Mungkin orang yang menyukai kamu bisa melihat sisi yang tidak bisa orang lain lihat, orang itu bukan melihat kamu dari fisik, paras ataupun umur, tapi mungkin dia melihat kamu dari sisi spesial yang hanya dia yang mengetahuinya. Bukankah kamu orang yang paling beruntung mendapatkan dia dan juga dia orang yang jauh lebih beruntung karena menemukan sisi yang tidak bisa orang lain temukan dari diri kamu." ungkapnya.


"Perasaan manusia itu benar-benar seperti keajaiban sulit dijelaskan tapi nyata sulit dijabarkan tapi memang ada Terkadang manusia itu sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan tapi semakin manusia itu sering berkomunikasi sering bertatap muka maka koneksi itu akan terkait satu sama lain seperti wi-fi," ungkapnya.


"Arin …"


"Iya …"


"Kamu tidak memiliki kesalahan apapun di saat ada seseorang yang menyukai kamu. Jangan hanya karena ucapan orang lain kamu malah bersikap sama dengan orang-orang yang tidak menyukai kamu terhadap orang yang menyukaimu." ucapnya.


***


Sepanjang jalan menuju apartemen haram melamun memikirkan perkataan terakhir dari dokter Puspita yang begitu rileks dengan keadaannya saat ini. Jika dipikirkan kembali benar juga kenapa dirinya tidak bisa memperlakukan hal yang sama pada Haru yang melakukan memperlakukannya dengan sangat baik.


Lagi-lagi Arin menyesali apa yang telah Ia katakan terakhir kali terhadap Haru titik mungkin saat itu pikirannya benar-benar sangat kacau hingga membuat data sadar mengucapkan dan meminta perceraian pada Haru. Memang benar adanya dirinya lebih baik menghilang atau menjauh dari kehidupan Haru agar Haru bisa mendapatkan dan bisa bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dari dirinya.


***


Tiba-tiba Ardan menghubunginya untuk minta bertemu di cafe yang tak jauh dari apartemennya. Sesungguh Arin tidak ingin bertemu lagi, terlebih lagi berita yang membuat dirinya menjadi down tak terkendali. Tapi Arin bersumpah jika ini akan menjadi pertemuan terakhir kalinya dengan Ardan. Arin berjalan menghampiri Ardan yang sudah menunggunya. Duduk berhadapan dengan Ardan yang tampak senang saat melihat kehadirannya.


“Gue kira lo nggak bakal dateng. Makasih udah datang …,” ucap Ardan.


“Jadi apa yang mau lo omongin?” tanya Arin.


“Ini menyangkut berita mengenai kita. Aku juga sudah bertemu dengan suami kamu, tapi tampaknya dia nggak peduli tentang hal tersebut. Jadi aku datang buat mastiin kamu baik-baik saja.” ucap Ardan.


“Ya … seperti yang kamu lihat sendiri. Saya baik-baik saja,” ucap Arin.


“Jika kamu butuh bantuan untuk mengkonfirmasi akan perial berita tersebut, kamu bisa langsung hubungi aku. Aku bakal siap membantu kamu.” ucap Ardan.