
Sosok Lain dari Haru
“Loh!! Perasaan semalem muka gue masih ada make upnya, tapi kok nggak ada? Apa jangan-jangan semalem gue ngigau sambil bersihin make up?” tanya Arin yang berbicara pada dirinya sendiri.
“Udah bangun?”
“HAH!!!”
Lagi-lagi Arin dikejutkan dengan suara yang muncul dari belakang. Nafas Arin menjadi berat karena jantungnya yang seakan ingin lepas dari tempatnya. Arin berbalik, ternyata dia Haru yang tampak sedang berjalan ke ruang tengah.
Arin berjalan keluar. “Kamu dari mana?” tanya Arin.
“Ambil makan buat sarapan. Cepat sana cuci muka, terus sarapan …” ucap Haru.
“Tapi ngomong-ngomong, apa semalam aku ngigo atau melantur dan melakukan hal-hal aneh, nggak?” tanya Arin.
“Maksud kamu?”.
“Nggak … soalnya, seingat aku semalam aku langsung tidur dan nggak sempat hapus make up. Tapi sedang make up sudah hilang …,” ungkap Arin.
“Iya. Semalam kamu ngelantur.” jawab Haru sontak membuat Arin terkejut.
“Serius? Serius aku begitu?” tanya Arin.
Namun Haru terlihat tersenyum tanpa rasa bersalah. "Tapi bohong. Aku cuman bercanda. Sudah sana cepat cuci muka, pasti kamu lapar ‘kan?” ucap Haru yang kemudian mengatakan Arin yang masih tampak terkejut.
Kemudian dengan langkah lemas, Arin berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Arin kembali setelah membersihkan wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan hoodie agar lebih nyaman. Berjalan menghampiri Haru yang sedang fokus pada tablet nya sambil menikmati segelas americano panas. Karena lapar, Arin langsung memakan makannya yang ada di atas meja.
Setelah melewati hari yang melelahkan kemarin hingga membuatnya tertidur seperti orang mati. Saat etrbangun saat sedikit aneh, tubuhnya masih terasa sakit dan pegal-pegal. Otaknya memang tidak memikirkan apapun seperti komputer yang habis di instal ulang, tapi mengisahkan rasa penat. Arin makannya dengan tatapan kosong. Beberapa kali Arin melamun dan kembali sadar dan kemudian kembali melamun.
“Arin …!” sahut Haru yang menyadari Arin yang tampak melamun.
“Eumm …?” sahut Arin yang tampak ling-lung.
“Kamu nggak apa-apa? Kenapa bengong?” tanya Haru khawatir.
“Emm … nggak apa-apa. Cuman emang lagi melodding aja … heheh …” ucap Arin sambil terkekeh malu, Arin mencoba untuk tidak kembali terhanyut dalam pikirannya. Ia mencoba memfokuskan pemikirannya pada makanan yang saat ini ia makan.
“Kamu lagi ngerjain kerjaan?”tanya Arin.
“Ah! Iya, ada yang harus diurus. Kenapa? Ada yang kamu butuhkan?” tanya Haru sambil meletakkan teblet nya untuk mendengarkan Arin yang jauh lebih penting dibandingkan kerajaannya.
“Nggak kok. Nggak ada. Aku cuman nanya aja, lanjutin aja …” ucap Arin.
Haru terdiam beberapa saat melihat Arin yang tampaknya merasa bosan karena dirinya yang terlalu fokus pada pekerjaannya. “Oh iya, kado pernikahan dari para tamu langsung dikirim ke apartemen.” ucap Haru mencoba memulai topik pembicaraan.
“Begitu ya. Terus kira-kira kapan kita pulang?” tanya Arin.
“Kamu mau pulang?” tanya Haru.
“Emm … di rumah lebih nyaman dibandingkan di sini.” ucap Arin.
“Ya sudah. Selesai sarapan kita pulang.” ucap Haru sambil mengambil sepotong roti untuk ia nikmati sarapan bersama dengan Arin dan mengabaikan pekerjaannya.
***
“Assalamualaikum …!” saut Arin sambil berjalan masuk ke dalam apartemennya setelah berpisah dengan Haru di depan pintu.
“Anna … sini duduk!” ucap Arin mencoba untuk tetap bersikap tenang.
Kemudian Anna langsung menghampiri Arin dan duduk di sampingnya.
“Ini rumah milik siapa?” tanya Arin.
“Kakak.”
“Jadi … jangan banyak tanya. Terserah gue dong mau masuk kerumah mana!! Lagi pula, di sana itu masih diperbaiki sebelum gue tinggal di sana. Jadi jangan bawel, oke?” ucap Arin.
“Ahh … iya iya.” jawab Anna yang kemudian berjalan kembali ke kamarnya.
***
Arin menekan bel rumah Haru setelah ia mendapatkan pesan untuk datang kerumahnya. Wajahnya masih terlihat sembab setelah tidur seharian jadi untuk menutupi kejelekan wajahnya Arin mengenakan kacamata dan mengenakan setelah training berwarna lilac. Tak lama Haru membukakan pintu dari dalam.
“Ayo masuk!” ajak Haru sambil mempersilahkan Arin untuk masuk terlebih dulu.
“Aku menyuruh mereka buat mempercepat dekorasinya, makanya aku langsung ingin kasih tau kamu. Aku nggak tau kamu bakal suka atau nggak, tapi aku pilih interior yang paling simple dan nyaman.” ucap Haru sambil berjalan menuju kamar utama dimana akan menjadi kamarnya dan Hara.
“Ini dia …!” ucap Haru.
Seketika Hara langsung terpelongo melihat ruangan yang akan menjadi kamarnya. Benar-benar seusia dengan style yang ia suka. Hara perlahan berjalan lebih masuk kedalam sambil menelusuri setiap sudut kamar.
“Bagaimana kamu suka sama kamarnya?” tanya Haru.
“Aku suka, tapi … aku jadi nggak enak. ini terlalu mewah buat aku, lagi pula aku disini cuman numpang tidur sementara. Rasanya agak …” ucap Arin yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
“Nggak usah mikirin yang lain. Cukup kamu suka menurutku itu lebih nyaman buat aku,” ucap Haru.
“Emm … aku suka. Makasih,” ucap Arin sambil tersenyum melihat ke arah Haru.
“Berarti besok kita mulai pindahkan barang-barang kamu, atau mau beli barang baru?” tanay Haru.
“Nggak perlu yang baru. Lagi pula rumahnya deket, jadi aku taruh beberapa disini. Kalau untuk barang-barang aku bisa menguruskan sendiri” ucap Arin.
“Oke. Oh iya! Kata sandi rumah aku, 100479. Jadi mulai sekarang kamu nggak perlu pencet bel lagi.” ucap Haru.
“Iya …,”
“Kamu sudah makan malam?” tanya Haru.
“Belum. Baru saja bangun tidur. Kamu bilang makan, aku jadi laper.” ucap Hara sambil terkekeh malu.
“Mau aku buatkan pasta?” tanya Haru.
“Boleh. Tapi … kamu bisa masak?” tanya Hara.
“Memang nggak terlalu pandai, Tapi kalau untuk masakan barat yang simple aku masih bisa. Ayo kita ke meja makan, kamu bisa lihat aku masak.” ajak Haru.
“Boleh.”
Pertama kalinya untuk Arin melihat seorang pria yang masak untuk dirinya. Hara duduk di meja makan berhadapan dengan Haru yang sedang menyiapkan bahan masakkan. Rasa seperti sedang berada di hotel bintang lima dimana chefnya langsung membuatkan makanan di depan pasangannya.
Haru benar-benar sangat tampan walau sedang memakan celemek. Tangan nya yang putih dan penuh otot terlihat sangat sexy saat sedang memotong-motong bawang dan udang. jantungnya berdebar setiap kali Haru melihat ke arah di sela-sela ia sibuk memasak. Sungguh suami idaman. Rasanya benar-benar seperti memiliki suami yang melayani istrinya seperti seorang putri.