
Bab 8 - Kehilangan
Hari pindahan arin dan Anna yang tampak sibuk mengemas barang-barang mereka. Tidak semua barang mereka bawa, hanya baju dan beberapa perlengkapan lainnya, sisanya dibiarkan tinggal di rumah. Mobil pick up yang sudah Arin pesan juga telah sampai dan menunggunya di depan rumah.
Ayah tampak khawatir melihat kedua anaknya yang benar-benar meninggalkan rumah setelah pertengkaran beberapa hari yang lalu. Namun apa boleh buat ini sudah keputusan mereka yang memang sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidup mereka.
“Kalau ada apa-apa langsung hubungi bapak …,” ucapnya.
“Bapak nggak usah khawatir, kami bisa hidup sendiri.” ucap Arin dengan ketus mengabaikan ayahnya yang tampak berusaha untuk membantunya.
Anna yang melirik ke arah kakaknya yang tampak begitu acuh pada ayah, ia merasa tak enak hati jika dirinya ikut mengabaikan ayah. Entah dirinya yang tidak mengerti tentang masalah yang terjadi atau mungkin hatinya terlalu lemah.
Semua barangnya sudah masuk kedalam mobil pick up. Anna masuk kedalam mobil yang berbeda setelah pamit dengan ayahnya. Setelah berbicara dengan sang sopir, Arin menghampiri ayahnya yang berdiri di depan gerbang, menunggunya.
“Kami pergi dulu, ayah jadi diri baik-baik …” ucap Arin.
“Kamu nggak mau kasih tau ayah pindah kemana?” tanyanya dengan wajah memelas.
“Nggak. Untuk saat ini …, aku titip salam buat ibu,” ucap Arin yang kemudian berjalan pergi meninggalkan ayahnya dengan perasa perih yang menyayat hatinya saat ini. Sungguhnya sebagai anak, ia tak tega pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya. Namun cara ini Arin lakukan karena ia juga ingin bernafas.
Masuk kedalam mobil yang kemudian melaju. Angin dingin yang berhembus bersamaan dengan bekunya perasaan Arin saat ini. Walau menyakitkan dirinya harus tetap bertahan untuk dirinya sendiri yang sudah terlalu banyak terluka.
***
CODE BLUE! CODE BLUE! CODE BLUE!
Sebuah alarm emergensi yang berasal dari ruang ICU membuat beberapa dokter dan perawat masuk kedalam ruangan dimana Ayahnya Haru terbaring lemas di sana. Haru tampak panik saat ia mengetahui dari balik pintu kaca jika saat ini ayahnya kembali dalam masa kritisnya. Jantung tiba-tiba tidak berdetak. Seorang dokter mencoba memberikan CPR untuk mengembalikan detak jantungnya. Semua tampak menjadi kacau dan ketegangan terasa satu ruangan. Para tenaga medis berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan satu nyawa yang berharga.
“1 … 2 … 3 … SHOOT!”
DUG!
“TAMBAHAN SEPULUH VOLT!! MINGGIR SEMUA …!! 1 … 2 … 3 … SHOOT!!”
DUG!
Jantung tetap tidak ingin berdetak.
Dokter tersebut memberikan alat pemacu jantung pada suster kemudian kembali memberikan CPR pada pasien.
Namun Tuhan berkehendak lain, jantung benar-benar berhenti dan dokter juga sudah menghentikan tangannya yang semula memompa. Raut wajah yang penuh duka. Hingga akhirnya dokter mengumumkan waktu kematian.
Haru hanya terdiam lemas saat seorang asisten dokter menghampirinya dan mengatakan jika ayahnya telah tiada. Tangannya gemetaran, ia memikirkan bagaimana dirinya mengatakan kabar ini pada ibunya. Separuh dunianya kini benar-benar hancur tak tersisakan. Bahkan air mata tidak lagi bisa mengekspresikan kesedihannya. Waktu seakan berhenti berputar, cahaya kehidupan yang menghilang kini dunianya menjadi gelap gulita.
Sepanjang proses pemakaman, ibu tak berhenti menangis mengantar kepergian suaminya. Semua yang mengenakan pakaian hitam, mengelilingi sebuah makam yang baru saja ditutup kembali oleh tanah merah lalu ditaburi dengan bunga. Ibu tak tak sanggup lagi akan kesedihannya langsung pingsan di pelukan Haru.
Beberapa kali dokter datang karena ibu pingsan. Dia harus terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Tidak tega melihat ibunya berjuang sendiri, Haru memilih untuk mengambil cuti dan proyek harus diundur karena dirinya. Sebuah musibah yang tidak bisa diprediksi oleh manusia. Mungkin dari semua kesuksesan yang ia terima akan ada satu hal yang diambil agar dirinya tidaklah sombong. Haru lagi-lagi menyalahkan dirinya.
Tiba-tiba ibu terbangun saat Haru sedang termenung dalam pikirannya.
“Haru …”
“Ibu … ibu nggak apa-apa?” tanya Haru sambil membantu ibunya yang ingin duduk.
“Nggak apa-apa, tolong ambilkan kotak buku jurnal ayahmu di dalam laci …,” ucapnya sambil menunjukan ke arah laci yang ada tepat di samping Haru yang kemudian bergegas mengambilkannya. Sebuah buku jurnal yang tampak sudah lapuk, entah sejak kapan buku ini dipakai oleh mendiang ayahnya.
“Ini, Bu …,” ucap Haru sambil memberikannya.
“Ibu melupakan sesuatu yang sangat penting bagi ayahmu …,” ucap ibu yang mulai membuka buku jurnal tersebut. “Saat muda, ayahmu memiliki sahabat dekat sudah seperti saudara baginya. Kamu ingatkan Pak Rio …?” tanyanya.
“Iya.”
“Apa kamu sudah memberi tahu beliau tentang ayahmu?” tanya Ibu.
“Sudah. Dia datang keesokan harinya …,” jawab Haru.
“Syukur Lah kamu menghubunginya. Karena terlalu kacau ibu sampai lupa. Maaf ya …” ucap ibu sambil mengeluarkan sebuah amplop kusam dari dalam jurnal tersebut lalu diulurkan pada Haru. “Kamu baca ini …,” ucapnya.
Tanpa ragu Haru menerima dan membacanya, sebuah tulisan milik ayahnya diatas selembar kerja kusam yang berisikan sebuah wasiat terakhir untuknya.
“Ibu dan Ayah tidak ingin membebankan masa depanmu, kamu boleh membatalkan perjodohan waktu itu …, semua keputusan ada ditangan kamu.” ucap Ibu.
Haru masih tertegun saat membawa tulisan ayahnya. Satu helaan nafas panjang setelah selesai membacanya, Haru kembali melihat surat tersebut — menatap ke arah ibunya yang tampak begitu pucat.
“Bu …,”
“Iya …?”
“Sebenarnya, sampai saat ini aku masih memperhatikan wanita itu, wanita yang saat itu pernah ayah pertemukan sampai saat ini masih ada dalam pikiranku …,” ucap Haru sambil meraih kedua tangan ibunya yang tampak terhenyak mendengarnya.
“Tapi bukankah waktu itu kamu bersikeras menolak perjodohan itu?” tanya Ibu.
“Aku salah. Aku selalu menolaknya untuk masuk kedalam pikiranku, ternyata aku salah. Saat itu aku hanya tidak bisa menerima jika aku menyukai wanita itu.” ungkap Haru.
Air mata ibu menetes mendengar pengakuan yang tak terduga dari anaknya.
“Aku tidak akan menoleh perjodohan itu. Aku akan segera menikahinya … maaf aku terlalu lama untuk mengatakannya karena keraguanku,” ucap Haru merasa sangat menyesal karena ia baru bisa memberanikan dirinya setelah ayahnya tiada.
Ibu memeluk Haru dengan lemah lembut, merasa terharu akan pengakuan anak. “Nggak apa-apa, jangan salahkan dirimu. Semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu … aku berhak bahagia atas pilihanmu. Ibu selalu mendukungmu, Nak …,” ucap Ibu memberikan belaian hangat untuk Haru.