
Percakapan Dua Sahabat (2)
“Eung … ada.” jawab Arin.
“Apa itu? Cerita aja …,” ucap Yuli.
“Apa gue boleh bilang …?” tanya Arin.
“Iya boleh dong,” ucap Yuli.
“Kalau gue cerita, kayaknya gue keliatan orang yang suka ngeluh deh … padahal lo pasti punya banyak masalah, nggak usah deh! Gue bisa selesainya sendiri,” ucap Arin menarik kembali niatnya untuk menceritakan tentang kemunculan orang yang paling ditakuti.
Yuli menghela nafas mendengar ucapan yang lagi-lagi menganggap dirinya sendiri dan tidak mau merepotkan orang lain. “Terus buat apa gue jadi sahabat lo, kalau lo aja masih kalau nggak mau gue direpotkan karena masalah! Buat apa gue jadi sahabat lo bertahun-tahun kalau masih ngerasa sendiri!!” ucap Yuli yang lagi-lagi merasa emosional.
“Iya iya … gue bakal cerita, jangan marah lagi …,” ucap Arin mencoba membujuk Yuli yang merajuk padanya. Rasanya sungguh berat harus menceritakan hal ini, lebih tepatnya ia merasa malu jika harus terus menunjukan sisi kelemahannya pada Yuli walau dia seorang sahabat yang mau menerima dirinya dengan apa adanya.
Namun tanpa sepengetahuan Arin, diam-diam Yuli menyalakan ponselnya dan menelepon Haru — panggilan mulai tersambung saat Arin mulai bercerita. Ponsel itu dibiarkan tergeletak di samping pahanya, membiarkannya begitu saja agar Haru bisa ikut mendengar apa yang sedang Arin coba tutupi.
“Gue ketemu lagi sama dia …,” ucap Arin.
“Siapa …?”.
“Susan …” ucap Arin dengan ragu. Lantas Yuli langsung tertegun mendengarnya. Dirinya kini bisa mengetahui alasan kenapa tiba-tiba Hara menjadi sakit walau dirinya belum sepenuhnya mengetahui tentang pertemuannya Arin dengan Susan.
“Gue takut banget dia kenal sama gue pas gue lagi antar pesanannya dia. Huff … dia benar-benar menjadi orang sukses sekarang … ini sungguh ironis …,” ucap Arin yang kemudian terdiam bergumul dengan perasaan yang kusut.
“Gue tau kalau gue ngomong kayak gini, kedengarannya gue cuman ngeluh. Tapi … padahal gue udah kerja keras, sampai rasanya mau mati. Tapi kenapa gue ngerasa hidup gue tuh, kayak berjalan di tempat. Di saat orang-orang tanda sukses, tambah kayak, punya perubahan yang signifikan dalam hidupnya, tapi gue …” ungkap Arin kembali terdiam dalam penyesalan.
“Huff … lucu ‘kan? Gue kenapa sih …? Gue juga butuh ketenangan, makanya gue keluar kerja. Tapi semua saja aja …” ucap Arin.
“Itu bisa saja terjadi. Nggak apa, emang kenapa dengan hidup lo? Dunia ini benar-benar kejam …” ucap Yuli mencoba memberikan sedikit penyemangat, dirinya tidak ingin berkomentar atau memberikan nasihat kepada Arin yang saat ini hanya perlu didengarkan dan hanya ingin ada yang perhak kepadanya.
“Gue itu tau seberapa keras lo bekerja mencari uang. Gue tau lebih dari siapapun, lo berjuang di dunia yang kejam ini, maka dari jangan berpikir lo sendiri, liat … sehancur apapun diri, seburuk apapun diri, seindah apapun diri lo, gue masih duduk disamping lo … iya’ kan?” ucap Yuli sambil menggenggam kedua tangan Arin yang terasa begitu dingin. “Tangan kenapa dingin, nggak apa. Gue bisa menghangatkannya,” ucap Yuli sambil memberikan senyuman yang cerah agar menular pada Arin yang perlahan mulai tersenyum.
***
Tut …
Sambungan pun terputus.
Haru tertegun setelah mendengar cerita Arin bakat rencana Yuli. Ia sungguh tidak percaya begitu besar beban yang Arin tanggung hingga membuatnya mengatakan hal-hal yang membuat hatinya seakan tertusuk. Alasan terbesar Arin tidak ingin terbuka dengan dirinya karena mungkin di mata Arin dirinya masih orang asing tidak seperti Yuli.
Haru termenung memikirkan bagaimana dirinya bisa membuat Arin bisa menjalani kehidupan yang tenang seperti yang diinginkan oleh Arin sendiri. Kondisi Arin saat ini benar-benar tidak stabil dan membutuhkan tenaga profesional yaitu psikiater. Namun bagaimana dirinya bisa membujuk Arin agar mau menjalani terapi tersebut.
Haru menghubungi seseorang lewat telepon kantor. “Bisa ke ruangan saya,” ucap Haru.
“Ada apa, Pak?” tanya Dimas.
“Saya butuh bantuan kamu lagi, bisa ‘kan?” tanya Haru.
“Iya, tentu saja bisa,” jawab Dimas.
***
Hari dimana Arin bekerja karena memang dia memiliki hari libur. Lagi-lagi Arin tidur seperti orang yang sedang hibernasi, dimana ia baru terbangun di jam 3 sore. Melewatkan sarapan dan juga makan siang. Berjalan dengan penampilan yang sangat berantakan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Satu botol berukuran 1 liter langsung habis dalam sekali tegukkan. Sungguh aneh tapi nyata. Rasanya sungguh malas melakukan apapun, padahal cucian baju numpuk. Jika bukan karena rasa lapar, Arin juga merasa malas makan.
Acara televisi atau drama yang biasanya menyenangkan, tiba-tiba semua menjadi membosankan. Hanya berbaring di sofa dengan tatapan kosong.
Akhirnya Arin memutuskan untuk berjalan ke teras rumah. Melihat langit yang masih tampak begitu cerah. Hembusan angin yang perlahan masuk ke dalam setiap sel otaknya, membuat Arin mulai merasa tenang.
***
Haru dan Yuli saling duduk berhadapan di sebuah kafe dengan wajah yang begitu serius. Tampaknya Haru memang membutuh bantuan orang lain untuk membantu penyembuhan Arin.
"Baiklah. Akan aku coba bicarakan dengan dia," ucap Yuli.
"Terima kasih banyak," ucap Haru.
"Aku pun juga berterima kasih karena mau benar-benar peduli pada Arin. Seperti Arin akan bahagia satu langkah sama kamu, Haru. Aku percayakan Arin pada kamu," ujar Yuli.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Haru merasa ragu
"Ya, tentu saja. Silahkan,"
"Siapa wanita yang bernama Susan?" tanya Haru dengan wajah serius.
“Jadi kamu sudah dengar? Susan … dia orang yang pernah buat Arin mengalami trauma masa kecil dan aku rasa trauma itu dibawa sampai dia dewasa. Aku emang nggak pernah melihat dia secara langsung, tapi aku pernah melihat fotonya. Rasanya ingin sekali aku tampar mukanya,” ucap Yuli mencoba menahan emosi. Entah mengapa ia selalu kesal jika menyangkut masalah orang yang bernama Susan.
“Kamu tau apa yang paling kejam. Waktu kecil Arin pernah nggak mau berangkat ke sekolah karena takut, mamanya nggak tau alasan kenapa Arin bersikap seperti itu hingga ia menarik Arin seperti hewan hingga sampai kelas. Bukankah itu sangat kejam. Selama hidupnya dia menyimpan luka itu, bahkan keluarganya pun tidak ada yang tahu, hingga akhirnya Arin mau cerita hal itu sama aku. Lo bayangin anak umur 10 tahun diperlakukan seperti itu? Haff …” Yuli yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena air matanya mulai merembes karena emosi.
“Apa dia orangnya …?” tanya Haru sambil menyodorkan sebuah foto pada Yuli.
“Iya benar. Tapi bagaimana kamu bisa tau?” tanya Yuli.
“Saya mencoba mencarinya. Kamu nggak usah khawatir, masalah Susan biar saya bereskan. Kamu cukup jaga Arin dan buat dia mau menjalani pengobatan.” ungkap Haru sambil meletakkan kembali foto itu ke dalam saku jasnya.
“Baiklah. Aku paham.”