
Bab 16 - Debaran Yang tidak Diduga.
Jantung berdebar cepat saat Arin mulai mendekat ke arahnya. Haru segera menyadarkan dirinya sendiri, sebelum Arin melihatnya. Dengan pekanya, Haru langsung meraih tangan Arin untuk membantunya untuk lebih mendekat, lantaran Arin tampak kesulitan dengan gaun yang dikenakannya.
“Hati-hati …” ucap Haru.
“Makasih …, kamu kapan datang, aku nggak lihat kamu datang?” tanya Arin.
“Tadi saat kamu lagi fitting baju aku tiba. Maaf terlambat …,” ucap Haru.
“Nggak apa. Kamu ‘kan memang lagi sibuk. Nggak usah dipikirkan.” ucap Arin.
“Sekarang … kita bisa mulai ya!!” ucap seorang fotografer yang terlihat bersemangat. “Kita mulai dengan pose pertama … kalian silahkan saling mendekat, untuk pengantin pria tolong rangkul pinggang pengantin wanitanya dan tolong sedikit dekatkan wajah kalian,” ucapnya.
Rasanya memang sangat canggung untuk mereka lakukan. Namun mereka harus tetap bersikap profesional agar tidak menimbulkan kecurigaan akan hubungan mereka. dengan berpikir cepat, Haru mulai mengikuti arahan dari sang fotografer. Tangannya dengan lembut meraih pinggang kecil Arin yang sontak terkejut. Ini pertama kalinya Arin bersentuhan dengan seorang pria.
Sambil mendekatkan wajahnya ke arah telinga Arin. “Maaf ya … tapi kamu bisa menahannya ‘kan? Kita harus bersikap seakan-akan kita beneran pasangan,” bisik Haru.
Arin hanya menegakkan kepalanya dan tetap tersenyum. Benar. Dirinya harus bersikap layaknya pasangan yang sesungguhnya. Semua menjadi hampa saat mengetahui fakta jika apa yang saat ia lakukan hanya sebuah sandiwara dan tidak ada satu persen pun sebuah perasaan yang tulus. Dirinya harus bersikap realistis. Hanya karena mendapatkan beberapa pujian membuat Arin menjadi lupa akan tujuan utamanya.
Raut wajah Arin berubah menjadi sangat serius setelah dirinya mengatakan kalian yang realistis. Sungguh didalam lubuk perasaan ia ingin sekali mengatakan, “Hari ini kamu sangat cantik”. Namun dirinya tidak bisa mengatakan hal yang tidak ada di dalam kontrak. Haru harus mengendalikan dirinya disaat Arin mulai bersikap profesional. Rasanya sangat sulit untuk berpura-pura disaat jantung dan matanya tidak dapat berbohong.
Pemotretan berjalan dengan sangat lancar atas kerja sama antara dan kemistri yang diciptakan oelh Arin dan Haru. Setelan mengganti baju, Arin berjalan menghampiri Haru yang sudah menunggunya di lobby. Haru tampak begitu sibuk dengan ponselnya hingga tak menyadari jika Arin sudah berdiri dihadapannya.
“Ayo, aku sudah selesai!” ajak Arin.
“Oh! Iya …,” ucap Haru sontak beranjak dari sofa. “Sebelum pulang, mau makan malam dulu diluar?” tanay Haru.
“Nggak usah. Aku mau langsung pulang.” tolak Arin dengan dingin membuat Haru terdiam beberapa saat menyadari perubahan sikap Arin setelah pemotretan.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Ayo …” ajak Haru sambil berjalan duluan dengan perasaan yang sedikit tertekan dan serba salah.
Di sepanjang jalan Arin hanya terdiam dengan wajah yang suram membuat Haru merasa khawatir jika dirinya telah menyakiti perasaan Arin akan perkataannya tadi. Beberapa kali Haru menoleh ke arah Arin untuk memastikan keadaannya, tapi Haru tidak berani untuk bertanya.
***
Arin langsung membuka matanya seakan terbangun dari mimpi panjang. Hari sudah tampak sore, tapi Arin baru saja bangun dari tidur panjang setelah hari pemotretan. Ia benar-benar langsung tertidur pulang seperti orang yang terkena obat bius. Energinya terkuras habis karena bertemu banyak orang dan berakting didepan banyak orang itu sungguh menguras tenaganya hingga akhirnya Arin tidur hampir 20 jam tanpa makan dan minum.
Arin melihat ponselnya yang menunjukkan pukul 5 sore. Perutnya mulai merasa lapar dan tenggorokan terasa kering. Tidur terlalu lama tidak membuat badan kembali berenergi. Arin terbangun dan menghela nafas saat melihat betapa berantakan kamarnya dengan baju-baju yang berserakan. Ia barun teringat jika telah meninggalkan rumah tanpa beberes terlebih dahulu membuatnya menyesal.
Beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur, sebelum dirinya dehidrasi ia harus minum banyak air. Satu botol air ukuran 250 ml pun langsung habis dalam sekejap.
“Ahh … segeranya,”
Arin kembali melamun beberapa saat lantaran otaknya belum bisa bekerja sepenuhnya. Kemudian Arin menyadari jika ruangan tengah tampak sudah rapi, karena seingatnya bahkan ia belum sempat membuat sisia makan di atas meja. Tapi sekarang didepan matanya begitu rapi dan bersih.
“Anna …! Anna!!” sahut Arin sambil membuka pintu kamar Anna yang terlihat sepi, tidak ada siapa-siapa di sana. Arin terdiam mematung beberapa saat. “Loh! Dia pergi kemana?” tanya Arin.
Terlintas di pikirannya untuk segera menghubungi adiknya. Sambungan memang terhubung, tapi Anna tak kunjung menjawab panggilan darinya.
“Iya, halo …,”
“Halo?! Lo dimana?” tanya Arin.
“Lagi makan bareng kakak ipar. Kak Arin baru bangun?” tanya Anna.
“Kok lo bisa sama dia?” tanya Arin.
“Bisalah. Tunggu!! Jam segini kakak baru bangun? Kak Arin abis mati suri apa?” tanya Anna terheran-heran.
“Lo yang beresin ruang tengah?” tanya Arin yang mengalihkan pembicaraan.
“Iyalah. Dasar kebiasaan, ninggalin rumah udah kaya abis kemalingan. Udah nggak ngasih kabar, untuk tadi kakak ipar yang bantan buat beres-beres.” ujar Anna sontak membuat Arin terkejut.
“Apa lo bilang tadi? Gue nggak salah dengar? Kenapa tiba-tiba dia bantuin lo beres-beres? Jadi dia ke rumah tadi?” tanya Arin — terkejut tidak percaya.
“Iyalah, masa aku bohong. Dia bantuin aku beres-beres pas kakak masih tidur.” ucap Anna.
Seketika kaki Arin lemas mendengarnya. Sungguh memalukan. Sekali lagi sisi buruknya telah diketahui oleh Haru. arin langsung mematikan ponselnya dan terduduk dengan menahan rasa malu yang tidaka akan pernah bisa dilupakan.
“HAAAAA!!!”
***
“Tadi itu kakak kamu?” tanya Haru sambil duduk kembali di bangkunya setelah pergi dari toilet.
“Iya. Dia baru bangun katanya.” jawab Anna sambil meletakkan ponselnya. Lalu ia melanjutkan makannya yang tertunda karena panggilan masuk dari kakaknya tadi.
Setelah membereskan rumah, Haru mengajak Anna ke sebuah restoran untuk makan bersama sekaligus untuk membangun hubungan baik dengan calon adik iparnya. Walau niat sebenarnya, Haru ingin mencari informasi mengenai Arin melewati adiknya.
“Apa dia sering tidur dengan waktu yang panjang?” tanya Haru.
“Iya. Dia dari dulu sering begitu. Bahkan dia pernah tidur 26 jam, sampai-sampai mama bawa kakak di UGD. Ehh … ternyata sampai di sana dia bangun dari hibernasinya.” ungkap Anna.
“Sejak kapan dia begitu?”.
“Entahlah, aku juga nggak terlalu ingat. Tapi kalau nggak salah setelah dua tahun kakak bekerja, sikapnya mulai jadi aneh.” ucap Anna sambil melahap sesuap pasta.
“Kalau aku boleh tau, sikap aneh nya seperti apa?” tanya Haru dengan hati-hati agar tidak membuat Anna merasa tertekan.