The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 50 Liburan Di Negeri Asing



Liburan Di Negeri Asing (1)


“Sebenarnya bukan cuman Korea Selatan, tapi aku juga mau pergi ke beberapa negara kayak Italia, Greenland, Belanda, emm … terus … Australia tempat kelahirannya Felix sama Bangchan. Terus … aku juga mau ke Mekah …!! Ahh … benar aku mau ke Mekah sebelum tutup usia …, kita ‘kan nggak tau hidup sampai kapan? Jadi kita juga harus kesana …” ungkap Arin.


Haru hanya diam dengan tatapan teduh mendengarkan Arin yang mulai banyak berbicara setelah beberapa hari dia begitu diam dan murung. Benar, apa kata Dokter Puspita, seseorang akan tanpa sadar menjadi dirinya sendiri dan menemukan sisi lain dirinya sendiri dengan menemukan apa yang dia suka atau menemukan apa yang dia tidak suka.


“Kamu mau keliling dunia …?” tanya Haru.


“Iya …!”.


“Kalau begitu, langkah pertama yang harus kita buat, susunan rencana, keuangan dan paspor,” ucap Haru.


“Emm …!”.


“Tapi … ayo sekarang kita masuk, udah gelap. Kita juga harus makan …” ucap Haru.


“Ah …! Aku lupa …! Ayo …” ajak Arin sambil di ranjang dengan selimut yang masih menyelimuti tubuhnya — berjalan masuk kedalam, disusul Haru yang tersenyum melihat tingkah Arin.


***


Bekerja keras untuk mengumpulkan semua reservasi tempat yang akan Arin kunjungi selama berlibur ke Korea Selatan. Sebenarnya ia bukanlah orang yang menyukai sebuah perencanaan yang mendetail, hanya saja tiba-tiba terbesit sebuah rasa penasaran yang membuatnya ia menjelajahi lebih jauh dan membuat liburannya nanti lebih tertata dan tidak memakan banyak waktu untuk hal-hal yang tidak dibutuhkan.


Disisi lain, Haru berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ia memutuskan untuk menghentikan segala aktivitasnya untuk berlibur. Mungkin ini terdengar sangat beresiko, tapi sekali seumur hidup tidak ada salahnya. Masa mudanya sudah ia habiskan untuk bekerja keras, satu minggu bukanlah waktu yang lama untuk dirinya bisa refreshing dan anggap saja seperti bulan madu yang tertunda.


Hingga tiba hari dimana mereka pergi ke bandara berdua dengan pakaian yang sangat santai. Setelan pakaian training berwarna biru langit dan putih tampak seperti baju couple. Wajah yang begitu cerah terlihat jelas dari pancaran senyuman lebar dari Arin dan Haru, dengan mendengarkan musik kesukaannya Arin yang berjudul “Time Out - By Stray Kids”. Cocok dengan suasana liburan musim panas. Bahkan sangking semangat Arin bernyanyi dengan fasih walau tidak peduli dengan suaranya yang pas-pasan. Sedangkan Haru hanya bisa mendengarkan walau tidak mengerti apa yang dinyanyikan oleh Arin. Melihatnya senang saja Haru sudah bisa ikut senang.


Perjalanan menuju Seoul membutuhkan waktu sekitar delapan jam lamanya. Dengan menggunakan bangku class bisnis membuat mereka bisa nyaman dengan fasilitas yang terbaik. Perjalanan yang memakan waktu hingga 8 jam lamanya mereka terbang hingga sampailah Arin dan Haru di Bandara Internasional Gimpo. Hari sudah mulai senja mereka baru saja keluar dari bandara dan mereka dijemput dengan mobil yang memang sudah dipesan sebelumnya untuk pergi menuju hotel.


Hotel berbintang lima dengan kamar suite room yang tampak begitu mewah dan besar dengan pemandangan langsung kota Seoul yang tampak begitu berbinar dengan lampu-lampu di setiap sudut kota. Hara berdiri di depan jendela full kaca yang bisa menatap langsung pemandangan malam yang begitu mempesona, Hara terpukau melihatnya. 


“Wah … keren banget,” ucap Arin yang tak berhenti terbelalak karena terpukau, rasanya seperti mimpi yang tidak pernah bisa ia bayangkan dirinya benar-benar datang dan menginjakan kaki langsung di negara yang sebelumnya yang lihat di depan layar ponsel atau televisi.


“Eung … suka banget, rasanya kayak mimpi …, aku kira aku cuman bisa lihat ini dari layar aja, ternyata sekarang aku melihatnya secara langsung,” ungkap Arin yang begitu terharu hingga air matanya mulai berkaca-kaca.


Haru menepuk pundak Arin mencoba menenangkannya yang tampak mulai menangis karena terharu. “Sebentar lagi makan malam, kamu mau mandi dulu atau aku …?” tanya Hara.


“Mas Haru, duluan aja aku masih mau foto dulu buat kenang-kenangan.” jawab Arin sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


“Yaudah, aku dulu ya.” ucap Haru yang kemudian berjalan untuk pergi mandi meninggalkan Arin yang tampak mulai sibuk mengambil gambar.


***


Malam malam di restoran outdoor di lantai paling atas dari gedung hotel ini. Dengan alunan musik klasik secara live, tempat ini benar-benar sangat mewah dan mungkin tak sembarang orang bisa makan di tempat ini. Hara sedikit canggung untuk makan di tempat seperti ini, karena mungkin ini menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di sebuah tempat yang berbeda dari dunianya.


Haru menyadari gelagat Arin yang terlihat tidak nyaman membuatnya khawatir. “Kenapa …? Apa ada yang buat kamu ngerasa nggak nyaman?” tanya Haru.


“Sedikit. Tapi nggak apa-apa. Mungkin aku belum bisa terbiasa makan di tempat seperti ini. Kamu tau sendiri aku lebih suka makan di tempat yang biasa, tapi ini juga gak buruk kok. Aku sedang mencoba beradaptasi,” ujar Arin.


“Tadinya aku pikir juga mau ajak kamu cari makan di luar, tapi aku pikir … aku khawatir kamu kelelahan setelah perjalanan jauh, makanya aku putuskan untuk makan disini dan juga restoran yang di bawah sangat ramai, makanya aku pilih yang lebih tenang. Apa kamu mau pindah pakai service room aja …?” tanya Haru yang membuat Arin tertegun menatap Haru dengan tatapan teduh.


Sungguh sulit dipercaya diri dipertemukan pria yang begitu pekat terhadap perubahan sikap dan perasaannya. Padahal dirinya sungguh baik-baik saja.


“Kenapa kamu menatapnya begitu?” tanya Haru — bingung.


Arin tersenyum melihat Haru yang tampak kebingungan karena tatapannya. “Nggak kok, itu karena kamu terlalu tampan jadi aku nggak bisa mengalihkan pandangan aku,” ucap Hara Sontak membuat Haru tersipu malu dan salah tingkah hingga tak berani menatap Arin yang menertawakannya.


“Ternyata kamu pintar buat orang salah tingkah yah …” ucap Haru berusaha untuk tetap stay cool.


“Nggak kok. Aku bahkan nggak pernah puji cowok manapun, kecuali kamu …,” ucap Arin yang mencoba menghangatkan suasana. “Tapi … kedepannya aku akan lebih berterima kasih jika kamu juga lebih memperhatikan diri kamu sendiri sebelum orang lain. Apalagi aku, aku ini orang yang nggak terlalu bisa peka sama perasaan orang lain …,” ujar Arin mencoba untuk merangkul Haru secara emosional.


“Itu sebabnya aku memperlakukanmu dengan baik, karena aku sudah memperlakukan diri aku dengan sangat baik. Aku berterima kasih karena kamu khawatir tentang aku, tapi apa yang aku lakukan ke kamu karena keinginan aku. Bahkan terkadang aku melakukannya tanda sadar, seakan tubuh aku melakukannya sendiri.