
Pembicaran Antara Anak dan Ibu
“Aneh aja … pokoknya kadang sikapnya suka abnormal gitu. Agak susah dijelasin sih, tapi … kayak gini aja. Dia tidur kayak beruang yang lagi hibernasi. Atau tiba-tiba menjadi orang yang rajin banget, beres-beres seperti orang gila kebersihan. Yang lebih aneh lagi, dia pernah menyakiti dirinya sendiri.” ucap Anna dengan rasa berat hati untuk mengatakan hal ini pada orang lain. Sesungguhnya satu hal ini hanya Anna yang mengetahuinya, bahkan kakaknya saja tidak tahu jika dirinya pernah melihat Arin melukai pergelangan tangannya. Hanya saja saat itu dirinya tidak tahu harus bagaimana dan hanya bisa melihat dari kejauhan.
Seketika Haru terdiam setelah mendengar kalimat terakhir dari mulut Anna. Kini ia sadar jika besar luka yang sudah samar itu adalah bekas luka yang dilakukan oleh Arin sendiri. Rasanya hatinya hancur saat mendengarkan itu. Namun tak ada yang bisa ia lakukan karena itu sudah terjadi di waktu yang lama.
“Tapi belakangan ini dia jauh lebih baik. Yah … walau masih agar aneh, tapi dia udah nggak pernah nyakitin dirinya sendiri ataupun minum obat tidur.” ucap Anna sambil kembali melahap dengan satu suapan besar hingga mulutnya menjadi penuh.
“Makannya pelan-pelan …” ucap Haru sambil menuangkan air kedalam gelas Anna.
“Terima kasih ya, karena kamu udah mau berbagi cerita tentang Arin.” ucap Haru.
“Aku nggak keberatan, karena kak ipar udah traktir aku makan enak, hehe …” ucap Anna sambil terkekeh.
“Kalau kamu mau makan di luar. Hubungan kakak saja, nggak perlu sungkan.” ucap Haru.
“Iya …”.
***
Seharian hanya tertidur membuat Arin kelaparan, ia memesan dua burger dan nasi dengan ayam chicken tak lupa ia juga memesan dua gelas soda yang akan ia habiskan sendirian sembari menonton drama korea yang saat ini sedang ia sukai.
Saat Arin sedang fokus menikmati makan malamnya, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Arin sedikit merasa jengkel. Terlihat panggilan dari ibunya yang entah ada angin apa dengan tiba-tiba menghubunginya. Awalnya Arin enggan untuk menjawab panggilan tersebut, tapi pada akhirnya Arin menjawabnya dengan mode speaker.
“Iya, hallo. Kenapa nelpon?” tanya Arin dengan nada yang sinis.
“Mama cuman mau dengar kabar kamu,” ucapnya.
“Aku sama Anna baik-baik aja, mama nggak usah khawatir.” jawab Arin.
“Arin … mama tau sampai saat ini kamu masih marah, tapi bisakan besok kamu luangin waktu buat kerumah,” ucapnya.
“Emangnya ada apa?” tanya Arin.
“Mama cuman mau ngobrol sama kamu, sebentar saja … boleh ya?” tanya dengan nada yang membuat hati Arin merasa terenyuh.
“Iya. Besok aku kerumah.”
“Ya sudah, kalau begitu. Assalamualaikum …”
Sambungan pun terputus. Arin terdiam beberapa saat setelah obrolan singkat yang terasa sedikit mengganjal hati dan pikirannya. Sikap dan nada bicara ibunya terdengar tidak seperti biasanya. Membuat Arin merasa khawatir jika terjadi sesuatu di rumah disaat dirinya tidak ada di sana.
***
Hubungan yang renggang membuat Arin dan Ibunya terlihat begitu canggung. Sudah hampir 15 menit mereka duduk di rumah tengah hanya berdiam tanpa mengatakan apapun. Arin hanya sibuk dengan ponselnya dan ibu hanya diam seakan ingin mengatakan sesuatu namun tidak tahu bagaimana harus memulainya.
“Ahh … aku lupa, Kak Haru minta daftar nama tamu undangan yang mau mama undang.” ucap Arin dengan nada yang dingin.
“Iya mama sudah dengar dari mamanya Haru. Ibu dengar kamu nggak bakal ngundang banyak orang dan melangsungkan pernikahan dengan sederhana?” tanya Ibu.
“Iya. Aku yang minta untuk dibuat sesimple mungkin dan sesingkat mungkin. Aku juga yang minta agar tamu undangan terbatas. Aku tidak menyukai banyak orang berkerumunan … dan syukurnya Kak Haru bisa setuju saran aku,” ujar Arin.
“Kamu nggak mau bikin dengan adat atau mengadakan pengajian terlebih dahulu …?” tanya Ibu.
“Nggak. Itu merepotkan.” jawab Arin.
“Iya … tapi ini kan pernikahn kamu sekali seumur hidup, seharusnya dibuat dengan sesempurna mungkin agar kamu gak dibicarakan orang dibelakang. Keluarga Haru ‘kan kaya, dia pasti memiliki banyak tamu undangan, kalau kamu meminta untuk dibuat sesederhana mungkin dan tidak mengundang banyak orang itu sama saja kamu merendahkan diri di pihak laki-laki, kamu ‘kan perempuan …” ucap Ibu lagi-lagi tanpa sadar mengatakan hal yang berbeda pemikiran dengan anaknya.
“Ini pernikahan aku, aku nggak peduli orang mau bilang apa? Kenapa ibu peduli banget apa kata mereka, memang mereka yang menghidupi hidup mama selama ini …?!” ucap Arin dengan nada emosi.
“Maksud mama bukan begitu … dengerin dulu makanya, jangan asal serobot dengan pemikiran kamu saja. Pernikahan ‘kan menyangkut dua keluarga jadi tidak bisa mengambil keputusan sendirian …,” ucap ibu.
“Aku datang kesini bukan mau berdebat sama mama, jadi aku mohon mama jangan membahas tentang pernikahan aku. Pernikahan biar aku dan Kak Haru yang mengurusnya semua.” ucap Arin.
“Kamu itu egois sekali jadi anak. Ibu mana yang mau melihat anaknya diperlakukan seenaknya. Kamu itu ‘kan perempuan, harus lebih bisa mendapatkan hak buat minta.” ucapnya tampak terlihat mulai meneteskan air mata membuat Arin tidak bisa mengelak perkataannya lagi.
“Mama salah. Kau sudah bilang semua yang aku katakan tadi … itu semua kemauan aku, bukan di paksa oleh siapapun. Jadi aku mohon ibu jangan berpikiran jika keluarga Kak Haru memperlakukan aku seenaknya, ini pernikahan aku, jadi aku berhak mau membuat pernikahan aku seperti apa.” ucap Arin dengan tegas sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pergi, assalamualaikum.” ucap Arin yang kemudian berjalan pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang tampak terhenyak sedih.
dengan perasaan kesal akan sikap ibunya yang sama sekali tidak pernah dan seperti tidak akan bisa berbuah membuat Arin merasa jengkel dan tidak tahan. duduk di sebuah halte bus sendirian, mencoba untuk menenangkan dirinya.
Perasaan kesal itu membuat Arin tidak bisa menahan air matanya, ia merasa marah pada dirinya sendiri dan bersalah karena lagi-lagi mengatakan hal yang menyakiti perasaan ibunya. Bagaimanapun ucapan ibu tidaklah salah jika dilihat dari sudut pandang seorang ibu. Namun dirinya terlalu terbawa suasana hingga menghancurkan semua.
Arin berusaha keras untuk menahan dirinya agar tidak menangis, bahkan air mata yang jatuh pun langsung dihapus agar tidak membasahi pipinya. Harga dirinya tidak bisa membiarkan dirinya kembali menangis karena sebuah pertengkaran.
Tiba-tiba sebuah mobil putih mewah berhenti di depannya membuat Arin terdiam beberapa saat hingga seorang pria yang keluar dari mobil, berjalan menghampirinya. Tak disangka pria itu adalah Haru yang kini sudah berdiri di hadapannya.