The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues
Bab 21 Pagi yang Hangat Setelah Badai



Pagi Yang Hangat Setelah Badai


Sepanjang jalan kembali ke apartemen, Arin tampak begitu murung lantaran ia merasa bersalah pada Haru. Hari ini dirinya menunjukan sisi terlemah yang seharus tidak boleh dan tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapapun. Beberapa kali Arin menyeka air matanya yang mengalir, ia tak ingin kembali membuat Haru melihatnya menangis.


Jantung dan tubuhnya masih gemetaran. Terakhir kali gejala kecemasan muncul saat sekitar 2 bulan yang lalu, Arin pikir kecemasannya sudah menghilang tak disangka rasa ketakutan itu masih tertanam dalam dirinya dan hanya bersembunyi.


Hingga mereka sampai di depan pintu apartemen Arin. Mereka saling berhadapan satu sama lain terdiam dalam kesunyian malam yang begitu muram. Wajah pucat dan tangan yang masih gemetaran tampak jelas di mata Haru, walau Arin yang berusaha menyembunyikannya.


“Sekali lagi, aku minta maaf atas kejadian ini …, maafkan aku …” ucap Arin terus merundukkan kepalanya, ia merasa tak malu untuk bertatapan dengan Haru saat ini.


Sungguh rasanya dirinya ingin memeluk wanita lemah yang saat ini berdiri dihadapannya. Wanita yang membutuhkan perlindungan dan kenyaman. Namun sulit untuknya melakukan hal itu karena ia bukanlah siapa-siapa bagi Arin.


“Berhenti meminta maaf. Kamu pasti capek, masuklah dan beristirahat …,” ucap Haru dengan nada bicara yang begitu lembut hingga membuat Arin perlahan mulai mengangkat kepalanya. “Aku akan menerima permintaan maafkan kamu, tapi dengan syarat … aku minta tolong, malam ini jangan pikirkan apapun, tidurlah yang nyenyak …, besok aku akan periksa, apakah kamu tidur atau nggak …,” ucap Haru.


Sungguh kalimat ancaman yang manis dan begitu hangat dari seorang Haru. Arin terhenyak setelah mendengar perkataannya. Rasa takut yang bersembunyi perlahan mulai meredam. Haru benar-benar pandai mengendalikan Arin.


“Cepat sana masuk … aku akan pergi setelah melihat kamu masuk,” ucap Haru.


Tanpa mengatakan apapun, Arin mulai membalikkan badannya — menekan kata sandi pintu apartemennya yang kemudian terbuka — Arin melangkah masuk ke dalam dengan perasaan yang masih menggantung. Pintu pun sudah tertutup.


Tatapan Haru masih menatap pintu rumah Arin yang masih berdiri diam membelakangi pintu. Menghela nafas penuh rasa bersalah, Haru melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam apartemennya sambil menghubungi Dimas untuk menanyakan pesta yang ia tinggalkan.


“Halo, Dimas. Apa pestanya sudah selesai? Bagaimana dengan para tamu undangan?” tanya Haru sambil berjalan ke ruang tengah — melepas dasi yang mengingat erat lehernya lalu ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan nyaman melepaskan rasa lelah.


“Semua berjalan dengan lancar, Pak. Memang ada beberapa tamu bertanya tentang anda. Namun saya bilang anda ada urusan mendadak. Untung mereka memaklumi hal tersebut. Pesta selesai sesuai dengan rencana, Pak.” ungka Dimas.


“Baguslah kalau begitu. Kamu dan yang lain sudah bekerja keras hari ini. Pergilah makan diluar dengan kartu kantor. Ah …! Tolong kamu jadwalkan pertemuan makan malam untuk para pemegang saham, saya harus bersikap sopan dengan mereka, sebagai ganti saya pergi di tengah-tengah pesta.” ucap Haru.


“Baik, Pak.”


“Kalau begitu. Bersenang-senanglah dan sampaikan terima kasih saya pada pegawai yang lain.” ucap Haru kemudian panggilan pun berakhir. Haru menyandarkan kepalanya yang terasa begitu berat ke sofa. Rasa yang begitu penuh di dalam dada saat ini setelah kejadian ini, ia masih mengkhawatirkan kondisi Arin.


Bagaimana kalau kecemasannya semakin parah karena dirinya?


Bagaimana jika niat menikahi Arin malah menjadi petak? 


Sebuah pertanyaan yang terus berulang-ulang di dalam otak Haru saat ini.


***


Sesuai dengan janji yang diucapkan oleh Haru semalam jika ia akan mengecek keadaan Arin di pagi hari. Terlihat Haru yang tampak sibuk menyiapkan sarapan pagi bersama dengan Anna di saat Arin yang masih tertidur pulas di kamarnya. Namun tiba-tiba Arin datang dengan keadaan setengah sadar berjalan menghampiri meja makan.


Haru menoleh seketika saat mendengar suara Arin. “Kamu udah bangun …” ucap Haru.


“Idih … kak, lu yakin keluar dengan penampilan kayak gitu di depan kak Harau?’ tanya Ana yang menatap sinis melihat penampilan kakaknya yang lebih mirip orang gelandangan di jalan. Mungkin ia sudah terbiasa dengan penampilan itu, tetapi untuk Haru sudah pasti dia saat ini sangat terkejut.


Seketika Arin tersadar dengan ucapan Anna. Tanpa berpikir lama, Arin langsung berlari secepat mungkin kembali ke kamarnya membawa rasa malu.


Haru hanya tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Arin. Walau sebenarnya dirinya memang sedikit terkejut melihat penampilan Arin yang begitu realistis.


“Kak Haru harus sabar ya … bahkan kadang bisa lebih parah dari pada itu,” ucap Anna yang merasa kasihan dengan Haru karena mendapatkan kakaknya yang memiliki sifat yang sangat aneh.


“Kayak begitu …,” ucap Haru mencoba menanggapi lelucon yang dilontarkan Anna.


Tidak lama kemudian, disaat Haru dan adiknya tampak sudah mulai memakan sarapan. Arin datang dengan wajah jaimnya setelah ia tak sengaja mengekspos sisi lain dari dirinya di pagi hari. “Menunya apa ..?” tanya Arin mencoba berbasa-basi untuk mengalihkan pikiran Haru dari dirinya sambil duduk di bangku samping Anna, berhadapan dengan Haru.


“Kita makan breakfast ala American style.” jawab Anna yang tampak lahap.


“Ahh … begitu ya, kelihatannya enak.” ucap Arin sambil mulai melahan salad yang ada di piringnya. Kedua matanya matanya masih tidak bisa melihat ke arah Haru yang sejak tadi melihat ke arahnya. Rasanya seperti sedang di intai oleh FBI. Sungguh membuatnya gugup hingga salh tingkah.


“Kamu mau kopi atau susu?” tanya Haru.


“Kopi …,” jawab Arin dengan malu-malu.


“Latte? Americano? Mocca?”.


“Americano tapi di kasih syrup,” ucap Arin.


“Oke. Tunggu, aku buatkan.” ucap Haru sambil beranjak dari tempat duduknya menghampiri mesin kopi kapsul otomatis.


Sembari menunggu mesin kopinya bekerja, beberapa kali Haru dibuat gemas saat melihat Arin yang tampak mencuri-curi pandangan ke arahnya. Mungkin dia hanya merasa malu setelah kejadian semalam dan pagi ini.


Haru kembali berjalan sambil membawa kopi — meletakkan segelas kopi panas di depan Arin dan kembali duduk di tempat duduknya.


“Terima kasih …,” ucap Arin.


“Emm …” angguk Haru.


Anna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keromantisan dua orang yang masih malu-malu kucing, Mereka bertingkah seperti anak SD yang baru pertama kali jatuh cinta, padahal umur mereka sudah 30 tahunan. Sungguh mengherankan.


Tak ingin terjebak dalam dua orang ini, Anna beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke sekolah. “Aku berangkat dulu. Kak Haru makasih ya … buat makanannya, kalian berdua silahkan menikmati sarapan yang romantis ini. Bye …!!” ucap Anna yang kemudian berjalan dengan langkah ringan ke arah pintu meninggalkan Arin yang tak sedikit panik karena gugup.