
Perdebatan Anak dan Ibu.
“Mama kalau ngomong seenaknya ya …” ucap Arin dengan nada rendah namun penuh dengan emosi yang tertahan.
“Apa?! Arin hari ini kamu bersikap kelewatan, jaga sikap kamu! Ini masih dirumah besan, bukan di rumah kamu!!” ucapnya dengan menekan nada bicara seakan sedang mencoba mengancam Arin yang bahkan sudah tidak memiliki rasa takut pada ibunya sendiri.
“Aku ini pengguran yang hanya menghidupi hidup aku dengan bekerja part time. Bukan dia nggak mau kasih aku biaya hiudp, tapi aku masih punya malu. Datang ke kehidupan orang lain, hanya karena sebuah perjodohan, lalu dengan seenaknya aku berlagak seperti orang kaya, seperti istri dari CEO muda yang punya banyak uang. AKu bukan orang yang seperti itu …!! Dan juga, siapa yang mau punya anak!! Ini hidup aku! Memang siap kalian mengatur dan menyuruh-nyuruh aku buat melakukan hal yang kalian inginkan!” ujar Arin berusaha untuk tetap tenang, walau kedua matanya sudah mulai memerah karena berusaha menahan air mata.
“Apa? Apa kamu bilang …? ‘Hidup aku …’. Bisa-bisa kamu mengatakan hal itu didepan orang yang sudah susah payah rawat kamu sampai saat ini!! Kamu itu jangan egois Arin … hidup itu harus ada yang namanya hutang budi …!!” ucapnya dengan nada membentang.
Hingga mereka tak menyadari jika ibunya Haru sudah mendengarkan perdebatan mereka sejak awal, Ia hanya diam — berpura-pura tidak mendengar — bersembunyi di balik tembok dengan wajah yang tampak begitu terkejut tidak percayakan akan apa yang sedang ia dengar.
Arin menyeringai lucu dengar kata itu. “Hutang budi? Terus kenapa ibu melahirkan aku? Emangnya aku minta buat dilahirkan!!” bentak Arin yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya hingga sontak membuat ibunya terkejut dengan kedua mata yang terbelalak. “Memangnya hanya aku yang egois? Ada juga mama yang egois? Menyuruh aku buat melakukan apa yang mama mau, saat semua nggak sesuai dengan ekspektasi mama, mama cuman bisa menyalahkan tanpa berpikir apa salah mama sendiri. Disini siapa yang bersikap kekanak-kanakan.” ujar Arin dengan emosi yang sudah di ubun-ubun kepalanya.
“Aku mau menikah dengan Mas Haru, bukan karena dia kaya, bukan karena aku ingin memanfaatkannya agar aku bisa membuat keluarga setara dengannya. Bukan. Agar aku bisa lepas dari mama …! Mas Haru itu orang baik. Dia satu-satu orang yang terima aku dengan kondisi mental aku yang hancur karena keegoisan mama! bahkan dia yang bantu aku buat berani datang ke psikolog agar aku bisa hidup dengan normal lagi …!! Lalu mama apa?! Mama bahkan lebih buruk dibandingkan orang asing …! Jangan bersikap seolah-olah aku harus membayar hutang budi …!! Aku pergi.” ucap Arin yang kemudian langsung pergi meninggalkan ibunya yang hanya bisa terdiam lemas setelah pertengkaran yang tidak ia sangka akan muncul lagi.
***
Haru bergegas keluar dari dalam mobil setelah sampai di depan rumahnya, setelah mendapatkan panggilan dari ibunya yang menangis-menangis memintanya untuk segera datang. Khawatir terjadi sesuatu, Haru yang sebenarnya berada di Bandung langsung berangkat ke Jakarta.
Saat masuk kedalam Haru bingung dengan ruang tamu yang terlihat seperti baru saja kedatangan tamu banyak dan ia melihat ibunya terduduk di sofa dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Ibu …!!” saut Haru sambil menghampiri ibunya yang langsung bertatap muka dengan nya. “Ibu menangis? Ada apa …? Apa yang terjadi …?” tanya Haru semakin khawatir melihat sikap diam ibunya.
“Ibu nggak apa-apa. Sini kamu duduk,” ucap Ibu menyuruh Haru yang bingung untuk duduk di sofa. Wajahnya begitu serius seakan ingin mengatakan atau telah terjadi sesuatu hal yang sangat serius.
“Haru … kamu harus jawab jujur sama ibu,” ucapnya.
“Apa kamu tau kalau Arin sedang menjalani psikiater atau apalah itu namanya …? Apa itu benar ..?” tanyanya.
Lantas sontak membuat Haru tertegun diam dan bingung, bagaimana bisa ibu mengetahui hal tersebut. Haru mulai panik dan kehilangan kata-kata, akan sangat sia-sia jika dirinya tidak jujur. Namun disatu sisi bagaimana dengan Arin.
“Iya, benar. Tapi bagaimana bisa ibu tau?” tanya Haru.
sontak kedua mata itu bergetar dan air matanya kembali tumpah saat mengetahui jika anak kesayangan menikahi wanita yang memiliki mental illness. Rasa marah, kecewa dan bersalah yang saat ini berkerumun di dalam dirinya. Bodohnya ia menyetujui perjodohan tersebut tanpa memeriksa dengan detail latar belakang Arin dan keluarganya. Kekhawatiran akan masa depan anaknya bisa harus karena wanita itu.
Haru hanya bisa termenung tak tega melihat ibunya yang menangis. Tak ada yang bisa ia lakukan. Mencoba untuk mencari jalan tengah agar masalah ini tidak berdampak pada mental Arin dan juga dua keluarga.
“Jadi ini alasannya kamu bilang jika dia itu sedang sakit …? Seharusnya kamu bilang dari awal tentang latar belakangkan, jika ibu tahu dia seperti itu, ibu bakal batalkan pertunangan itu …!” ujarnya sambil menggenggam kedua tangan Haru. “Apa nggak bisa kamu ceraikan dia, ini demi masa depan kamu …,” ucapnya sontak membuat Haru langsung melepaskan tangannya dari genggaman ibunya yang terkejut melihat respon anaknya.
Itu sebuah perkataan yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia meninggalkan Arin dengan kondisi seperti itu. Bahkan dirinya sudah menjadi teman untuk Arin. Ibu memang tidak mengetahui tentang pernikahan kontraknya. Namun terlepas dari keterkaitannya dengan kontrak, dirinya benar-benar ingin melindungi Arin.
“Aku nggak mau,” tolak Haru.
“Haru …! Kalau sampai orang tau kamu menikah sama wanita yang punya gangguan mental, apa kata orang …? Bagaimana jika perusahan kamu dan perusahan yang selama ini sudah dibangun susah payah oleh ayahmu hancur? Apa kamu tega?!” ucap Ibu yang terus menyudutkan Haru.
“Aku akan mencari jalan keluarnya sendiri. Jadi aku harap ibu nggak ikut campur, biarkan aku yang menyelesaikan masalah keluargaku sendiri. Aku mohon … tolong ibu lupakan masalah ini. Aku mohon …” ucap Haru mencoba berlutut memohon pada ibunya yang tampaknya tidak bisa dengan mudah menerima hal tersebut.
“Dia itu saat ini nggak baik-baik saja. Dia butuh seseorang yang mendukungnya agar bisa hidup normal.” ucap Haru.
“Ibu sangat prihatin dengannya, tapi biarlah orang lain yang menggantikan posisi itu, jangan kamu …, ibu nggak mau semua yang kamu miliki hancur. Ibu gak mau kerja keras kamu hancur …,” ucap ibu yang juga membujuk Haru agar bisa melepaskan Arin.
Perdebatan ini tidak akan pernah berhenti jika tidak ada salah satu dari ibu dan anak mau mengalah. Ibu dan anak yang memiliki karakter yang kuat dan keras kepala. Tidak ada yang salah dari sudut pandang dari keduanya, hanya saja semua memiliki sebuah pilihan. Namun itu tidak akan mudah.