The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 42



Sesi Konseling (2)


Kembali di ruang konseling untuk pertemuan keduanya. Pertemuan kali ini, Arin mulai merasa lebih baik dari sebelumnya. Dokter Puspita kini sudah duduk berhadapan dengannya.


“Kayak, kamu terlihat lebih baik dibandingkan pertemuan pertama. Bagaimana apa kamu sudah merasa lebih nyaman duduk di sana?” tanyanya.


“Iya, Dok. Kayak udah lebih baik, sekarang debarannya mulai berkurang. Lihat …! Tangan saya udah nggak gemetaran lagi,” ucap Arin yang tampak sumringah.


“Itu sebuah kemajuan yang baik. Kayaknya kamu sudah lebih nyaman bertatap muka dengan saya, bukan?”.


“Kayak, Dok.”


“Jadi … apa kamu sudah siap menceritakan suatu hal tentang diri kamu pada saya?” tanyanya.


“Iya. Saya akan mencobanya,” ucap Arin yang kemudian menarik nafas dalam-dalam — lalu menghembuskan secara perlahan. Arin mencoba membuat dirinya benar-benar relex hingga nanti ia tidak akan salah berucap akan cerita yang sudah ia siapkan sebelum datang.


Dokter Puspita tampak begitu sabar menunggu Arin yang tampaknya membutuh waktu untuk menyiapkan dirinya. Hal itu wajah bagi setiap pasienya. Sebuah keberuntungan jika para pasiennya benar-benar bisa terbuka pada dirinya agar ia bisa mengetahui penyebab pasien itu bisa mengalami hal-hal yang membuatnya depresi.


“Dokter …”


“Iya …,”


“Beberapa bulan yang lalu saya mengundurkan diri dari perusahaan …,” ucap Arin.


“Kalau saya boleh tau, kenapa?”.


“Saya cuman merasa semuanya menjadi jenuh dan menyebalkan. Sejujurnya saya nggak tau sejak kapan perasaan jenuh itu muncul, hanya saya itu terus berlangsung. Saat itu aku benar-benar lelah dengan salah satu orang disana. Sampai aku berpikir, kenapa dia bersikap seperti itu sama aku? Kayak emang dia benci aku? Tapi kenapa? Kenapa dia membenci aku, padahal posisinya lebih tinggi dibandingkan aku?” ungkap Arin yang mulai merasa nyaman untuk berbicara seolah ia kembali kemasa-masa yang sedang ia ceritakan. “Dan juga … saya sangat benci kedua orang tua saya dan kakak saya …,”.


“Kenapa kamu membencinya?” tanyanya.


Arin hanya bisa terdiam karena ia tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut. Suasana menjadi hening di antara mereka. Arin yang termenung dalam pikirannya dan Dokter mencoba untuk memberikan ruang pada Arin.


“Kamu tidak perlu memaksa untuk bisa mendapat jawaban …,” ucapnya perlahan membuat Arin mulai kembali menegakkan kepalanya — menatap. “Apa kamu tau, terkadang kamu boleh tidak menjawab pertanyaan dari seseorang yang membuatmu menjadi bingung ataupun tertekan. Mungkin memang kamu tidak memiliki jawabanya, tapi kamu hanya khawatir terhadap lawan bicaramu. Aku akan mulai khawatir jika aku tidak menjawab kamu akan berpikir yang bahkan belum tentu dipikirkan oleh lawan bicaramu.” ujarnya.


Arin hanya diam mendengarkan dokter Puspita berbicara.


“Kemarin kamu datang dengan temanmu bukan?” tanyanya.


“Iya …”.


“Apa kamu bisa menceritakan hal tentang dia?” tanyanya.


“Tapi kenapa kamu tersenyum …?” tanyanya.


“Saya cuman mikir, kenapa saya bisa melakukan hal itu? Itu sungguh lucu ‘kan, Dokter? Dokter nggak jijik liat luka saya?” tanya Arin.


“Tidak. Saya tidak merasa jijik,”


“Ah … benar juga, Dokter pasti udah sering melihat luka yang seperti ini bukan?” ucap Arin.


“Tidak …, apa yang kamu ucapkan itu benar. Jika saya sudah sering melihat luka seperti ini, tapi … setiap orang memiliki luka dan story yang berbeda-beda, begitu juga dengan kamu. Maka setiap saat menemui orang yang memiliki luka itu perasaan saya pun juga berbeda-beda …,” ungkapnya.


Arin kembali terdiam. Lalu tersenyum kecil di bibirnya. “Kalau begitu aku nggak sendiri, Dok?” tanya Arin.


“Iya. Kamu memang tidak sendirian. Di dunia ini, banyak yang masih berjuang dan menjalani hidup layak bersama dengan bekas luka itu. Bagaimana kalau kita belajar untuk tidak memperdulikan sekitar, apapun yang orang katakan, apapun yang orang tanyakan, kamu bisa mengabaikannya. Terkadang ada momen dimana kita boleh mengabaikan sesuatu yang ingin kita hindari. Terkadang orang yang bertanya padamu mungkin berpikir sepertinya, dia tidak peduli, dia hanya penasaran, ataupun dia menunggu. Sama seperti tadi saya bertanya, ‘Kenapa kamu membenci orang tua kamu?’. Lalu saya berkata, ‘Kamu tidak perlu memaksa untuk bisa mendapat jawaban,’. Yang ada di dalam pikiran saya. ‘Ah … orang ini mungkin memang tidak tau jawabanya, cobalah untuk menunggu’. Begitu juga dengan orang yang hanya penasaran tentang keadaan kamu. Mungkin dia hanya tidak memiliki topik pembicaraan lain, jika kamu menolak untuk menjawabnya, mungkin beberapa saat dia hanya bingung, lalu setelahnya dia akan lupa dengan apa yang di katakan padamu.” ujar Dokter dengan perlahan-lahan membuat Arin tertegun mendengarnya.


“Jadi … cobalah untuk tidak terlalu memperdulikan omongan orang yang hanya sekedar lewat di dalam hidup kamu. Jangan buat kata-kata mereka menjadi sebuah senjata untuk diri kamu sendiri. Walau ini tugas yang sulit, tapi kamu sudah satu langkah lebih dekat untuk mencintai diri kamu sendiri. Jadi tetap semangat.” ujarnya.


“Apa dokter punya teman yang menerima dokter apa adanya?” tanya Arin.


“Tentu saja ada. Teman seperti itu. Walau saya seorang dokter yang memang ditugasnya untuk mendengarkan orang lain, saya juga manusia yang memiliki keluh kesah, luka dan kelemahan. Tapi berkat dukungan mereka saya bisa menjadi sosok yang kamu lihat saat ini …, itu juga berlaku untuk kamu. Emm … bagaimana kita sudah sesi untuk hari ini, semoga di pertemuan selanjutnya kamu mulai bisa bersikap untuk mementingkan diri kamu sendiri dibandingkan orang lain, apa kamu bisa?” tanyanya.


“Iya. Saya bakal mencobanya. Terima kasih untuk hari ini, dokter.” ucap Arin sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Iya. Terima kasih kembali. Kamu hati-hati di jalan ya …,”.


“Iya … permisi …,” ucap Arin yang kemudian berjalan keluar dari ruangan.


***


Menekan tombol kata sandi rumahnya — melangkah masuk ke dalam apartemen yang kemudian ia langsung disambut oleh Haru yang ternyata sudah lebih dulu pulang kerumah.


“Udah pulang?” tanya Haru yang terlihat mengenakan apron.


“Iya. Kamu lagi apa?” tanya Arin.


“Lagi cuci piring,” jawab Haru.


“Ah … iya aku lupa cuci piring. Biar aku yang  lanjutin …,” ucap Arin yang bergegas ingin berjalan ke dapur, tapi Haru langsung mencegahnya.