
Salah Sangka
“Nggak perlu. Cepat sana mandi, lalu makan malam.” ucap Haru.
“Serius?” tanya Arin tak tega.
“Emm … cepat sana …!” ucap Haru sambil mendorong pelan Arin ke arah kamar.
“Iya … iya … aku mandi,” ucap Arin yang kemudian berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Haru kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Melepas sarung tangan karetnya setelah selesai mencuci piring. Berjalan mendekati kompor untuk membuat makan malam sebelum Arin kembali. Walau dirinya sudah lembur seharian di kantor, saat melihat Arin entah mengapa tubuhnya seakan ingin melakukan sesuatu yang bisa membantu Arin, entah itu membersihkan kamarnya, mencuci piring, membuatkan makan, atau hanya menatap Arin yang sedang menikmati makan malam.
Itulah Haru lakukan saat ini. Menatap Arin yang sedang menikmati makan malamnya sambil menikmati acara televisi kesukaannya, dengan tatapan teduh seakan sedang menatap bunga yang baru saja mekar.
“Bagaimana konseling hari ini?” tanya Haru yang mencoba memulai pembicaraan sambil menuangkan kembali air putih ke dalam gelas milik Arin.
Sontak Arin menoleh bingung dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Gimana kamu bisa tau aku konseling? Aku belum membicarakannya?” tanya Arin yang sontak membuat Hara membeku — kedua matanya berputar menghindari tatapan Arin.
Sial. Benar juga. arin tidak mengetahui jika dialah yang membuat Arin bisa melakukan konseling. “Yuli … Yuli yang kasih tau aku, hehe … iya … dia kemarin cerita sama aku,” ucap ngeles Haru sambil tertawa canggung membuat Arin semakin curiga.
“Kamu sejak kapan kontrakkan sama Yuli? Kok aku nggak tau?” tanya Arin semakin membuat Haru terpojok — salah tingkah.
“Dia yang memberitahu duluan, karena khawatir sama kamu. Dia tau kamu nggak bakal bilang, makanya dia kasih aku TMI,” ujar Haru mencoba menjelaskan dengan tenang. Walau ada sedikit kebohongan di dalamnya hanya saja melewati satu jalur yang sama. Demi membuat Arin mau menjalani pengobatan.
“Ahh … TMI …? Ternyata kamu tau TMI …,” ucap Arin sambil mengangguk-angguk.
“Iya dong. Too much information, betul ‘kan?” tanya Haru.
“Ding dong deng …! Betul! 100 poin untuk kamu …!!” ucap Arin yang berlagak seperti seorang presenter dari sebuah acara kuis. Hal itu membuatnya tersenyum lega melihat Arin yang sudah tidak lagi curiga padanya.
“Jadi … gimana konseling nya?” tanya Haru.
Arin terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan tersebut lantaran teringat akan ucapan Dokter Puspita, untuk tidak apa-apa jika tidak ingin menjawab sebuah pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya atau tidak ingin menjawabnya. Rasanya ini sedikit membingungkan. Di dalam dirinya yang lain ia bercerita dengan mudah. Namun dirinya yang lain seakan sedang mencegahnya.
“Kamu nggak perlu menjawabnya, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab,” ucap Haru sambil mengelus kepala atas Arin dengan lembut — lalu beranjak dari lantai — duduk di sofa.
Sontak Arin pun terkejut dengan ucapan Haru yang sama dengan Dokter Puspita. Sontak Arin tertegun dan kembali berpikir, apa yang saat ini Hara pikirkan.
Sambil menoleh ke belakang — ke arah Haru yang sontak melihatnya juga. “Kamu nggak kesal atau marah karena aku nggak mau jawab?” tanya Arin.
“Apa kamu bertanya karena hanya penasaran atau karena nggak punya topik pembicaraan …?” tanya Arin dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Haru terdiam mendengar pertanyan Arin yang terdengar begitu khawatir dirinya adalah orang yang dipikirkan Arin saat ini. Tatapan yang takut akan kehilangan dan khawatir akan sebuah kebencian yang mungkin akan diterima dari dirinya.
“Karena itu hak kamu untuk memilih menjawab atau tidak menjawab. Tentu saja aku ingin tau, karena aku khawatir. Tapi kalau kamu nggak mau menjawabnya, bukan berarti aku harus marah. Aku hanya menunggu, sampai kamu mau menceritakannya sendiri karena aku nggak mau aku kembali terluka hanya karena menjelaskan hal yang nggak kamu inginkan,” ujar Haru yang membuat Haru tertegun dengan tatapan yang muram.
Arin merasa bersalah karena sudah salah sangka dengan Haru. Apa yang sedang dirinya pikirkan hingga membuat Haru yang bahkan sedang berusaha berbuat baik tapi di matanya Haru seakan sedang menyimpan sesuatu yang bahkan dirinya pun tidak mengetahuinya. Sungguh aneh. Itu sama saja dirinya lah yang bersikap jahat pada Haru.
“Arin …” saut Haru.
Sontak Arin menoleh. “Iya …?”.
“Manusia terkadang tidak tertarik dengan hidup orang lain di bandingkan apa yang kamu pikirkan. Kamu bisa membedakan mana yang tulus dengan kamu dan mana yang hanya sekedar penasaran denganmu dari tatapan matanya. Atau bisa juga, lihatlah cara dia berbicara, dia memaksamu maka dia hanya penasaran tentang hidup kamu dan ingin membandingkan hidupnya dan hidup kamu. Namun kalau dia benar-benar mengerti dan menghargai kamu, dia tidak akan pernah memaksa dan tidak akan pernah bertanya alasannya. Bagaimana …? Apa sekarang kekhawatiran kamu berkurang?” tanya Haru.
Arin menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan makan malamnya.
“Tapi … kenapa kamu begitu peduli sama aku? Bukankah hal ini nggak ada di kontrak …?” tanya Arin.
Haru terdiam beberapa saat — menghela nafas berat. Tampaknya Arin mulai menyadari sikapnya selama ini pada Arin. “Kalau aku mengatakannya, aku takut buat kamu merasa nggak nyaman dengan jawabanku. Apa nggak apa-apa?” tanya Haru yang kembali melayangkan pertanyaan pada Arin yang sontak terbelalak.
Kalimat itu terdengar sangat membuat jantungnya berdebar, tapi anehnya tidak terasa perih melainkan membuat sekujur tubuhnya merasakan geli. Apa yang terjadi padanya saat ini. Namun Arin mulai menyadari suatu hal yang hampir ia lewatkan dalam perbincangan malam ini. “Kamu nggak perlu menjawabnya, jika memang itu membuat kamu merasa nggak nyaman. Ah … jadi begitu rasanya jadi posisi orang lain yang bertanya …, kayaknya aku mulai memahami konteks ini …,” ucap Hara.
“Terima kasih buat semuanya … walau aku belum bisa membalas semua kebaikan kamu sampai saat ini. Mulai sekarang aku mulai mencicil semua perbuatan baik kamu terhadap aku. Boleh ‘kan?” tanya Arin.
“Dengan senang hati. Hara … kamu boleh anggap aku seperti kamu menganggap Yuli orang yang selalu ada di pihak kamu. Bagaimana …?” tanya Haru.
“Maksud kamu, sebagai teman …?” tanya Haru — ragu.
“Eung. Teman …, kamu boleh anggap aku teman, jadi kamu boleh nyaman berada di dekat aku.” ucap Haru.
Lantas mendengar hal itu, membuat Arin tidak bisa lagi menyembunyikan senyumannya. “Woah … aku datang satu teman, aku suka …,” ucap Arin — tersenyum begitu semeringah, begitu juga dengan Haru yang kini tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya.
“Jadi mulai saat ini, kamu nggak perlu lagi merasa nggak nyaman. Anggap aku seperti Yuli dan Intan, oke?!” ucap Haru.
“Eung. Siap!” jawab Arin.