
Kesempatan Kedua (3)
Kerja sama berjalan dengan lancar berkat Arin. Haru dan Arin mengantar John dan anaknya hingga mereka pergi dengan mobil mereka. Sungguh situasi di luar rencana Haru, jika bukan karena Arin yang membantunya mungkin kerjasama ini akan sulit di gapai olehnya. Haru menatap teduh Arin yang masih memandang ke arah mobil John pergi.
“Makasih …” ucap Haru.
Sontak Arin menoleh.
“Kerjasama ini sukses berkat bantuan kamu, terima kasih sekali lagi.” ucap Haru.
“Aku hanya sedikit membantu. Nggak kok, itu semua kerja keras kamu dan tim kamu, aku hanya membantu 1 persen …? Hahah …” ucap Arin terkekh malu.
“Bagaimanapun aku sangat sangat berterima kasih sama kamu,” ucap Haru.
“Syukurlah … kali ini aku nggak menghancurkan pekerjaan kamu. Nggak seperti waktu itu,” ucap Arin masih menyimpan rasa bersalah akan kejadian di acara perilisan.
“Nggak. Kamu sudah melakukan semuanya dengan baik, Good job …,” ucap Haru sambil mengelus rambut kepala Arin dengan sangat lembut sontak membuat Arin tertegun kaget saat rambut terkena sentuhan lembut yang menenangkannya.
“Kalau begitu, kita pergi,” ucap Haru bersamaan dengan mobilnya yang baru saja sampai.
***
Keesokkan harinya, Arin harus kembali bekerja di cafe yang tampak begitu banyak pelanggan yang datang. Mungkin karena hari ini hari weekend, jadi banyak dari mereka yang menghabiskan waktu bersantai di cafe. Sudah hampir sebulan Arin bekerja. Dia benar-benar sangat cepat belajar dan kini dia sudah memiliki kemampuan yang sama dengan pegawai lama. Semua berjalan dengan lancar tapi sangat melelahkan.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 malam. Arin berjalan di pinggir jalan trotoar dan terlihat kelelahan berjalan menyusuri jalan ke arah apartemennya. Jalan raya masih terlihat banyak kendaraan berlalu-lalang. Namun langkah Arin mulai melambat saat kedua matanya mendapati melihat seorang pria duduk di halte bus seorang diri. Arin hanya bisa melihat wajahnya dari samping sambil melangkah mendekat. Wajah yang semakin terlihat jelas bersamaan dengan senyuman Arin karena ia sudah mengenali siapa pria yang duduk disana.
“Kenapa kamu bisa di sini?” tanya Arin yang baru saja sampai di samping Haru yang sontak menoleh ke arahnya.
“Oh! Udah pulang. Aku mau jemput kamu, makanya aku nunggu di sini,” ucap Haru.
“Seharusnya kamu istirahat, pasti capek. Tapi … makasih udah mau jemput,” ucap Arin terharu melihat Haru.
Sambil beranjak dari tempat duduknya. “Ayo, kita pulang!” ajak Haru.
Arin menganggukkan kepalanya. Jalan bersama dengan Haru di bawah langit malam. Begitu tenang dan menyenangkan. Arin tak bisa berhenti tersenyum begitu juga dengan Haru, hanya saja mereka saling menutupi senyuman mereka.
“Gimana hari ini?” tanya Haru yang mencoba memulai pembicaraan.
“Capek banget, tapi … nggak apa-apa.” jawab Arin — terdiam beberapa saat. “Kamu sendiri?” tanya Arin sambil menoleh ke arah Haru, tapi kepalanya harus sedikit mendongkang, lantaran Haru yang terlalu tinggi untuknya.
“Hari ini sangat sibuk. Bahkan makan siang kami dibarengin sama makan malam, tapi … nggak apa-apa. Walau capek,” ucap Haru.
“Sekarang kamu masih lapar?” tanya Arin.
“Sedikit. Kamu sendiri sudah makan malam?” tanya Haru.
“Belum. Tapi aku mau banget makan chicken, tapi aku nggak yakin apa masih buka atau enggak.” ucap Arin.
“Tentu saja ada, biar aku yang cari,” ucap Haru sambil menyalakan ponselnya, membuka aplikasi pesan antar untuk mencari makanan yang diinginkan Arin sambil berjalan.
Hanya membutuhkan waktu 5 menit Haru sudah berhasil memesan chicken yang diinginkan Arin. “Udah selesai,” ucap Haru.
“Emm. Bisa ‘kan, aku!” ucap Haru yang begitu bangga dengan dirinya sendiri.
Arin tersenyum melihat tingkah Haru.
***
Di ruang televisi, menikmati makan malam mereka dengan dua box fried chicken sambil menonton acara kesukaan Arin yang bukan lain 2 Night 1 Day. Beberapa kali Arin tertawa dengan mulut yang penuh. Seakan hanya fokus dengan dunianya.
Sedangkan Haru terus memandangi Arin. Melihatnya kembali tertawa — melihat kedua mata yang kembali bersinar sudah membuat Haru merasa lebih tenang. Setelah bertemu dengan wanita yang bernama Susan hari-hari Arin begitu muram seperti kehilangan cahayanya. Namun kini cahaya itu perlahan mulai kembali.
“Arin …” saut Haru.
“Emm …? Kenapa?” tanya Arin yang masih fokus dengan televisi.
“Apa kamu sudah memikirkan apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Haru.
Sontak membuat Arin menoleh ke arah Haru. “Emm … ada.” ucap Arin.
“Apa aku boleh mengetahuinya?” tanya Haru dengan hati-hati.
“Sejak kecil aku sangat menyukai menggambar, tapi … sekarang aku sudah lupa bagaimana cara menggambar, rasanya tanganku sangat kaku dan itu sangat menyedihkan …” ucap Arin sambil membayangkan terakhir kali ia mencoba kembali menggambar, perasaan kecewa dan sedih masih begitu kuat di dalam hatinya.
“Waktu … SMA, aku mulai tertarik dengan fashion. Aku mulai belajar menggambar, dari yang benar-benar tidak bisa hingga aku mendapatkan sebuah pujian dari teman-teman sekolahku. Bahkan aku sangat ingin masuk sekolah fashion. Huff … sayangnya hal itu nggak bisa terwujud, karena sekolah fashion itu sangat mahal. Dua tahun yang lau, kalau nggak salah dua tahun yang lalu …? Aku iseng-iseng coba kembali menggambar baju karena bosan, tapi … lagi-lagi tangan aku kaku …,” ungkap Arin sambil terkekah sedih.
“Tapi kalau sekarang. Aku mau kembali belajar menggambar …, apa besok kamu mau antar aku buat beli beberapa peralatan menggambar?” tanya Arin.
“Emm, tentu saja.” jawab Haru.
“Serius?” tanya Arin.
“Emm …, kamu selesai bekerja jam berapa?” tanya Haru.
“Jam 4. Oh! Jangan jam segitu, aku ada janji lain dengan Yuli,” ucap Arin yang baru saja mengingat akan janjinya dengan Haru. “Sekitar jam 8? Aku bakal hubungi kamu kalau udah selesai,” ucap Arin.
“Oke. Nanti aku jemput,” ucap Haru.
“Makasih ….” ucap Arin.
***
Di halte bus sepulang kerja menunggu Yuli yang masih belum datang. Dia sudah melewati waktu janjian, membuat Arin mulai merasa resah. Hari ini adalah hari pertama untuknya pergi ke seorang dokter psikiater yang direkomendasikan oleh Yuli. Walau sedikit cemas akan hal itu, tapi Arin mencoba untuk mengikuti sesi tersebut.
Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti di depannya. Jendela mobil terlihat turun. Ternyata dia Yuli. “Arin …!! Udah nunggu lama ya … sorry … ayo!!” ajak Yuli.
Arin hanya menghela nafas helan melihat Yuli yang terlihat senyum bodoh karena menyadari kesalahannya. Arin pun segera menghampiri mobil Yuli sebelum ada bus datang.
***
Sebuah rumah sakit psikiater miliki seorang dokter yang sangat terkenal dan banyak pasien yang bisa kembali menjalani hidup normal. Duduk dibangku tunggu saat Yuli sedang mendaftarkan dirinya dibagian administrasi. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat gugup. Tangannya mulai terasa dingin. Perasaan resah yang membuatnya sangat tidak nyaman.