
Bab 10 - Ajakan Yang Membingungkan
Arin terdiam beberapa saat untuk mencari jawaban yang sedikit membuat ragu. Lantaran terakhir mereka bertemu, tanpa memberitahukan dirinya ayah dan Pak Haris memberikan perihal perjodohan, hal itu membuat Arin merasa tidak terima. Lalu bagaimana jika mereka membahas tentang hal itu. Tapi bagaimanapun juga, jika ia menolaknya bukankah tidak sopan, pikir Arin.
“Ya sudah, aku mau.”
“Syukurlah. Nanti bapak bilang sama mereka ya. Terima kasih ya … kamu jadi diri baik-baik. Assalamualaikum …,”
“Waalaikumsalam …”
Panggilan pun terputus. Arin memasukan ponselnya ke dalam saku hoodie nya dan terdiam memikirkan pembicaraan dengan ayah tadi. Arin merasa ikut berbela sungkawa akan meninggalnya Pak Haris yang merupakan teman dekat ayah saat kecil. Namun jika mengikat kejadian hari dimana tiba-tiba ia dipertemukan dengan seorang pria yang angkuh dan dirinya akan dijodohkan dengan pria itu. Sungguh kejadian yang seharusnya sudah ia lupakan tapi harus teringat kembali. Kembali dalam ketenangan pikirannya, malam ini ia tidak ingin memikirkan apapun dan hanya ingin fokus untuk menghabiskan es krim yang ada di tangannya.
Dari kejauhan, Arin melihat sosok pria bertubuh tinggi berjalan ke arah taman. Tidak. Semakin mendekat pria itu berjalan ke arahnya. Wajahnya masih tidak terlihat karena gelapnya malam dan minimnya pencahayaannya. Di sini tidak ada siapapun membuat suasana menjadi semakin mencengkam saat sosok pria itu hanya tinggal beberapa meter dari tempat Arin berada. Arin mulai merasa takut dan khawatir bagaimana jika pria itu orang jahat, tapi itu hal yang tak masuk akal karena yang hanya boleh masuk ke dalam lingkungan apartemen ini hanya orang-orang yang tinggal disini.
Kekhawatiran Arin perlahan berubah menjadi sebuah keheranan saat melihat wajah pria itu yang mulai terlihat dan membuat Arin berpikir jika wajah itu sungguh tidak asing. Kedua mata Arin terbelalak saat pria tampan bertubuh tinggi itu berdiri tepat lima langkah darinya.
“Sedang apa kamu sendirian, malam-malam begini …?”
Suara pria itu benar-benar sangat lembut dan tatapan matanya yang tajam namun tidak membuat Arin merasa takut.
“Kamu kenal saya?” tanya Arin sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Kamu nggak ingat sama saya?”.
“Apa kamu orang yang tinggal di apartemen nomor 401 …?” tanya Arin.
“Iya.”
“Ahh … begitu rupanya.” Sontak Arin langsung berdiri. “Aku orang baru yang tinggal di 402. Salam kenal …,” ucap Arin mencoba untuk bersikap ramah sambil mengulurkan tangannya.
“Kamu benar-benar nggak ingat saya?” tanyanya sekali lagi.
“Siapa …?”
Pria itu tersenyum.
“Aku Haru … orang yang waktu itu pernah di jodohkan sama kamu,” ucap Hara sambil membalas jabatan tangan Arin yang sontak terbelalak kaget dengan pernyataan pria asing yang ternyata orang yang ia kenal.
Hara tersenyum melihat betapa kagetnya Arin, tapi itu menandakan jika dia telah mengingat dirinya. “Akhirnya kamu ingat,” ucap Haru sambil melepaskan genggaman tangannya. Kemudian berjalan mendekati ayunan — duduk dengan nyaman di ayunan tersebut. Berdampingan dengan Arin.
“Apa boleh aku minta es krimnya?” tanya Haru sontak memecahkan lamunan Arin yang masih terkejut dan tidak percaya akan situasi saat ini.
“Ah! Ahh … boleh,” ucap Arin sambil mengambil sebotol cola dari dalam plastik lalu memberikannya pada Haru. “Nggak ada es krim, adanya hanya cola.” ucap Arin.
“Terima kasih …,” ucap Haru sambil menerimanya.
Arin kembali duduk di ayunannya — terdiam.
Suasana menjadi hening, keduanya hanya terdiam satu sama lain.
“Nggak nyangka bisa ketemu disini?” ucap Arin.
“Iya juga …,”
“Aku sudah mendengar tentang kabar ayah kamu, aku turut berduka cita …,” ucap Arin.
“Emm … terima kasih. Itu berarti kamu tahu tentang pertemuan besok?” tanya Haru.
Arin hanya mengangguk. “Kenapa tiba-tiba mau bertemu?” tanya Arin.
“Sebenarnya … pertemuan itu akan membahas tentang perjodohan aku dan kamu,,” ucap Haru.
Sontak Arin menoleh — terkejut mendengar hal itu. “Apa??”.
“Maaf … pasti kamu kaget. Itu sebabnya saya ingin membicarakan hal itu saat ini, kebetulan kita bertemu. saya ingin kamu menyetujui tentang perjodohan itu,” ucap Haru sambil menatap ke arah Arin dengan serius.
“Kamu udah gila? Tentu saja aku nggak bakal mau!!” tolak Arin dengan dingin.
“Itu sebabnya. Saya ingin membuat sebuah perjanjian pernikahan dengan kamu. Anggap saja ini seperti pernikahan kontrak, hanya di atas selembar kertas.” ujar Haru.
“Apa …?!”
“Pernikahan ini harus tetap terlaksana, karena ini permintaan ibu dan almarhum ayah,”.
“Emangnya, kamu pikir ayah kamu nggak tahu tentang hal ini? Dia pasti melihatnya dari atas. Kamu nggak merasa bersalah sama dia?” tanya Arin dengan nada yang sedikit emosi karena ia merasa rencana pria yang bahkan baru bertemu kurang dari sepuluh menit lalu membicarakan hal aneh.
“Itu biarlah menjadi urusan aku. Saya datang ingin meminta tolong … saya janji pernikahan ini tidak akan memberatkan kamu.” ucap Haru mencoba untuk membujuk Arin yang tampaknya masih meragukan rencana bodohnya ini. Namun tidak ada cara lain untuk dirinya bisa menikahi Arin.
Arin terdiam sambil berpikir keras akan ajakan yang tidak masuk akal ini. Dirinya masih sangat terkejut akan kemunculan Haru yang tiba-tiba dan kini ditambah pria aneh itu mengajaknya untuk melakukan pernikahan kontrak yang ia pikir itu hanya terjadi di dalam serial drama yang ia tonton.
“Aku akan mempertimbangkannya, kasih aku waktu untuk berpikir.” ucap Arin.
“Aku harap, kamu sudah punya keputusan sebelum hari itu tiba.” ucap Haru.
Berjalan bersama melewati lorong apartemen lantaran rumah mereka saling bersebelahan. Diam tanpa kata dan kecangung begitu melekat di antara mereka berdua. Arin yang lebih dulu sampai di depan pintunya, tapi ia terdiam — tangan berhenti untuk menekan kata sandi.
begitu juga Haru yang baru saja sampai di depan pintunya — menoleh ke arah Arin yang seperti masih memikirkan akan perkataan dirinya tadi. Sesungguh ia tidak ingin membebani Arin yang bahkan sudah memiliki beban masalahnya sendiri. Tapi mungkin dengan pernikahan kontrak ini dirinya bisa memberikan sedikit bantuan secara diam-diam untuk kesehatan Arin.
“Maaf … pasti kamu kaget, maaf karena sudah membuat kamu berpikir,” ucap Haru.
Arin menoleh. “Tapi … kenapa harus aku?” tanya Arin.
“Apa?!”
“Iya, kenapa harus aku? Bahkan kamu aja nggak tau latar belakangku seperti apa? Bahkan kita hanya bertemu bertatap muka lalu kembali bertemu setelah satu tahun, bukannya itu nggak masuk akal?” tanya Arin