
Memahami Luka
"Belanjaan lo banyak banget, tapi lo sendirian. Suami lo dimana?" tanya Ardan.
"Dia masih kerja." jawab Arin.
"Lo yakin bisa bawa belanjaan sebanyak ini sendirian? Kalau lo nggak keberatan biar gue antar, bagaimana?" tanya Ardan mencoba menawarkan dirinya.
"Nggak perlu. Gue udah pesan ojek online, itu sudah sampai mobilnya!" ucap Arin sambil menunjuk mobil yang berhenti di depannya. Arin bergegas mendorong troli belanjaannya. Tak lam sang supir ojek keluar dari mobil membantu Arin memasukkan barang belanjaan miliknya ke dalam bagasi.
Tidak tega melihat Arin yang kesulitan, Ardan segera membantu Arin. Namun tampaknya Arin langsung menghindar darinya. Ardan menyadari jika tampaknya Arin benar-benar tidak nyaman dengannya. Namun Ardan mencoba untuk memberikan jarak, karena ia hanya berniat untuk membantu Arin saja.
Ardan terdiam sambil memandangi mobil yang ditumpangi Arin melaju pergi. Mencoba untuk memahaminya posisi Arin yang memang wajar jika menjaga jarak dengannya tidak seperti dulu lagi. Benar. Arin bahkan kini sudah memiliki seorang suami yang sangat hebat. Dirinya pun sudah lama memiliki keluarga sendiri. Sikap yang ditunjukan Arin bukan menghindar atau tidak nyaman, melainkan rasa sopan dan menghargai satu sama lain. Ardan mencoba meyakinkan pikiran itu di dalam benaknya.
***
Jaraknya dengan apartemen hanya tinggal beberapa meter lagi. Wajah Arin tampak tersenyum saat melihat sosok Haru yang ternyata benar-benar menunggunya di depan gerbang pintu masuk apartemen. Mobil pun berhenti. Dari luar Haru membukakan pintu untuk Arin yang kemudian melangkah turun.
“Aku kita kamu langsung masuk ke dalam,” ucap Arin.
“Gimana aku tega ninggalin kamu yang habis belanja banyak,” ucap Haru sambil menutup pintu kembali.
Tak lama sang supir membukakan pintu bagasi belakang dan mulai membantu mengeluarkan semua barang belanjaan Arin yang begitu banyak. Berjalan bersama-sama ke dalam apartemen. Arin sungguh takjub dnegan kekuatan Haru yang bisa membawa empat kantong plastik besar di kedua tangannya. dan satu kantongnya Arin bawa sendiri.
“Sini … biar aku bantu.” ucap Arin merasa tak tega melihat Haru yang membawa banyak barang.
“Nggak perlu. Aku bisa … tolong pencet lift nya,” ucap Haru saat sampai di depan lift — sambil mengedikkan dagunya ke arah tombol lift.
“Ahh! Iya …,” ucap Arin yang sontak langsung menekannya.
***
Haru baru saja selesai mencuci piring setelah makan malam bersama dengan Arin yang saat ini sedang bersantai menonton acara di televisi. Melihat penampakkan kepala Arin dari belakang, terlihat sangat menggemaskan membuat Haru tak bisa berhenti melihatnya. Mengambil dua botol kaleng soda — berjalan menghampiri Arin.
“Lagi nonton apa?” tanya Haru yang duduk di samping Arin, tapi ia memberikan jarak agar tidak membuat Arin tidak nyaman.
“2 Night 1 Day, acara reality show korea. Seruloh …!” ucap Arin.
“Ahh … begitu ya. Mau cola?” tanya Haru sambil menyodorkan sekaleng cola.
“Kamu menyukai acar-acar seperti ini?” tanya Haru.
“Eung! Acara Korea itu seru-seru dan bervariatif, jadi seru aja buat ngisi waktu santai,” ujar Arin tanpa sadar begitu bersemangat, tapi ia langsung murung saat mengingat bahwa tak sedikit orang yang tidak menyukai Korea, begitu juga dengan Haru yang mungkin saja tidak menyukainya.
“Maaf … tanpa sadar aku terlalu bersemangat kalau ada yang bahas tentang Korea. Mau ganti acara yang lain?” tanya Arin sambil bergegas mengambil remot televisi.
“Nggak perlu. Aku juga mau tau … biarkan saja …,” ucap Haru.
Arin terdiam beberapa saat menatap Haru yang tampaknya tak begitu serius saat menontonnya. Tidak kebanyakkan orang yang ia kenal, jika sudah mendengar Korea tidak lain mereka hanya sibuk menghakimi saja. Namun berbeda dengan Haru, dia bahkan tidak menunjukkan adanya paksaan, dia benar-benar menikmatinya. Bahkan beberapa kali Arin bisa melihat Haru yang tersenyum setiap ada adegan lucu yang keluar dari sana.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Arin.
Sambil menoleh ke arah Arin. “Mau tanya apa?” tanya Haru.
“Kamu sama sekali merasa nggak takut atau nggak nyaman dekat-dekat sama aku?” tanya Arin.
Sontak Haru tertegun mendengarnya.
“Kebanyakkan orang yang sudah tau kelemahanku mereka satu persatu menjauhkan aku. Aku ini orang yang penuh dengan luka, bahkan aku bisa menyakiti orang-orang di sekitar aku … kamu nggak takut?” tanya Arin.
Haru terdiam sambil memikirkan satu jawaban yang mungkin bisa menjawab pertanyaan yang tampaknya membuat Arin selama ini menderita karena kesepian.
“Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu juga nggak takut sama aku?” tanya Haru.
Lantas Arin bingung dengan Haru yang malah balik bertanya padanya. “Kenapa aku harus takut? Walau aku belum mengenal kamu lama, tapi aku yakin kamu orang baik,” ucap Arin.
“Begitu juga dengan kamu. Kenapa aku harus takut sama kamu? Kamu juga orang yang baik. Yah … walau sedikit ceroboh … tapi nggak apa-apa, aku suka membantumu,” ungkap Haru dengan begitu lembut hingga sampai menyentuh perasaan Arin yang telah lama membeku.
“Aku pernah baca buku dari penulis Geulbaewoo, di bukunya tertulis, ‘semakin sering seseorang terluka, akan semakin sulit bagi orang lain untuk berpihak padanya. Namun, jika kamu bisa bertindak menjadi orang tersebut maka kesepiannya akan lenyap. Karena ia menganggap kamu berpihak kepadanya. Itu berarti kita berada di pihak yang sama.” ungkap Haru membuat suasana menjadi begitu hangat mengharu. Hara terdiam dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca mendengar kalimat yang begitu indah dan seakan memeluknya dengan sangat erat.
“Jangan anggap dirimu buruk dan jangan biarkan orang lain mempengaruhimu hingga membuatmu bersikap keras pada dirimu sendiri. Menjadi orang yang menderita dan memiliki banyak luka itu tidak dosa dan tidak ada yang bisa disalahkan. Cukup dengan terima luka itu dan biarkan dirimu sendiri yang mencari penyembuhan. Aku pernah dengar, waktu bisa menyembuhkan luka. Itu benar. Walau bakal memakan waktu sampai seumur hidup, tapi tidak ada salahnya untuk mengasihani diri sendiri bersama dengan waktu.” ujar Haru.
Seketika air mata Arin yang tertahan tumpah — menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua luka dan beban yang selama ini ia memendamnya seorang diri. Haru yang melihat wanita yang menangis di depannya, hatinya terasa tercabik-cabik. Tanpa berpikir panjang, Haru memberikan sebuah pelukan untuk menenangkan Arin — membiarkannya menangis tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.
“Nangis aja … nggak apa-apa, nggak apa-apa … ada aku disini …,” ucap Hara sambil memberikan mengelus kepala Arin layaknya bagaikan anak kecil yang sedang menangis.