
Saling Bersandar
Setelah liburan yang cukup lama. Akhirnya mereka harus kembali ke Indonesia. Liburan yang tidak akan pernah Haru dan Arin lupakan karena begitu banyak kenangan yang mereka buat bersama. Kini hubungan mereka benar-benar layaknya suami istri dan kontrak pernikahan pun sudah mereka batalkan. Tak terbendung kebahagian Haru karena perjuangannya selama ini akhirnya terbalaskan karena liburan dan sekaligus honey moon untuk mereka.
Haru yang masih langsung pergi bekerja setelah malam sampai Jakarta, paginya ia sudah berada di kantor. Banyak kerjaan yang tertunda dan banyak koreksi yang harus diperbaiki. Berbeda dengan Arin yang tampak tenang duduk di teras luar apartemen memandang langit yang entah mengapa menjadi mendung.
Satu hal yang tidak diketahui oleh Haru akan apa yang selama ini Arin pedam. Dirinya memang sengaja membuat semua kenang yang indah bersama dengan Haru tapi tidak untuk dirinya yang sesungguhnya masih begitu hancur. Kebahagian bagi Arin hanyalah fatamorgana yang akan hilang saat melihat sebuah kenyataan.
Mungkin dibalik wajah senyuman Haru selama berada di Korea hanya sebuah sandiwara yang sengaja dia lakukan agar tak membuatnya khawatir atau bersalah dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada Haru. Dua hari sebelum liburan mereka berakhir, tanpa diketahui Haru, Ibu mertua menghubunginya. Beliau mengatakan jika perasaan Haru sedang terancam kehancuran karena keteledoran Haru dalam mengurus perusahaan. Tidak hanya itu saja, berita jika perusahan Haru mengalami kebangkurtan saat Arin melihat berita secara diam-diam tanpa diketahui Haru.
Ibu mertua sampai menangis meminta mohon agar dirinya segera melepaskan Haru. Arin terus memikirkan tentang hal tersebut selama ia berada di Korea. Kini keputusannya sudah bulat untuk minta cerai dengan Haru. Bahkan Arin diam-diam sudah menyiapkan surat cerainya.
***
Terlihat jelas raut penuh dengan masalah saat Haru berjalan masuk menuju kamarnya. Walau dia masih menyempatkan diri untuk menyapa Arin, tapi dirinya sudah mengetahui apa yang telah terjadi. Untuk saat ini Arin berusaha untuk tetap bersikap seakan-akan dirinya tidak mengetahui tentang ibu mertua yang menyuruh dirinya menceraikan Haru, karena ia tidak ingin meninggalkan Haru dengan keadaan yang seperti ini.
Arin berjalan masuk kedalam kamar Haru yang tampaknya sedang mandi. Ia membawa teh camomile agar bisa membantu menenangkan pikiran Haru. Tak lama Haru keluar dan sotak terkejut melihat Arin yang duduk dikamarnya.
“Mas … aku bawa teh buat kamu,” ucap Arin.
“Bukannya hari ini kamu ada konseling?” tanya Haru.
“Aku batalin, aku mau ngobrol sama Mas Haru …” ucap Arin.
Sambil duduk di samping Arin yang membuatnya sedikit cemas. “Mau ngobrol apa …?” tanya Haru,
“Seharusnya aku yang tanya hal itu ke Mas Haru …,” ucap Arin membuat Haru terdiam. “Selama ini Mas Haru udah banyak membantuku, tapi apa yang dilakukan mas Haru, bahkan mas nggak bilang kalau lagi kesusahan ‘kan?” ucap Arin sontak membuat Haru terdiam dengan rasa bersalah.
“Bukannya, mas Haru yang bilang kalau kita udah pasangan suami istri, tapi mas Haru kayaknya masih menjaga jarak dengan aku … apa karena aku punya kecemasan buat mas Haru jadi nggak tega mencerita keluh kesa mas Haru?” tanya Arin yang mulai terbawa emosi.
“Walau begitu, setidaknya mas bilang kalau mas lagi lelah lah, atau apa …, mas nggak perlu sampai cerita tentang apa yang terjadi, cukup apa yang mas rasakan. Bisakan …?” tanya Arin.
“Emm … aku akan berusaha, saat ini aku benar-benar kehilangan banyak tenaga. Bisakah kamu pesakih mas pelukan …?” tanya Haru yang mulai menjalankan apa yang Arin pinta darinya. Hal itu sontak membuat Arin langsung luluh dan memberikan pelukan pada Haru. Arin mendekap Haru dengan memberikan sedikit belaian pada punggungnya.
“Seperti ini saja sudah sangat cukup …” ucap Haru dengan mode manjanya. “Boleh nggak malam ini … kamu tidur disini? Bareng sama aku …?” tanya Haru.
“Eung …, aku bakal tidur disini.” ucap Arin tanpa perlu basa-basi lagi.
Saking kelelahan, Haru benar-benar langsung tertidur pulang dalam dekapan Arin seperti anak bayi. tatapan yang kosong menatap langit-langit kamar Haru. terlintas dalam pikirannya tentang apa yang membuat Haru memaksakan dirinya untuk menahan semuanya seorang diri. Apa dirinya berhak mendapatkan sebuah konseling saat ia melihat Haru yang begitu kelelahan secara fisik dan mental tapi ia masih menahannya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain, tapi dirinya masih mengeluh akan mentalnya yang tidak stabil? itu sungguh memalukan.
Perlahan Arin melepas rangkulannya saat memastikan Haru benar-benar tertidur pulas. Namun tiba-tiba Haru menariknya kembali — memeluk Arin dengan sangat erat — membuat Arin tidak bisa menolaknya.
“Aku bukannya ingin merahasiakan masalah aku sama kamu, hanya saja aku tau rasa sakit itu dan atu nggak mau sampai merasa rasa sakit itu. Makanya aku diam. Hari ini memang hari terberat aku, tapi sungguh hanya dengan memeluk kamu saja aku bisa melupakan semuanya. Walau kamu nggak percaya, tapi memang aku hanya mencoba untuk tidak banyak mengeluh agar bisa menjaga kamu.” ungkap Haru yang sudah lama terpendam dan akhirnya ia katakan pada Arin yang membuatnya sangat nyaman.
“Baiklah aku percaya …,” cap Arin.
***
Haru bertemu empat mata dengan Ibunya yang tampak marah setelah mengetahui jika anaknya kehilangan banyak saham dan membuat Haru terpaksa melepas banyak anak perusahaan untuk tetap mempertahankan perusahaan besar yang ia bangun.
“Ibu sudah bilang. Arin itu akan terus dan selamanya menjadi kesialan dalam hidup kamu karena hidupnya dia terlalu sial hingga kamu harus menanggungnya. Ibu sungguh tidak bisa memberikan hal itu terjadi …!!” ujarnya dengan penuh ambisi untuk mempertahankan saham.
“Kamu itu sebenarnya kena pelet apa sih sampai bisa mendapatkan wanita sial macam Arin …!!” betak ibu benar-benar terdengar sangat tidak sopan dan membuat Haru benar-benar marah.
“Ibu …!!! Kenapa ibu jadi seperti ini? Padahal dulu ibu yang menjodohkan aku dengan Arin. Tapi ibu malah membuangkan? Apa ibu tau …? Dia orang yang sudah terlalu banyak ditinggalkan orang-orang disekitarnya. Bukan karena tingkahnya tapi memang dia memiliki kesulitan dalam hidup masing-masing.
“Aku kira ibu datang untuk berdiskusi ternyata aku salah. Kalau begitu aku pergi!” ucap Haru yang langsung beranjak dari sofa meninggalkan temannya yang hanya bisa tertegun.