The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 27 Pusat Perhatian



Pusat Perhatian


“Tapi serius lo udah nikah, Rin?” tanya Intan salah satu teman sekelasnya, dulu memang ia tidak terlalu dekat dengannya, tapi semua temannya itu sangat ramah padanya yang sangat pendiam sejak sekolah.


“Iya …,”  jawab Arin sedikit merasa malu-malu karena dirinya tiba-tiba menjadi pusat perhatian, hal yang paling tidak ia sukai. Mungkin pertanyaan mereka hanyalah basa-basi, tetapi sesungguh Arin tidak ingin terlalu ingin membahas tentang kehidupannya.


“Jadi penasaran sama suami lo, Rin.” ucap Intan.


“Ganteng kok, gue ngeliat di instastory adiknya. Cuman emang kurang terlalu jelas, mukanya juga kayak pernah liat tapi … dimana gitu,” ucap Mawar.


“Arin …!! Ada yang nyariin lo!!” saut salah seorang cowok yang bernama Ardi, teman sekelasnya yang berdiri didekat pintu masuk.


Lantas membuat Arin langsung beranjak dari tempat duduk dengan bingung. Kedua mata Arin terbelalak kaget saat melihat Haru yang berdiri di depan pintu masuk kafe membuat semua mata tertuju padanya. Mereka tampak terpesona melihat Haru yang berjalan mendekati meja Arin.


“Permisi, maaf mengganggu …” ucap Haru dengan sopan membalas sapaan orang-orang disekitarnya.


“Dia siapa, Rin?” tanya Mawar.


Belum sempat Arin menjawab tiba-tiba ada yang bertanya langsung pada Haru. “Maaf kamu siapanya Arin?” tanya Intan.


“Ah … kenalkan saya suaminya Arin.” ucap Haru dengan penuh percaya dirinya sontak membuat para wanita teman sekelasnya terkejut dan saling berbisik jika mereka tak percaya Arin memiliki suami yang sangat tampan.


“Tapi kok, mukanya kayak nggak asing. Apa kamu artis?” tanya salah satu dari mereka.


“Bukan. Saya seorang pengusaha …” jawab Haru dengan sungkan.


“Oh!! Bukannya kamu Haru Ardiansyah itu bukan? Pengusaha bisnis termuda yang belum lama ini dapat penghargaan dari presiden?” celetus salah satu dari mereka yang tak disangka mengenali identitas Haru.


“Oh, bagaimana anda bisa tahu. Ya itu saya.” jawab Haru.


Sontak kembali membuat mereka terpukau akan Haru.


“Sini … sini! Duduk di sini!!” ajak Mawar yang menyuruh Haru untuk duduk di samping Arin yang sejak tadi hanya diam.


“Wah … nggak nyangka Arin punya suami sekeren dia,” ucap Intan.


“Maaf ya … kamu nggak nyaman ya?” bisik Haru.


Mereka saling berbisik di tengah-tengah obrolan mereka yang sedang membahas tentang kesuksesan Haru. Tidak disangka ternyata memang Haru sangat terkenal padahal dia bukan seorang artis dan dengan ramahnya Haru menanggapi setiap perkataan dan pertanyaan mereka hingga membuat pusat perhatian kini hanya tertuju pada Haru bukan Arin yang kini bisa merasa lebih lega.


Di saat Haru sedang mengobrol kini Arin bisa dengan mudah menikmati makanan yang ada di atas meja. Entah mengapa kehadiran Haru membuatnya jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. Bahkan untuk menelan air saja sulit karena terlalu gugup.


Arin mencoba meraih makannya yang cukup jauh dari jangkauannya, tapi dengan pekanya walau sedang berbicara tangan Haru dengan cepat mengambil makannya yang ingin diambil olehnya dan meletakkan makannya itu di atas piring Arin.


“Thank you …” bisik Arin — tersenyum senang melihat ke arah Haru yang tetap fokus berbicara. Arin hanya diam memakan makannya sambil mendengarkan Haru mengobrol dengan teman-temannya mengenai bisnis. Tentu saja itu karena Arin tidak mengerti tentang bisnis.


Namun tanpa Arin sadari, Ardan yang duduk di depannya terlihat diam-diam memperhatikan Arin. Hanya saja ia mulai menjaga jarak saat ia mengetahui jika Arin sudah memiliki suami dan dia ada disampingnya saat in. Bahkan saat Arin ingin mengambil makannya dan tangannya tidak sampai tadi, Ardan menyadarinya dan ingin membantu, tapi dirinya kembali menarik tangannya saat suaminya, Arin dengan peka mengambilkan makannya itu untuk Arin. Sebuah momen yang membuat Ardan tertegun dan juga sedikit insecure melihat suaminya, Arin yang begitu keren.


Tidak hanya sekali Haru membantu Arin mengambilkan makanan. Bahkan Haru bisa menyadari saat Arin tak sengaja menjatuhkan makan atau saat bibirnya belepotan karena makannya, walau mata dan mulutnya tampak tak terfokus padanya tapi Haru dengan cepat memberikan Arin tisu atau memberikan makannya lain untuk menggantikan makannya yang terlanjur jatuh, sebuah Acts of Service yang sempurna untuk seorang suami idaman para wanita.


“Maaf … saya permisi dulu,” ucap Haru sambil beranjak dari tempat duduk, tapi ia mendekati telinga Arin sambil berbisik, “Aku ke toilet dulu ya …”ucap Haru sebelum akhirnya berjalan meninggalkan meja.


Setelah Haru pergi semua obrolan mulai kembali seperti semula. Namun tiba-tiba Mawar menyenggolnya dari sampingnya sambil berkata. “Arin … sumpah lo beruntung banget punya suami dia, gue perhatiin pas dia lagi ngobrol tapi sempet-sempetnya bantuin lo ngambil makanan, kasih tisu dan ngalahin meja pake tangannya cuman biar kepala nggak kejedot. Wah … Acts of Service, keren banget!!” ucap Mawar membuat perhatian mereka kembali berfokus pada Arin.


“Ah … masa sih? Tapi dia memang perhatian banget.” ucap Arin menjadi malu-malu kucing mendengar suaminya dipuji karena begitu perhatian terhadap istrinya.


“Eh … iya, gue juga tadi liat. Wahh … irinya punya suami kayak gitu.”  ucap Intan.


“Udah ganteng, pengusaha, pastinya kaya … perhatian pula. Gue yakin pasti di rumah Arin diperlakukan sama suaminya kaya ratu. Iya ‘kan, Rin …?” ucap Shella yang sedikit menggoda Arin.


Karena tidak tahu harus menjawab apa, Arin bisa tersenyum pada mereka yang tampak heboh sendiri hanya karena melihat sikap gentleman Haru pada dirinya. Lantas hal itu membuat Arin sadar jika dirinya ternyata memang memiliki suami yang tidak biasa.


***


Di dalam mobil, di perjalanan menuju apartemen. Arin tampak begitu kelelahan setelah berada di tempat keramaian. Ia juga mulai mengantuk karena di luar turun hujan cukup deras.Mengingat kembali kejadian saat reunian tadi membuat Arin tak berhenti menatap Haru dari samping yang sedang mengemudikan mobil.


“Kamu datang … apa beneran nggak apa-apa? Pekerjaan kamu bagaimana?” tanya Arin.


“Kan, aku udah bilang bakal nyelesain pekerjaan aku dengan cepat. Urusan kantor sudah selesai. Makanya aku langsung datang. Kenapa …? Kamu kurang nyaman aku datang …?” tanya Haru merasa khawatir akan hal itu.


“Bukan begitu, aku malah sangat berterima kasih. Tapi … aku jadi terus ngerepotin kamu, padahal ini   ‘kan, nggak ada dalam kontrak,” ucap Arin.


Haru terdiam beberapa saat setelah mendengar kalimat ‘Kontak’. Itu bisa saja terjadi dan tidak salah jika Arin mengatakan hal itu dalam kontak pembicaraan ini. Hanya saja Haru merasa sedikit sedih mendengarnya. Kedatangannya ke tempat reunian adalah kemauannya sendiri karena peduli dan khawatir, ia juga ingin menunjukkan jika dirinyalah suami dari Arin. Hal itu membuatnya lupa akan kenyataan jika memang dirinya dan Arin hanya sebatas pernikahan kontrak.